
Albert mematikan telepon, merasa kebingungan karena Tuannya sedang berada di kamarnya bersama Istri keduanya. Tapi ia tau Nyonya Angela masih tetap yang terpenting bagi Tuannya, ia tak ingin berpikir lama segera naik ke lantai atas lalu mengetuk pintu kamar Tuannya.
Tok tok tok...
Lazarus sedang membaca sebuah dokumen di atas ranjangnya, istrinya Michelle baru saja tertidur. Ia menatapnya sebentar, menyimpan dokumen di tangannya di meja samping. Ia turun dari ranjangnya, berjalan membuka pintu. Ia melihat itu adalah Albert, biasanya tak pernah berani mengganggu jika sudah berada di kamar tidurnya, sepertinya terjadi sesuatu. "Pergilah, kita bicara di ruang kerja. Aku akan segera menyusulmu."
Albert merasa lega, sepertinya Tuannya mengerti maksudnya, ia berjalan pergi.
Lazarus menutup pintu, memeriksa sekali lagi istrinya yang tertidur. Memanggil namanya sekali "Michelle."
Tak ada jawaban, sudah merasa yakin Lazarus membuka pintu pelan, keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.
Setelah masuk ia langsung bertanya. "Apa terjadi sesuatu pada Angela?"
"Nyonya akan segera melahirkan Tuan, sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Tadi saya sudah memberi arahan lagi pada Peter seperti perintah Tuan di awal membawa ke Rumah Sakit yang sudah disiapkan."
"Hem, tunggu aku diluar. Jangan membuat kehebohan, kita pergi berdua. Lihat situasi saat nanti kita pergi, jika ada yang membuntuti mobil suruh pengawal kita langsung mengurusnya." Lazarus melangkahkan kakinya masuk ke kamar tidur di ruang kerja mengambil pakaian mengganti baju tidurnya. Saat selesai berpakaian, ia menatap ranjang saat terakhir dirinya bersama Angela. "Sayang... kau dan anak kita harus kuat. Tunggulah... aku akan datang." Berjalan keluar dengan jantungnya yang berdetak kencang mengkhawatirkan Angela dan anak mereka.
"Lazarus?" suara seorang wanita menghentikan langkahnya yang baru saja keluar ruangan tidur. Michelle sedang berdiri di hadapannya menatapnya.
"Michelle, kau terbangun?" Lazarus tersenyum, mendekatinya.
"Ya tadi sangat haus, tapi melihatmu tidak ada, aku tebak kau ada disini, jadi aku hanya ingin melihatmu. Kau berpakaian rapi mau kemana?"
__ADS_1
"Ah, baru saja orang yang ingin aku ajak bekerjasama menelepon. Orang ini susah sekali aku dekati, jadi aku harus pergi saat dia menelepon. Maaf kau jadi terbangun, tidurlah lagi." Lazarus mengelus lengan Michelle sebentar, lalu pergi.
Michelle menatap kepergian suaminya dengan curiga, tapi dirinya sudah terbiasa dengan sikap lembut Lazarus yang berpura-pura. Semenjak menikah ia langsung sadar jika semua sikap dan bicara lembut suaminya hanya kepura-puraan saja. Ia masih ingat saat malam pertama mereka, Lazarus bahkan tak menyentuhnya beralasan bukan waktu yang tepat. Hari ke hari ia menunggu, tapi yang dirinya dengar hanyalah Lazarus bergonta ganti wanita diluar sana.
Pernah suatu malam Lazarus mabuk, ia mencuri kesempatan. Ia mencium Lazarus, menempelkan tubuhnya pada Lazarus. Lazarus memeluk dirinya dan membalas ciumannya. Dirinya sangat bahagia, tapi saat mereka mereka akan melangkah ke tahap selanjutnya, Lazarus memanggilnya Angela, mantan istrinya. Hatinya sakit tak bisa menerimanya, akhirnya sampai sekarang mereka hanyalah suami istri diatas kertas saja.
Semenjak kejadian itu, Lazarus tak pernah terlihat mabuk lagi. Bahkan jika Lazarus mabuk, Albert selalu bilang padanya jika Lazarus akan menginap di hotel. Tapi kenapa hanya dirinya, lalu yang dirinya dengar diluar sana Lazarus meniduri setiap wanita itu apa?
"Sampai kapan Lazarus? Sampai kapan aku harus membiarkan kelakuanmu? Sampai kapan aku harus bersabar? Aku juga wanita, aku ini istrimu." Michelle memeluk dirinya sendiri, hanya bisa menangisi kehidupannya sekarang.
*
Di dalam mobil Angela menahan rasa sakitnya, mencoba menuruti Ibu Anna terus menarik nafas dan mengeluarkannya.
Tiba-tiba sebuah suara ledakan terdengar di belakang mobil mereka, Hendrik sang sopir mengerem menghentikan mobilnya. Matanya menatap beberapa pria berpakaian hitam turun dari mobil di depan yang menghalangi mobil yang dibawanya. "Siapa kalian?!" Teriaknya, berusaha mengambil ponsel ingin menelepon Albert. Tapi belum sempat tangannya mencari ponselnya, kaca mobil sebelahnya pecah.
Pintu mobil belakang terbuka, seorang pria masuk dan akan menarik tubuh Angela keluar.
Anna menahan tubuh Angela, tidak ingin menyerah "TIDAK!! Dia anakku... aku mohon jangan sakiti dia. Dia akan melahirkan, aku mohon... tidak... pergi kalian!!!" raungnya marah mencakar dan menendang mencoba segala cara mencegah mereka membawa pergi Angela.
"Kau hanya suruhanku! Beraninya kau!"
Terdengar suara tak asing seorang Pria di telinganya, Anna menatapnya. "Tuan, Anda bilang tidak akan menyakitinya dan bayinya. Bayi ini bukan anak Lazarus, Anda tidak perlu berbuat seperti ini. Aku mohon Tuan... "
__ADS_1
"Bukan anak Lazarus?! Haha... kau salah besar. Tapi memang sandiwara Lazarus sangat pintar, bahkan butuh waktu lama aku mengetahui bahwa bayi itu adalah anaknya."
Anna terhenyak, ia selama ini benar-benar tak mengetahuinya. "Tidak Tuan, meskipun ini anak Lazarus. Aku tak akan membiarkan Tuan menyakiti mereka. Aku akan memberitahu Lazarus semua kejahatan kalian!"
"Kau? Akan memberitahu kejahatan kami, apa kuasamu? Anakmu saja aku bunuh kau tidak pernah tau, dasar pelayan bodoh! Aku hanya memanfaatkanmu selama ini, tapi sekarang tugasmu sudah selesai. Sebaiknya kau pergi menyusul anakmu!" Suara seorang wanita berbicara, Marry Istri kedua Abraham.
Anna terkejut, seketika meraung marah. "Dasar wanita keji! Jadi kau yang membunuh anakku! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!" Anna maju mengambil pisau lipat yang selama ini ia ikat di kakinya.
"MATILAH WANITA IBLIS!!!" tapi sayang tak sempat menusukkan pisaunya, tubuhnya terhuyung jatuh ke tanah bersimbah darah. Pengawal Vincent menembaknya.
"Ma, cepat selesaikan. Bunuh Angela dan bayinya. Mereka akan menjadi penghalang kita!" Vincent mendesak Ibunya.
Marry menggeleng, jika melakukannya Lazarus akan sangat murka. Ia tau selama ini Lazarus mengumpulkan kekuatan di belakangnya hanya saja dirinya tidak tau seberapa besar kekuatannya, tapi ia yakin kekuatan lazarus sekarang sangat besar.
Marry tak ingin mengambil resiko yang bisa menghancurkan rencananya selama bertahun-tahun. "Tidak, aku punya rencana yang lebih baik. Bawa dulu Angela, ayo pergi!"
Semua pergi dari sana, yang tersisa hanya tubuh Hendrik dan Anna yang sudah tak bernyawa. Serta mobil-mobil yang sudah habis terbakar berisi para pengawal Lazarus di dalamnya.
.
.
.
__ADS_1
Lima tahun kemudian...
"Kalian semua aku pecat! Mengurus makananku saja tidak becus! Pergi kalian semua!" Amarah Lazarus kembali terdengar, setiap hari tak pernah terlewatkan setiap hal pasti dia permasalahkan. Berubah seperti orang gila yang berkuasa, semenjak hilangnya Angela, kehilangan semua jejak wanita yang dicintainya, Lazarus juga kehilangan kewarasannya.