Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Julukan Baru untuk Husain


__ADS_3

Ketika keluar dari aula santri laki-laki, tak sengaja Husain bertemu dengan Abid. Abid menyalanya dengan hangat, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kamu sedang apa dari sana?" 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh, Kyai. Saya sedang melihat ketiga santri itu mengajari anak-anak mengaji. Ustadz yang biasanya mengajar sedang pulang," jawab Husain. 


Jika sedang berada di pesantren, baik Husain maupun Abid selalu menunjukkan rasa hormatnya dengan tidak menyebut sebutan namanya seperti biasa. "Owalah, kirain kamu yang mau gantiin ngajar anak-anak," ucap Abid. 


"Ada hal yang ingin saya sampaikan kepada kamu, Ustadz. Bisa ikut saya ke rumah?" ajak Abid. 


Husain mengangguk. Mereka berjalan menuju rumah Abid, di mana Qianzy sedang memakai pakaian seksi kala itu. Ia sedang sibuk menonton drama kesukaannya melalui laptopnya. 


"Ashoy bener di pesantren ini. Wifi lancar oy, makin betah aja di sini," sorak Qianzy bahagia. 


Sembari menonton drama kesukaannya, Qianzy juga sedang membuat adonan donat. Di sisi nakalnya, Qianzy ini pandai dalam memasak segala jenis makanan hingga sampai ke camilan lain. 


"Nih orang makannya apa, ya? Bisa-bisanya cakep begini? Sayang aja main dramanya bxb begini," gumam Qianzy masih sibuk tangannya mengolah adonan donat. 


"Apa jangan-jangan, dia ini perempuan? Kan negara itu, terkenal dengan pertukaran gender, wuih mantap. Harus tonton sampai ending ini mah," lanjutnya dengan komat kamit seperti mbah dukun baca mantra. 


Sedang asik-asiknya mengolah donat dan nonton, Abid dan Husain datang. Seperti biasa, jika malam hari, Abid mengajak Husain berdiskusi di dalam rumah. "Assallamu'alaikum warahmatullahi wabbarokatuh," salam Abid.


"Wa'alaikumsallam, Mas Abid? Gawat, aku tidak memakai pakaian panjang. Bisa-bisa tasbih yang melayang nantinya," 


Terlambat, ketika Qianzy beranjak, ia malah berdiri di atas sofa, membuat Husain melihat Qianzy yang memakai busana seksi. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Qian!" ucap Abid segera melempar adiknya menggunakan sorban yang dikalungkan di lehernya.


Husain langsung membalikkan badannya membelakangi Qianzy. Namun, sebelum itu Husain telah melihat kulit tubuh Qianzy yang putih nan bersih. "Astaghfirullah hal'adizm," sebut Husain lirih. 


"Masuk ke kamar, dan segera ganti pakaian!" tegas Abid. 


"Iya, iya," 


Segera Qianzy masuk ke kamar meninggalkan adonan donat yang baru ia bentuk bulat-bulat. Abid juga menutup laptop Qianzy yang kala itu masih menyala drama kesukaan Qianzy. 

__ADS_1


"Maaf, ya. Qian kalau di rumah selalu saja begitu. Aku saja juga masih terkejut jika dia memakai pakaian minim seperti itu," ucap Abid kepada Husain. 


"Aman, Mas. Yang penting tidak keluar rumah aja, itu udah bagus. Kita ndak bisa maksa, karena dia juga bukan muslimah, 'kan?" Husain memaklumi apa yang telah terjadi malam itu.


"Oh iya, aku akan ke luar Kota selama semingu. Aku ingin, kamu mengambil alih tanggung jawab pesantren selama aku pergi, bisa?" ucap Abid memulai pembicaraan pentingnya. 


"InsyaAllah bisa saja, Mas. Tapi, jika Mas ke luar Kota … bagaimana dengan__" ucapan Husain terputus kala melihat Qianzy keluar dari kamarnya langsung menuju ke adonan donat miliknya yang ada di sebelah Husain. 


"Ketinggalan, maaf ye ganggu. Jangan kemana-mana dulu kalian. Aku baru mau bikin donat, nanti cobain, oke?" 


Krik krik…


Abid dan Husain saling menatap, kemudian menatap kembali Qianzy yang berjalan mindik-mindik seperti maling yang hampir saja tertangkap. 


"Ada aja kelakuan dia. Tapi aku suka dengan dia yang masih bisa menghargai keyakinan orang lain. Dengan susah payah, dia selalu menomor duakan keinginannya untuk menghormati aku," ucap Abid ada rasa bangga tersendiri.


"Oh, ya. Apa yang ingin kamu katakan tadi?" lanjut Abid. 


"Nanti aku akan meminta Ustadzah Rani untuk menemani Qianzy di rumah. Tapi, mohon untuk kamu juga bantu aku memantaunya, ya?" pinta Abid. 


Setelah beberapa percakapan, keluarlah Qianzy membawa donat yang ia buat sendiri serta membawakan kopi yang ia racik sendiri. 


"Kalian pasti haus, 'kan? Aku juga buatin kalian kopi, yang aku racik sendiri. Kopi ini, aku beli secara online beberapa hari lalu, sebelum aku pulang ke sini," ucap Qianzy menyajikan kopi dan donat buatannya. 


"Katanya donat aja, ini kok ada gorengan juga?" tanya Abis. 


"Anggap aja bonus, oke? Monggo, di coba," Qianzy begitu ramah karena ia merasa bersalah telah membicarakan hal buruk Husain kepada  tiga temannya. 


Ada pepatah yang mengatakan, bahwa cinta itu bisa datang dari perut sampai ke hati. Husain jatuh cinta dengan Qianzy kala menyantap makanan yang dibuatnya. Meski begitu, Husain masih mampu menyembunyikan perasaannya, karena dirinya juga belum tahu benar apa yang dirasakannya saat itu. 


"Em, Ustadz Husain," panggil Qianzy. 


"Iya," jawab Husain. 

__ADS_1


"Soal yang tadi, aku benar-benar minta maaf membicarakan kejelekan dirimu dengan Romli dan kawan-kawannya. Aku--" ucapan Qianzy terhenti. Qianzy hanya menunduk menyembunyikan rasa malunya. 


"Saya sudah tidak mempermasalahkan. Toh, apa yang kamu ucapkan, tidak pernah menyinggung hati saya," ucapan Husain memang meneduhkan hati. Tapi, bukan hati Qianzy. 


"Hehe, thanks kalau begitu lah! Ada apa nih? Seru amat sepertinya?" Qianzy ikutan duduk di samping Abid mendengarkan apa yang akan kakaknya bicarakan dengan Husain. 


"Besok, selama satu minggu, Mas mau ke luar Kota. Kamu tinggal di sini sama Ustadzah Rani, ya?" jelas Abid. 


"Buset, kagak ah! Dia kuno, Mas. Gimana kalau Ustadz Husain aja yang nemenin? Kan lumayan tuh, lakik!" Qianzy menolak usul Abid. 


Abid hanya bisa menghela napas mendengar ucapan adiknya. "Qian, laki-laki dan perempuan yang belum jadi mahram itu, tidak boleh berdua-duaan meski itu hanya sebentar. Kecuali, kalau memang urgent," tutur Abid dengan lembut. 


"Itu kan menurut agama, Mas Abid. Di agama aku kagak ada tuh," Qianzy masih saja ngeyel. 


"Iya, memang. Tapi kan Ustadz Husain-nya orang muslim, adikku," sahut Abid menoel hidung Qianzy. 


Mau tidak mau, Qianzy harus tinggal bersama dengan Ustadzah Rani kala Abid keluar Kota. Mengingat Qianzy belum menjadi muslimah, tidak mungkin Abid meminta Qianzy tinggal di asrama santri putri. 


"Serah Mas aja dah. Atur semuanya atur sebaik mungkin, aku ngikut aja udah," Qianzy mengalah. 


Masih membahas masalah keberangkatan Abis ke liat Kota, Qianzy juga masih bersama kakaknya dan Ustadz Husain di sana. Sibuk dengan laptop dan dramanya. 


"Oh, iya. Bagaimana dengan pembangunan yayasan?" tanya Abid. 


"Alhamdulillah, sudah meningkat sampai 70%, Mas. Kemungkinan tidak membutuhkan waktu lama lagi untuk siap," jawab Husain. 


"Eh, aku dengar saat kalian di luar rumah, Ustadz memanggil Kakakku dengan sebutan Kyai, kenapa di sini manggil dengan sebutan, Mas?" sela Qianzy penasaran. 


Abid menjelaskan bahwa hubungan mereka bukan sebatas Kyai dan Ustadz saja. Namun, lebih dari itu sampai mengarah ke persaudaraan. Akan tetapi, apa jawaban Qianzy? 


"Bodoamat lah! Bukan urusan aku. Aku mau ke kamar, nanti Mas Abid bungkusin donat ini untuk Ustadz Mukidi, ya. Tata ...." pamit Qianzy. 


"Mukidi?" batin Husain. 

__ADS_1


__ADS_2