Hei Rii

Hei Rii
Episode 4


__ADS_3

***


.


.


.


Setelah ibu dewi keluar dari kamar rindu, bu dewi langsung menuju ke ke kamarnya untuk berbicara kepada suaminya.


''Yah... ayah..''' sambil berlari menuju kasurnya.


''Mm... ada apa si?''


''Mm.. itu yah, soal kuliahnya si rii.''


''Iya emang kenapa dengan kuliah. rii juga belum kuliah kan.''


''Is.. ayah ma. maksud aku rii mau kuliah dimana.?''


''Ko tiba tiba bahas ini si, emang rii udah nentuin mau masuk kuliah dimana?''


''Ayah, kok balik nanya si nyebelin de.''


Pak denny tersenyum melihat istrinya cemberut.


''Oke maafin ayah ya bu. Ehm... jadi gini, kalau soal urusan kuliahnya si rii. itu tergantung rii mau kuliah dimana. ayah gak permasalahkan tentang rii harus kuliah di sini atau di sana. ayah pilih apa yang rii pilih juga ko.


Seketika istrinya tersenyum.


''Berarti ayah fine fine aja kan rii mau kuliah dimana.''


''Mm... iya, emang kenapa si, emang rii udah nentuin ya.?


Bu dewi mengangguk.


''Iya yah, anak kita hebat bisa dapat beasiswa.''


''Kamu yang benar, rii dapat beasiswa?''


''Iya yah, maka dari itu ibu mau nanya ayah, ayah bolehin kan rii kuliah diluar negeri?''


Pak denny terkejut dan langsung duduk seketika mendengar istrinya mengucapkan bahwa anaknya akan kuliah di luar negeri.


''Kamu bercanda kan bu. ayah gak mau rii jauh dari kita.''


''loh, ayah kan udah bilang ayah setuju setuju saja kalau rii kuliah dimana.''


''Iya bu, tapikan ga harus keluar negeri juga, jauh banget ayah ga bisa jengukin rii.''


''Ayah, rii pengen banget kuliah di sana. bahkan ia sempat ragu untuk bicara sama kita, karena takut kita ga akan setuju. yah.. aku tau ayah ga mau pisah jauh ama rii. begitupun ibu yah, ibu juga ga mau rii jauh dari ibu. tapi demi kebaikan rii dan kebahagiaan rii. ibu rela pisah ama anak kita asal cita cita dia bisa terwujud.''


Seketika pak denny termenung dan masih berpikir. ia tidak sanggup tapi disisi lain ia juga pengen anaknya meraih cita citanya.


''Bu... ayah pikir pikir dulu ya.''


''Iya yah, tenang aja kan masih ada beberapa semester lagi rii lulus.''


Pak denny tidak membalas perkataan istrinya, ia langsung tidur dan menarik selimutnya. ibu dewi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang begitu kekanakan. wajar saja jika pak denny bersikap seperti itu. ia bahkan sangat menyayangi putri satu satunya. ayah mana yang bisa jauh dari putri tercintanya.

__ADS_1


Di pagi hari rii bangkit dari tidurnya dan melakukan aktivitasnya untuk bersiap siap pergi ke sekolah. sedangkan diruang makan, ayah dan ibunya sudah menunggu rii untuk bergabung sarapan bersama. tidak menunggu waktu lama rii datang ke ruang makan dan duduk di samping ibunya. rii melihat bu dewi dan memberikan kode kedipan mata. ibunya yang melihat tersebut langsung angkat bicara.


''Ibu udah bicara sama ayah kamu rii. tapi ayah kamu masih kelihatan badmood gitu si.''


Sambil melirik ayahnya yang sedang sibuk menikmati makannya. rii yang melihat ayahnya nampak dingin langsung menunduk.


''Ayah pasti gak bakalan izinin aku buat kuliah di luar negeri.'' (batin rii.)


''Sudah rii nanti ayah kamu bakalan mau kok, cuma butuh waktu aja gitu.''


''Iya bu, yasudah bu, rii berangkat dulu ya. assalamu'alaikum bu.''


Sambil mencium tangan ibu dan beralih ke ayahnya. wajah ayahnya masih tetap sama. dingin dan tidak merespon salam dari anaknya. itulah pak denny sikap dinginnya bakalan keluar jika ia sudah mengalami mood yang tidak baik.


Diperjalanan menuju sekolah, rii masih memikirkan ayahnya yang bersikap dingin kepadanya. rii paling ga bisa di cuekin sama ayahnya, ia pasti sangat sedih karena ayah sekaligus cinta pertamanya mendiaminya. sepanjang perjalanan rii tidak henti hentinya mencemaskan sikap ayahnya tersebut. setelah beberapa menit menyusuri jalan ia telah sampai di parkiran sekolah. dan lagi lagi doni sudah ada ditempat tersebut, rii mulai bodoh amat dengan adanya doni di sampingnya, sebab motor rii dan mobil doni bersebelahan.


''Rii lo ga papa.''


Rii yang mendengar ucapan doni tersebut mengangkat alisnya sebelah.


''Emang kenapa?''


''Ya ga papa.''


Seketika doni menjauh dan pergi dari hadapan rii. ia salah tingkah, kenapa ia bisa berkata seperti itu kepada rii layaknya seseorang yang sedang mencemaskan sesuatu. sedangkan rii heran dengan sikap doni, rii berpikir mungkin anak itu lagi amnesia dan tiba tiba ia menjadi baik.


''Yaudah si ntar mungkin kumat lagi.''


Setelah bell masuk berbunyi, proses belajar mengajar dilaksanakan. semua murid kelas 12 sedang disibukkan dengan kisi kisi ujian untuk menghadapi ujian sekolah dan ujian nasional. sedangkan kelas 11 dan 10 beberapa siswa dan siswinya masih ada yang berkeliaran. setelah beberapa menit. jam pelajaran dimulai dan tidak menunggu lama bell istirahat berbunyi.


''Akh... akhirnya hal yang aku tunggu tunggu tiba, rii kantin yuk laper nih, perut gue udah mulai demo.''


Sambil mengedipkan matanya.


''Iya anak rajin.''


Lidia akhirnya menuju ke kantin dan rii sendirian di kelas karena masih ada beberapa jawaban yang harus di teliti ulang. lain halnya Lidia, ia sudah memesan dan tinggal menunggu rii datang saja. doni dan rey temannya menghampiri lidia, mereka langsung duduk tanpa permisi.


''Sendiri aja, rii mana kok ga keliatan. ''tanya doni.


Lidia yang males liat muka doni menjawab dengan judes.


''Lah kenapa, ada masalah gitu. ga usah banyak bacot de mending lo pergi bikin suasana hati gue hancur tau ga.''


Rey temannya doni membalas perkataan Lidia.


''Mau gue perbaiki ga suasana hati lo ntar siapa tau bisa jadian kita hahaha.''


Lidia menatap sinis kearah rey.


''Apa lo bilang, coba ulang satu lagi gue tabok mulut lo pake botol baru tau rasa.''


''yeah... mbak Lidia marahnya bikin rey jadi takut.'' ledek rey.


Sedangkan doni hanya menyaksikan adegan temannya tersebut, ia sibuk menanti kehadiran rii yang belum datang.


''Eh Lidia emang rii kemana si'' tanya doni.


''Apa urusan lo nyari nyari rii ha. jangan jangan lo mau bikin masalah lagi ya ama rii.'' tanya Lidia dengan muka yang sedang menelisik.

__ADS_1


''Ga lah gue cuma penasaran kok tiba tiba ga ada biasanya kan ada lo ada dia juga gitu.''


Rii yang sudah selesai dengan semuanya akhirnya menuju ke kantin dengan berlari, takut Lidia akan menunggu lama, ga butuh waktu lama rii akhirnya sampai dan langsung duduk disebelah lidia.


''Rii lo lama banget, nih baksonya udah ga enak dimakan.''


''Iya iya maaf, btw kok mereka bisa.''


Lidia tiba tiba memotong pembicaraan rii.


''Ga tau ni, tiba tiba aja mereka berdua langsung aja duduk tanpa permisi.''


Doni yang melihat rii sudah berada di samping Lidia akhirnya pergi dari hadapan mereka.


''Rey kesana yuk.''


''Eh kok tiba tiba si, rii baru sampai tau kita belum ngobrol ama dia.''


Doni langsung berdiri dan pergi begitu saja, sedangkan rey juga ikut pergi dan mengejar doni yang arahnya sudah sangat jauh. doni tidak tahu perasaannya tiba tiba saja berubah saat insiden itu. setelah ia mengetahui bahwa sikapnya telah menyakiti rii yang bahkan ia tidak pernah berniat membuat rii terluka, ia hanya suka menjahili rii karena dengan cara seperti itu ia bisa dekat dengan rii. ya kalian pasti tau cara doni itu salah.


Rii masih bingung dengan sikap doni yang tiba tiba berubah, lamunannya dihentikan dengan Lidia yang bertanya kepada rii.


''Rii lo liat doni kan sikap dia aneh tau, tadi dia itu tiba tiba nyariin lo trus pas lo datang dia langsung pergi aneh kan.''


Rii yang merasakannya juga bertanya tanya.


''Mm... mungkin lagi lupa minum obat kali, ntar bakalan kumat lagi tu orang, tapi ada baiknya juga si, gue ga jadi bahan olok olokan dia lagi kan. dan gue bisa tenang sampai ujian nasional berakhir.''


''Betul juga si kata lo rii, yaudah si yuk makan.''


Di tengah mereka asik makan rii akhirnya membuka suara.


''Btw ntar lo mau kuliah dimana lid?'' sambil menelan sisa makanan yang ada di mulutnya.


''Gue kayaknya belum nentuin de rii. lo sendiri gimana?''


Rii terdiam sejenak pasalnya ia memang belum memberitahu Lidia tentang ia akan kuliah ke luar negeri.


''Gue bakalan kuliah diluar negeri lid.''


Lidia terkejut mendengar ucapan rii.


''Lo serius rii?''


''Mm... iya lid, tapi ayah gue belum ngizinin si.''


''Ha.. kenapa?''


''Ayah gue ga bisa jauh dari gue, tapi kata ibu ayah masih mikir juga si.''


Seketika rii sedih yang mengingat ayahnya mendiaminya saat tau ia dapat beasiswa ke luar negeri.


''Yaudah si rii kan masih ada beberapa semester lagi, na selama bokap lo tau dari awal gini kan, dia juga punya banyak waktu buat mikir. lo harus yakin kalo bokap lo itu pasti ngizinin lo oke.''


''Makasih ya lidia, gue bangga punya sahabat kek lo.'' mereka akhirnya berpelukan.


***


Maaf yaa kalo ada typo.!!!!

__ADS_1


__ADS_2