
*Happy Reading Guys*
.
.
.
.
Beberapa hari yang lalu lisa mengambil cuti dan pulang ke Indonesia. ia ketakutan karena jimin sudah mengetahui bahwa ialah di balik kecelakaan yang menimpa rii.
Saat Lisa pulang dari Amerika, ia terlebih dahulu mengunjungi rumah kediaman kedua orang tua rii. lisa memiliki alasan lain terkait ia mengunjungi rumah rii dan memberitahu kedua orang tua rii, bahwa rii sedang mengalami kecelakaan.
Sebelumnya, ke dua orang tua rii memang mendapat kabar dari pihak kampus jika anaknya mengalami kecelakaan.
Lisa nampak gelisah dan cemas. ia takut jika rii sudah mengetahuinya. dan ia juga takut, jika orang tuanya mengetahuinya. mungkin mereka akan sangat kecewa. namun lisa memikirkan cara lain agar ke dua orang tuanya tidak mengetahui hal tersebut.
''Lisa... kamu sudah bangun?'' ucap mamanya.
''Iya ma. bentar lagi lisa akan keluar.''
Ia menetralkan perasaannya. sebisa mungkin, ia tidak nampak begitu cemas dan gelisah di depan ke dua orang tuanya.
Lisa menuruni tangga dan bergabung kepada mereka yang sedang berada di meja makan.
''Ayo sayang, duduk dan makan ini.''
''Mm.. baik ma.''
Papa lisa yang sedang menikmati sarapannya hendak melihat putri kesayangannya.
''Lisa, bagaimana dengan kuliahmu nak. apa kamu baik baik saja.?''
Suara serak dan dominan dari papanya membuat lisa menelan makanannya dengan susah payah.
''Semuanya berjalan dengan lancar pa.''
''Apa kuliahmu tidak apa apa jika kamu mengambil cuti selama 1 minggu?''
''Papa tenang saja. lisa sudah meminta izin dan lagi pula kegiatan di kampus tidak terlalu padat.''
''Papa. sudah dong, lisa kan rindu sama kita.''
Hening, mereka nampak menikmati sarapannya tanpa di barengi dengan suara apapun. yang tersisa hanya suara garpu dan sendok yang saling berbenturan.
***
Jimin dan Peter sedang asik menikmati makanannya di sebuah cafe depan kampusnya. kali ini, Peter nampak tidak bersama dengan rii. Sebab rii sedang mengejar beberapa materi yang sempat tertinggal. ia juga sangat sibuk lantaran tugasnya menumpuk dan membuatnya sedikit kewalahan dan kurang tidur.
Teman temannya selalu memberitahu rii agar tidak terlalu memaksakan, mereka cemas jika rii terlalu memaksa ia akan kelelahan.
''Peter aku ingin memberitahumu sesuatu.''
''Katakanlah.''
''Apa kamu pernah melihat lisa sebelumnya?''
''Lisa? Tidak. semenjak hari pertama rii mengalami kecelakaan, ia nampak tidak pernah datang lagi setelahnya.''
''Apa kamu tidak curiga dengannya?''
''Hei.. apa yang sedang kamu katakan?''
''Aku minta maaf Peter. sebenarnya di balik kecelakaan rii. itu semua nampak sedang direncanakan.''
''Hei.. jangan mengatakan hal yang tidak pasti jimin. bagaimana mungkin ada orang yang ingin mencelakai rii, bukankah rii sudah merasa aman sekarang.''
''Kamu salah Peter. masih ada satu orang lagi yang ingin melihat rii terluka agar rii mau meninggalkan mu.''
Peter terkejut dengan ucapan jimin barusan. ia bahkan tidak percaya jika masih ada orang yang ingin menyingkirkan rii dari hidupnya.
''Siapa jimin. cepat katakan, aku akan memastikan jika menemukannya. akulah yang akan menyingkirkan dia dari negera ini.''
''Peter. jangan berlebihan, dia hanya seorang wanita yang lemah.''
''Aku tidak perduli jimin. cepat katakan siapa pelakunya?''
''Lisa.'' ucap jimin to the point.
''APA...'''
Peter terkejut saat mengetahui lisa la pelakunya. bahkan Peter tidak bisa menyangka sahabat dari kekasihnya tega melakukan ini semua.
''Jimin.. apa dia masih memiliki kewarasan? apa dia gila.''
Peter nampak sangat kecewa dan marah ketika lisa tega melakukan itu semua.
''Peter tenangkan dirimu.''
''Di mana lisa sekarang. aku akan memberi dia sebuah peringatan.''
''Aku juga tidak tahu Peter. dia menghilang begitu saja.''
''Aku yakin, dia pasti bersembunyi.''
***
''Rii... kamu kenapa?'' tanya Stefanie
Rii menghela napasnya.
''Aku baik baik saja.''
''Jangan berbohong rii. aku tau kamu pasti sangat lelah.''
Stefanie memberikan rii minuman agar ia nampak lebih segar.
''Aku sangat pusing. tetapi tinggal sedikit lagi, aku pasti akan menyelesaikan semua tugasku.''
''Hei rii.. jangan terlalu di paksakan, kamu harus bisa menjaga kondisi tubuhmu.''
''Terima kasih Celine. akhh... rasanya tulang tulang ku hampir patah karena terlalu banyak duduk.''
''Aku sarankan. jangan terlalu di kejar, santai saja rii.''
Celine memukul lengan rose.
''Aww...''
''Apa kamu pikir rii adalah dirimu. kamu bisa mengucapkan itu semua karena kamu bisa membayar dosen mu 2x lipat.''
''Itu adalah cara yang ampuh buat tugasku yang terlalu banyak.''
Rii seketika tertawa melihat tingkah celine dan juga rose. akhirnya mereka mencari tempat untuk menghibur rii yang sedang stress akibat tugasnya.
***
1 minggu kemudian.
Rii nampak lebih segar dari biasanya. Hari ini rii akan berkencan lagi dengan Peter. rii juga sudah mulai memahami situasi dan memahami bagaimana caranya agar tidak terlalu kaku dalam berpacaran.
Rii sempat ragu ketika ia harus mencari browsing tentang bagaimana cara berpacaran yang baik dan menjadi pacar yang baik. Sesekali rii juga meminta saran dari temannya.
Peter mencari beberapa tokoh perhiasan. ia berencana ingin memberikan rii sebuah kalung. terbilang cukup cepat memberikan sebuah hadiah kepada kekasihnya. namun Peter sudah menjatuhkan hatinya kepada rii. Bahkan ia berencana ingin menikahinya 5 tahun kemudian.
Mobil sport warna hitam telah berada di depan gerbang asrama. ia menunggu kedatangan rii.
''Hai.. apa kamu sudah lama menunggu?''
''Tidak juga rii. ayo kita pergi sekarang.''
Mereka terlebih dahulu singgah di sebuah restoran. dan kemudian ia pergi suatu tempat untuk menikmati kencan mereka.
''Rii... lihat itu, apa kamu ingin menaiki wahana itu?''
''Mm... aku ingin sekali menaiki itu sejak aku kecil. namun tempat seperti ini tidak ada di daerahku.''
''Baiklah aku akan mewujudkan impian mu.''
Mereka kemudian menuju ke tempat tersebut. rii dan Peter akan menaiki rollercoaster. wahana yang membuat seseorang berteriak sekeras kerasnya karena terlalu ekstrim.
''Rii apa kamu siap?''
__ADS_1
''Mm.. aku siap Peter, wow ini sangat menenangkan bagiku.''
''Pegangan yang kuat rii.''
Mereka telah bersiap dan dalam hitungan detik mereka akan merasakan kegirangan dalam menaiki rollercoaster tersebut. Rii berteriak sangat kencang, sedikit takut namun sangat menyenangkan baginya.
Peter melihat rii yang begitu kesenangan. bahkan sesekali rii akan tertawa keras jika mereka sudah berada di puncak dan segera turun ke bawah.
Setelah beberapa menit mereka menaiki rollercoaster tersebut. Peter nampak khawatir kepada rii.
''Rii apa kamu baik baik saja?''
''Hehe aku baik baik saja Peter. ini sangat menyenangkan.''
Peter mengelus kepala rii.
''Ayo kita ke sana untuk istirahat.''
Mereka merilekskan tubuhnya masing-masing. Peter sedikit lelah namun rii terlihat sangat biasa biasa saja. bahkan rii juga ingin menaiki satu wahana lagi.
''Peter apa kamu sudah siap. ayo kita menaiki yang satunya lagi.''
''Ya Tuhan rii. apa kamu sungguh tidak pernah menaiki hal yang semacam ini.''
''Mm... aku hanya bisa melihat yang seperti ini di layar televisi ku saja. dan sekarang aku bisa melihat secara langsung dan aku sangat bersemangat ingin menaikinya.''
''Terserah kamu saja rii. aku tidak akan ikut.''
''Ya... kenapa? kamu harus temani aku. aku takut jika harus sendirian.''
''Rii.. aku rasanya ingin muntah saat menaiki rollercoaster itu, dan sekarang kamu ingin menaiki wahana yang di sebelahnya. bahkan itu terlalu ekstrim ketimbang dengan rollercoaster.''
''Aku suka yang seperti itu. sangat mentang bukan, ayo temani aku.''
''Maafkan aku rii. sebaiknya kita pergi saja dari sini.''
''Aku tidak mau. jika kamu tidak bisa aku akan menaikinya sendiri.''
''Baiklah rii. ayo kita menaikinya.''
Rii tersenyum gembira. sedang Peter hanya bisa pasrah dengan kegigihan rii yang ingin menaikinya. Dan setelah beberapa menit kemudian. kepala Peter terasa sangat pusing. sedangkan rii nampak biasa biasa saja dan merasa sangat senang.
''Peter apa kamu baik baik saja?''
''Ahh... rii kepalaku sangat pusing.''
''Peter, maafkan aku.''
''Tidak apa apa. ayo kita ke mobil sekarang.''
Setibanya mereka di mobil, Peter mengambil kotak P3K di sana ia menyelipkan minyak yang berguna untuk meredakan pusingnya.
''Biar aku saja yang mengoleskannya.'' ucap rii
''Terima kasih rii.''
Rii mulai mengoleskan minyak tersebut di ubun ubun Peter dan bagian tengkuknya.
''Sebaiknya kamu rebahan dulu sebentar. aku akan keluar dulu.''
''Kamu mau kemana?''
''Hehe aku ingin melihat lihat ke tempat itu lagi.''
''Tidak. tidak boleh.''
''Peter aku mohon.''
''Tidak rii, bagaimana jika ada orang yang berani menganggu mu di sana?''
''Peter di sana banyak orang. aku pasti akan berteriak sekencang kencangnya agar mereka bisa menolongku.''
''Tidak. pokoknya kamu tidak boleh ke sana sendirian, aku akan menemani mu.''
''Tidak Peter. kamu harus istirahat dulu.''
''Tidak.. tidak.. aku tidak akan membiarkanmu pergi.''
''Baiklah.. baiklah.. tapi kamu harus janji, setelah itu kamu harus kembali ke sini.''
''Terima kasih sayang.'' sambil tersenyum manis kepadanya.
Peter yang baru pertama kali mendengar ucapan sayang dari mulut rii membuatnya ingin meleleh.
''Apa itu. rii kamu sangat manis sekali.''
Peter ingin melompat namun rasa pusing di kepalanya belum reda. akhirnya ia malah memilih salah tingkah sendiri dan menutupi mukanya yang nampak terlihat sangat senang.
Rii yang baru saja turun. ia merasa sangat senang, bahkan rii masih mau mencobanya satu kali lagi. tetapi ia sudah berjanji kepada Peter agar setelah menaikinya ia akan segera pulang.
''Bye sampai ketemu lain waktu.''
Rii melambaikan tangannya pertanda ia harus pergi namun ia tidak tahu akan kembali kapan lagi. Rii berlari sekeras mungkin. ia takut Peter akan menunggu lama dan memarahinya.
Pintu mobil terbuka dan rii segera memasukinya dan bersandar di atas kursi mobil.
''Akhirnya sampai juga.''
''Kenapa lama sekali. apa kamu menaiki beberapa wahana?''
''Astaga. kamu mengangetkan ku Peter. bagaimana jika barusan aku terkena serangan jantung mendadak. kamu pasti akan sangat khawatir.''
Rii terkejut karena saat dia masuk Peter seperti sedang tertidur. namun tiba tiba saja ia bersuara.
''Haha maaf sayang. apa kamu sangat menikmatinya?''
''Mm... aku sangat puas.'' sambil tersenyum ria
''Ayo kita pulang sekarang. sebentar lagi malam akan tiba.''
Beberapa menit kemudian mereka telah berada di depan gerbang asrama. rii hendak turun namun Peter mencegahnya.
''Kenapa?''
''Jangan turun dulu, aku ingin memberimu sesuatu.''
Rii menaikkan satu alisnya. ia penasaran dengan apa yang ingin Peter berikan. Sedang Peter kini mengambil paper bag kecil yang berada di sampingnya. kemudian Peter membuka isi dari paper bag tersebut.
Rii terkesima melihat benda kecil nan indah itu. dan tanpa permisi Peter langsung saja memasangkan kalung itu di leher cantik rii.
''Wah.. sangat pas sekali. kalung ini nampak cantik di lehermu rii.''
Rii memegang kalung tersebut yang sudah berada di lehernya.
''Apa ini peter.''
''Kamu tidak tahu? ini adalah kalung rii.''
''Maksud aku, kenapa kamu memberikanku sebuah kalung?''
''Hei sayang.. kamu pantas mendapatkannya, sebab kamu adalah kekasihku.''
''Tetapi,''
''Kamu tidak usah enak hati. aku sengaja membelikan ini untukmu. aku ingin membuatmu bahagia.''
Rii tidak bisa berkata kata. ia tidak tahu harus merasa senang atau tidak. sebab ia sedikit merasa malu saat peter memberikan ia kalung se cantik ini.
''Ini pasti sangat mahal bukan.''
''Kamu benar rii, ini hanya ada 2 di amerika.''
''Apa?'' rii terkejut mendengarnya.
''Jangan berlebihan seperti ini sayang. kamu memang pantas memakainya.''
''Peter. jangan seperti ini, aku tidak bisa menerimanya.''
''Tapi kenapa rii. apa kamu tidak menyukainya?''
''Bukan begitu peter. hubungan kita masih terlalu dini, dan kamu malah memberiku hadiah yang cukup fantastis.''
''Rii. aku mohon jangan menolaknya.''
__ADS_1
''Tidak peter. aku tidak bisa menerima ini.''
''Jika kamu tidak mau menerimanya, aku akan membuangnya.''
''Hei... apa kamu gila, kalung semahal ini kamu ingin membuangnya.''
''Iya.. karena kamu tidak mau memakainya.''
Rii hanya bisa pasrah. sangat di sayangkan jika kalung se mahal ini akan di buang oleh peter jika dirinya tidak mau menerima.
''Baiklah, aku akan menerimanya.''
Peter tersenyum. akhirnya ia bisa membuat rii pasrah dengan ucapan ancamannya itu.
''Kamu harus menjaganya dengan baik.''
''Iya Peter. aku akan menjaganya, dan Terima kasih karena kamu memberikanku hadiah yang begitu mewah.''
''Haha itu tidak masalah sayang, aku bahkan akan memberikanku 2 jika kamu mau.''
''Aish... ya... apa kamu gila. jangan memberikanku apapun itu tanpa persetujuanku, paham.''
''Baiklah rii. kamu ternyata cukup galak juga.''
''Hehe kamu jangan ngambek ya. aku hanya ingin menikmati masa berpacaran kita dengan hal hal yang sederhana.''
''Kamu memang wanita yang baik rii. aku beruntung bisa di pertemukan dengan wanita sebaik dirimu.''
Peter meraih tangan rii dan menciumnya. hal tersebut membuat rii merasa malu, namun sebisa mungkin rii menerimanya tanpa ada keluhan sama sekali. ia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi saat Peter mencium tangannya dan ia malah berteriak dan pergi begitu saja.
Peter tersenyum bahagia, nampaknya rii sudah tidak menolaknya.
''Aku keluar sekarang.''
''Baiklah sayang. selamat beristirahat.''
Rii hanya mengangguk dan segera meninggal mobil Peter. ia sama sekali sangat bahagia.
''Ya Tuhan apa ini yang di namakan cinta? kenapa aku merasa begitu senang. ya Tuhan, selamatkan jantungku.''
Rii berlari menuju ke kamar asramanya. ia tidak tahu lagi harus bagaimana. nyatanya mengalami fase berpacaran memang sangat menyenangkan.
***
Setelah mereka berkencan. beberapa hari terakhir, hubungan rii dan peter semakin membaik dan harmonis, mereka tiada henti tanpa berkencan. teman teman rii sangat memaklumi keadaan rii. sebab ini adalah kali pertama rii menjalin suatu hubungan.
''Hai sayang.''
Rii tersipu malu saat Peter memanggilnya dengan sebutan sayang di depan teman temannya.
''Baiklah kita pergi dulu.'' ucap Celine.
''Aku minta maaf ya.''
''Santai saja rii. kami mendukung hubunganmu.''
Teman teman rii kemudian meninggalkan rii dan Peter.
''Ayo sayang kita pergi dari sini.''
''Ya Peter.. jangan berkata seperti itu di depan umum lain kali.''
''Kenapa? aku tidak salah bukan. kamu adalah kekasihku.''
''Peter, terserah kamu saja.''
Peter kemudian tersenyum.
''Baiklah rii aku tidak akan menggunakan kata itu di depan umum. sayang.''
Saat mereka berada di sebuah cafe. dari arah jauh. ada seorang lelaki yang melihat kedekatan rii bersama dengan Peter.
Peter dan rii baru saja keluar dari cafe tersebut. dan Peter menyuruh rii untuk menunggunya sebentar. Peter mendadak ingin buang air besar.
''Sayang, kamu tunggu aku sebentar ya.''
''Kenapa?''
''Aku ingin buang air besar.''
''Baiklah aku akan menunggumu.''
Rii menunggu Peter sambil memainkan handphonenya. tiba tiba saja ada seorang lelaki yang berada tepat di hadapannya. rii mendongak melihat siapa lelaki tersebut.
''Hei rii.''
Rii membisu, ia tidak tau harus bagaimana. lelaki itu nampak sangat jelas di matanya.
''Rii lo baik baik saja kan?''
''Ah.. i.. iyaa.''
''Lelaki tadi siapa. cowok lo?''
''Lo ngapain di sini?''
''Oh gue cuman liburan aja ko. dan ga nyangka aja ya, kita bisa ketemu di sini.''
''Ohh...''
''Apa gue boleh bergabung duduk di sebelah lo?''
''Mm...''
''Wah.. rii lo banyak berubah ya, pasti hidup di Amerika sangat menyenangkan.''
''Tidak juga.''
''Rii lo tetap aja ya. ga berubah dan masih dingin, gue penasaran lelaki mana yang bakal bisa luluhi es batu lo itu.''
Peter baru saja keluar dari dalam toilet. ia bergegas dengan cepat karena takut rii akan menunggu lama. namun langkah Peter terhenti saat melihat rii sedang bersama dengan lelaki lain di sana. bahkan mereka sedang duduk bersebelahan.
Peter sangat cemburu. ia mengepalkan tangannya rasanya lelaki itu nampak tidak asing bagi rii.
''Sayang.''
Rii terkejut melihat Peter yang telah tiba di depannya.
''Peter.''
''Siapa dia?''
''Oh hai perkenalkan namaku Doni.''
Peter mengacuhkan doni. ia masih menatap tajam ke arah rii. tangan rii kemudian di pegang oleh Peter dan menyingkirkan rii dari sebelah doni.
''Peter, dia adalah teman sekolahku waktu aku masih duduk di bangku SMA.''
''Ayo kita pergi dari sini.''
Mereka meninggalkan doni sendirian. Peter nampak sangat cemburu.
''Peter.. apa kamu marah?''
Namun Peter tidak membalas ucapan rii.
''Aku minta maaf. namun doni tiba tiba saja datang dan kami hanya bertukar sapa.''
Rii berusaha untuk menyakinkan Peter. namun Peter sama sekali tidak membalas ucapan rii. sampai mereka berada di depan gerbang, Peter tetap saja mengacuhkan rii. padahal jika mereka telah berada di depan gerbang. Peter pasti sering kali mencium tangan rii sebelum ia keluar.
Namun kali ini berbeda, Peter tetap diam dan tidak melihat rii sama sekali. Sedang rii yang melihat sikap Peter yang acuh kepadanya hanya bisa pasrah.
''Baiklah jika kamu tidak mau merespon ku. aku pergi dulu.''
***
**Oke guys jangan lupa like and komen ya...
Author berharap kalian tidak bosan ya dengan novel author.
Maaf juga kalo masih suka typo.
See u guys 🤗🥰🥰**
__ADS_1