
"Hahaha, apa kubilang!"
Tawa Monica membuat Qianzy terbangun. "Ada apa ini rame-rame?" tanyanya dengan wajah baru bangun tidur. "Kelen suka banget ganggu orang tidur," lanjutnya.
"Ini kenapa pula ustadz ada di sini? Nggak baik tau, ngintip perempuan tidur. Aku minta kompensasi!" ujar Qianzy menodongkan tangannya.
Tanpa pikir panjang lagi, ustadz Husain pun mengeluarkan dompetnya dan memberi Qianzy dua lembar ratusan ribu. Hikmah dan Monica pun tercengang melihatnya.
"Ini," ujar ustadz Husain memberikan uang tersebut.
"Serius ini?" tanya Qianzy juga terkejut. "Tidak ada apa-apa di balik duit ini, 'kan?" tanya Qianzy curiga.
"Sore nanti, setelah selesai shalat ashar. Kamu temui saya di depan aula kecil pesantren ini. Jika kamu tidak tahu tempatnya, kami bisa meminta Hikmah untuk mengantarmu," jawab ustadz Husain.
"Kan ... kan ... aku nggak mau ah! Ada apa-apanya. Jadi, sama aja ustadz Husain kagak ikhlas. Dosa tau!" seru Qianzy.
"Kamu akan mendapatkan lebih banyak lembaran ratusan ribu jika menemui saya. Di sisi lain kamu dapat ilmu, di sisi lain juga kamu dapat uang jajan," celetuk ustadz Husain.
Setelah mengatakan keperluannya, ustadz Husain pun pamit. Masih banyak hal yang harus dilakukan olehnya. Setelah ustad Husein pergi, Monica mengatakan bahwa dirinya bisa menerawang bahwa ustadz Husain menaruh rasa kepada Qianzy. Yang sebenarnya Qianzy juga tahu bahwa Ustadz Husain menyukainya.
"Perlakuan ustad Husain kepada mbak Qianzy sedikit berbeda ya. Gimana ya rasanya diperlakukan baik kepada orang yang hidupnya banyak disukai kaum hawa," sahut Hikmah.
"Nah, bener. Kenapa kamu nggak sikat aja dia? Lumayan kan dapat suami sholeh dan juga tampan seperti ustad itu," timpal Qianzy.
Qianzy sama sekali tidak menanggapi ocehan dua temannya. Karena dirinya belum mau menikah atau bermain cinta-cintaan dengan seorang pria. Yang Qianzy inginkan, hanya bagaimana cara membahagiakan kakaknya seorang.
***
__ADS_1
Seharian penuh, Qianzy terus saja mendiamkan kakaknya karena kesal. Dia sama sekali tidak bicara dengan kakaknya meski hanya menyapanya.
Ashar pun tiba. Setelah sholat ashar, Qianzy memenuhi janjinya kepada Ustadz Husain dengan ditemani Hikmah menuju aula lama Pesantren itu. Tiba-tiba saja ada yang membuat kesal Qianzy lagi. Yakni, di sana ternyata sudah banyak sekali para santri yang ternyata sedang ada pengajian.
"Hish, kupikir aku istimewa. Ternyata banyak juga kecengan ustadz Husain," batin Qianzy kesal. Lebih tepatnya Qianzy cemburu.
"Oh, jadi kamu di sini juga? Kupikir kamu anti datang ke acara seperti ini," ujar Anjani.
Ucapan dari Anjani sama sekali tidak si gubris oleh Qianzy. Tak puas dengan kecuekan Qianzy, Anjani kembali ingin membuat Qianzy merasa malu ketika mengaji. Setahu Anjani, Qianzy belum bisa mengaji sama sekali. Padahal, sebelum datang ke cara tersebut, ustadz Husain telah memberikan jawaban untuk pertanyaan yang nantinya akan di pertanyakan di pengajian tersebut. Qianzy sudah belajar beberapa Alkitab dalam waktu singkat. Memang keunggulan Qianzy mampu mengingat apa yang ia pelajari meski hanya dengan membaca.
"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, wahai anak baru—" salam Anjani dengan wajahnya yang sinis.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Hish, ada apa?" sahut Qianzy santai.
"Ini saatnya aku memperlakukan kamu. Kenapa juga aku selalu gagal untuk mengerjai kamu. Untuk hari ini, kamu tidak akan lolos, Qianzy!" batin Anjani dengan ketus.
Semua yang dipertanyakan eh Anjani, rupanya mampu di jawab oleh Qianzy. Membuat Abid dan ustadz Husain pun bangga kepadanya. "Ini pasti kamu yang membelajarinya, kan?" bisik Abid.
"Anjani Ini masih saja berlagak. Dia terus saja berseteru dengan adikku. Apakah kamu tidak mau menegaskan siapa pilihanmu, ustadz Husain?" tanya Abid.
"Kyai, saya bukannya tidak mau tegas dengan keputusan saya. Tapi Kyai mau sendiri bagaimana sifat Qianzy. Dia bukan orang yang tidak mau dikekang. Jika hari ini saya menegaskan bahwa saya ingin menikahi Qianzy, lalu saya di tolak, bukankah Qianzy akan mendapat cibiran buruk?" bisik ustadz Husain.
Abid paham yang dimaksud oleh ustadz Husain. Qianzy memang tidak mau menikah muda jika tidak terdesak dalam situasi apapun. Membuatnya kesal sendiri jika Anjani saja tidak mau sadar diri.
Setelah selesai pengajian, sesuai janjinya, ustadz Husein memberikan hadiah dengan berupa lembaran ratusan dengan sejumlah 3 lembar. "Ini yakin, buat aku?" tanya Qianzy masih ragu.
"Aku takut saja kalau ada udang dibalik batu dengan pemberian uang ini. Ustad tidak bermaksud untuk memaksa aku menikah lagi, 'kan?" celetuk Qianzy.
__ADS_1
Ustadz Husain pun tersenyum. Kemudian dia menggelengkan kepala dan menjelaskan arti uang tiga ratus ribu itu. "Sebagai hadiah untuk kamu karena Islam menjawab semua pertanyaan yang Anjani lontarkan," jelasnya.
"Lah, tapi bukannya ustad sendiri yang memberitahuku tentang jawaban itu? Bukankah itu sudah sama saja?" tanya Qianzy.
"Anggap saja ini juga permintaan maaf dari saya yang selalu memaksa kamu untuk menjadi orang yang lebih baik. Karena saya juga percaya, jika seseorang itu bisa berubah tanpa harus dipaksa," jelas ustadz Husain.
Qianzy hanya mengangguk saja. Karena tidak enak hati menolak uang tersebut, Qianzy pun akhirnya menerima uang itu. Sementara itu, Anjani yang mendengar percakapan antara ustaz Husain dan juga Qianzy, membuatnya terus masih tersakiti karena telah dibodohi oleh keduanya.
"Mengapa ustaz Husain telah memilih gadis kota itu yang tidak memiliki akhlak baik dibandingkan dengan diriku yang sudah menemaninya sejak dulu," gumam Anjani.
"Ini tidak boleh terjadi. Yang seharusnya menjadi pendamping hidup Ustadz Husain itu adalah aku. Bukan Qianzy, yang tidak memiliki tata krama itu,"
"Awas aja kamu Qianzy. Aku tidak akan tinggal diam karena kamu telah merebut semua perhatikan orang-orang di pesantren ini. Meski kamu adalah adik dari pemilik pesantren ini,"
"Di sini, yang jauh lebih berhak bahagia adalah aku. Bukan anak angkat orang seperti kamu,"
"Yah, dia adalah anak-anak karena tidak dianggap oleh orang tua kandungnya sendiri. Kenapa aku harus minder dengannya? Awas aja kamu, Qianzy!"
Setelah terus mengumpat, Anjani pun kembali ke kamarnya seraya marah-marah. Semua orang yang ada di dekatnya kena marah semua. Sampai beberapa santri menganggap bahwa Anjani ini sedikit tidak waras.
"Minggir!" ketus Anjani.
"Kalian ini. Apakah kalian mau menghalangi langkahku, hah!"
"Minggir!" teriak Anjani, sembari menabrak beberapa santri di dekatnya.
"Ada apa lagi dengan mbak Anjani? Sepertinya akhir-akhir ini, mood mbak Anjani tidak baik," celetuk salah satu santri yang dibentak oleh Anjani.
__ADS_1
"Ya kan merasa saingannya sudah hadir. Pokoknya, setelah adanya mbak Qianzy, mbak Anjani ini mode setan terus. Huh, takut—"
Beberapa santri itu malah menertawakan tempramen Anjani.