
Saat sudah sampai diluar barulah Floren melepaskan tangan Kelvin. Dia berjalan begitu saja seperti tidak pernah melakukan apapun.
"Beginikah caramu berterima kasih?" Ujar Kelvin yang mengikuti langkah Floren tanpa disadari.
"Aku? Berterima kasih? Aku hanya menghindar dengan caraku sendiri." Kata Floren tanpa menoleh ke arah Kelvin yang berjalan di belakangnya.
"Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa sering ada orang yang tiba-tiba mencarimu?" Tanya Kelvin penasaran, Floren tidak menjawab pertanyaan Kelvin dan lebih memilih berjalan. Dia tahu pasti sangat sulit untuk mencari taksi.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Tanya Floren pada Kelvin.
"Aku tidak melakukan apapun." Ucap Kelvin tanpa sadar dengan apa yang dia lakukan.
Floren tidak menghiraukannya, biarkan Kelvin mengikutinya dan itu bisa menjadi penjagaan baginya. Floren bisa melihat didepan ada beberapa orang dengan badan yang cukup besar.
Floren menghentikan langkahnya, dia yakin orang-orang itu tidaklah berperilaku baik. Dia sengaja melepas heelsnya dan menatap Kelvin.
"Jika aku memberi aba-aba kau harus siap, oke." Ujar Floren memegang tangan Kelvin. Semakin lama mereka semakin mendekati orang-orang itu. Saat tinggal beberapa langkah lagi, Floren sudah mengambil kuda-kuda untuk lari.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kelvin
"Lari!" Jerit nya tertahan sembari berlari menarik tangan Kelvin, Floren tidak peduli dengan pertanyaan Kelvin. Yang dia pikirkan saat ini adalah mencari jalan keluar, jarak rumahnya masih bisa dibilang cukup jauh.
Floren sudah berlari dan terus menarik tangan Kelvin, dirinya menoleh ke belakang dan terkejut saat orang-orang itu mengejarnya.
"Oh tidak, mereka mengejar. Apa yang harus kita lakukan sekarang." Ucap Floren, Kelvin menengok ke belakang karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dibelakang ada beberapa orang yang seperti sedang mengejar.
"Apa mereka mengejar kita?" Tanya Kelvin
Sret
Kelvin menarik Floren masuk ke dalam gang itu dan bersembunyi di belakang tempat sampah yang bisa dibilang cukup besar. Kelvin membekap mulut Floren, begitupun dengan Floren yang membekap mulut Kelvin. Gang ini bisa dibilang cukup gelap, orang-orang tidak bisa melihat mereka.
"Kemana mereka? Bukankah tadi masih berlari?" Ujar seseorang membuat keduanya memejamkan mata karena suara orang itu sangat dekat dengan persembunyian keduanya.
"Sepertinya mereka bersembunyi" Ujar salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Sudahlah, mereka kini berhasil. Kita mencari yang lain saja." Ucap yang lainnya, dirasa cukup aman. Keduanya langsung keluar dari tempat persembunyian.
"Fiuh! Kita aman, apa kau sudah merencanakan ini?" Tanya Floren
"Kita tidak mungkin terus berlari, aku tidak yakin mereka lelah mengejar kita." Kata Kelvin
"Sekarang apa yang harus dilakukan? Jarak rumahku masih jauh. Lagipula kau juga mengikutiku sejak tadi, apa kau tidak menyadarinya?" Ujar Floren membuat Kelvin terdiam. Bahkan Kelvin baru menyadarinya, dia mengambil ponselnya dan menyuruh bodyguardnya menjemputnya.
"Kau pikirkan diri sendiri saja, sebentar lagi aku akan dijemput." Kata Kelvin
"Apa kau mau mengantarku?" Kata Floren berharap Kelvin mengajaknya.
"Tidak" Jawab Kelvin membuat Floren memanyunkan bibirnya. Kelvin ini tidak bisa dimengerti. Floren sudah cukup lelah jadi tidak mau berdebat lagi. Dia memilih berjalan meninggalkan Kelvin yang sedang menunggu jemputan.
Ini sudah malam dan Floren belum sampai di rumah. Anne pasti mengkhawatirkannya, dia kesal karena Kelvin tidak mengajaknya pulang. Pasti orang itu sudah sampai di rumah sekarang.
Floren berjalan dan sesekali menendang kerikil yang tidak sengaja dia jumpai di jalan. Saat sudah sampai di rumah, Floren langsung mengetuk pintu. Tak lama kemudian Anne membukakan pintu dan bersiap untuk memarahi Floren. Tapi, melihat keadaan Floren yang sangat kacau membuat dirinya merasa iba. Dia langsung menyuruh Floren masuk dan mengganti pakaiannya. Dia tidak mendengar ada kendaraan yang berhenti di depan rumahnya dan penasaran dengan apa Floren pulang.
__ADS_1