
***
.
.
Setelah film berakhir sesuai kata Lidia, Lidia akhirnya membangunkan rii yang benar benar ketiduran sepanjang film tersebut berlangsung.
''Rii... bangun rii sambil menepuk nepuk pipi rindu.''
Rii akhirnya bangun sambil mengucek ngucek matanya.
''Udah selesai flmnya?''
''Udah rii lo aja tu tidurnya ke kebo pules amat de.''
''Sorry lid, film yang lo liat abisnya bikin ngantuk.''
Rii memukul jidat rii.
''Iya iya yuk pulang ntar bokap lo nyariin lagi.''
Mereka akhirnya keluar dari bioskop tersebut.
''Rii thanks ya.''
''Buat?''
''Ya karena lo udah mau dateng kesini temenin gue.''
''Oh yang itu. gue kira apaan si hehe.''
Dering ponsel rii berbunyi.
*Halo bu.
*Rii kamu di mana, Ayah kamu nyariin nih.*
S*uara dari seberang telpon.
*Iya bu. ini rii udah mau pulang.
*Yaudah hati hati sayang.
Telpon diputus sepihak oleh ibu dewi.
''Kenapa rii tante dewi suruh lo balik ya.''
''Mm.. iya nih gue balik duluan ya lo hati hati bye.''
Sambil melambaikan tangannya.
Rumah rindu.!!!!
''Assalamu'alaikum...''
''Waalaikumsalam.''
Rii masuk sambil mencium tangan ke dua orang tuanya.
''Rii minta maaf ya udah pulang larut.''
''Emang kamu dari mana si rii?''
''Rii habis kerjain tugas ama Lidia yah, terus Lidia ngajakin rii nonton di bioskop gitu trus rii ga tau kalo bakalan selarut ini yah.''
__ADS_1
''Yaudah kamu istirahat, besok sekolah kan.''
''Iya yah, rii pamit ke kamar dulu.''
Keesokan harinya rii sudah sampai ke sekolah. ditempat parkiran rii bertemu dengan doni. setelah rii memarkir motornya rii bergegas pergi ke kelas, namun tiba tiba saja doni menyenggol rii sampai membuat rii terjatuh.
''Doni lo apa apaan si ha.''
Rii kesel tapi masih dengan raut wajahnya yang dingin.
''Kenapa marah?''
Rii tidak bisa melawan karena jika dirinya melawan yang ada dia bakalan berurusan dengan doni sampai dia tamat, dan hal itu sangat membuat rii ogah mau melawannya. rii cuma mengepal tangannya dan pergi dari sana. sejujurnya dalam lubuk hati doni ia tidak tega namun jika bukan dengan cara seperti itu ia tidak bisa dekat dengan rindu. ya walaupun caranya salah.
Rii masuk kelas dengan kesel.
''Rii lo kenapa?''
''Mm... gue kesel ama doni dia emang ga ada habis habisnya ya cari masalah ama gue padahal kan masalah kemarin udah selesaikan dan ditambah dia juga udah ngempesin ban motor gue. terus kenapa dia masih gangguin gue.''
''Rii lo tenang dulu emangnya dia ngapain lo si?''
''Dia sengaja nyenggol gue ampe gue jatuh. liat ni telapak tangan gue ke gores.''
Sambil mengulurkan tangannya yang terluka.
''Oh my god rii, doni emang keterlaluan yaa.''
Lidia geram dan ingin menemui doni, tetapi rii melarangnya.
''Gue mau samperin dia rii, doni dimana sekarang?
''Ga usah, ntar kalo lo nyamperin, dia bakalan cari masalah terus ama gue. gue ga mau berurusan sama dia lagi.''
''Rii.. lo kenapa si baik banget, sini tangan lo gue obatin di UKS.
''Rii andai saja lo ga nahan gue, udah gue maki maki tu anak.''
''Gue kan udah bilang ga usah diladeni ntar masalahnya jadi panjang. gue ga mau berurusan lagi ama tu anak gue pengen lulus tanpa gangguan doni Lidia.
''Oke rii gue ngerti maksud lo cuman sekali kali tu anak harus diberi peringatan. bukan berarti dia anak Kepala sekolah kita, dia mau berlaku seenaknya aja.''
''Udah ya marahnya ntar makanannya keburu dingin.''
''Rii lo ma terlalu baik tau ga.''
Lidia mendengus kesal atas sikap rindu yang terlalu santai saat diperlakukan seperti itu oleh doni.
Sedangkan dari kejauhan doni terus terusan memperhatikan rii dari kejauhan yang sedang makan bersama lidia. jam istirahat sudah selesai. dan secara tidak sengaja rii yang duluan ke kelas bertemu dengan doni. kelas mereka memang bersebelahan maka dari itu mereka bertemu.
''Eh.. ketemu cewek dingin nih.''
Rii yang mendengar tidak mau mengubrisnya dan terus berjalan menuju kelasnya. sedang Lidia ke toilet setelah bell berbunyi. mereka berpisah, maka dari itu rii sekarang sendirian, dan andai saja rii berdua sama Lidia doni pasti sudah kena makian dari Lidia.
Doni yang merasa diabaikan oleh rii akhirnya dia memberanikan diri menarik tangan rii. dan seketika rii kaget karena doni tiba-tiba saja menarik tangannya. rii akhirnya angkat bicara.
''Lo apa apaan si lepasin ga.''
''Kalau gue ga mau lo mau apa.''
''Doni lepasin ga lo maunya apasi?
Doni yang menarik tangan rii kini melihat luka di tangan rii akibat ulahnya tadi pagi.
''Tangan lo berdarah gara gara gue?''
__ADS_1
''Menurut lo.''
Rii kesel dan akhirnya rii menghempaskan tangan doni dan pergi menuju kelasnya.
''Ya ampun ternyata gue sekeras itu ama rii padahal gue cuma nyenggol dikit, tapi buat rii terluka. maafin gue rii.'' (batin doni)
Bell pulang berbunyi. diparkiran sudah ada doni. rii yang melihat semakin kesal.
''Dia lagi dia lagi.''
Sambil memutar bola matanya malas. tiba tiba saja doni menyodorkan hansaplast.
''Nih, buat luka lo sorry.''
Rii mengambilnya dan doni langsung masuk ke mobilnya dan melajukan arah mobil keluar dari gerbang sekolah. rii bingung pasalnya baru kali ini doni bilang maaf. tapi rii tidak mau mengambil pusing, dia mengantongi hansaplast tersebut dan meninggalkan gerbang sekolah.
Sesampainya di rumah, rii langsung menuju kamarnya membuka lembaran kertas yang bertuliskan beasiswa kuliah keluar negeri. ia berpikir keras bagaimana caranya berbicara dengan kedua orang tua mereka. pasalnya kedua orang tua rii ga tega jika anak satu satunya harus berpisah dengan mereka. rii bisa saja kuliah di sini namun rii sangat menginginkan beasiswa ini dari jauh jauh hari. yaa rii sangat senang saat mendengar dirinya dapat beasiswa untuk kuliah diluar negeri. Tiba tiba saja ibu dewi masuk.
''Rii kamu sedang apa?''
Rii cepat cepat menyembunyikan surat beasiswanya. ibu rii yang melihatnya nampak heran.
''Rii itu apa yang kamu sembunyiin?''
''Ga ada apa apa kok bu.''
Ibu dewi yang merasa ada yang aneh dari putrinya ia langsung bertanya.
''Rii kamu tau kan ibu ga suka dibohongin.''
Rii nampak bingung, ia tidak tahu harus bagaimana untuk memberitahu ibunya.
''Iya bu rii tahu.''
''Yaudah coba kamu kasih tahu ibu apa yang kamu sembunyikan.''
Dengan ragu ragu rii membuka laci meja dan memberikan surat beasiswa itu ke ibunya. ibu dewi langsung membuka dan membaca. rii gelisah saat ibunya membaca, seketika ibu dewi memeluk putri semata wayangnya.
''Rii kamu hebat nak bisa dapat beasiswa kuliah keluar negeri.''
Rii kaget pasalnya ibunya tidak marah, melainkan ia begitu senang.
''Rii kenapa kamu ga bilang sayang?''
''Rii cuma takut kalau ayah dan ibu tidak setuju.''
''Rii sejujurnya ibu ga bisa jauh dari kamu tapi bukan berarti ibu ga senang jika putri ibu ini dapat beasiswa diluar negeri.''
''Rii... jika memang rii sangat ingin kuliah di luar negeri ibu izinin kok.''
Sambil mengelus pipi rii
''Tapi bu, apakah ayah ngizinin rii juga? rii pengen banget bu kuliah di luar negeri.''
''Nanti ibu yang akan bicara sama ayah kamu sayang.''
Sambil memeluk rii dengan erat.
''Bu... rii ga bisa napas huk huk.''
''Hehe maafin ibu ya abisnya ibu senang banget rii.''
''Iya bu rii juga ga kalah senang pas dikasih ini ama ibu guru.''
''Yaudah ibu keluar dulu ya.''
__ADS_1
Rii mengangguk dan menutup pintu kamarnya.
***