
Melihat tingkah Qianzy, para ustadzah pun menepuk keningnya sendiri. Bagaimana tidak heran dengan tingkah Qianzy yang selalu membuat keonaran di pesantren.
"Kenapa dia selalu senang ketika di hukum? Apa baginya, melanggar itu adalah hal yang indah?" Abid sampai bergumam heran terhadap adik kandungnya itu.
"Kyai, saya yakin ini adalah bentuk menghibur diri dari Qianzy. Meski dia melakukan kesalahan, tetap saja tidak malu untuk melaksanakan hukumannya," sahut Husain.
"Benar, apa yang dikatakan oleh Kyai dan Ustadz memang benar. Qianzy berbeda dari yang lain. Membuatku semakin penasaran sana padanya," timpal Fathan.
Abid dan Husain memandang Fathan dengan tatapan dinginnya. Membuat pria berusia 23 tahun itu gugup dan memalingkan pandangannya dari Qianzy.
Melihat adiknya yang begitu energik, Abid tersenyum tipis. Sejak datang ke pesantren, baru kali itu melihat senyum adiknya begitu lepas. Abid pun berinisiatif membuatkan sarapan khusus untuknya.
"Ustadz Husain, mari ikut ke rumah. Ada sesuatu yang hendak saya bicarakan kepada, Ustadz," ucap Abid dengan lembut.
"Njeh, Kyai," jawab Husain.
"Kyai, saya sekalian tidak? Saya juga kan muridnya Ustadz Husain," celetuk Fathan.
"Mohon maaf, tapi ini antara saya dengan Ustadz Husain saja. Jika nanti ada hal lain yang perlu melibatkan Ustadz Fathan, maka saya akan mengajak Ustadz sekalian," tutur Abid.
"Yahh … padahal saga sudah mempersiapkan diri untuk bertemu Qianzy," lenguh Fathan.
"Ehem, maksud Uatadz apa ya? Qianzy masih harus belajar, jadi saya tidak mengizinkan siapapun menginginkannya untuk saat ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,"
Abid langsung tahu apa tujuan Fathan. Memang harus tegas supaya tidak ada yang mengganggu adiknya belajar agama. Bagi Abid, adiknya masih sangat dini jika ada yang menginginkannya juga.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
Beberapa Ustadz yang ada di sana menahan tawa kala mendengar jawaban dari Abid kepada Fathan. Memang tidak mudah bagi seorang kakak laki-laki melepas adik perempuannya begitu saja. Apalagi, Abid selalu memperlakukan dan menganggap adiknya itu adalah ratu dalam hidupnya. Akan susah siapapun yang mendekatinya.
"Ustadz, kamu kan sering pergi bersama dengan Qianzy. Tau makanan kesukaan dia tidak?" tanya Abid.
"Um, setahu saya. Qianzy suka semua jenis makanan, Kyai," jawab Husain.
__ADS_1
"Yang paling. Menurut Ustadz, yang paling disukai oleh Qianzy itu makanan apa gitu. Um, yang paling," lanjut Abid.
Husain berpikir sejenak. Kemudian teringat pada saat malam dimana mereka bertemu di samping pesantren. Husain mengatakan jika Qianzy menyukai makanan yang pedas.
"Tapi ini masih pagi untuk makan makanan yang pedas. Apakah ada makanan lain yang dia sukai kecuali makanan yang pedas?" tanya Abid kembali.
"Ada. Dia paling suka dan bubur yang nanti dicampur dengan sambal goreng. Lalu, ditaburi bawang goreng dan juga ada menu lain di samping bubur tersebut. Kebetulan, Qianzy lebih suka gorengan, tempe mendoan," jawab Husain, sembari tangannya mempraktikkan bagaimana gadis berusia 19 tahun itu makan.
Abid menganggukkan kepalanya. Dia juga meminta Husain untuk menemaninya memasak di dapur. Husain setuju saja dengan apa yang Abid perintahkan.
"Mas, ini … Mas yakin bahan buat bubur dan tempe mendoan tuh ini saja?" tanya Husain.
"Iya, apa lagi? Bubur itu kan dari beras, lalu tempe mendoan, iya tempe sama tepung," jawab Abid menunjuk semua bahannya.
"Iya nggak salah, sih, sebenarnya. Tapi bumbu-bumbu lainnya mana? Ini cuman bahan dasarnya saja?" Husain bingung sendiri. Sebab, bahan yang disiapkan oleh Abid, hanya beras, air, tepung dan juga tempe.
Tqk ada yang namanya bumbu untuk bubur dan juga bumbu untuk adonan mendoannya. Husain pun meminta Abid untuk membuka tutorial membuat bubur dan juga tempe mendoan melalui internet.
"Hanya mau masak bubur dan juga menggoreng tempe saja harus cari di internet?" tanya Abid, sok yakin dengan dirinya.
"Dan, itu juga kurang untuk membuat sambalnya. Di sini tidak ada cabai dan bawang merah, bawang putih seperti itu?" lanjut Husain mengangkat bahunya.
"MasyaAllah. Hanya masak bubur, buat sambal dan juga goreng tempe mendoan saja seribet itu? Kalau begitu kamu saja yang masak, aku tinggal nunggu jadinya saja," ucap Abid dengan memberikan centong nasi kepada Husain.
"Lah, kok, saya? Mas Abid harusnya yang masuk, dong! 'kan ini untuk adik kesayangan Mas Abid," Husain pun sebenarnya tidak pandai memasak, meski bisa sedikit-sedikit.
Pada akhirnya mereka malah bercekcok antara Bagaimana cara membuat bubur dan juga menggoreng tempe mendoan. Sampai pada akhirnya, Husain lah yang mengalah. Abid memang pandai dalam mengelola pesantren dan membuat santri patuh, tapi tidak dengan irisan dapur. Menggoreng telur saja, selalu saja kurang matang jika Abid yang menggoreng.
Dua puluh menit berlalu. Bubur, sambal goreng dan juga tempe mendoan sudah jadi. Namun, keadaan dapur seperti rumah yang sudah lama terbengkalai dan juga semuanya berantakan di bawah.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Mas Abid. Jajan, yuk! Aku lapar nih!" teriak Qianzy.
Husain menyenggol lengan Abid, memberi tahu jika Qianzy sudah pulang dan Abi harus menyambutnya. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Mas ada di dapur, Qian!" sahutnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Abid membuat Husain menepuk kening sendiri. Bukan jawaban itu yang Husain inginkan.
"Lah, ada orang yang mengucapkan salam, ya kita harus jawab salam dong. Masa iya kamu lupa dengan adab seperti itu?" Abid masih saja polos.
"Astaghfirullah hal'adzim, Mas Abid. Bukan seperti itu yang saya maksud. Bagaimana jika Qianzy masuk ke dapur dan melihat dapur seperti ini, dia pasti akan--"
"Mas Abid, aku ma … Astaghfirullah hal'adzim, Mas Abid! Ustadz Husain!" teriak Qianzy.
"Ini kenapa seperti ini? Kalian habis ngapain di dapur? Apa yang kalian lakukan epribadeh!" emosi Qianzy mulai memuncak.
Melihat adiknya yang emosi, membuat Abid bingung sendiri. Abid berinisiatif mengambilkan air minum. Ketika mau memberikan segelas air tersebut, kaki Abid tersandung oleh kaki Husain. Tumpah lah air tersebut ke wajah Qianzy.
"MAS ABID!!!"
"Rasyiqul Abid Abdullah!"
"Um, Mas, Mas minta maaf, Qian. Mas tidak sengaja, kaki Mas ta--"
"CUKUP!"
"Hari ini, pagi ini, aku sudah lelah karena kena hukuman dari Ustadzah Ratih. Aku memang belum mandi, tapi bukan berarti Mas Abi bisa nyiram aku kayak gini ... ini dingin tau!"
"Aku sebel sama Mas Abid!"
Qianzy mendorong kecil tubuh kakaknya. Kemudian kembali masuk ke kamarnya dengan terus mengomel. Seketika, wajah Abid jadi murung.
"Mas, yang sabar, ya," ucap Husain mengusap bahu Abid.
"Ini semua itu salah kamu," sahut Abid.
"Lah, kok salah saya? Saya dari tadi duduk enggak ngapa-ngapain, dimana kesalahan saya?" Husain berkilah.
"Kaki, kakimu itu tadi malang-malang ora nggenah, Husain! Astaghfirullah hal'adzim,"
__ADS_1
Abid dan Husain jika sedang berdua seperti sahabat yang sangat akrab. Mereka sefrekuensi, bersikap konyol dan saling jahil satu sama lain. Namun, didepan para santri dan ulama lainnya, mereka santun, lemah lembut dan murah senyum.