
Floren menarik tangan Carly sampai ke depan. Floren tidak menyangka orang-orang itu akan sampai disini.
"Floren, aku sudah memperingatimu agar tidak mencari masalah dengan Kelvin." Kata Carly saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.
"Bukan masalah itu, ini lebih rumit. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu." Ujar Floren
Carly tidak tahu apa masalah Floren, dia hanya diam menunggu Floren yang akan mengatakannya sendiri.
"Apa kau tahu, saat masuk sekolah nanti kau yang akan menjadi perwakilan model kelas?" Ujar Carly pada Floren yang menatap keluar jendela. Setelah mendengar perkataan Carly, Floren langsung menatap Carly terkejut.
"Aku yakin kau tidak mengetahuinya jika dilihat dari ekspresimu." Kata Carly
"Apa maksudmu? Aku menjadi model?" Kata Floren menunjuk dirinya dengan ragu.
"Iya, lihatlah. Sekolah selalu menyelenggarakan perlombaan saat musim gugur. Nantinya akan banyak perlombaan entah itu akademik maupun nonakademik." Jelas Carly menunjukkan informasi dari sekolah yang berada di ponselnya.
__ADS_1
"Tapi mengapa aku yang ditunjuk sebagai model? Bukankah masih banyak yang lain." Kata Floren
"Semua anak-anak kelas menunjukmu dan Martin. Mereka semua berharap kali ini kelas kita yang akan mendapatkan gelar Queen. Setiap perlombaan kelas kita jarang sekali meraih posisi pertama bahkan bisa dibilang tidak pernah." Kata Carly
"Menurutku kau cantik, mengapa tidak kau saja yang menjadi model?" Ucap Floren menaik turunkan alisnya, Carly terkejut. Dirinya tidak mungkin mengikuti model itu.
"Tidak-tidak, aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Aku mohon, kau harus mengikutinya. Aku yakin kau bisa membawa kelas kita ke posisi teratas. Memang yang selalu meraih posisi teratas adalah anak MBA." Kata Carly, Floren tahu seperti apa karakter anak MBA itu, dirinya pernah merasakannya bahkan selalu berada di kelas itu saat di Inggris.
"Baiklah aku berjanji akan membawa kelas ke posisi teratas. Aku juga butuh bantuan kalian semua, tanpa kalian aku tidak berdaya." Kata Floren menunjukkan ekspresi sedihnya. Carly hanya tertawa sembari mengangguk.
"Aku tidak membencinya karena dia bukanlah sainganku. Aku hanya ingin bermain-main saja dengannya. Tapi soal aku yang menyukai Kelvin, tidak akan menyangkalnya." Kata Floren
Saat pertama kali melihat Kelvin, dirinya memang sudah jatuh cinta. Dia tahu Kelvin bukanlah orang yang mudah di dekati. Oleh karena itu dia selalu membuat gara-gara dengan Kelvin agar bisa dekat.
"Oh iya, besok keluargaku merayakan ulang tahunku. Bisa kau datang? Tepatnya pukul 7 malam." Kata Carly
__ADS_1
"Sungguh? Aku akan datang. Berikan alamatmu, aku tidak punya ponsel" Kata Floren
"Begitu ya, aku akan memberikan kartu namaku. Jika sudah sampai di rumah bertanyalah pada pelayan tentang keberadaanku." Kata Carly
"Oke, aku akan datang. Terima kasih untuk hari ini, Carly." Ucap Floren setelah sampai di depan rumahnya.
"Terima kasih kembali" Gumam Carly tersenyum. Carly tahu tidak akan lama lagi identitasnya terbongkar. Carly sadar bahwa Floren memang bukan tandingannya. Tapi bagaimana dengan Catryn? Apakah dia akan menerima Floren? Carly selalu berharap bisa berdamai dengannya.
"Anne, aku pulang" Seru Floren
Anne yang sedang membuat kue langsung menghampiri Floren. Anne memeluk Floren erat karenanya, usaha toko roti miliknya memperoleh banyak pesanan.
"Sungguh? Sepertinya itu acara yang besok aku kunjungi. Keluarga Claw, right?" Tebak Floren
"Iya, dia temanmu. Kau membawa keberuntungan, bagaimana jika hari ini kita makan diluar?" Ujar Anne, awalnya Floren ingin menolak karena sekarang dia harus waspada. Tapi, melihat Anne yang sudah berbaik hati menawarkan mana bisa dia menolaknya.
__ADS_1