
Paginya, Floren berangkat sekolah dengan berjalan kaki seperti biasa. Saat di pertengahan jalan, seseorang menghadangnya dan merengek padanya.
"Ayolah nona, izinkan aku menjadi Bodyguard mu." Ucap Joey. Orang yang menghadang dan merengek pada Floren adalah Joey, Floren menatapnya terkejut. Bagaimana bisa Floren bertemu lagi dengan sosok pengangguran seperti Joey.
"Aku bukan orang penting, aku bukan orang kaya. Jadi, berhentilah memintaku sebagai majikanmu!" Ketus Floren
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin menjagamu. Beri aku kesempatan." Kata Joey berharap setelah Floren melihat tatapannya akan luluh. Floren sedikit ragu dengan Joey, tapi dia tidak bisa bersikap kasar dengannya.
"Baiklah sebelum kau menjadi bodyguard ku, aku akan memberimu tantangan. Tunggulah aku didepan sekolah, jika aku pulang tidak melihatmu maka aku tidak bisa menjadikanmu bodyguard ku. Aku butuh bodyguard yang patuh." Kata Floren
"Tentu, aku akan menjadi bodyguard mu yang patuh." Kata Joey
Floren kembali melangkah menuju sekolahnya dan membiarkan Joey mengikutinya. Sampai di sekolah Floren menyuruh Joey untuk duduk di sebuah bangku depan sekolahnya. Dia meminta Joey untuk tidak pergi kemanapun.
__ADS_1
'Ian, kau tahu pria pengangguran kemarin? Aku menyuruhnya untuk menungguku selama ada kelas. Aku memberimu tugas untuk mengawasinya, jangan sampai di pergi dari tempatnya. Tolong awasi dan jangan sampai ketahuan. Aku ingin mengetes seberapa patuh dan setianya dia terhadapku.'
Floren mengetikan pesan pada Ian untuk memberinya tugas. Saat selesai mengetikkan pesan, tubuhnya menabrak sesuatu.
"Aku penasaran dimana kau menyimpan matamu." Ujar orang itu. Floren yang awalnya akan meminta maaf langsung mengurungkan niatnya setelah melihat wajah orang itu.
"Pangeran! Aku merindukanmu." Ujar Floren mencubit kedua pipi Kelvin. Muka Kelvin memerah menahan marah. Saat akan meluapkan emosinya, Floren mendapat panggilan dari Ian.
"Sampai jumpa pangeran tampan." Ujar Floren melambaikan tangannya dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
Di kelas Floren melihat Carly yang memegang buku dengan pandangan kosong. Floren tersenyum melihat Carly yang bisa menunjukkan tampang aslinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Floren mendekati Carly
__ADS_1
"Eh? Aku sedang membaca. Ya sedang membaca." Kata Carly terlihat gusar menjawabnya. Floren tahu bahwa Carly sedang berbohong. Terlihat Carly hanya memandang kosong ke arah buku yang dibacanya, bahkan bukunya pun terbalik.
"Katakan padaku apa ada yang mengganggumu?" Kata Floren membenarkan letak buku ditangan Carly. Terlihat Carly yang kikuk karena ketahuan berbohong.
Saat Carly akan berbicara, prof. Jack yang mengajar ilmu fisika memasuki kelas. Semua siswa langsung kembali ke tempatnya masing-masing, begitupun dengan Floren.
Selesai pelajaran, Carly memilih di kelas saja bersama Floren. Hanya ada beberapa siswa saja karena kebanyakan siswa lebih memilih ke kantin.
"Flo, maaf jika aku memiliki salah terhadapmu. Mulai besok aku sudah pindah kampus ke Harvard." Kata Carly sedih.
"Apa! Kau akan pindah kampus? Bagaimana bisa? Apa ada sesuatu yang membuatmu pergi?" Kata Floren berkata heboh.
"Yeah, Semenjak aku menunjukkan tampang asli ku, Catryn selalu memintaku untuk pindah. Dia tidak ingin berada satu kampus denganku. Ini juga merupakan perintah dari ayah, aku tidak bisa menentangnya." Kata Carly mulai menangis, Floren yang tidak tega langsung memeluknya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Bukankah kau tidak masalah jika harus satu kampus dengan Catryn? Jika kau pergi, aku akan kehilangan sahabat." Kata Floren, bahkan Carly pun berpikir sama dengan Floren. Hanya Floren yang mau berteman dengannya saat dirinya berubah menjadi nerd. Floren ingin membantu, tapi saat ini dia tidak memegang kekuasaan apapun.