
Mobil hitam kini melaju dengan kencang membelah jalanan. Di dalamnya, seorang gadis menyetir sendirian. Shalyn, dia akan pergi ke istana untuk mencari petunjuk.
Sesampainya dipintu masuk pertama, mobilnya berhenti dan memperlihatkan cincin yang dipakainya. Para penjaga terkejut dan langsung membungkuk hormat.
Shalyn keluar dari mobilnya dan menberikan kunci itu pada salah satu penjaganya. Berjalan dengan elegan ke dalam istana. Semua orang langsung membungkuk sembari memberi jalan.
"Wah! Kakak Shalyn sudah pulang" Kata seorang gadis bersama dua orang disampingnya yang berada di pertengahan anak tangga. Shalyn sudah mengepalkan tangannya.
"Apakah kau Shalyn? Putri sulung Raja Stevan dan Ratu Consina?" Ujar orang yang berada di samping nya. Shalyn melihat ada kedua orang tuanya yang baru saja akan menuruni tangga.
"Beginikah cara kalian menyambut tuan rumah? Aku sudah datang jauh-jauh lalu tidak ada yang menyambut selain para omega yang terhormat?" Sindir Shalyn
"Kenapa kau bisa ada disini?" Ujar Stevan yang merasa tidak mengundang putrinya ke istana. Shalyn yang mendengar itu hanya terkekeh, tapi dia bisa melihat tatapan rindu ibunya.
"Apa kalian tidak merindukanku?" Kata Shalyn berbasa-basi
__ADS_1
"Sebenarnya apa tujuanmu kesini? Bukankah kau sudah bermain-main diluaran sana? Apa pantas dirimu kembali kesini?" Kata Stevan membuat Shalyn mengerutkan keningnya. Memangnya dirinya bermain apa diluar?
"Yang mulia, tidak seharusnya kau berbicara seperti itu pada putri kandungmu sendiri." Kata Consina memegang tangan Stevan
"Ngomong-ngomong siapa mereka? Bukankah istana tidak menerima tamu yang tidak ada kepentingan dan bukan golongan konglomerat." Tunjuk nya pada kedua gadis disamping Janet.
"Jaga bicaramu, mereka adalah teman-temanku." Kata Janet
Daripada berdebat, Stevan menyuruh semuanya untuk makan malam. Shalyn memilih duduk dipaling ujung yang berhadapan dengan Stevan. Biasanya, dia akan duduk didepan Consina tapi sekarang kursi itu sudah diduduki orang lain.
"Aku belum mau menikah, jangan pernah menjodohkan aku." Kata Shalyn dingin
"Jika kau tidak menikah maka pewaris takhta akan diberikan pada Janet. Dia akan mengadakan pernikahan bulan depan." Kata Stevan
Shalyn langsung pergi begitu saja, Consina menatap anaknya itu khawatir. Tidak biasanya Shalyn bersikap seperti itu pada suaminya.
__ADS_1
"Ada apa dengan kakak? Kenapa dia bersikap seperti itu pada ayah?" Ujar Janet dengan ekspresi sedih.
"Dia memang sudah berubah manjadi liar, tidak apa-apa. Jangan pikirkan dia" Kata Stevan tersenyum, kini Consina menatap suaminya dengan pandangan tidak mengerti.
"Aku sudah kenyang, kalian lanjut makan saja." Kata Consina pergi meninggalkan ruang makan.
Di dalam kamar
Shalyn berdiri di balkon yang menampakkan pemandangan perkotaan. Dia harus memikirkan cara bagaimana untuk menyingkirkan saudari tirinya itu. Bahkan sikap ayahnya saja berbeda. Dulu walupun ada Janet, dirinya masih selalu menjadi kesayangannya. Tapi kini justru sebaliknya, tidak mungkin hanya karena Shalyn yang jarang sekali ke istana membuat sikap ayahnya berubah drastis.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, Shalyn hanya tersenyum saat orang itu menggenggam tangannya.
"Kenapa kau tidak bilang lebih dulu jika kemari?" Tanya Consina
"Apa perlu aku mendapatkan izin kalian untuk pulang ke rumahku sendiri?" Kata Shalyn
__ADS_1
"Tidak maksudku bukan begitu. Jika kau bilang, kami pasti akan menyambutmu." Ujar Consina, ini yang diinginkan Shalyn. Kehangatan ibunya yang selalu membuat dirinya kembali ke istana.