
*Happy Reading Guys*
.
.
.
.
''Rii lo tenang dulu. gue ga tau apa maksud lo?''
''Munafik tau ga. lo itu... akh... tega lo ama gue lis.''
Peter yang menyaksikan perdebatan diantara mereka berdua hanya diam. sebab lisa dan rii kini menggunakan bahasa Indonesia. namun Peter masih bisa melihat ekspresi wajah rii yang nampak begitu marah kepada lisa.
''Lo apa apaansi rii. Gila lo ya.''
''Lo yang gila lisa. sekarang gue udah tau semuanya. apa salah gue?''
Lisa semakin tidak bisa menahan dan menutupinya lagi. akhirnya lisa meluapkan semua emosinya.
''Benar.. lo benar rii. gue emang udah nyelakain lo, karena lo ga pantes ada di sini.''
Rii semakin tidak habis pikir. lisa bisa melakukan itu semua padahal rii menganggap lisa sebagai saudaranya.
Plak.. satu tamparan keras telah lisa dapatkan dari rii.
''Apa lo baru saja menampar muka gue?''
''Iya. kenapa? itu adalah balasan. gue harap lo bisa cepat sadar lisa. apa yang lo lakuin itu semuanya ga benar. lo tega dan lo hampir buat hilangin satu nyawa demi diri lo sendiri? apa itu bisa di sebut sebagai sikap?''
''Gue ga perduli rii. gue sayang sama Peter. dan lo tau, semuanya berubah sejak lo makin dekat ama dia. gue sakit lihat lo bisa berdampingan sedangkan gue. hanya bisa menatap dia dari kejauhan.''
''Kenapa lo ga bilang sejak awal. gue udah bilang sama lo kalau gue hanya partner peter.''
''Awalnya gue mau jujur ke lo rii. tapi disaat gue mau ngatain itu ke elo. lo malah asik sama Peter dan jarang ngeluangin waktu lo.''
Sejenak rii terdiam. ia memang merasa bersalah waktu itu. tetapi, rii tidak bisa berbuat apa-apa sebab Peter terus saja mengajaknya pergi.
''Kenapa lo diam aja. gue benar kan, lo yang ngerusak ini semua rii. jika saja waktu itu lo bisa luangain waktu lo sebentar, hubungan persahabatan kita ga akan seperti ini.''
''Gue minta maaf lisa. gue tau gue salah, tapi. lo ga harus jadi seperti ini juga. lo sadar ga apa yang lo lakuin itu ga benar dan lo bisa saja di tuntut.''
''Rii... apa yang sedang kalian bicarakan?''
Rii hanya menatap Peter sekilas dan balik menatap lisa.
''Jika kamu menginginkan Peter. maaf lisa, aku tidak bisa melepaskannya. bagiku dia sangat berharga ketimbang dengan dirimu.''
Peter merasa bahagia mendengar ucapan rii barusan. namun ia menahannya agar tidak merusak suasana.
''Dasar jal*ng. Gue ga akan berhenti sampai Peter jadi milik gue.''
''Silahkan lisa. rebut dia kalau kamu bisa, tapi gue ga yakin kalau lo bisa. sebab, Peter bukan tipe lelaki murahan yang mau sama wanita licik sepertimu.''
''Dasar lo rii...''
Tangan lisa hendak menampar pipi rii. namun Peter menghalanginya, tangan lisa di genggam dan di hempaskan begitu saja oleh Peter.
''Jangan berani menyentuh wanitaku. aku tidak perduli kamu wanita atau bukan, sebab rii tidak pantas di sentuh oleh siapapun.''
''Maaf lisa. kamu dengar sendiri bukan, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini semua. karena pada dasarnya, aku begitu sangat menyanyangimu sebagai seorang sahabat. tetapi disaat aku tahu kamu memiliki sifat yang tidak bisa aku pahami. maka dari itu, mulai detik ini juga. kamu bukan siapa-siapa ku lagi. dan anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya.''
Rii meninggalkan tempat lisa, dan di susul oleh Peter yang berada di belakang rii. Air mata rii kini tidak bisa dibendung lagi. ia memilih melepaskannya dan menangis di sepanjang perjalanan. ia bahkan tidak tahu harus pergi kemana di saat hatinya begitu sangat sakit dan hancur ketika sahabat yang paling ia sayang mengkhianatinya dengan berpura-pura baik di depannya.
''Rii... hei rii. tunggu aku.''
Rii tidak mengubris ucapan Peter. Dan Peter yang kewalahan mengejarnya, kini memengang tangan rii dan membawanya ke taman dekat perusahaan papanya.
''Kamu tenangkan dulu perasaanmu di sini. aku tahu ini semua tidak mudah bagi kamu untuk menerima kenyataan ini semua.''
Rii menetap Peter dengan wajah yang sembab dan matanya memerah akibat menagis.
''Terima kasih Peter. kamu bahkan selalu ada di sampingku, di saat aku menghadapi situasi yang rumit dan bersedih kamu selalu berada di sisiku.''
Peter kemudian memeluk rii agar perasaannya bisa membaik.
''Kamu itu segalanya bagiku rii, aku tidak bisa melihatmu menangis atau di sakiti oleh siapapun.''
''Terima kasih Peter. aku beruntung bisa bertemu denganmu.''
''Apa kamu tidak mencintai ku?''
Rii melepaskan pelukannya. ia mengerutkan keningnya.
''Apa maksudmu Peter?''
''Aku bahkan belum pernah mendengar dari mulutmu secara langsung jika kamu mengatakan aku mencintaimu.''
''Haha apa kamu sedang merajuk? ayolah sayang, jangan meragukan perasaanku.''
''Apa yang kamu katakan barusan? aku tidak mendengarnya?''
Rii kebingungan dengan ucapan Peter. namun dengan cepat ia menyadari bahwa yang di maksud oleh Peter adalah kata sayang. Peter ingin rii mengulangi kata tersebut.
''Haha.. sa... yang....''
''Apa? aku tidak mendengarnya rii.'' Peter menggoda rii.
Dengan replek rii mencubit lengan Peter.
''Ih.. kamu itu sengaja atau tuli? aku tidak mau mengulanginya lagi.''
''Ayolah rii satu kali lagi. aku benar benar tidak mendengarnya.'' Sambil tersenyum.
''Sayang... sayang... sayang........ Apa kamu puas?''
''Haha... kamu sangat menggemaskan sekali rii.''
Peter mengacak rambut rii dan menampung pipi rii dengan kedua tangannya sambil menyubit gemas pipinya.
''Aw.. sakit peter.''
''Maaf sayang. apa sekarang perasaanmu sudah membaik?''
''Mm... ini semua berkat kamu, kamu adalah pendamping yang baik.''
Mereka berdua saling bertatapan. mata Peter kini melihat bibir tipis rii. perlahan Peter mendekatkan wajahnya ke arah wajah rii. hanya beberapa centi lagi, bibir mereka akan menyatuh. namun rii memalingkan wajahnya ke samping.
Tingkah rii barusan membuat Peter bingung. ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri. apakah ini terlalu mendadak, atau rii tidak mau.
''Peter sebaiknya kita pulang saja dari sini, aku... ada tugas yang harus aku selesaikan.''
''Baiklah rii.''
Rii memegang dadanya sembari menenangkan perasaanya. kejadian waktu di taman membuatnya semakin ketakutan. sedang Peter menatap rii.
__ADS_1
''Maaf rii.''
''Kenapa kamu meminta maaf?''
''Hanya saja aku terlalu terburu buru.''
Rii diam. jantungnya semakin di buat cepat oleh perkataan Peter barusan.
''Aku masuk dulu, kamu hati hati di jalan.''
Dengan malu malu rii menatap wajah Peter sekilas dan setelah itu rii melambaikan tangannya dengan langkah yang di percepat.
''Apa rii ketakutan?''
Peter tersenyum geli. melihat tingkah laku rii, ia berpikir bahwa kejadian barusan membuat rii panik dan bingung.
''Maaf rii jika aku membuatmu ketakutan, lain kali aku pasti akan meminta izin mu ketika akan melakukannya.''
Peter memaklumi, tidak heran jika sikap rii seperti itu. sebab rii sama sekali belum pernah merasakan fase berpacaran. dan mungkin, jika mereka behasil melakukannya. Peter mungkin adalah orang pertama yang akan mendapatkan ciuman pertama rii.
Rii masuk ke dalam kamarnya dengan terburu buru. Teman temannya merasa aneh dengan sikap rii.
''Hei rii. apa kamu baik baik saja?''
''Ah.. Aku baik baik saja Celine.''
''Kami mendengar jika kamu berdebat dengan lisa barusan apa itu benar?''
''Dari mana kamu mendengar itu semua?''
''Anak anak asrama yang lain mendengarkan perdebatan antara kamu dan lisa.''
''Apakah suaraku begitu keras, sampai mereka bisa mendengarnya.'' (batin rii)
''Mereka benar Celine. aku dan lisa berdebat, dan sekarang aku mulai mengerti dengan maksud kalian beberapa hari yang lalu. maaf jika aku tidak mendengarkan kalian.''
''Tidak apa apa rii. kami yang seharusnya meminta maaf, karena kami memilih untuk tidak memberitahumu duluan.''
''Aku mengerti dengan maksud kalian. Terima kasih karena kalian sudah mau menjadi temanku yang baik. Celine. Stefanie dan Rose. aku berharap, kalian tidak akan berubah dan menjadi teman baikku.''
''Kami juga berharap seperti itu rii. walaupun kita berbeda, tetapi hubungan pertemanan ini tidak boleh di hancurkan. aku bahkan sangat senang bisa menjadi bagian dari kalian.'' ucap Stefanie.
Mereka berempat kemudian saling berpelukan. mereka bahkan tertawa bersama, rii yang terlihat panik dengan sikap Peter, kini berubah dan melupakannya.
Pagi ini mereka berempat berangkat ke kampus bersama. dan saat mereka hendak keluar gerbang, mereka tidak sengaja bertemu dengan lisa. rii yang melihatnya sedikit merasa geram.
Rii masih terlihat kesal ketika melihat lisa, rii masih tidak menyangka jika lisa bisa melakukan hal jahat seperti itu. lisa nampak kesusahan di mata rii. namun rii mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan mereka menuju kampus.
Setelah kelas mereka selesai. Peter nampaknya sedang menunggu kelas rii berakhir. Rii dan teman temannya hendak keluar kelas, namun mereka memilih berpisah sebab Peter telah menunggu di depan kelasnya.
''Baiklah rii. kami duluan dulu dah...'' ucap Rose.
''Maaf ya. lain kali kita akan berkumpul lagi.''
''Baik rii.''
Setelah ucapan terakhir Rose kepada rii. Peter melangkahkan kakinya menemui rii.
''Ayo sayang kita ke tempat biasa.''
Rii hanya mengangguk dan kembali menunduk. seketika bayangan kemarin membuatnya sedikit malu, lain halnya dengan Peter. ia malah senyum melihat tingkah laku rii.
''Apa kamu marah kepadaku?''
''Tidak.''
''Tidak apa apa.''
''Kamu akan menabrak orang jika terus saja menunduk rii.''
''Aku akan berhati hati.''
Peter baru saja mengucapkannya, dan itu semua terjadi. rii terlalu menunduk dan tidak di sangka rii menabrak jimin yang kala itu hendak ikut bersama dengan mereka.
''Aw... Hei rii apa kamu bai baik saja?''
''Ma.. maaf jimin, aku tidak melihatmu.''
''Aku baru saja mengatakannya rii, dan kamu bilang akan berhati hati. lihat, apa ini yang namanya berhati-hati?''
Rii akhirnya memilih mengakhiri dan menatap wajah Peter dan jimin secara bergantian.
''Maaf Peter. jimin, aku juga minta maaf.''
''Tidak apa apa rii.''
''Ayo masuk.''
Mereka bertiga kemudian masuk di ke dalam mobil milik Peter. mereka kemudian menuju ke restoran tempat rii dan Peter yang sering mereka kunjungi.
Beberapa bulan kemudian. hari ini adalah hari dimana Peter dan jimin wisuda. perasaan rii bercampur aduk me jadi satu. ia sedih karena ia tidak bisa melihat peter setiap hari. namun di sisi lain, rii juga bahagia melihat kekasihnya itu mendapat gelar kelulusan.
Rii berjalan menuju ke arah peter dengan membawa sebuket bunga yang sudah ia pesan beberapa hari yang lalu.
''Selamat peter.''
''Terima kasih rii.''
''Hei rii. mami sudah sangat lama tidak melihatmu apa kabarmu sayang?''
''Halo mami nina, rii baik baik saja.''
Jimin menghampiri mereka.
''Hai kawan, selamat ya.''
''Baik jimin. aku juga mengucapkan kata yang sama. selamat ya.''
''Baik kawan, oh halo mami nina. lama tidak melihatmu.''
''Oh jimin... mami juga lama tidak melihatmu, apa kabarmu jimin?''
''Aku baik saja mami.''
Setelah mereka saling bertukar sapa dan mengobrol bersama. mereka kemudian ke rumah besar peter untuk merayakan hari kelulusan putra semata wayangnya.
''Silahkan dinikmati makanannya. mami mempersiapkan ini semua untuk peter dan juga kalian.''
''Ini nampak sangat enak mami nina. bukan begitu rii?''
''Mm... kamu benar jimin.''
''Baiklah kalau kalian suka. silahkan menikmati.''
***
Setelah makan. peter mengajak rii ke taman belakang rumahnya. peter dan rii menikmati indahnya danau tersebut.
__ADS_1
''Rii...''
''Iya peter.''
''Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.''
''Mm... apa itu?''
''Sekarang aku sudah bukan mahasiswa lagi di kampus Harvard. kamu tenang saja, mereka tidak akan menganggu kamu lagi. dan.. aku berharap kamu tidak melirik lelaki manapun.''
''Haha.. baiklah sayang. aku bahkan sedih, karena aku tidak bisa melihat wajah tampanmu ini setiap hari.''
''Bagaimana jika kamu tinggal di apartemen aku. kamu akan melihat wajahku setiap hari, bahkan ketika aku bangun tidur pun.''
''Apa kamu gila. aku tidak mau, di agamaku hal itu tidak diperbolehkan.''
Seketika peter terdiam. Dengan ragu ragu, peter menanyakan perihal ciuman yang di perbolehkan atau tidak. sebab belakangan ini, peter sempat mencari artikel tentang ajaran Islam yang di anut oleh rii.
''Rii...''
''Mm...''
''Apa berciuman juga tidak diperbolehkan dalam agama mu?''
Rii membulatkan matanya. ia gugup untuk menjawab ucapan peter.
''Kenapa kamu tiba tiba menanyakan hal itu?''
''Maaf jika aku lancang rii. sejujurnya aku ingin sekali mencium bibir mu. namun jika hal itu tidak di perbolehkan, aku bisa menahannya dan menghormatimu.''
''Peter.. aku minta maaf, apa yang kamu ucapkan benar memang di agamaku hal itu tidak di perbolehkan. bahkan berpacaran juga tidak diperbolehkan. tetapi kita bisa melakukan pacaran tanpa melampaui batas bukan.''
''Baiklah rii. apapun keputusanmu, aku akan menerimanya. tunggu 5 tahun kedepan, aku pasti akan menikahimu.''
''Ap.. apa kamu benar benar ingin menikahiku?''
''Mm... aku mencintaimu rii, aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku.''
Rii tersenyum mendengar ucapan peter.
''Aku akan menunggumu.''
4 tahun kemudian. Rii sudah resmi mendapat gelar dokternya setelah melakukan ujian. ayah dan ibunya pun ikut bahagia melihat putri kesayangannya berhasil.
''Nak. ayah bangga melihatmu.''
''Ayahmu benar sayang, ibu juga bangga sama kamu rii.''
''Ayah... ibu... Terimakasih, ini semua berkat doa dan dukungan kalian.''
Peter yang sedang berada di dalam mobilnya kini menghampiri rii dan kedua orang tuanya. saat rii memberikan kode kepadanya.
''Halo.''
Ayah dan ibu rii terkejut melihat kedatangan Peter.
''Ini siapa nak?'' ucap ayahnya.
''Halo Om dan tante.''
Ucap Peter terbata bata. beberapa hari yang lalu, Peter sempat menghapal beberapa kata untuk menyapa kedua orang tua rii.
''Halo juga.'' ucap Ibu dewi.
''Ini siapa rii?'' tanya ibu dan ayahnya.
''Mm.. ayah. ibu. rii minta maaf sebelumnya. ini Peter pacar rii.''
Dengan malu rii mengucapkannya. ayah dan ibunya syok mendengar ucapan putrinya itu. sekilas ayahnya menatap Peter dan menarik rii agar sedikit menjauh dari Peter.
''Rii apa kamu sadar nak. dia itu kafir, kita dan dia berbeda.''
''Rii tau yah. tapi rii sayang sama Peter.''
''Kamu bodoh. otak cerdasmu tidak kamu pergunakan dengan baik soal percintaan. dia kafir rii.'' ayahnya geram.
''Ayah... jangan berkata seperti itu, Peter anak yang baik, bahkan dia banyak membatu rii di sini.''
''Ayah tidak mau, putuskan hubungan kalian sekarang juga.''
''Ayah yang tenang dulu, ini hari spesial rii.''
''Bagaimana ayah bisa tenang bu. anak kita putri satu satunya ayah berpacaran denga seorang kafir.''
''Ibu tau perasaan ayah. tapi jangan seperti ini di sini, hargai dia ayah. kita bisa membicaran ini semua dengan baik baik nanti.''
''Ah.. terserah ibu saja.''
''Rii.. maafkan sikap ayahmu, dia hanya syok mendengar kalian berpacaran. ayah dan ibu akan kembali ke hotel dulu.''
''Baik bu.''
Peter yang melihatnya nampak bingung, ketika ibu dan ayah rii pergi. Peter baru menghampiri rii yang nampak sedih.
''Sayang. kamu kenapa?''
''Peter.. hiks hiks''
''Hei kamu kenapa rii? ada apa dengan papa dan mamamu?''
''Mereka tidak merestui hubungan kita. kata ayah, kamu dan aku berbeda. kita tidak di perbolehkan untuk menjalin hubungan ini.''
''Apa? tapi kenapa rii. aku sama sekali tidak pernah menyentuh mu.''
''Bukan itu Peter. agama kita berbeda, di dalam agama ku. kita tidak akan pernah bisa bersatu. kita berdua miliki keyakinan yang berbeda.''
''Apa ini? jadi maksud kamu. kita tidak akan pernah bisa bersatu untuk selamanya?''
''Kamu benar Peter.''
Peter perlahan mundur. ia tidak bisa menerima kenyataan ini. bahkan Peter sudah mempersiapkan cincin untuk melamar rii hari ini.
''Peter. bagaimana jika kamu pindah agama saja. hubungan kita pasti akan di restui oleh ayah dan ibuku.''
''Maaf rii beri aku waktu untuk melakukan itu semua. aku tidak tahu, jika ini semua akan terjadi.''
''Tapi kenapa Peter? apa kamu benar benar mencintaiku? kenapa kamu ragu untuk melakukannya.''
''Tidak rii, kamu salah paham.''
''Cukup Peter. ternyata kamu memang tidak sungguh-sungguh untuk mempertahankan hubungan ini.''
Rii pergi dari hadapan Peter dan menyusul ayah dan ibunya ke hotel. rii nampak kecewa dengan sikap Peter barusan.
**Ayo.. siapa nih, yang bisa tebak ending novel author seperti apa.
Jangan lupa like and komen ya guys. see u bye bye🥰**
__ADS_1