Hei Rii

Hei Rii
Episode 31


__ADS_3

*Halo guys sorry banget nih ga update beberapa hari ini. soalnya author lagi sibuk banget terus kemarin juga BTS lagi ngadain konser kan. jadi ga sempat buat update. sorry ya guys✌


*Happy reading guys*


.


.


.


.


.


Rii terus saja memegang dadanya yang masih berdebar. ia masih sangat terkejut dengan ucapan peter, walaupun itu semua hanya godaannya saja. setelah sampai di kamar asramanya, Tiba-tiba teman sekamar rii mengejutkannya.


''Rii.........''


Ucap Celine, Rose, dan Stefanie.


''Astaga. kalian mengejutkan ku.''


Ucap rii sambil memegang dadanya. sedangkan teman temannya hanya tertawa tanpa dosa.


''Apa kamu baru saja bertemu dengan peter?''


''Iya rose.''


Rii berjalan menuju kasur miliknya, kemudian rii duduk dan di barengi dengan teman temannya. mereka semua sudah berkumpul di kasur sempit milik rii. mereka nampak tidak merasa sesak saat berdempetan di atas kasur kecil milik rii.


''Rii apa kamu baik baik saja?''


''Aku baik baik saja celine.''


''Maaf banget aku sempat tidak mempercaimu barusan.''


''Apa yang aku bilang emang bener kan celine. rii sama sekali tidak bersalah.''


Celine melirik rose dengan penuh kekesalan.


''Ga apa apa celine. lagian kalau aku di posisi kamu, aku juga akan merasakan hal yang sama. meragukan setiap orang juga bisa kapan saja timbulnya.''


''Tapi kamu ga apa apa kan rii. untung saja peter datang di waktu yang tepat.''


''Mm.. kamu benar Stefanie, aku bersyukur karena peter dan jimin sudah mau membantuku.''


''Oh ya rii. sebenarnya bagaimana si kronologis kejadian yang sebenarnya?''


''Mm.. aku juga memiliki pemikiran yang sama seperti Stefanie.''


''Jadi gini. waktu aku ke toilet mereka bertiga tiba tiba datang dengan raut muka yang begitu senang, aku mempercepat kegiatan yang aku lakukan. dan salah satu di antara mereka itu melepas cincinnya karena dia akan mencuci tangannya gitu. dan saat itu aku sempat melirik cincin miliknya namun hanya sekilas saja. dan setelah aku selesai dengan kegiatan yang aku lakukan, aku kemudian pergi dari toilet itu karena aku takut, dia akan menganggu ku jika mereka memperhatikan wajahku. kalian tahu kan kalau aku masih trauma dengan pembullyan mereka.


Teman temannya mengangguk dan kembali menyimak ucapan selanjutnya dari rii.


''Aku mulai pergi dari tempat itu. perasaanku sudah membaik setelah sampai di tempat kita. kalian juga sempat merasa penasaran kan dengan melihat wajahku yang begitu kepanikan.''


''Iya. waktu itu aku celine dan Stefanie merasa aneh dengan sikapmu rii.''


''Aku merasakannya tetapi aku memilih untuk tidak membuat kalian khawatir.''


''Jadi bagaimana bisa cincin itu berada di dalam tas kamu rii?''


''Kalau soal cincin itu rose, salah satu teman kelasku yang menaruh cincin tersebut. jadi waktu aku hendak mau masuk ke dalam kelas, tiba tiba saja temanku ini terjatuh di depanku, dan aku mulai membantunya memungut buku buku yang ia bawa, dan saat aku memungutnya dia mengambil kesempatan dengan menaruh cincin palsu itu ke dalam tas aku. karena tas aku yang ini tidak memiliki resleting, makanya dia dengan muda memasukkan cincin palsu itu.''


''Tunggu rii, jadi kejadian barusan memang sudah di rencanakan?''


''Mm.. kamu benar Stefanie. dan pelakunya adalah selena.''


''Apa..''


Celine dan rose berucap dengan bersamaan.''


''Selena memang benar benar keterlaluan rii.''


''Benar apa yang dikatakan Stefanie rii. aku tidak habis pikir dengannya.''


''Mau bagaimana lagi Rose, selena memang sangat membenciku.''


''Kamu tidak usah menghiraukannya rii, suatu saat nanti selena akan berubah dan tidak akan menganggumu lagi.''


''Kamu benar Stefanie, aku akan berusaha untuk menghiraukannya.''


Mereka bertiga kemudian bangkit dari kasur milik rii.


''Rii kita mau keluar kamu ga mau ikut?''


''Kok tiba tiba banget si Stefanie?''


Celine yang menyadari apa maksud dari Stefanie, kemudian celine mengajak rii juga.


''Iya rii ikut kita ya.''


Celine mencubit tangan rose, dan rose mulai mengerti dengan maksud celine.


''Ah.. aku juga ikut de, rii kamu juga ikut ya. biar ramai aja gitu kalau kita berempat keluar bareng.''


Rii tersenyum karena menyadari sikap dari rose.


''Baiklah. aku ganti baju dulu ya.''


*


mereka ber empat kemudian menjelajahi isi dari mall tersebut. mereka tiada hentinya tertawa.


''Lelah juga ya mengelilingi seisi mall ini.''


''Kamu benar rii. aku sampai lapar.''


''Kita makan di restoran sebelah aja gimana, di sana makanannya enak enak baget.''


''Ide yang bagus rose, ayo kita pergi.''


Celine menarik tangan rose, dan Stefanie merangkul rii. mereka ber empat kemudian menuju ke restoran tersebut mereka menghabiskan waktunya hanya untuk menghibur rii. mereka begitu sangat perduli kepada rii, bahkan mereka menganggap rii sebagai adik mereka.


Selisih umur ke tiga temannya ini beda 5 bulan dengan rii. jadi tidak heran jika mereka sudah menganggap rii sebagai saudaranya atau yang lebih tepat adik perempuannya. Rii melirik Stefanie dan kemudian rose, celine menegok ke belakang. rii tersenyum ria kepada mereka.


*Aku beruntung bisa memiliki kalian di dalam hidupku. aku tidak tahu jika kalian tidak ada, mungkin aku sudah merasa putus asa, Terima kasih celine, rose, dan Stefanie. aku menyayangi kalian semua. Terima kasih Tuhan. aku bersyukur di pertemukan oleh mereka.* (batin rii)


Setelah mereka kembali, tubuh mereka di hempaskan di atas kasur milik mereka masing-masing. semuanya merasa sangat lelah dan juga menyenangkan.


''Apa kalian lelah?''

__ADS_1


''Ya.. celine aku sangat lelah.''


Rose berucap dan di anggukkan oleh rii dan Stefanie. mereka kemudian beristirahat dan tenggelam dalam mimpi mereka masing masing.


Di bawah pohon dengan tebaran rumput yang menghijau. selena dan lisa sudah berada di bawah pohon itu, selena merasa sangat kesal dengan kejadian kemarin.


''Sial.. sial.. sial..''


Selena menghentakkan kakinya dengan perasaan kesalnya, lisa berusaha menenangkan selena yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


''Selena kamu tenang dulu.''


''Bagaimana aku bisa tenang lisa, peter dan jimin sudah mempermalukan ku. mereka sengaja menjebakku.''


''Bukan jimin dan peter yang sudah mempermalukan mu selena. melainkan rii yang sudah mempermalukanmu. aku yakin, rii pasti mengaduhkan ini semua kepada peter sehingga peter bertindak sejauh ini.''


Selena menatap lisa dan tatapan mereka bertemu. lisa meyakinkan selena dengan tatapannya.


''Benar lisa, ini semua adalah ulah rii jal*ng itu. wanita itu sudah berhasil mencuci otak peter dan jimin. awas saja kamu rii, aku akan membalasmu dan kamu akan merasakan kesakitan yang belum pernah kamu temui.''


Senyum lisa merekah, lisa berhasil menghasut selena lagi. ntah bagaimana lisa bisa sampai sejauh ini, kebencian lisa begitu sangat mendalam. bahkan lisa menggunakan kedekatannya dengan selena sebagai ajang pembalasan rasa kebenciannya untuk rii.


Pandangan lisa tertuju kepada rii dan teman sekamarnya. lisa tersenyum miris kepada mereka.


*Tertawala sepuasnya rii, sebelum tawamu itu berubah menjadi tangis dan kepedihan. kita lihat saja rii, sampai di mana lo akan bahagia. karena sesungguhnya lo ga pantas mendapat ini semua, lo cuma harus duduk santai menekuni kegiatan belajarmu dan lulus dengan baik. bukan malah mendapat perhatian dari mereka.*


''Lihat selena, rii bahkan bisa tertawa lepas setelah kejadian kemarin. dia pasti sangat bahagia karena peter dan jimin sudah membantunya.''


''Dasar wanita jal*ng. aku tidak akan membiarkan mu begitu saja.''


Selena mengepal tangannya, raut wajahnya berubah. kekesalan yang ada di dalam hatinya rasanya begitu sangat menyesakkan untuk selena. rasanya melihat rii bahagia bukan bagian dari hidupnya. ia merasa di remehkan ketika rii bisa tertawa bahagia sedangkan ia harus terjerat dengan kebenciannya.


*


Peter menghampiri rii yang sedang bersama dengan teman temannya.


''Hei rii.''


Celine, Rose, dan Stefanie kemudian pamit kepada rii.


''Kami pergi dulu ya rii.''


''Kalian mau kemana tunggu aku.''


''Kali kamu tidak di izinkan untuk ikut rii. bersenang senanglah dah..''


Ucapan Celine membuat rii merasa malu.


''Rii apa kamu baik baik saja?''


''Ah.. ya.. aku baik baik saja.''


''Mami menelpon ku barusan, katanya ia ingin bertemu denganmu.''


''Ta.. tapi peter, aku ada tugas lain kali aja ya. sampaikan permintaan maafku kepadanya.''


''Baiklah aku akan menelpon mamiku sebentar.''


*Halo mami, rii kayaknya tidak bisa bertemu dengan mami saat ini. dia ada tugas yang harus ia kerjakan.*


*(Benarkah. sayang sekali padahal aku sudah memasak banyak untuk menyambutnya)*


*Berikan saja makanan mu kepada tetangga sebelah.*


Sambungan telpon dari maminya di putus sepihak oleh peter.


''Kenapa?''


''Katanya mami sudah memasak banyak untuk menyambutmu agar kita bisa makan bersama, tapi kamu malah tidak bisa hadir.''


Rii merasa sangat tidak enak kepada mami nina, makanan yang sudah ia masak harus ia bagikan kepada tetangganya.


''Apa kamu sudah makan?''


''Belum. aku dan teman temanku niatnya mau makan tadi.''


''Kalau begitu ayo kita ke kantin.''


Peter hendak berjalan namun ia rasa rii masih siap di tempat tanpa melangkah sedikitpun.


''Ada apa rii?''


''Ah.. tidak, ayo kita pergi.''


Mereka telah sampai di kantin. rii masih merasa malu kepada Peter. ucapan Peter kemarin masih terngiang-ngiang di kepala rii. untuk menatap wajahnya saja rii masih suka melihat kemana mana. rii tidak sanggup melihat wajah Peter.


''Kenapa kamu jadi dingin begitu rii. apa aku punya salah?''


''Mm.. kapan aku bersikap hangat kepada mu Peter. aku memang selalu seperti ini bukan.''


Peter memejamkan matanya. Peter mengira jika rii sudah berubah menjadi hangat. namun sayangnya rii sama sekali tidak pernah merasa hangat kepadanya.


"Siall... apa dia mempermainkan ku.'' (batin Peter)


Peter tiba tiba merasa tidak berselera. ia kesal dengan ucapan rii, kemarin ia begitu sangat hangat kepada Peter. bahkan di saat Peter menggenggam tangannya rii balik membalas genggaman Peter.


''Kenapa tidak di makan?''


''Aku sudah kenyang.''


''Yasudah, kalau sudah kenyang kamu bisa pergi kan.''


"Apa. apa sekarang dia mengusir ku dengan terang terangan." ( batin Peter)


''Baiklah.''


Peter kemudian pergi dari hadapan rii dan membawa kekesalannya. kemudian Peter menghampiri jimin di apartemennya.


''Hei kawan, ada apa?''


''Aku sangat kesal jimin.''


''Apa ini semua karena rii?''


Peter memejamkan matanya. ia tidak menjawab ucapan dari jimin.


''Ayolah kawan, cepat ceritakan masalahmu. aku tau kamu pasti sedang kesal kepada rii kan?''


Peter mengubah posisinya. sekarang ia duduk dengan menyilangkan kedua kakinya, dan menyenderkan bahunya.


''Rii tiba tiba saja bersikap dingin kepadaku. padahal kemarin dia sudah cukup hangat kepadaku.''

__ADS_1


''Apa kamu punya salah kepadanya?''


''Tidak jimin. aku bahkan sudah bertanya namun dia malah menjawab. Mm.. kapan aku bersikap hangat kepada mu Peter. aku memang selalu seperti ini bukan.''


Peter menirukan ucapan rii waktu di kantin. dan jimin tertawa keras melihat Peter yang baru saja meniru ucapan rii.


''Apa aku terlihat sedang membuat lelucon. kenapa kamu tertawa jimin.''


Peter melempar jimin dengan bantal sofanya.


''Maaf.. maaf kawan, sepertinya kamu sendiri yang sudah salah paham dengan rii.''


''Maksud kamu apa jimin?''


''Dari ucapan rii barusan, mungkin hanya kamu yang menganggap rii sudah bersikap hangat kepadamu. padahal kenyataannya rii sama sekali tidak berubah. dia bahkan masih tetap sama dengan rii yang sebelumnya.''


''Apa aku terlihat sebodoh itu jimin. tidak.. tidak.. aku bisa merasakannya bahwa rii akhir akhir ini memang sedikit berubah dan menurut ku rii sudah menjadi hangat kepadaku.''


''Biar ku perjelas, apa mungkin rii sudah mulai menyukaimu. dan dia sedang berusaha bersikap dingin lagi kepadamu.''


''Ntah jimin. kenapa peluang ku tidak terlihat cukup jelas.''


''Hei.. kamu jangan seperti itu, apa kamu tidak menyadari jika rii sempat tersipu saat kamu mengutarakan perasaanmu kemarin?''


''Apa dia benar benar tersipu. bagaimana jika kamu salah melihatnya.''


''Hei... aku tidak sebodoh itu soal percintaan kawan. aku tahu mana wanita yang sedang tersipu saat seseorang mengutarakan perasaanya dan mana orang yang hanya biasa biasa saja.''


''Apa kamu benar benar melihatnya jimin?''


''Dengarkan aku baik baik. hubungan di antara kalian sudah ada peningkatan. dan yang aku lihat rii sudah merasa sedikit nyaman kepadamu. kamu hanya perlu mengasah nya agar rii bisa jatuh cinta kepadamu.''


''Aku tidak tahu jimin. aku bahkan merasa gugup ketika berdekatan dengannya. jantungku berpacu lebih cepat dari yang biasanya.''


''Aku yakin kepadamu. kamu pasti bisa, kamu bisa mengambil moment ini agar di antara kamu dan rii bisa mendekati sebuah pendekatan yang lebih serius.''


''Baiklah jimin. aku paham dengan maksud mu.''


Rii tidak sengaja berpapasan dengan lisa di jalan menuju ke kamar asramanya. rii memperhatikan lisa yang berada di depannya namun lisa. berpura-pura tidak melihat rii seakan akan rii hanya orang asing.


Rii menundukkan kepalanya saat lisa melewatinya. bagaimana pun. lisa sempat mengisi hari harinya walaupun berakhir dengan lisa membencinya. bahkan sampai detik ini rii masih mempertanyakan dimana letak kesalahan seriusnya kepada lisa, sampai lisa bisa begitu sangat membencinya.


''Hei rii.''


Lisa berteriak. dan sontak saja rii membalikkan tubuhnya untuk melihat lisa. mereka berdua beradu tatapan cukup lama. dan kemudian lisa berjalan mendekati rii.


''Apa kamu merindukan ku?''


Senyum rii mengembang. sepertinya lisa sudah tidak membencinya lagi.


''Mm.. gue rindu banget sama lo lisa, gue rindu banget.''


Namun tiba tiba senyum rii seketika surut. mendengar ucapan lisa membuatnya tersadar bahwa selamanya lisa akan terus membencinya.


''Kasihan banget si. karena sampai kapanpun kita tidak akan bisa kembali seperti semula. di sini. di dalam hati gue, begitu sakit dan sangat membekas bahwa lo pantas untuk menerima penghianatan dari gue.''


''Tapi apa salah gue lisa. gue ga tahu di mana letak kesalahan gue.''


''Pikir sendiri anj*ng gue muak liat muka lo rii.''


Suara lisa sampai menembus kamar asrama rii. teman teman rii mendengar suara lisa dari luar sana.


''Lisa.. gue pikir lo ga akan sebenci ini sama gue. gue ga tau apa apa, gue pikir ini semua hanya kesalah pahaman gue berusaha buat bagi waktu gue antara lo dan Peter, tapi lo malah membenci gue duluan tanpa membuktikan bahwa gue bisa membagi waktu gue.''


''Gak usah banyak bicara, lo pikir sendiri kenapa gue bisa sebenci ini sama lo. ingat rii sampai kapan pun gue ga bisa nerima lo lagi.''


Lisa pergi dari hadapan rii.


''Lisa.. asal lo tahu gue sayang banget sama lo. sampai kapanpun lo ga bakal bisa digantikan oleh siapapun. karena gue udah nganggep lo sebagai sodara gue sendiri. gue ga peduli mau seberapa bencinya lo ama gue. gue sayang sama lo lisa.''


Rii berteriak kencang saat lisa mempercepat Langkahnya. dari dalam kamar, teman teman rii keluar saat mendengar teriakan rii.


''Hei rii kamu kenapa?''


Stefanie langsung memeluk rii yang hampir tersungkur di lantai.


''Rii kamu kenapa?''


Celine mengulangi ucapannya. namun belum ada respon apapun dari rii. Stefanie kemudian membawa rii masuk kedalam kamar.


''Rii apa kamu baik baik saja?''


Stefanie mulai bertanya dengan keadaan rii. mereka bertiga di buat kebingungan dengan sikap rii yang tiba tiba saja hampir tersungkur.


Rii melihat Stefanie dan kemudian melihat ke arah celine dan rose.


''Terima kasih. makasih karena kalian sudah mau menjadi temanku.''


''Rii kamu kenapa. coba cerita kepada kami.''


Celine berusaha membuat rii agar dia mau menceritakan masalahnya.


''Aku baru saja berpapasan dengan lisa, kalian tau kan.''


Mereka bertiga mengangguk.


''Saat aku berpapasan dengannya, tiba tiba saja dia mulai bertanya kepada ku. apa aku merindukannya, dan aku dengan antusias menjawab aku sangat merindukanmu. namun balasannya ia malah memberitahuku tentang isi hatinya yang begitu membenci ku. aku bahkan bertanya di mana letak kesalahanku sampai kamu membenci ku. namun ia malah meninggikan suaranya kepadaku. aku syok saat dia menatapku dengan penuh kebencian. namun dengan cepat aku memberitahunya bahwa aku menyayanginya. namun ia sudah tidak terlihat lagi.''


Stefanie, Celine, dan juga Rose memeluk rii. mereka bertiga memberikan pelukan hangatnya agar rii bisa merasakan bahwa mereka bertiga menyayanginya dengan tulus.


''Kamu orang baik rii. orang seperti kamu semestinya tidak harus di benci oleh lisa.''


''Celine benar rii. hapus air matamu. lisa tidak berhak membuatmu menangis, dia bahkan tidak pantas mendapat seorang teman sebaik kamu.''


''Terima kasih temanku. aku mohon kita tetap seperti ini sampai kita lulus bersama sama. aku takut jika harus kehilangan seorang teman lagi.''


''Jangan menangis, aku juga ikut menangis jika melihatmu.''


''Haha, makasih rose sayang. aku tidak akan menangis lagi.''


Mereka bertiga kemudian berpelukan. mereka dengan cepat membalikkan mood rii kembali ceria. rii bahkan sempat berpikir. jika lisa tidak pergi mungkin ia tidak akan menemukan mereka.


Rii sungguh berterima kasih kepada mereka. karena kehadirannya membuat rii tampil percaya diri.


*


**Oke guys sekian dulu ya, maaf kalau masih suka typo.


Sekali lagi maaf untuk beberapa hari yang lalu author sempat ga update.


Jangan lupa share komen and like ya.!!!

__ADS_1


See u guys bye bye🥰🤗**


__ADS_2