
*Happy Reading Guys*
.
.
.
.
''Peter apa aku boleh pulang?''
''Rii.. kamu harus tunggu sampai besok.''
Rii mengeluh. ia ingin segera pulang ke asrama.
''Kamu makan dulu dan setelah itu minum obatmu. apa kepalamu masih pusing?''
''Mm... masih pusing.''
Peter menyuapi rii hingga makanannya habis. rii ingin menolaknya. namun Peter tetap bersikeras agar dia saja yang menyuapi nya.
**
3 hari kemudian, setelah rii keluar dari rumah sakit. ia sudah mulai melakukan berbagai macam aktivitasnya. ia ketinggalan beberapa materi saat sedang mengalami kecelakaan dan masa pemulihan.
''Rii. apa kamu tidak lelah? ayo kita keluar untuk makan.''
''Tunggu 5 menit lagi Celine, aku akan segara menyelesaikannya.''
''Baiklah rii. kami tunggu kamu di depan gerbang asrama.''
Rii mengangguk dan terus mengerjakan materinya. dan setelah semuanya selesai, rii mengambil jaket di atas kasurnya dan bergegas menyusul mereka. sambil berlari karena takut temannya akan menunggu lama.
''Kenapa harus lari rii. kita tidak apa apa menunggu sedikit lama lagi.''
''Maaf kalian pasti menunggu lama. tidak celine, aku tidak mau merepotkan kalian. ayo kita berangkat sekarang.''
Mereka telah berada di sebuah cafe depan asrama mereka. sambil menunggu pesanannya, mereka berbincang bincang.
''Rii.. maaf, aku harus mengatakan ini kepadamu.''
''Mm.. ada apa Rose?''
''Sebaiknya kamu dan lisa memutuskan pertemanan kalian. kami bertiga merasakan keanehan, lisa nampaknya hanya berpura-pura kepadamu rii.''
''Rose jangan berkata seperti itu. lisa orang yang baik.''
''Rii.... buka matamu, kami berbicara seperti ini karena kami menyayangimu. kami tidak mau hal yang serupa terjadi lagi.''
''Maksud kamu apa Stefanie?''
Stefanie hampir saja keceplosan, pasalnya mereka bertiga sudah mengetahui jika lisa hanya berpura-pura kepada rii. mereka bertiga tau sejak bertemu dengan jimin waktu rii masih keadaan kritis.
Flashback.
Saat mereka bertiga hendak menemui rii untuk mengajaknya makan bersama. namun rii sudah bersama dengan lisa waktu itu. Celine, Rose dan Stefanie terlihat kecewa. akhirnya mereka memutuskan untuk makan bersama tanpa kehadiran rii.
Celine yang berada di dalam cafe bersama dengan Rose dan Stefanie melihat rii dan lisa sedang berjalan menuju ke cafe yang sama. Saat celine hendak memberitahu teman yang lainnya. rii sudah mengalami kecelakaan.
Sontak saja mereka bertiga terkejut dan keluar dari cafe tersebut. mereka ingin melihat rii, namun dengan cepat. suruhan jimin membawa rii ke rumah sakit terdekat. Teman teman rii. panik, mereka ingin melihat rii di rumah sakit tersebut. namun jejak mobil suruhan jimin begitu cepat.
Dan setelah mereka bertiga mengetahui letak rumah sakit yang di tempati oleh rii. mereka segera menemuinya. namun tiba tiba saja Celine melihat lisa yang baru saja keluar dari dalam mobil jimin.
''Tunggu. apa itu lisa?''
Stefanie dan Rose melihatnya.
''Kamu benar Celine. ayo kita menemuinya dan bertanya di mana letak ruangan rii.''
Tetapi saat hendak menemuinya, lisa terlihat kesal dan menaiki sebuah taxi.
''Hei apa kalian teman teman rii?''
''Ya.. kami temannya. apa kamu tahu di mana letak ruangan rii berada?''
''Ya.. ikuti aku.''
Jimin yang tatkala ingin pergi, tiba tiba saja melihat tiga sosok yang ia kenal. jimin akhirnya keluar dari dalam mobilnya dan menemuinya.
''Bagaimana kalian bisa tahu jika rii sedang mengalami kecelakaan?''
''Mm... kami tidak sengaja melihatnya, kebetulan rii waktu itu sedang menuju ke cafe yang sedang kita tempati. namun saat aku hendak memberitahu temanku tiba tiba saja rii sudah tertabrak mobil.'' Ucap Celine.
''Itu semua ulah lisa.''
Tanpa di sadari jimin keceplosan. sontak saja teman teman rii terkejut saat mendengarnya.
''Apa yang kamu bilang barusan?''
''Ah.. tidak ada apa apa, mari sebelah sini ruangannya.''
Jimin mengalihkan pembicaraan, ia mengutuk dirinya sendiri lantaran sedang keceplosan. Sedang Celine merasa aneh dengan sikap jimin barusan.
Rose dan Stefanie memasuki ruangan rii. namun Celine tidak masuk. ia memilih mengejar jimin dan memastikan ucapan dia barusan.
''Celine kenapa tidak masuk?'' kata Rose
''Kalian duluan saja, ada yang ingin aku katakan kepada jimin.''
Celine mengejar jimin.
''Jimin tunggu.''
Jimin berbalik lantaran suara Celine begitu sangat keras.
''Ya ada apa.''
''Maaf jimin. perkenalkan aku Celine teman rii.''
Celine mengulurkan tangannya dan di balas hangat oleh jimin.
''Ada apa?''
''Maaf jimin, apa barusan kamu menyebutkan nama lisa dengan kejadian ini?''
''Rupanya wanita ini sangat antusias ingin mengetahuinya.'' (batin jimin)
''Tidak. kamu mungkin salah dengar.''
''Tidak jimin. aku mendengarnya sangat jelas. apa benar ini semua ada kaitannya dengan lisa?''
''Mari kita berbicara di dalam mobil ku saja.''
Celine mengiyakan ajakan jimin. dan mereka sedang berada di dalam mobil jimin sekarang. Jimin menatap Celine.
''Maaf nama kamu siapa?''
''Celine.''
''Ah... begini celine. beberapa hari yang lalu aku menyewa seseorang untuk mengawasi gerak gerik lisa. karena selena telah memberitahu ku jika lisa sedang merencanakan sesuatu.''
''Ya Tuhan. sejak kemarin aku dan teman temanku memang mencurigai lisa. tetapi apa benar jimin, lisa yang sudah melakukan ini semua?''
''Kamu benar. dia nampaknya memikirkan hal ini berulang kali dan sampai pada saatnya tibalah waktu ini.''
''Aku tidak percaya. selena memang sangat kejam, padahal rii begitu sangat menyayanginya dengan tulus.''
__ADS_1
Flashback off.
''Rii... cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahuinya.''
Rii nampak bingung dengan omongan teman temannya barusan. namun rii masih tetap mengharapkan lisa, dan bahkan saat ini. ia tidak melihat lisa sama sekali.
Mereka telah selesai makan. Handphone rii berdering, pesan masuk dari Peter la yang tertera di layar handphone rii.
*Mau makan bersama?*
Rii tersenyum. dan segera membalas pesan Peter.
*Aku baru saja selesai makan bersama dengan temanku, tapi jika makan bersama denganmu aku mungkin masih bisa bernegosiasi dengan perutku ini.*
*Haha astaga rii. ternyata porsi makan mu cukup banyak. baiklah aku akan menjemput mu sekarang, kirim lokasinya sekarang*.*
Rii mengirim lokasinya. sedang teman temannya hanya menyaksikan tingkah rii yang sedang bertukar pesan dengan Peter.
''Apa Peter sedang mengajakmu berkencan lagi?'' ucap Stefanie.
''Ah.. haha dia baru saja mengajak ku untuk makan.''
''Apa kamu serius, kamu baru saja makan rii.''
''Haha aku serius Celine. lagi pula perutku ini, masih muat beberapa makanan hehe.''
''Terserah kamu saja rii. jika Peter tidak mempermasalahkan bentuk tubuhmu. makanlah sepuasnya hehe.'' Ucap Rose.
Mobil Sport Peter sudah tiba di depan cafe yang mereka tempati.
''Dia sudah datang aku pergi dulu ya, dah... sampai bertemu lagi.''
''Baiklah rii selamat bersenang-senang.''
***
''Apa perut kecilmu ini masih memuat beberapa makanan?''
''Hehe.. kemana kita akan pergi?''
Peter menyalakan mesin mobil dan menancapkan gas mobilnya.
''Jika aku menolak untuk memberitahumu, apa kamu akan marah?''
''Ya... aku tidak akan mau jika kamu tidak memberitahu ku duluan.''
Peter mengacak rambut rii.
''Kenapa kamu sangat menggemaskan rii. kita akan ke rumah mami. kali ini bukan mami yang mengajakmu tetapi akulah yang mengajakmu.''
''Apa mami nina ada di rumah?''
''Mami sedang keluar negeri bersama dengan papa.''
''Jika mami nina tidak ada. apa hanya akan ada kita berdua?''
''Mm...''
''Ya.. aku tidak mau.''
''Kenapa? apa yang sedang kamu pikirkan sekarang.''
''Tidak. tidak ada.''
Peter akhirnya mulai menggoda rii.
''Jika kita sudah tiba lebih baik kita berdua mandi dulu bagaimana?''
Mata rii membulat.
''Apa kamu gila. aku tidak mau, lebih baik kita putar balik saja dan cari restoran di dekat sini.''
Dengan reflek rii memukul bisep Peter dengan keras.
''Aw.. sakit rii.''
''Biarkan saja. ini adalah awal, jika kamu berani macam macam awas saja aku tidak akan mau menemui mu lagi.''
''Hei sayang. kamu kenapa, kenapa pikiran kamu terlalu jauh.''
''Ah..''
''Haha beritahu aku apa yang sedang kamu pikirkan. aku mengajakmu ke rumah karena aku baru saja memasak makanan di rumah. aku ingin kamu mencicipinya.''
Rii sangat malu, bagaimana mungkin pikirannya terlalu jauh.
''Terus kenapa kamu menyuruhku mandi setelah tiba di sana.''
''Karena aku pikir cuaca hari ini cukup panas. aku hanya ingin menikmati makanannya dengan keadaan yang lebih segar.''
''Ah.. kamu menyebalkan.''
Peter berhasil untuk menggoda rii. Peter tidak bisa menahan tawanya. sepanjang perjalanan rii nampak tidak membuka suara. Peter sesekali akan melirik dan memanggilnya, namun yang ia dapat hanya kebisuan.
''Hei rii. apa kamu masih kesal? aku mohon rii, jangan mendiamkan ku seperti ini.''
Peter akhirnya memilih untuk terdiam juga. sampai saat ini, Peter masih mencari bagaimana caranya agar membujuk seorang rii. mereka akhirnya sampai di kediaman orang tua Peter.
Mereka berdua telah keluar dan menuju pintu rumah tersebut.
''Hei rii. tolong maafkan aku.''
''Mm...''
Peter mendengus.
''Di mana kamar mandinya, aku gerah aku akan mandi.''
''Hei rii. aku hanya bercanda sayang.''
Saat Peter memanggilnya sayang. ia tersenyum, pasalnya rii sama sekali tidak bermaksud mendiamkan Peter. ia hanya malu kepadanya.
''Katamu kamu mau mandi. ayo kita sekarang mandi dan makan bersama.''
''Tidak rii. aku hanya bercanda, sebaiknya kita ke ruang makan dahulu aku lapar rii.''
''Haha baiklah.''
''Hei apa kamu baru saja tertawa?''
Peter mengejar langkah rii yang sedang menuju ke meja makan. mereka kini telah menikmati makanan yang telah Peter hidangkan di atas meja.
''Bagaimana?''
''Kamu memang pandai memasak Peter. setelah ini aku akan mencuci piringnya.''
''Tidak usah rii. biarkan bibi yang mencucinya.''
''Tidak.. tidak.. biar aku saja. kamu telah lelah memasak ini semua, jadi biar aku saja yang mencucinya. jika kamu menolaknya aku tidak akan mau mengajakmu berbicara.''
''Baiklah rii. lakukan sajalah.''
Rii mulai mencuci piring piring kotor dan panci bekas masakan Peter. sedang Peter naik ke atas sebentar. tinggal beberapa piring lagi semuanya akan selesai. tiba tiba saja Peter langsung memeluk rii dari arah belakang. rii terkejut, ini baru pertama kalinya rii di peluk oleh seorang lelaki selain ayahnya.
''Peter apa yang kamu lakukan?''
''Apa aku tidak boleh memeluk pacarku sendiri?''
__ADS_1
''Lepaskan Peter. aku sedang mencuci piring.''
''Lakukan saja dan biarkan aku tetap seperti ini.''
''Peter lepaskan, aku tidak terbiasa seperti ini.''
Peter akhirnya melepaskan pelukannya. ia mencerna perkataan rii barusan. Peter kini menjauhkan tubuhnya dari rii sehingga rii bisa menyelesaikan cuci piringnya.
''Rii..''
''Apa?''
''Apa maksud kamu barusan?''
''Maksudnya?''
''Ayo kita bicara di ruang tamu saja.''
Peter mengajak rii ke ruang tamu, dan terlebih dahulu. Peter mengambil beberapa minuman dan cemilan di dalam kulkas.
''Saat aku memelukmu tadi. kamu terlihat tidak nyaman. apa maksud semua itu?''
''Peter..''
''Apa kamu belum bisa menerimaku. apa kamu hanya terpaksa menerimaku?''
''Tidak.. tidak Peter.''
''Lalu apa?''
''Sebelumnya aku sama sekali belum pernah berpacaran. dan ini adalah pertama kalinya aku merasakannya. dan setelah kamu memelukku tadi, aku tidak terbiasa dengan itu. seumur hidupku, hanya ayahku yang selalu memberikan pelukan hangatnya.''
Peter terkejut mendengar ucapan rii. ia sama sekali tidak tahu jika rii baru pertama kali berpacaran.
''Aku minta maaf rii, aku sama sekali tidak mengetahuinya dan aku pikir kamu sudah mengalami hal yang seperti ini.''
''Tidak apa apa Peter.''
''Jadi, apa aku adalah cinta pertama mu?''
Peter mengatakannya dengan hati hati. ia penasaran jadi Peter menyatakan pertanyaan itu.
''Mm.. kamu benar Peter. kamu adalah cinta pertamaku, dan kamu adalah lelaki pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta.''
Peter merasa malu. namun ia juga sangat senang, karena nyatanya wanita yang sangat ia cintai tidak memiliki riwayat dekat dengan lelaki manapun kecuali dengannya saat ini.
''Kamu kenapa?''
''Ah.. tidak, mau berkeliling?''
''Kemana?''
''Melihat lihat di sekeliling rumahku.''
''Kelihatannya bagus juga.''
Peter mulai menggenggam tangan rii. dan rii sedikit agak ragu membalas genggaman tangan peter. Mereka mulai melihat di belakang rumah peter. di sana rii bisa melihat ada danau dan pepohonan yang indah.
''Wah.. sangat cantik, apa itu juga milik keluarga mu?''
''Haha bukan. itu pemilik orang lain, dulu waktu aku masih kecil. mami sama papaku hendak membelinya untukku, namun setelah aku hampir terjatuh di danau itu. mami melarang papa untuk membelinya, kamu tahu rii. Pagar besar ini di buat agar aku tidak sering kabur untuk pergi ke sana.''
''Tidak heran juga mami nina begitu sangat khawatir kepada putranya. sebab jika kamu tenggelam, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu.''
''Haha kamu itu. apa sekarang kamu mulai menggodaku?''
''Tidak peter. semua yang di lakukan oleh mami nina hanya untuk keselamatan putranya. tetapi jika aku berada di posisimu, aku juga tidak bisa menolak karena danau itu memang sangat indah.''
Mereka kemudian naik ke lantai dua rumah Peter, Rii sangat mengangumi interior rumah Peter. perpaduan warna abu abu dan silver membuat ruangan ini terlihat sangat mega.
''Sekaya apa si Peter. semua isi rumahnya terlihat sangat mewah.'' (batin rii)
''Apa kamu mau melihat kamarku?''
''Apa tidak apa apa?''
''Hei rii. siapa juga yang ingin melarang mu. aku adalah pemilik kamar itu.''
Dengan ragu ragu rii mulai masuk di dalam kamar Peter.
''Ayo rii masuk.''
Saat masuk rii terlihat kagum melihatnya.
''Peter kamar kamu sangat bagus.''
''Jika kelak kita sudah menikah kita bisa memiliki kamar yang lebih bagus dari ini.''
Rii malu malu saat Peter mengatakan hal yang seperti itu.
''Ya.. kita masih muda, jangan berbicara seperti itu.''
''Rii.. apa kamu tidak mau menikah denganku?''
''Wah. apa ini. ternyata pemandangan di balik jendela kamar mu terlihat sangat indah. pasti sangat nyaman berada di kamar sepanjang hari.''
Rii mengalihkan pembicaraannya, ia tidak berpikir hubungan ini akan sampai ke sana.
''Rii.. kenapa kamu mengalihkan pembicaraan ku?''
''Tidak Peter. aku hanya merasa kagum dengan pemandangan ini.''
''Baiklah rii.''
Mereka keluar dari kamar Peter.
''Peter ayo kita pulang.''
''Rii, aku masih mau bersama denganmu.''
''Haha kamu terlihat seperti anak kecil. kita masih bisa bertemu besok Peter.''
''Baiklah rii.''
Mereka kemudian keluar dan memasuki mobil. setelah beberapa menit mereka telah tiba di gerbang asrama.
''Rii...''
''Mm... ada apa?''
Peter meraih tangan rii, ia menciumnya. perlakuan Peter barusan membuat dada rii berpacu lebih cepat. ia tidak tahu harus senang atau marah.
''Kenapa?''
''Kamu...''
''Aku kenapa rii?''
Rii keluar dari dalam mobil Peter dengan perasaan yang tidak ia ketahui. sedang Peter hanya tersenyum melihat rii yang nampak sangat terkejut.
''Tunggu rii. aku akan berusaha agar kamu semakin mencintaiku.''
Mobil peter kini meninggalkan gerbang asrama rii. sedang rii memegang dadanya yang masih berdebar sangat kencang. rii masih tidak tau dengan semua perasaan ini. rasanya rii harus lebih memahami arti cinta dan hubungan yang seperti ini.
''Ada apa ini. kenapa aku harus bertingkah seperti ini. Peter pasti tersinggung dengan perilaku ku.''
***
__ADS_1
Sekian dulu untuk capther ini guys. jangan lupa like and komennya.
See u and bye 🤗🥰🥰