
Kelvin pergi ke ruangan ayahnya, untungnya hari ini ayahnya tidak datang karena menemani ibunya dan juga adiknya. Kelvin termenung karena perbuatannya, biasanya dia tidak akan pernah mau mencampuri urusan orang lain.
Kelvin mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan menyuruh orang kepercayaannya untuk melakukan suatu hal.
"Max, carikan informasi mengenai Floren Wilde"
"Siapa dia? tumben sekali kau ingin mengetahui riwayat seseorang"
"Lakukan tugasmu, besok datanglah ke kantorku"
"Hey! ak-"
Kelvin mematikan panggilan sepihak karena tidak ingin Max bertanya lebih lanjut. Max benar, Kelvin tidak pernah mencari tahu riwayat seseorang. Bahkan Kelvin baru mengetahui bahwa gadis itu bernama 'Floren Wilde'.
Pintu terbuka dan menampakkan Zear dengan sebuah dokumen ditangannya. Sebelumnya Zear membungkuk hormat dan memberikan dokumen itu.
"Maaf tuan muda, saya menemukan ini di meja kerja nona Wilde. Aku pikir itu termasuk berkas perusahaan tapi setelah melihat nama yang tertera itu milik nona Wilde." ujar Zear
"Kau boleh keluar" ucap Kelvin
'Sangat ceroboh, kau meninggalkan berkas lamaran milikmu. Aku yakin kau tidak akan mendapatkan pekerjaan dimanapun' batin Kelvin
__ADS_1
***
Floren yang sudah menaiki taksi merasa ada yang tertinggal. Seharusnya dia membawa dokumen miliknya yang berada di Financial Group.
"Tuan, bisa kau kembali? aku rasa ada sesuatu yang tertinggal." ucap Floren
"Tapi nona, ini sudah setengah jalan. Apa kau tidak keberatan jika membayarku lebih" ujar supir taksi itu
"Baiklah-baiklah aku akan membayarmu lebih. Sekarang cepat putar balik." kata Floren
Floren segera membayar saat sudah sampai di tempat dia bekerja pagi tadi. Tepat, saat dia masuk manager Zear melewatinya.
"Tuan Zear, tunggu!" seru Floren
"Aku akan mengambil dokumen milikku." kata Floren
"Tapi nona, dokumen milikmu sudah aku serahkan pada tuan muda." kata Zear
"Apa! kau menyerahkan dokumen milikku pada pangeran tampan. Baiklah Terima kasih sudah memberitahuku." Ujar Floren melangkah menuju lift untuk sampai di lantai paling atas.
Floren akan bertemu dengan pangeran tampan lagi. Terlihatlah Kelvin yang duduk di kursi sedang memandang ke arah luar.
__ADS_1
"Merindukanku, heuh?" kata Kelvin memutar kursinya, Floren yang mendengar itu mendadak cengo. Telinganya pasti salah dengar.
"Sejak kapan pangeranku berubah menjadi narsis! huh iya aku merindukanmu. Rasanya jika aku tidak kembali aku akan merana!" seru Floren, Kelvin menyalahkan dirinya yang mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya.
"Apa kau kemari untuk mengambil ini?" ujar Kelvin memegang dokumen milik Floren.
"Kau sudah menebak ku ya. Aku beri kau point 10 karena berhasil. Sekarang berikan dokumen itu padaku." kata Floren berusaha mengambil dokumen itu tapi Kelvin mengangkatnya lebih tinggi sehingga Floren tak bisa menggapainya.
"Ambil sendiri jika bisa" ujar Kelvin
"Oh kau mau bermain denganku ya? aku tidak punya banyak waktu untuk bermain. Lain kali aku akan bermain denganmu, tapi sekarang cepat berikan dokumen itu." kata Floren
"Baiklah, kau yang meminta. Mau bermain seperti apa? aku akan mengikutimu." ujar Kelvin mendekatkan wajahnya pada Floren.
Floren yang fokus dengan wajah Kelvin langsung memundurkan langkahnya. Tapi justru malah kakinya terkilir karena high heel yang dipakainya, tubuhnya menubruk Kelvin yang berada di hadapannya. Jarak hidung mereka hanya beberapa senti saja, jika Floren salah bergerak pastinya mereka akan melakukannya.
Floren mendorong Kelvin tapi justru malah dirinya yang terjatuh. Dia meringis karena kakinya yang sangat sakit.
"Kaki ku yang malang, kenapa kau tidak bekerja sama denganku hari ini. Benar-benar menyebalkan, aish!" ujarnya memegang kakinya.
Kelvin langsung melempar dokumen itu ke arah Floren dan pergi meninggalkannya. Memang tidak punya perasaan, bukannya membantu malah meninggalkan.
__ADS_1
"Kelvin! apa kau benar-benar menelantarkan ku!" seru Floren menatap tidak percaya ke arah Kelvin.
Tidak mau menambah masalah lagi, Floren berusaha berdiri setelah mengambil dokumen miliknya. Susah payah dia berdiri setelah melepaskan high heels nya, kini harus keluar dengan keadaan pincang dan tidak mengenakan alas kaki.