
*Happy Reading Guys*
.
.
.
.
Setelah 1 minggu lamanya, rii baru bisa menemui peter. sejak kemarin, rii selalu saja menghindari kedatangan peter. namun peter masih tetap setia untuk menunggu jawabannya. ia tidak perduli jika rii terus saja menghindarinya.
Rii sangat terburu buru. sedikit lagi kelasnya akan di mulai. namun peter masih saja menghalangi jalannya. dan sampai akhirnya rii memilih untuk berlari mencari jalan pintas agar cepat menuju kelasnya.
Dan ketika rii hendak berlari tiba tiba saja ia hampir terjatuh karena lantainya sedikit agak licin. namun sontak saja peter dengan siap siaga menahannya agar rii tidak terjatuh. mereka berdua kini telah bertatapan.
Jantung rii terasa ingin copot. detak jantungnya berdetak 2 kali lipat dari biasanya. rii kemudian mendorong peter sekuat tenaga dan berlari meninggalkannya. Rii sempat blushing saat menatap wajah peter.
''Dasar gadis ceroboh. apa sekarang dia mulai menyukaiku? Mmm.. dia sangat cantik jika pipinya merah merona hehe...''
Peter tertawa ringan sangat melihat tingkah laku rii. Peter bahkan sangat gemas dengan wajah imutnya, rasanya Peter ingin mencubit pipi gemasnya itu.
''Permisi.''
Rii baru saja tiba di kelasnya. dan dia telat 5 menit. rii sangat malu kepada dosennya dan di tambah rii begitu sangat malu ketika Peter sempat melihatnya blushing.
''Apa Peter melihatnya. tidak.. tidak..'' (batin rii)
Rii berjalan sambil menunduk. ia memaki dirinya sendiri dan Peter. rii kemudian mengeluarkan pulpen di dalam tasnya dan mulai menyimak apa yang dosen jelaskan di depan sana.
Sedangkan lisa yang melihat rii yang berada di bangku bawa menatapnya kesal. lisa semakin membenci rii. namun ia tetap harus berpura-pura baik di depannya sampai rencananya berhasil untuk menyingkirkan rii dari kehidupan Peter.
Akhirnya jam kelasnya berakhir. lisa kemudian menghampiri rii dan mengajaknya untuk makan bersama di kantin.
''Hei rii. makan yuk.''
''Hei lisa. maaf banget nih, gue ada janji ama teman sekamar gue.''
''Ya.. baru aja gue ngajakin lo makan. kemarin kemarin ga sempat karena gue juga bareng ama teman teman gue yang lain rii. na baru sekarang de gue baru bisa ngajak lo.''
''Aduh. gimana ya lisa, tapi gue dan teman sekamar gue udah janji. lain kali aja gimana, gue pasti kosongin waktu gue buat lo.''
''Mm.. yaudah de.''
''Maaf banget ya lis.''
Sambil memegang kedua tangan lisa dan pamit pergi.
''Cih.. andai saja gue ga akting gue ma amit amit di sentuh ama lo rii.''
Rii berlari menghampiri Stefanie, Celine dan Rose. rii sampai harus mengatur nafasnya dulu untuk berbicara.
''Kamu kenapa rii?''
''Aku lagi makan rose.''
Rii berucap sambil duduk.
''Haha maaf rose. aku lagi bercanda, aku lari dari kelas sampai di sini. aku takut kalian menunggu lama dan.''
''Dan kamu takut jika Peter datang menghampiri mu dan akhirnya kamu memilih untuk berlari dan kabur darinya.''.
Mereka bertiga kompak mengucapkannya. dan berhasil membuat rii terdiam. ke tiga temannya itu langsung tertawa saat melihat ekspresi wajah rii.
''Dasar kalian. apa aku terlalu sering mengucapkannya sehingga kalian bisa menghafalnya di luar kepala kalian.''
''Rii.. kamu sampai kapan menghindar dari Peter. dia pasti sangat menunggu jawaban dari kamu.''
''Bisa kita makan, aku sangat lapar Stefanie.''
''Kamu mulai lagi rii, setiap kali kita mengucapkannya kamu selalu mencari topik pembahasan yang lain.''
''Rose, celine, Stefanie. aku mohon beri aku waktu, kalian tahu kan ini adalah hal pertama yang terjadi di dalam hidupku.''
''Rii.. kami tau, tetapi jika kamu memang tidak bisa. tolong katakan segera kepada Peter. apa kamu tega melihatnya menunggu jawabanmu sedangkan kamu terus saja menggantungnya?''
Rii terdiam saat Stefanie berkata seperti itu. ia bahkan tidak tahu harus bagaimana. ia tidak tahu perasaan apa dan seperti apa. karena pada sadarnya rii memang belum pernah mengalami hal yang seperti ini.
''Baiklah rii. kami mengerti ayo kita lanjutkan makannya.''
Setelah mereka pergi dari kantin itu. Ke tiga temannya ini sengaja meninggal kan rii, sebab mereka bertiga tau jika di depan mereka. sudah ada Peter yang menunggu rii.
''Rii kami duluan dulu. ada tugas yang harus kami selesaikan.''
''Kenapa tiba tiba. apa aku boleh ikut denganmu.''
''Tidak. kamu duluan saja kami hanya sebentar saja.''
Stefanie dan kedua temannya sudah pergi. tinggallah ia seorang diri. rii kemudian berjalan menuju asramanya namun tiba tiba saja tangannya di tarik oleh Peter dan membawa rii ke mobilnya.
''Peter ada apa ini?''
''Rii aku mohon ikut aku sebentar saja. aku merindukanmu.''
Ucapan Peter membuat dada rii terasa sesak. lagi lagi Peter membuat rii jadi karuan. rii sama sekali tidak mengetahui perasaan apa ini. yang ia tahu jika dia berlama lama di samping Peter. rii takut jika lama lama ia bisa terkena serangan jantung dadakan.
Kini keduanya menuju kerumah keluarga Peter. mami nina tiba tiba saja ingin bertemu dengan rii. karena sejak kemarin rii selalu menolak ajakan Peter. dan membuat mami nina harus membuang beberapa sisa makanan yang ia buat.
''Peter kemana kita akan pergi?''
''Kerumah mamiku.''
''Kenapa?''
''Apanya yang kenapa rii. mami selalu saja ingin bertemu denganmu namun kamu selalu saja menghindari ku. aku kasihan melihat mami yang harus memasak banyak dan berujung ke tempat sampah.''
''Kenapa seperti itu?''
''Itu semua karena kamu tidak bisa datang kerumah rii.''
Dan rii hanya diam. ia merasa sangat malu kepada mami nina karena dirinya selalu menolak ketika di ajak oleh Peter.
Kini mereka telah sampai di kediaman kedua orang tua Peter. mobil Peter di hentikan tepat di depan pintu utama rumah tersebut. mereka di sambut hangat oleh mami nina.
''Oh... rindu apa kabar sayang mami sangat senang melihatmu bisa hadir di sini.''
''Maaf mami nina, rii sempat membuat mami nina membuang beberapa makanan hanya karena rii tidak bisa datang.''
''Oh tidak masalah sayang. jangan merasa bersalah ayo kita masuk di dalam mami sudah menyiapkan semuanya.''
Kini mereka sudah berada di ruang makan. rii sangat terkejut melihat beberapa hidangan yang ada di atas meja. seperti sedang melakukan hajatan besar. padahal mereka hanya makan bertiga.
''Ayo rindu silahkan duduk.''
''Baik mami nina.''
''Rindu, apa yang ingin kamu makan. kamu tenang saja semua makanan yang mami hidangkan semuanya halal.''
Rii menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sebab ia tidak tahu harus memulai dari mana. semuanya nampak begitu enak di pandang dan terlebih lagi mungkin rasanya akan sangat nikmat.
''Rii kelihatan bingung mami. kenapa juga mami sampai harus memasak sebanyak ini.''
''Ini semua untuk kalian sayang. apa ini terlalu berlebihan?''
''Sangat mami.''
''Oh.. maaf sayang. rii bisa membawanya sebagian pulang jika kita menyisakannya.''
''Apa mami gila. rii bukan pengemis, dan dia juga tidak mempunyai siapa siapa di sini. dia akan mati kekenyangan jika memakan ini semua.''
__ADS_1
''Peter, jaga bicaramu. apa begini caramu memperlakukan mami nina?''
''Lihat rindu. Peter memang sering kali membentak ku. aku tidak tahu jika ini terlalu banyak. aku tidak akan mengulanginya lagi jika kalian datang kemari lagi.''
''Mani nina rii sangat berterimakasih aku akan membawa beberapa makanan ini pulang. teman teman sekamarku pasti akan merasa senang jika menyicipi masakan mami nina.''
''Maaf rii, tapi ini bukan masakan mami.''
Rii memilih diam. ia sangat malu ketika tau bukan mami nina yang memasaknya. setelah beberapa menit mereka akhirnya berkumpul di ruang tamu. tiba tiba saja melissa sepupu Peter datang berkunjung ke rumah mami nina.
''Halo mami nina. oh.. ternyata Peter datang juga.''
Melissa langsung saja memeluk Peter saat melihatnya. melissa sangat merindukan sepupunya ini. karena Peter memang jarang pulang ke rumah orang tuanya. dan nampaknya Peter menyambut hangat kedatangan sepupunya ini.
Rii yang melihat pemandangan itu merasa sesak. ia tidak tahu kenapa dadanya begitu sangat sesak melihat Peter berpelukan dengan wanita lain.
''Mami nina saya permisi ke toilet dulu.''
''Oh baik rindu. toiletnya ada di sebelah sana.''
Setelah mengetahui letak toiletnya di mana. rii kemudian pergi.
''Ada apa denganku. kenapa hatiku sangat sakit melihat mereka berpelukan. aku tidak tahu dengan semua ini. apa ini yang di namakan cinta? tidak.. tidak.. apa aku bodoh. aku tidak mencintainya bukan.''
Rii membersihkan wajahnya dengan air dingin. beberapa kali ia membilas mukanya dengan air dingin ini. namun hatinya masih tetap sakit.
Karena rii terlalu lama di dalam toilet. Peter kini menghampiri dan mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok ''Rii apa kamu masih di sana?''
''Ya...''
''Kenapa lama sekali?''
''Sebentar, aku akan keluar.''
Rii membuka pintu kamar mandi dan mendapati Peter yang berdiri di depannya. rii tidak mau menatap Peter. ia kemudian pergi dari hadapannya.
''Oh.. mami nina siapa dia?''
''Perkenalkan sayang ini adalah teman Peter. namanya rindu anastasia.''
''Benarkah, aku kira Peter tidak suka berteman dengan seorang wanita.''
''Mami juga sempat terkejut saat Peter membawanya kemari Melissa. namun saat mami mengetahui secara langsung dari Peter. akhirnya mami percaya.''
Kini Peter mulai duduk di samping Melissa, rii yang meliriknya tidak senang dengan sikap Peter.
''Hai namaku melissa.''
Melissa mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan rii.
''Namaku rindu anastasia.''
Setelah berkenalan mereka bertiga nampak sangat asik mengobrol. rii merasa di asing kan dengan kehadirannya. ia kemudian mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu. Handphone Peter berbunyi dan Peter segera mengeceknya.
Ia melihat pesan dari rii dan kemudian Peter menatap rii. mereka berdua saling bertatapan. dan Peter memilih untuk menyudahi duluan dan membaca pesan singkat dari rii.
*Aku ingin pulang*
Peter kemudian menyimpan kembali handphonenya di dalam saku celananya.
''Mami sepertinya aku dan rii pamit pergi dulu. aku ada tugas yang harus ku kerjakan.''
''Oh baiklah sayang. kalian hati hati.''
''Peter apa aku boleh ikut. aku juga ingin pulang.''
''Baiklah melissa.''
Sekarang di dalam mobil rii semakin merasa kesal. ia di acuhkan oleh Peter yang asik mengobrol dengan Melissa di depan. Peter melihat rii di balik kaca spion mobilnya. nampaknya muka rii sangat lesu.
Setelah mengantar Melissa ke rumahnya. Peter menyuruh rii untuk pindah tempat ke depan. namun rii sama sekali enggan untuk berpindah tempat. Peter yang sempat geram kini memilih untuk lebih pasrah dengan sikap rii yang enggan untuk berpindah tempat.
''Mm...''
Peter mengerutkan alisnya saat rii banyak diam dan hanya menjawab ucapan Peter dengan dingin.
''Hei rii. apa aku punya salah? kenapa kamu sangat dingin kepadaku.''
''Tidak.''
Peter Tidak bisa lagi menahan emosinya. ia benci jika rii harus bersikap dingin kepadanya. kini Peter mengarahkan mobilnya menuju ke apartemen miliknya. ia ingin mengetahui sebab dari sikap dingin rii kepadanya.
''Peter kenapa kita ke apartemen mu?''
Peter tidak menjawab ucapan rii. ia menyeret rii masuk kedalam apartemennya.
''Peter aku bilang kenapa kamu membawaku kemari?''
Peter menghempaskan tangan rii namun tidak terlalu keras. ia kini mulai berhadapan di depan pintu apartemen Peter.
''Aku bertanya kepadamu rii. kenapa kamu mulai bersikap dingin kepadaku apa aku mempunyai kesalahan?''
Reflek rii sontak saja mengangguk. dan dengan cepat rii menutup ke dua mulutnya. ia berbalik dan mengutuk dirinya sendiri.
"Astaga kenapa aku mengangguk'' (batin rii)
''Apa. di mana letak kesalahanku itu rii aku tidak mengerti.''
Rii kembali berhadapan dengan Peter.
''A.. aku tidak tahu.''
''Kenapa rii? kamu aneh.''
Peter berlalu dari hadapan rii. ia memilih mengganti pakaiannya, ia masih bingung dengan sikap rii barusan.
sedang rii duduk di atas sofa dan terus saja mengutuk dirinya.
''Rii... aku mencintaimu apa kamu mendengarku.''
Peter berteriak dari dalam kamarnya. rasanya Peter sangat jenuh menunggu balasan jawaban dari rii. Setelah berteriak cukup keras. ia kini menghampiri rii di ruang tamu.
''Rii...''
''Mm...''
Peter menghembuskan nafasnya.
''Bagaimana?''
Rii yang semula menunduk kini mendongak melihat Peter.
''Bagaimana apanya peter?''
''Soal jawaban yang kemarin.''
''Bagaimana ini aku harus menjawab apa'' (batin rii)
''Aku tidak mengerti dengan maksudmu peter.''
Tangan Peter kemudian menggenggam tangan rii.
''Rii.. aku mencintaimu.''
Ucapan Peter barusan membuat rii membisu. ada getaran yang membuat diri rii tidak bisa untuk menolak genggaman tangan Peter. kini rii berusaha untuk menetralkan perasaannya dan jantungnya yang berdegup kencang.
''Jika kamu mencintaiku. kamu seharusnya tidak berpelukan dengan wanita lain di depanku.''
__ADS_1
Peter tersenyum. ia sekarang sudah mengetahui kenapa rii bisa menjadi dingin barusan.
''Apa kamu cemburu dengan melissa?''
''Tidak. siapa yang cemburu.''
''Rii.. aku tahu kamu pasti cemburu. wajah kamu tidak bisa berbohong.''
Peter menyelipkan anak anak rambut rii ke belakang telinganya. sentuhan kecil Peter membuat jantung rii semakin tidak karuan.
''Tidak.. kamu salah paham aku tidak cemburu.''
''Jika kamu tidak cemburu kenapa kamu harus blushing. apa kamu mulai tertarik denganku?''
''Ya.... aku tidak blushing. kamu pasti salah lihat. ayo kita sekarang pulang.''
''Aku tidak mau.''
''Ya.. apa kamu ingin mati?''
''Baiklah rii bunuh saja aku. agar aku tidak sengsara menunggu jawaban darimu.''
Peter menyodorkan rii vas bunga miliknya.
''Peter. aku hanya bercanda kenapa kamu menyuruhku untuk membunuhmu.''
Tiba tiba saja terlintas di dalam pikiran Peter untuk mengerjai rii.
''Aku serius rii. jika kamu memang mau melihatku mati, aku akan mengabulkannya untukmu.''
Peter kemudian masuk di dalam kamarnya. ia kemudian menaburi darah palsu di atas lantainya menuju kamar mandi miliknya. Peter bahkan sudah merencanakan ini sejak kemarin namun karena waktunya begitu pas akhirnya ia memutuskan untuk mengerjai rii hari ini.
Rii merasa cemas dengan Peter yang tidak keluar dari dalam kamarnya selama 20 menit. akhirnya rii memutuskan untuk menghampirinya dengan perasaan takut takut.
''Peter.. Peter..''
Tidak ada suara, rii semakin cemas dan membuka pintu kamar Peter. dan di sana rii melihat ada beberapa tetes darah di atas lantai. rii terkejut dan menutup mulutnya.
''Peter... kamu dimana?''
Teriak rii yang memanggil Peter namun tidak ada balasan darinya. rii mengikuti kemana tetesan darah itu. dan sontak saja rii terkejut melihat Peter yang tergelak di atas bak mandi.
''Peter.. Peter..''
Rii berteriak sangat histeris, ia tidak menyangka jika Peter benar benar melakukan itu semua.
''Ya Tuhan bagaimana ini. Peter bangun Peter hiks hiks.''
Rii begitu sangat ketakutan ia berusaha untuk mengangkat Peter namun ia kesusahan. tubuh Peter begitu sangat berat. tubuh mungil rii tidak sanggup untuk menariknya.
''Peter.. bangun Peter bangun... hiks hiks.''
Rii kini memeluk bagian kepala Peter. ia mengusap air matanya dan menepuk nepuk pipi Peter agar ia bisa sadar. namun nihil Peter sama sekali tidak bangun.
''Peter kenapa kamu sangat bodoh. aku hanya bercanda dan kamu malah melakukannya, hiks hiks.. apa kamu segampang ini kepada orang. jika aku menyuruhmu untuk menyeberangi lautan untuk menemui ku di Indonesia apa kamu mau?. hiks hiks Peter aku mohon bertahanlah aku akan memanggil jimin.''
Rii kemudian mengambil handphonenya dan menelpon jimin. namun jimin sama sekali tidak mengangkatnya.
''Kenapa jimin tidak mengangkatnya. astaga bagaimana ini. Peter... aku mohon bertahanlah.''
Saat rii hendak pergi meminta pertolongan tangannya di tarik oleh Peter. dan rii terkejut Peter akhirnya sudah sadar.
''Peter... hei apa kamu bisa melihatku.''
Peter hanya mengangguk dan menahan rasa sakit di bagian perutnya.
''Kenapa kamu sangat bodoh. apa kamu mau mati seperti ini?''
Rii berusaha untuk membangunkannya.
''Rii...''
''Ya kenapa peter?''
''Aku.. akuu menyayangi mu, a.. aku mencintaimu rii.''
Dan lagi Peter kembali tidak sadarkan diri. rii menangis histeris.
''Tidak.. tidak.. Peter bangun.. peter... aku mohon jangan pergi tinggalkan aku. aku.. aku juga mencintaimu Peter. aku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini.''
Rii menangis tidak karuan. ia menangis sejadi jadinya, berulang kali ia mengusap air matanya dan menarik tubuh Peter namun ia selalu terjatuh.
''Peter.. jangan tinggalkan aku. kamu tidak boleh pergi seperti ini. kamu ingin mendapatkan jawaban dariku kan. aku sudah mengatakannya jadi aku mohon jangan pergi. akhh..... ''
Peter tidak bisa menahan tawanya. ia akhirnya tertawa saat mendengar tangisan rii layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya.
''Hahaha...''
Rii terkejut mendengar Peter tertawa. ia kemudian memukul dada bidang Peter dan pergi dari sana.
''Hei rii.. tunggu.''
''Jangan mendekati ku. apa ini terlihat bercanda di matamu?''
''Hehe maafkan aku rii.''
''Berhenti di situ. ini semua tidak lucu. bermain main dengan kematian bukanlah hal yang baik Peter.''
''Rii.. maafkan aku. aku hanya bercanda.''
''Jangan menyebut namaku. aku membencimu.''
''Ya.. rii kamu mau kemana?''
''Pulang.''
Saat rii hendak membuka pintu, Peter dengan cepat mencegahnya dan menariknya ke dalam pelukannya.
''Jangan pergi rii. aku mohon maafkan aku.''
''Peter lepaskan, jangan menyentuh ku atau memanggilku.''
Rii memberontak namun Peter semakin mengeratkan pelukannya.
''Apa sekarang kamu sudah menerimaku?''
''Jangan konyol Peter, aku hanya bercanda saat mengatakan itu.''
''Peter melepas pelukannya, jangan berbohong rii. kamu bahkan mengulanginya hingga dua kali. apa perlu aku mengulangi ucapanmu itu.''
''Jangan.''
''Haha jadi jawab aku sekarang, apa sekarang kita resmi jadian?''
Rii tersenyum malu. ia tidak tahu harus bilang iya apa tidak. sebab ini adalah pertama kalinya rii menjalin suatu hubungan.
''Hei rii jawab. jika kamu tetap diam itu artinya kita sudah resmi berpacaran.''
Rii menjauh dari tubuh Peter. ia kemudian berteriak.
''Iya.....''
Peter tertawa mendengar ucapan rii. mereka akhirnya berpelukan.
''Ya.. jangan seperti itu lagi. aku benar benar ketakutan.''
''Mm... iya sayang. maafkan aku ya, mata kamu sampai bengkak hehe.''
Rii memukul dada bidang Peter, mereka akhirnya berakhir berdebat.
__ADS_1
**Waduh.. es batu rii akhirnya meleleh ya guys. jangan lupa komen and like ya. See u guys.
Salam dari author 🤗🥰🥰**