Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Belum Siap Kehilangan (lagi)


__ADS_3

"Itu orang ngapain sih datang ke sini? Bikin riweh aja dah!" kesal Qianzy. "Gua rasanya udah seneng banget ketika lepas dari tuh lakik. Ngapain juga dia itu hadir kembali di kehidupan gua," 


Qianzy sampai mengetuk kepalanya sendiri karena malas bertemu dengan mantan kekasihnya. "Tuh kan muncul lagi bahasa elu-guenya. Udah bagus-bagus, kemarin jalan tuh pakai aku kamu. Hadeh, sekarang muncul lagi elu-guenya,"


Qianzy benci dengan masa lalu yang kembali lagi. Baginya, masa lalu tidak akan pernah menjadi masa depan. Tak ingin juga, hadirnya Andreas menjadi halangan untuknya berhijrah. Hal yang sudah dia bangun susah payah untuk meraih mahkota surga untuk Ayah dan kakaknya di akhirat nanti, tak ingin ada noda sama sekali karena kehadiran seseorang dari masa lalu. 


"Qian, masuklah. Saya akan menunggu kamu di sini. Sebentar lagi Hikmah datang. Lebih baik, nanti kamu jauhi saja Anjani dan lelaki itu, hm __" tutur ustadzah Rani. 


Qianzy mengangguk. Lalu mengucapkan salam, kemudian masuk ke ruang pendaftaran. Tak lama setelah itu, Hikmah datang dan ustadzah Rani langsung memintanya menyusul Qianzy. 


*******


***


Waktu berlalu terlalu cepat. Setelah mendaftar dan kesana-kemari melengkapi kepentingan kampus. Qianzy juga sudah mulai sibuk dengan kegiatan kampusnya sampai jarang bertemu dan mengobrol dengan Abid lagi. 


Siang itu, Abid pulang dari acara nikahan adik temannya. Dia sengaja membawa telur rebus yang dimana dia bawakan dari acara tersebut khusus untuk adiknya. Namun, saat Abid pulang, dia baru sadar jika adiknya sudah mulai sibuk dengan kuliahnya. Jurusan Sastra yang diambil Qianzy memang telah membuatnya sibuk dengan tugasnya. 


"MasyaAllah, aku lupa jika Qian sibuk dengan kuliahnya. Jadi, telur rebus ini mau aku apakan? Aku sengaja membawa pulang untuk dia makan. Lupa juga jika di rumah sudah banyak telur," gumam Abid. 


Ketika duduk, Abid melihat potret adiknya kala bersamanya tempo hari. Melihat senyum sumringahnya membuat Abid merindukan Qianzy. Inginnya Abid, Qianzy mengambil jurusan pendidikan agama. Namun, Abid sadar jika dia tidak berhak mencampuri urusan adiknya. 


"Sebaiknya aku akan menyibukkan diri. Supaya tidak selalu merindukan Qianzy," Abid segera menyegarkan diri dengan mandi. Ia meletakkan telur rebusnya di atas meja ruang tamu. 


Tujuh menit kemudian, Qianzy pulang dari kampusnya. Tak lupa, Qianzy sudah terbiasa mengucapkan salam sebelum masuk ke rumahnya. Saat melintas ruang tamu, Qianzy melihat ada telur rebus di sana. 


"Telur?" gumamnya.


"Milik siapa? Eh, mateng pula?" 


"Boleh lah kalau aku makan __" 

__ADS_1


Tanpa bertanya dulu atas kepemilikan telur tersebut, Qianzy langsung memakannya begitu saja. Cara makan Qianzy seperti orang yang rakus, dua kali gigitan dan telur rebus tersebut telah habis. 


"Eh, buset. Seret amat!"


"Air, air, air …," 


Tanpa membuang cangkang telur yang ada di atas meja, Qianzy pergi ke dapur untuk mengambil  air. Di saat itu juga Abid selesai mandi dan hendak mengambil telur rebusnya. 


"Loh!" 


"Loh, loh, loh! Kemana telur rebusku pergi?" 


"Masa iya punya kaki? Mana mengelupas diri pula. Ini __ cangkangnya ada, tapi isinya pergi kemana?" 


Abid sampai mencari ke kolong meja dan kursi, tetap saja tidak menemukan telur rebusnya. Sampai Qianzy datang dan menayainya. "Mas Abid sedang mencari apa?" tanyanya.


DUG!


Kepala Abid terbentur kaki meja. "Ash, hati-hati, dong! Coba aku lihat--"


" … lain kali jangan begitu lagi ya?" ucap Qianzy mengusap-usap kepala kakaknya. 


Melihat adiknya di depannya, mengingatkan Abid kepada almarhum Umi yang wajahnya hampir mirip dengan Qianzy. Tak terasa, air mata merembes mengalir ke pipi Abid. Qianzy menghentikan usapan tangannya kala melihat kakaknya meneteskan air mata. 


"Kenapa? Apakah sakit sekali?" tanya Qianzy. 


Abid menggelengkan kepala. 


"Jika tidak sakit, kenapa Mas menangis? Apakah aku berbuat salah kepada Mas Abid?" lanjut Qianzy dengan mata yang suah berkaca-kaca. 


Abid tidak menjawab. Dia hanya melihat Qianzy dengan air mata yang terus mengalir. Melihat air mata kakaknya, membuat hati Qianzy terluka. Seolah merasakan apa yang kakaknya rasakan saat itu. 

__ADS_1


"Kamu kenapa menangis?" tanya Abid.


"Mas Abid menangis, makanya aku ikut nangis __" 


Abid pun memeluk Qianzy sebentar. Kemudian memintanya untuk duduk bersamanya. Abid mengatakan bahwa dirinya sedang merindukan almarhum orang tuanya. Juga, Abid merindukan Qianzy karena kesibukannya yang tidak bisa mempertemukan keduanya. 


"Segitu rindunya Mas dengan aku, sampai menangis? Aku yang terlalu sibuk, maafkan aku Mas. Apa aku harus tidak melanjutkan kuliahku?" Qianzy merasa bersalah. 


"Astagfirullah hal'adzim, apa ini? Kenapa kamu bicara seperti itu? Menuntut ilmu adalah keharusan bagi setiap makhluk hidup. Mas tidak ingin pendidikan kamu sampai berhenti di tengah jalan, Qian," tutur Abid. 


"Tapi, kita menjadi jarang bertemu. Bagaimana jika kita tidak sempat menghabiskan waktu bersama, tapi salah satu dari kita sudah pergi? Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi, Kak," celetuk Qianzy.


"Hush, kamu ini ngomong apa? Tidak boleh seperti itu," tegur Abid. 


"Tapi Allah selalu saja seperti itu. Allah mengambil semua oang yang aku sayangi," terang Qianzy. "Mas, aku tidak mau sampai Allah memisahkan kita. Pokoknya sampai tua, kita harus tetap bersama meski masing-masing kita sudah memilki kehidupan sendiri. 


"Hati-hati dengan prasangka, hati-hati dengan kata-kata. Semua itu bisa jadi doa," tutur Abid.


"Tapi memang kenyataannya seperti itu. Hartaku saat ini adalah Mas Abid saja, aku tidak mau ada apapun yang menimpa Mas Abid. Jika Tuhan memintaku memilih antara aku atau Mas Abid yang pergi lebih dulu … maka aku akan menjawab, akulah yang akan pergi lebih dulu," Qianzy menangis tersendu-sendu.


"Cukup, apa yang kamu bicarakan ini Qian? Jangan bicara seperti itu lagi. Jika kamu pergi pun, Mas bagaimana?"


Ustadzah Rani yang masih ada di luar, tidak sengaja mendengar ucapan mereka. Ketika Qianzy masuk ke rumah ustadzah Rani memang sudah mengatakan kepada Qianzy jika dirinya akan datang sebentar lagi untuk membawakan makanan untuknya.


"Mereka baru dipertemukan dalam waktu setengah tahun. Tapi kasih sayang mereka benar-benar membuatku terharu. Sebaiknya, masalah mantan kekasih Qianzy yang beberapa waktu lalu datang,  akan aku simpan dulu dari Kyai. Takutnya, malah nanti akan timbul masalah."


Siang itu digunakan oleh Qianzy dan Abid untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka memasak dan makan siang bersama. Belum lagi, hari itu juga Abid yang turun tangan menemani Qianzy belajar.


Sepanjang pelajaran, Qianzy selalu fokus memperhatikan semua ilmu yang sampaikan oleh kakaknya. Berbeda kala bersama Husain, Qianzy malah selau protes, makan di waktu belajar, dan tidak memperhatikan materi yang Husain sampaikan.


Mendambakan sosok kakak memang sudah Qianzy inginkan sejak dulu. Kini, hanya kakaknya yang akan mejadi motivasi dalam hidupnya. Demi kakak dan almarhum Abi-nya, Qianzy akan merubah pola hidupnya. Di sisi lain, dia juga tidak melupakan misinya tentang menjodohkan kakaknya dengan ustadzah Rani. Apakah Qianzy akan berhasil?

__ADS_1


__ADS_2