Hei Rii

Hei Rii
Episode 20


__ADS_3

Happy Reading guys


.


.


.


Setelah menemui rii di taman tadi dengan tingkah konyolnya, peter langsung balik ke apartemen. ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur king size nya. rasanya ia begitu malu saat berhadapan dengan rii saat itu. peter mengusap gusar wajahnya. entah bagaimana ia akan menghadapi rii besok. rasanya peter ingin memutar waktu agar kejadian tadi tidak terulang, mungkin saja rii berpikir aku orang yang aneh.


''Ah.....''


Peter berteriak dan melemparkan bantal yang berada di dekatnya. ia berdiri dan menuju kamar mandi. mendinginkan kepalanya dengan air dingin sangat efektif membuat dirinya jauh lebih baik. setelah beberapa menit ia didalam kamar mandi. ia mulai mengambil ponselnya di atas nakas dan mengecek apakah ada notifikasi. dan ternyata notifikasi yang masuk cuma pesan dari jimin, ia perlahan menekan kotak masuk yang bertuliskan nama jimin.


*Hei kawan, aku mencari mu dimana mana, apa kau sudah pergi dari kampus.*


Pesan yang di kirim sekitar 20 menit yang lalu saat peter hendak membersihkan tubuhnya.


Peter yang mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk sambil membaca pesan dari jimin. peter hanya membaca dan tidak membalas sama sekali. rasanya ada rasa sedikit kesal kepada sahabatnya itu. peter kembali mengingat saat kejadian tadi. rasanya emosinya saat itu memang sudah sangat membludak. ia tidak pernah berlaku kasar kepada wanita semasa hidupnya. hanya kejadian saat itu ia melakukannya dan itu terjadi pada selena orang yang sempat menjadi bagian dalam hidupnya, walau pada akhirnya berakhir kandas.


Ada perasaan yang tidak enak saat peter melukai selena dengan tidak sengaja. namun disisi lain itu sudah sangat pantas karena telah melukai dan mengancam rii. peter melempar handuknya sembarangan. ia mulai berhenti memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya jadi pusing. setelah memakai kaos hitam dan celana pendeknya ia mulai mengambil buku di rak rak perpustakaan yang terletak di area kamar tidurnya. ia mulai menyandarkan tubuhnya di atas sofa dengan kedua kaki yang diangkat di atas meja, ia mulai membaca buku dan sesekali menyeruput kopi pahitnya.


.


.


.


Setelah merasa perasaannya sudah cukup baikan. rii dan lisa bergegas pergi dari taman dan menuju ke asrama. sesampainya ia di sana. mereka berdua membersihkan tubuhnya masing masing. rasanya hari ini cuacanya cukup panas. ditambah dengan masalah yang ia hadapi. salah satu teman sekamar rii perlahan membongkar isi lemari pakaian rii, pakaian rii dihambur hambur kan oleh si pelaku ini, kemudian ia beralih ke ranjang rii, ia mengacak acak bantal, seprai, dan selimut rii. dan beralih mengambil secarik kertas. tangannya mulai menuliskan beberapa kalimat. dan ia mulai menempelkan kertas tersebut di pintu lemari pakaian rii. si pelaku tersebut keluar kamar. saat rii keluar dari dalam kamar mandi ia sangat syok, pakaiannya sudah berhamburan dan ranjangnya juga ikut berantakan. ia berjalan dan memungut semua pakaiannya, dan saat hendak membuka lemari ia dikejutkan dengan selembar kertas yang menempel didepan lemari.


*Hei rii. bagaimana, apa kamu suka surprise yang aku berikan, selamat menikmati.*


Rii meremas selembar kertas tersebut dan membuangnya ketempat sampah.


Lisa yang baru saja datang dikamar asrama. setelah sempat numpang mandi di kamar sebelahnya. yang merupakan teman kelasnya waktu SMA. tiba tiba terkejut melihat pakaian rii dan tempat tidurnya berantakan. lisa berjalan mendekati rii.


''Ya ampun rii lo kenapa, kok berantakan banget si.''


Rii yang melihat lisa hanya terdiam. tenaganya untuk berbicara sudah habis. ia hanya diam sambil membereskan pakaiannya ke dalam lemari.


''Rii lo masih kesal, sampai semuanya lo hamburin seperti ini.''


Rii berhenti saat mendengar ucapan lisa.


''Lo pikir buat apa juga gue ngelakuin ini dan membereskannya lagi, buat gue capek aja.''


Ucap rii dengan wajah datarnya.


''Jadi bukan lo yang ngelakuin ini semua rii?''


Rii menghembuskan napasnya kasar.


''Ya iyalah lisa. ngapain juga gue ngelakuin hal yang ga ada faedahnya sama sekali.''


Ucap rii sembari memasukkan pakaiannya kedalam lemari. lisa membantu membereskan tempat tidur rii.


''Terus siapa dong yang ngelakuin ini rii?''


''Yaa, mana gue tahu lisa.''


Rii sengaja tidak memberitahu lisa jika seseorang yang membuat kamarnya berantakan meninggalkan jejak secarik kertas dengan berisi ledekan. rii tidak mau membuat lisa cemas. cukup ia yang menanggung semua masalahnya, ia tidak mau membawa bawa lisa dalam masalahnya. sahabatnya ini hanya cukup tenang untuk belajar, biarkan rii yang menanggungnya kali ini. entah siapa yang melakukan itu semua. rii akan menghadapi dengan sekuat tenaga tanpa melibatkan lisa lagi.


Setelah beberapa menit semuanya sudah nampak rapi seperti semula. mereka juga sudah berganti pakaian. mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas kasur rii.


''Capek juga ya rii.''


Rii kemudian memalingkan wajahnya untuk melihat lisa.


''Sorry ya lis, gue selalu saja buat lo kesusahan.''


Lisa kemudian memalingkan tubuhnya kesamping untuk berhadapan dengan rii.


''Guna sahabat emang seperti ini rii. lo ga usah ngerasa ga enakan. lagi pula bukan lo doang kan yang selalu nyusahin gue. gue juga sering kali nyusahin elo dengan tugas gue yang cukup rumit dan hanya isi kepala lo yang bisa mecahin semua itu.''


Lisa tertawa kecil. rii juga ikut tertawa sambil menoyor kening lisa. mereka berdua tertawa, setelah mengungkapkan isi hatinya masing masing. mereka membuat sebuah lelucon untuk menghibur satu sama lain dan berakhir tertidur pulas di atas ranjang rii yang sempit.


Pagi hari tepatnya pukul 8 mereka berdua berangkat ke kampus. setiap perjalanan menuju kelas, lisa tiada henti membuat lelucon, perut mereka berdua sempat merasa kesakitan saat tertawa sepanjang jalan. ketika mereka sudah sampai didalam kelas, teman satu kelasnya menatap tidak enak kearah rii. rii tidak mau mempedulikan sikap mereka, toh rii sudah mempunyai sahabat. dengan adanya lisa disisinya, rii tidak perlu mereka semua. bersikap bodoh mungkin bisa membuat rii jauh lebih baik, dan juga tidak merespon kejailan mereka. itu bisa membuat mereka jenuh dan berakhir tidak mengusiknya lagi. rii mulai mengeluarkan handphone miliknya didalam tas, sambil menunggu dosen masuk ia bermain handphone terlebih dahulu. sebuah pesan singkat masuk dengan nomor tak dikenal.


.


*Jangan senang dulu, akan ada kejutan spesial yang menantimu.*


Mata rii membulat tangannya gemetar dan dingin. rii menelan salivanya.

__ADS_1


''Siapa orang orang ini, kenapa semakin kesini. makin banyak orang yang ingin melihatku menderita.'' batin rii.


Lisa mendekatkan kursi miliknya kepada rii.


''Hei rii, lo kenapa kok muka lo tegang amat.''


Rii kemudian dengan cepat menyimpan handphonenya kedalam tas.


''Ah... ga papa kok lis, tumben banget ya dosen masuknya telat.''


Rii mengalihkan perhatian lisa.


''Iya juga ya, telat beberapa menit kali.''


Peter baru saja keluar dari dalam kelas saat jam kelasnya selesai, ia memilih menunggu jam kelas rii usai, ketimbang harus ke kantin bersama jimin. ia masih agak kesal kepada jimin. peter melihat arloji ditangannya dan menyandarkan tubuhnya ditembok. setelah sekitar 5 menit peter berdiri, kelas rii akhirnya selesai. saat rii sudah menampakkan tubuhnya di depan pintu, peter tiba tiba saja manarik tangan rii menjauh lebih sedikit dari kelasnya. lisa yang melihat itu berhenti dan memilih menunggu rii di dekat pintu. tatapan mereka berdua bertemu, rii lebih dahulu memutus kontak.


''Mm.. maaf, kamu ikut aku makan siang ditempat kemarin.''


Sepertinya rii hanya bisa pasrah sampai kontraknya benar benar selesai, rii tidak mau banyak tanya dan hanya menurut.


''Baiklah, tunggu sebentar aku akan memberitahu temanku.''


Peter hanya mengangkat alisnya sebelah. dan rii mulai menghampiri lisa.


''Lis, sorry banget ya. peter ngajakin gue makan diluar. ga papa kan?''


''Oh ga masalah banget rii, kalian makin dekat aja. jangan jangan dia naksir lo kali.''


Rii memukul lengan lisa


''Mulut dijaga, ga mungkin. kita hanya partner, udah gue pergi dulu ya. lain kali aja kita makan bareng bye.''


Rii akhirnya berlalu meninggalkan lisa.


''Kapan ya gue bisa dapat yang seperti peter.'' batin lisa.


Selena yang melihat peter dan rii sedang menuju ke suatu tempat, selena bergegas mengikuti kemana mereka akan pergi. mobil peter telah melaju ke restoran favoritnya. setelah mereka sampai. mereka mulai memesan makanan. peter terlebih dahulu memesan untuk rii, kemudian ia masih ingat waktu makan malam rii hanya meminum jus dan memakan sushi. bisa dibilang rii tidak menyukai alkohol. saat pelayan hendak pergi setelah peter memesan makanannya, rii menghentikan langkah pelayan tersebut.


''Maaf makanannya bisa tolong di ganti, aku mau steik daging sapi saja.''


Pelayan itu mengangguk dan bergegas pergi.


''Kenapa rii, apa kamu tidak menyukai sushi?''


''Ah.. itu, aku suka. namun aku hanya ingin memakan steik rasanya itu sudah cukup.''


Semalam bersama lisa hanya memakan mie instan dan pagi harinya mereka berdua tidak sarapan karena mereka bangun kesiangan. cacing cacing perut rii saat ini sedang berdemo. rasanya jika ia memakan steik, itu sudah sangat membuatnya kenyang. peter hanya mengangguk setelah mendengar ucapan rii. dan di sebuah meja tepat di ujung belakang mereka, selena telah mengawasi.


Selena akan memberi rii pelajaran setelah mereka berdua usai makan siang. pelayan telah tiba dan meletakkan hidangan satu per satu di atas meja.


''Selamat menikmati.''


Peter hanya mengangguk dan rii berucap Terima kasih. mereka berdua menyantap makanan masing masing. setelah mereka usai makan, tiba tiba saja ada satu pelayan yang membawa sup panas yang sengaja menumpahkannya tepat di hadapan rii.


''Astaga nona maafkan saya.''


Ucap pelayan tersebut. rii yang mendapatkan tumpahan sup panas sontak berdiri dan mengibas ibaskan pakaiannya yang terkana sup panas, tangan kiri rii memerah akibat tumpahan sup panas tersebut. peter yang dikala itu hendak berdiri juga ikut terkejut.


''Apa kamu punya mata, teman saya terkena sup panas, tolong panggil manajer restoran ini. Aku akan pastikan kamu dipecat hari ini juga.''


Peter menyenggol pelayan tersebut dan menghampiri rii yang sedang berusaha menahan perih akibat tumpahan sup panasnya.


''Apa kamu tidak apa apa rii, ya ampun tangan kamu memerah, kita ke rumah sakit sekarang.''


manajer yang baru saja datang, meminta maaf atas kelalaian pegawainya.


''Maafkan saya atas kesalahan pegawai saya tuan.''


Peter berbalik melihat manajer tersebut.


''Pastikan dia tidak bekerja lagi disini.''


Ucap peter dengan wajah yang memerah akibat marah. akhir akhir ini peter sangat sensitif ketika rii tertimpa masalah. emosinya tidak bisa stabil jika rii sedikit saja terkena suatu masalah. mau kecil atau besar ia pasti akan sangat marah.


''Maafkan saya tuan, saya pastikan dia akan dipecat.''


Peter tidak membalas ucapan manajer tersebut. ia segera pergi dari restoran itu dan bergegas ke rumah sakit. luka ditangan rii sangat penting bagi peter, setelah 5 menit menelusuri jalan. ia telah sampai di rumah sakit, tubuh rii sudah diangkat oleh peter ala bridal style. rii langsung ditangani oleh dokter.


Dan Peter menyerahkan semuanya kepada sang dokter, ia ingat bahwa baju rii basah. ia kemudian keluar dari rumah sakit untuk membelikan rii pakaian. sembari ia menunggu rii yang sedang ditangani oleh dokter. peter telah kembali ke rumah sakit dan melihat kondisi rii. tangan rii diperban, untung saja peter sangat cepat membawa rii ke rumah sakit. jadi luka ditangan rii tidak terlalu serius.


Peter memberikan paper bag berisi baju.


''Kamu ganti baju dulu.''

__ADS_1


Rii yang melihat isi paper bag itu kembali menatap peter.


''Terima kasih tapi aku tidak apa apa.''


Sambil mengulurkan paper bag kehadapan peter.


''Aku tidak suka jika pemberian ku ditolak oleh siapapun termasuk kamu. jika kamu tidak mau aku akan membuangnya.''


Peter merebut paper bag tersebut dan berbalik untuk membuangnya ke tempat sampah. tiba tiba rii mencegah.


''Kenapa dibuang, baiklah aku akan memakainya.''


Paper bag yang berada ditangan peter kini telah beralih ke tangan rii. rii mulai berjalan kearah toilet. setelah 5 menit didalam toilet, rii keluar memakai dress pemberian peter. rii masih merasa tidak enak. peter berbalik melihat kearah rii, dan sontak saja peter merasa kagum saat melihat dress yang ia belikan nampak sangat cantik dikenakan oleh rii. rii memang sangat cantik, walau hanya memakai pakaian yang seadanya. peter tidak berhenti untuk terus menatap rii. dan rii sendiri semakin merasa malu dilihat oleh peter seperti itu.


''Ah... maaf, ayo kita pergi.''


Ucap peter yang meninggalkan rii begitu saja. dentuman jantungnya tidak karuan. lagi lagi ia merasa sangat berdebar melihat rii.



Mereka sudah sampai didepan gerbang. rii perlahan keluar dari dalam mobil peter dan disusul oleh peter yang juga ikut keluar.


''Terima kasih untuk semuanya.


''Mm.. masuklah.''


Rii mulai pergi dan punggung indahnya tidak terlihat lagi oleh mata peter. setelah merasa rii aman. peter kemudian menancapkan pedal gasnya. selena yang sedari tadi mengikuti kemana mereka pergi kini telah berada di samping gerbang.


''Ini belum seberapa rii, masih banyak yang akan menimpa hidupmu.''


Sebelumnya selena sempat di ancaman oleh pelayan yang menumpahkan sup panas kepada rii. pelayan tersebut akan mengadukannya ke peter jika selena tidak membayarnya lebih. tetapi untungnya itu semua tidak terjadi. selena harus merogoh beberapa dollar agar pelayan itu tutup mulut. selena kini pergi dari depan gerbang. hari ini cukup untuk itu. entah hal apa lagi yang ia rencanakan di keesokan harinya.


Rii baru saja sampai di kamarnya. di sana tidak terlihat siapapun. lisa yang entah dimana tidak membuat rii untuk mencarinya. setidaknya ia tidak akan mengomel atau bahkan banyak tanya jika dirinya kenapa napa. mungkin ia akan menyembunyikan lukanya ini semalaman, besok pagi rii berencana akan membukanya atau menutupinya dengan memakai auter atau jaket. cukup lelah hari ini. rii berharap semuanya cepat usai, rii berharap waktu cepat berlalu agar ia bisa cepat cepat meninggalkan negara yang bak neraka ini.


Hidupnya terus terusan ditimpa ujian. jika saja dirinya lemah, ia pasti sudah lama meninggalkan negara ini. namun ada mimpi yang harus ia wajudkan, ada senyum yang harus ia lihat dimasa depan.


''Ayah.. ibu.. rii sangat merindukan kalian. rii berharap semuanya cepat usai dan kembali kedalam pelukan kalian. doakan rii agar rii bisa lebih lama lagi bertahan dalam situasi ini.'' batin rii


Air mata rii telah jatuh membasahi pipinya. ada perasaan sesak saat menghadapi semua masalahnya. jika ia sudah merasa seperti ini. tentunya rii akan berakhir kedalam alam mimpinya, rii akan tertidur jika sudah merasa sangat lelah untuk menangis.


Keesokan harinya ia bangun lebih awal, saat ia berusaha untuk membuka perban ditangannya, ia berhenti saat mengingat ucapan dokter, ia baru mengingat jika tangannya tidak boleh terkena air. rii akhirnya memutuskan untuk tidak membuka perban tersebut. setelah mandi rii mulai memilih memakai hoodie, agar lukanya tidak terlihat oleh lisa maupun orang orang.


''Pagi rii...''


Rii berbalik.


''Oh... pagi juga lis.''


''Oh iya rii semalam gue lihat lo tidur pagi banget, emang lo ngapain aja seharian ini ama peter.''


Rii mulai mencari alasan.


''Ah... anuu. gue ngantuk banget. jadi gue tidur lebih awal, lagi pula lo kemana aja kok ga keliatan.''


''Ah... ituu, gue habis ke kamar sebelah. anak anak disebelah lagi ngadain party kecil kecilan jadi jam 9 malam gue baru balik ke kamar.''


Rii hanya mengangguk saja. tidak penting dengan itu semua. seperti biasa mereka akan menghabiskan setiap perjalanan mereka menuju kelas dengan lelucon yang lisa buat. saat hendak memasuki kelas, lisa tidak sengaja memukul tangan rii yang terkena luka.


''Aw..''


Lisa yang kebingungan karena hanya pukulan kecil rii harus merasa kesakitan.


''Lo kenapa rii. perasaan, gue mukul lo ga keras keras amat.''


''Haha... becanda gue lis, gue juga pengen ikut ngerjain lo sekali kali. abis lo mulu si yang ngerjain gue.''


Rii terpaksa harus berbohong. rii sekuat tenaga menahan rasa perih akibat pukulan lisa, emang tidak keras namun rasanya tangan rii begitu sangat sakit.


''Haha.. yaelah lo rii bisa aja yuk masuk.''


Rii menyuruh lisa untuk berjalan duluan, sedang ia hanya mengikuti dari arah belakang. kali ini rii harus ekstra hati hati menjaga tangan kirinya. ia mau lisa tidak mengetahuinya sampai luka ditangannya benar benar sembuh. lisa tidak merasakan ada hal aneh dari dalam rii. ia pikir semuanya itu terjadi karena hal alami.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Baiklah guys sekian dulu yaa, pantengin terus novel aku. jangan lupa like and komen ya guys. supaya auhtor lebih semangat lagi buat up.


Bye bye guys salam dari author 🥰🤗🤗


__ADS_2