
"Kamu harus terapkan tata krama juga kepadanya. Aku merasa, dia akan mendengarkanmu daripada aku. Selalu saja dia bersikap manja kepadaku. Aku yakin, dia sekarang sedang terluka hatinya karena aku membentaknya tadi," pinta Abid.
"Iya, Mas,"
Di kamar, Qianzy pun seperti ibu-ibu yang sedang kesal dengan suaminya dan seperti membanting-banting barang. Terdengar suara benda terjatuh dengan sering juga di kamarnya.
"Mas Abid ini, ih! Aku kesal padanya!"
Setelah drama di kamar, Qianzy keluar dengan bibir cemberut terus. Ketika mulai pelajaran, sempat-sempatnya melirik ke arah Abid yang hendak keluar lagi.
"Awas saja, aku akan mengunci rumah. Sipaya Mas Abid tidak bisa masuk!" ketus Qianzy dalam hati.
Abid pun berpamitan kepada Husain. Ketika Abid tersenyum kepada adiknya, Qianzy malah melengos, memalingkan wajahnya. Kemudian mulai lagi belajarnya.
Mengaji dengan wajah yang terus di tekuk, membuat Husain tidak bisa konsentrasi melihat wajah muridnya. Husain pun mengingatkan Qianzy untuk tidak cepat kesal dalam menerima teguran.
"Teguran apa? Itu namanya bukan teguran, tapi meledekku dan menghinaku di depan orang!" tampil Qianzy.
"Jika mau menegur itu, ya diantara Aku dan Mas Abid saja, bukan di depan Ustadz seperti ini. Malahan, ini namanya mempermalukan aku!" lanjut Qianzy semakin kesal.
"MasyaAllah. Jangan lagi seperti itu, ya. Harus saling memaafkan sesama saudara. Ayo, kita belajar lagi," ajak Husain dengan lembut.
Malam itu, Qianzy mengaji iqra'. Setelah mengaji iqra', biasanya Husain akan menceritakan kisah-kisah Nabi dan juga para sahabat Nabi kepada Qianzy. Namun, malam itu Qianzy tidak ingin mendengarkan cerita apapun karena perasaannya sedang buruk.
"Gosh, I'm feeling bad. Can the wise stories be continued tomorrow night?" celetuk Qianzy.
"MasyaAllah, Qianzy. Tapi kan biasa kita juga bercerita dulu," terang Husain.
"Haduh, sudah kukatakan. Aku sedang dalam keadaan yang tidak baik. Mengapa harus di paksa? Jika Ustadz mau protes, sana kepada Mas Abid yang membuat moodku hancur. Assalamualaikum!" Qianzy pergi begitu saja dan langsung masuk ke kamarnya.
Membuat Husain hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah random Qianzy. Ketika Husain membereskan buku dan beberapa kitab yang Husain bawa. Tak sengaja, Husain menjatuhkan buku kecil milik Qianzy yang ada di tumpukan paling bawah.
__ADS_1
"Buku apa ini?" gumam Husain memungut buku tersebut. Husain juga terus memandangi buku kecil itu. Sadar jika itu bukanlah miliknya, dia pun mengembalikan di tempatnya semula.
Hendak pulang, Husain pun berpamitan terlebih dahulu kepada Qianzy. "Qianzy, saya pulang dulu, ya. Tolong sampaikan kepada Mas Abid kalau saya tidak bisa menunggu beliau pulang," pamit Husain seraya mengetuk pintu kamar Qianzy.
Akan tetapi, Husain tidak menerima balasan dari Qianzy. Tak ingin berlama-lama lagi, Husain pun mengucapkan salam dan pergi begitu saja, meski Qianzy tidak membalasnya.
***
Di keheningan malam, Qianzy terpikirkan dengan pria bening di kampusnya. Masih menjadi pertanyaan tentang siapa pria itu. Hingga, membuatnya tak dapat tidur karena terus memikirkannya.
"Um, memang susah jika sudah menyangkut orang good looking seperti itu,"
"Bagaimana cara aku kenal dengan cowo itu, ya? Siapa gitu, loh!" seru Qianzy.
Seperti memang ada sengatan listrik, ketika Qianzy memikirkan pria lain, Husain merasa tidak enak pada hatinya. Dia terus saja gelisah dan mudah kesal. Ketika Fathan menyapanya saja, Husain terlihat begitu ketus ketika membalas sapaannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Ustadz. Anda dari mana?" sapa Fathan.
"Lah, sepertinya ketika aku selalu menyapa Ustadz Husain, yang ada beliau selalu ketus denganku. Ada apa memangnya? Apakah aku ada salah?" gumam Fathan.
Husain masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Dalam pikirannya, Husain terus saja kepikiran dengan Qianzy. Padahal juga tidak tahu mengapa dirinya sampai kepikiran dengan gadis berusia 20 tahun, setelah tahun baru itu.
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa aku tidak tenang seperti ini, ya? Ada apa denganku?"
"Aku baru saja berpisah dengan Qianzy. Mengapa sekarang kepikiran tentang dia lagi? Astaghfirullah hal'adzim, ya Allah, jauhkan saya dari zina pikiran, ya Allah__"
Husain sampai bingung sendiri dengan perasaannya. Padahal memang wanita yang disukainya, sedang memikirkan pria lain. Itu sebabnya, dirinya merasa tidak tenang.
***
Pagi setelah shalat subuh, Qianzy tidak mengikuti tausiyah Ustadzah Rani. Dia langsung pulang dan bergegas siap-siap hendak ke kampus untuk mencari tahu tentang pria bening yang ada di kampusnya.
__ADS_1
Sarapan kali itu, Qianzy juga melewatkannya. Dia menulis sesuatu di secarik kertas untuk Abid, bahwa dirinya tidak bisa sarapan bersama. Berangkat saja, Qianzy menggunakan ojek, tanpa di antar oleh Ustadzah Rani dan juga berangkat bersama dengan Hikmah.
"Tumben sekali Qianzy sudah berangkat. Apakah dia masih marah denganku?" gumam Abid. "Benar saja, pasti dia masih marah padaku. Jika tidak, tidak mungkin dia berangkat ke kampus tanpa sarapan,"
"Aku coba untuk telpon dia saja atau bagaimana, ya?"
Abid bingung sendiri ketika adiknya sedang merajuk padanya. Padahal, Qianzy sudah tidak marah kepadanya, hanya memang sedang ingin berangkat ke kampus pagi-pagi supaya bisa bertemu dengan pria yang menabraknya kemarin.
"Bagaimana jika aku mengirim pesan saja kepada Qianzy? Benar! Aku harus mengingatkan dia untuk sarapan dan makan siang dengan tepat waktu,"
[Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Qian. Mas minta maaf karena semalam sudah membentakmu. Tapi Mas melakukan itu untuk kebaikan kamu sendiri, Qian. Apakah kamu masih dama marah dama Mas? Sehingga kamu melewatkan sarapan bersama Mas? Jangan lupa sarapan dan jangan telat makan siang, ya. Mas minta maaf] - Abid.
Abid semakin gelisah karena adik kesayangannya tidak segera membuka pesannya. Semakin pusing dan tidak tenang sendiri. Sama halnya seperti yang dirasakan oleh Husain.
Dua pria dewasa itu sedang memikirkan satu orang sejak semalam. Namun, yang sedang dipikirkan sampai tidak bisa makan dengan tenang, malah memikirkan pria lain.
***
Di kampus, Qianzy mendapatkan kejutan dengan kehadiran teman sekolahnya dulu. Tekan dimana selalu bersama Qianzy sejak di bangku taman kanak-kanak sampai sekolah menengah pertama.
"Qianzy!" teriak gadis itu.
Mendengar namanya di panggil, Qianzy pun menoleh. Mencari-cari dimana sumber suara yang memanggilnya.
"Qianzy, aku di sini!" teriak gadis itu lagi.
Terlihat dari kejauhan, Qianzy melihat seorang gadis berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan kepadanya. Qianzy tidak ingat siapa gadis kecil itu.
"Qianzy! Itu kah kamu?" gadis itu terus menyebut namanya. "Aaa, benar kamu. Astaga, kamu kenapa berubah drastis seperti ini?" lanjut gadis itu.
Gadis itu langsung memeluk Qianzy dan Qianzy masih bingung dengan siapa gadis itu. "Maaf, penulis bilang aku adalah orang yang jarang punya teman dekat. Situ siapa, ya?" tanya Qianzy melepas pelukan gadis itu.
__ADS_1
Siapakah gadis itu? Apakah penulis lupa? Bisa kali di sleding penulisnya.