
***
Happy Reading
Setelah kepergian rii, doni hampir jatuh tak bisa menahan tubuhnya, jantungnya terasa pengen copot dari tempatnya. kenapa tidak, ia sangat deg degan pas mengucapkan kalimat tersebut. ia takut rii akan membencinya, walaupun ia tau rii sama sekali tidak menyukainya, yang jelas ia sudah menyelesaikan tugas hatinya yaitu mengungkapkan perasaannya terhadap rii.
Lain hal dengan rii, ia masih syok dengan perkataan doni barusan, ia memegang dadanya sambil berlari dan setelah cukup jauh dari tempat doni, ia mulai berhenti dan menetralkan langkahnya. sambil berjalan dan memegang dadanya, pikirannya dipenuhi dengan perkataan doni. selain itu Lidia yang mencari keberadaan rii tak kunjung ketemu.
''Doni bawa rii kemanasi.'' gumam Lidia.
Lidia masih menelusuri area sekolah, dan setelah beberapa manit mencari. nampak la sosok rii yang sedang berjalan melamun dan memegang dadanya. Lidia sontak berlari mendekati rii.
''Rii lo kemana aja si gue cariin juga.''
Rii kaget saat Lidia tiba tiba datang.
''Astaga lidia.... lo apa apaansi bikin gue kaget aja.''
''yeah lo aja tu, jalan sambil bengong ntar ke sambet baru tau rasa.''
Rii tidak merespon perkataan Lidia, ia masih sangat syok
''rii... tuh kan bengong lagi, lo kenapasi ha.''
''Ga kenapa napa lid, gue balik duluan ga papa kan?''
''Eh.. tapi kok buru buru si, makanan lo di kantin aja masih banyak mubasir tau.''
''Ga apa apa, gue balik duluan ya bye.''
Rii pergi meninggalkan Lidia sendirian, Lidia nampak heran sebab rii tiba tiba berubah.
''Doni ngapain rii si kok rii bisa jadi aneh gitu. gue harus samperin doni de.''
Tidak menunggu lama Lidia akhirnya bertemu dengan doni di parkiran, Lidia sontak memanggil doni dengan berteriak
''doni...''
Suara Lidia mampu membuyarkan lamunan doni.
''Doni. lo ngapain rii? kok dia tiba tiba aneh kek gitu, lo apain dia ha jawab.''
Doni yang masih kaget dengan kedatangan Lidia, dia masih mencerna perkataan Lidia.
''Eh lo kok diem, jawab lo apain rii sampai dia bisa aneh ke gitu?
''Gue ga ngapa apain dia lidia.''
''Alah, alasan lo. kalo lo ga ngapa apain dia, rii ga akan bakalan bertingkah aneh.''
''Apaansi lo Lidia. minggir gue pengen balik.''
Doni membuka pintu mobilnya dan bergegas pergi dari sekolah.
''Aneh ya tu anak gue heran, kenapa mereka berdua jadi aneh gitu si.''
Lidia yang geram dan penasaran dengan sikap mereka berdua akhirnya memutuskan untuk tidak memikirkan, lidia juga bisa ikut ikutan aneh jika lidia terus ikut campur dengan urusan mereka berdua.
Sedangkan rii yang tiba tiba pergi dari hadapan Lidia barusan. ia memilih ke kantin mengambil tas dan bergegas ke parkiran. tetapi ia masih melihat doni di sana, sejenak ia berbalik arah dan mencari tempat untuk menetralkan perasaannya.
''Doni itu waras ga si. ko tiba tiba bilang gitu.''
Seketika perkataan doni terlintas dipikiran rii.
''Akh... doni sialan gue tonjok bibir lo baru tau rasa.''
Rii dibuat bingung, rii akhirnya memutuskan untuk balik ke parkiran lagi setelah ia merasa cukup lama menetralkan perasaanya dan menepis nepis semua bayang bayang perkataan doni.
Sesampainya rii di rumah ia langsung merebahkan dirinya dan memejamkan matanya. ia butuh istirahat dari lelahnya otak yang diisi materi materi ujian yang baru saja berakhir dan ditambah dari ungkapan perasaan doni barusan. tidak butuh waktu lama rii akhirnya terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan doni ia masih sulit untuk tidur setelah beberapa aktivitas yang telah ia lakukan untuk menetralkan perasaannya. mulai dari main game, fitnes dan lain sebagainya. ia berpikir bagaimana caranya ia menghadapi rii besok. sebenarnya ia tidak butuh jawaban dari rii karena doni tau rii pasti menolaknya, tetapi doni masih tetap ingin jawaban dari rii, meski pada akhirnya ia berujung ditolak.
Dan Doni juga masih ingin menanyakan satu hal yang ingin ia tahu dari rii.
__ADS_1
''Apa betul rii, akan pindah sesuai dengan perkataan rey.'' (batin doni)
Pikiran doni dipenuhi dengan bayang bayang rii. doni akhirnya memutuskan untuk mandi dan merebahkan tubuhnya agar ia bisa tertidur.
''Persetan dengan rii yang akan menolaknya.'' (Batinnya)
Hari ini adalah hari penentuan lulus mereka. semua kelas 12 sudah siap mendengar pengumuman dari pihak kepala sekolah.
''Baik anak anak semuanya sudah berkempul?''
Sontak semua murid berteriak.
''Sudahh pak.''
''Baik. bapak akan berpidato singkat hari ini.''
Dan lagi semua murid sontak berteriak.
''Baik Pak.''
Pidato dimulai dan selang beberapa menit pidato selesai, dan bapak kepala sekolah akhirnya mengumumkan bahwa murid kelas 12 semua ditanyakan lulus 100% dengan rata rata nilai yang memuaskan. semua siswa-siswi bersorak ria dan saling berpelukan satu sama lain.
''Rii akhirnya kita udah lulus, gue sedih pisah sama lo rii gue ga mau kita pisah akh..''
Lidia menangis di hadapan rii sedangkan rii cuma bisa memeluk dan mengelus pundak Lidia.
''Yaudah si ga usah lebay gitu.''
''Lo ya rii santai banget si jadi orang. mentang mentang lo bakal kuliah di luar negeri lo seenaknya aja ngomong gitu.''
Lidia kembali menangis se segukan. Dan doni yang dari tadi memandangi mereka berdua yang tidak jauh darinya ucapan mereka cukup jelas di dengarkan oleh telinga doni. ia kemudian langsung mengerutkan keningnya
''Ha.. rii bakal kuliah di luar negeri.'' (batin doni)
Sontak doni menghampiri mereka dan bertanya.
''Lo beneran mau kuliah di luar negeri rii?
''Mmm.. iya.'' jawab rii.
''Rii bisa bicara berdua, gue mau ngomong sesuatu sama lo.'' tanya doni.
Lidia yang melihat doni nampak serius perlahan berjarak dan memisahkan diri dari rii.
''Mmm.. yaudah kalian berdua gue tinggal bentar ya bye.''
Belum sempat rii berteriak jangan. Lidia sudah berlari jauh dari hadapan mereka berdua. rii merasa canggung berada di hadapan doni yang di sekeliling mereka banyak orang. doni membuka pembicaraan
''Rii apa benar lo bakal kuliah di luar negeri?''
Belum sempat menjawab rii bergegas pergi dari hadapan doni. rii pergi karena rii merasa malu diliatin banyak orang. dan ia memilih pergi dan menuju ke samping kelas rii. doni yang melihat rii pergi, sontak langsung mengikuti rii dari belakang.
''Rii jawab pertanyaan gue.''
Rii berbalik dan menatap doni.
''Iya emang kenapa?''
Rii memalingkan wajahnya kearah samping.
''Gue cuma nanya rii, and btw lo juga mau pindah rumah?''
Rii mengerutkan keningnya
''Lo bicara apasi don siapa yang mau pindah.''
''Kata rey lo mau pindah ke pulau terpencil yang tidak punya akses internet sama sekali.''
''Sok tau banget si, gue ga pindah kemana mana gue cuma kuliah di luar negeri doang. ngapain juga gue pindah ke pulau terpencil kalau gue mau kuliah diluar negeri. mending gue ga usah kuliah kalo gitu.''
Doni merasa tidak enak dengan rii pasalnya rey sudah berhasil membodohinya dengan perkataan palsu.
''Sorry rii gue kemakan omong kosong rey.''
__ADS_1
''Mm... iya.''
Rii masih bersikap dingin, ia tidak mau memikirkan soal apapun.
''Rii soal kemarin gue minta maaf, karena tiba-tiba gue langsung saja mengatakannya dan buat lo jadi terkejut.
''Mmm iya ga papa.''
Di sisi lain doni mau jawaban dari rii. seperti layaknya orang orang diluar sana.
''Rii kalo gue ngomong gue butuh jawaban dari lo apa lo keberatan?
Sontak rii membulatkan matanya saat mendengar ucapan doni.
''Ma.. maksud lo jawaban apa?''
''Gue mau jawaban dari pertanyaan gue kemarin rii.''
Rii langsung kebingungan, ia tidak tau harus menjawab apa.
''Oke rii tunggu sebentar.''
Doni akhirnya berlari kearah depan kelas mencari bunga dengan isyarat jika rii menolaknya ia akan membuang bunga tersebut dan jika rii menerimanya rii akan mengambil bunganya. dan setelah itu doni kembali ke hadapan rii.
''Oke rii lo ga usah jawab apa apa lo cuma harus dengerin titah gue. jika lo nolak gue ambil dan buang bunganya dan jika lo nerima gue lo ambil bunganya oke lo paham kan rii.''
''Rii mengangguk, kalo gue ga bisa ngelakuinnya gimana.'' tanya ri.
''Ga rii lo harus ngelakuinnya gue butuh jawaban lo.''
Rii mengela napasnya
''Oke gue lakuin.''
Mereka berdua terdiam sejenak sebelum memulainya.
''Rii.. gimana lo mau jadian ama gue?''
Sambil menyodorkan bunganya, rii cukup lama terdiam, ia merasa gugup dan takut.
''Rii ayo..'' jawab doni.
Rii mulai mengambil bunganya, Dan rii tidak langsung membuangnya rii merasa sedikit gugup untuk melakukannya, sedangkan doni yang melihat rii belum juga membuangnya sontak ia tersenyum tipis melihatnya, sampai senyum itu berubah jadi kecewa, rii sudah melepas bunganya dari genggamannya, rii cukup hebat membuat hati doni hancur berkeping-keping.
Tidak menunggu lama saat doni melihat bunga yang ia beri sudah berada di atas tanah, ia langsung pergi meninggalkan rii sendirian, sedangkan rii baru saja ingin mengucapkan kata maaf, namun doni sudah pergi begitu saja. rii merasa bersalah sudah membuat doni kecewa. tapi ia tidak bisa memaksakan perasaanya hanya demi doni.
Rii memutuskan untuk mencari keberadaan Lidia, setidaknya bebannya sekarang sudah berkurang, sebab ia tidak dipusingkan lagi dengan doni. ia hanya bisa fokus mengejar impiannya dan fokus untuk kuliah. setelah mencari cari keberadaan lidia tak kunjung ketemu. Ia memilih ke kantin untuk makan dan bergegas pulang.
''Mbak baksonya 1 ya.''
''Tambah 1 lagi ya mbak.''
Kata seseorang yang berada dibelakang rii. dengan senyum lebar, rii sudah hapal suara tersebut. sambil mereka menunggu pesanan, Lidia membuka suara.
''Rii lo ama doni jadian ya?'' Rii langsung merasa heran dengan pertanyaan Lidia.
''Ha.. siapa yang bilang.?
''Berarti benar kalian jadian?''
''Gue Pukul mulut lo lid, gue ga jadian gue baru aja nolak doni.''
''Ha.. yang benar lo rii? pantesan aja tadi muka doni Kesel banget, ternyata abis ditolak kyaa hahaha.''
''Ga usah ketawa napa. lo seneng liat dia menderita.''
''Gue senang lah ngapain juga gue sedih, dia tu pantes dapatin soalnya dia itu anaknya sombong banget. bagus lo ga jadian ama dia rii.''
Rii yang mendengar perkataan Lidia sedikit merasa kasihan, pasalnya doni selama ini berkelakuan jahil karena dia suka sama rii. akhirnya rii ga mau berpikir terlalu jauh, rii langsung menyantap makanannya yang baru saja diberikan oleh mbaknya.
***
Terima kasih teman teman yang sudah mau membaca, jangan lupa di share ya guys sorry kalo kurang memuaskan soalnya ini novel pertama aku si. hehehe salam dari author yaa...
__ADS_1