
"Kamu tahu ya, Anjani. Wanita yang disukai oleh Ustadz Husain itu bukan kamu, tapi aku. Mengapa kamu masih keras kepala dan perjodohan yang konyol itu?" desis Qianzy.
"Perjodohan itu sudah ada sejak kami kecil. Jadi, untuk apa kau memperjuangan perasaanmu, jika Ustadz Husain saja tidak pernah mencintai wanita yang bukan mahramnya?" sahut Anjani merasa tidak terima.
"Oh, begitu? Kita lihat saja, siapa yang akan menjadi pemenangnya!" Qianzy pergi dengan menarik tangan Hikmah.
Namun, ketika Qianzy hendak pergi, tangannya ditahan oleh Andreas. Sontak, membuat Qianzy terkejut dan langsung menepisnya. "Apa-apaan sih, lu? Main sentuh aja tangan orang!" kesal Qianzy.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Apakah hubungan kita tidak bisa lagi kita perjuangkan? Untuk apa kamu mengejar pria yang sudah memiliki garis perjodohan dengan wanita lain?" ucap Andreas sembari melirik ke arah Anjani.
Qianzy menghela napas panjang. Tak menjawab apa yang Andreas ucapkan dan kembali menarik tangan Hikmah, pergi meninggalkan Anjani dan Andreas saat itu juga.
"Sayang, sayang. Kenapa kamu mengabaikan aku? Lihat perjuanganku sampai sejauh ini. Kenapa kamu tidak menghargai perjuanganku ini?" Andreas masih saja kekeh.
"Pertama, jangan memanggil gue dengan sebutan sayang. Itu sangat menggelikan! Kedua, gue tidak pernah meminta lu untuk datang kemari. Ketiga, gue tidak pernah berjuang demi cinta untuk bertahan di sini. Perlu lu ketahui, Ndre. Gue di sini demi kakak gue, bukan yang lain, mengerti? Minggir!" jelas Qianzy dengan tatapannya yang menusuk.
Alasan Qianzy tetap bertahan di kampung kota kecil memang pertama demi kakaknya. Tapi, jika soal Ustadz Husain, Qianzy selalu menganggap itu adalah sebuah bonus yang Tuhan berikan untuknya.
Anjani kesal mendengar itu. Dia tidak mau posisinya berubah sebagai wanita kesayangan semuanya. Anjani sangat iri melihat kedekatan Qianzy dengan Abid. Di mana, dulu selalu Abid menomor satukan dirinya dan mengabulkan setiap permintaannya.
"Aku tidak rela semuanya menjadi miliknya! Mas Abid juga, dulu selalu mematuhi apa yang aku katakan. Bahkan menjawab dengan nada meninggi saja tidak pernah. Kini, setelah kehadirannya, membuat Mas Abid selalu mengabaikan aku dan menentangku!" batin Anjani kesal.
"Ustadz Husain juga. Dia dulu selalu bicara lembut denganku. Tapi sekarang, jangankan bicara. Bertemu denganku saja, selalu ada saja alasan supaya bisa menghindariku," lanjutnya.
"Aku tidak terima. Semua perhatian orang ada pada Qianzy, aku tidak terima! Akulah orang yang paling istimewa. Lihat saja Qianzy, aku akan membuatmu segara pergi dari sini!"
Anjani memang pada dasarnya memiliki sifat iri hati. Dia memang pandai mengaji dan berpakaian anggun bak muslimah yang taat. Namun, sikap yang dimiliki seseorang itu sudah ditanam dalam dirinya. Akan sulit untuk merubahnya meskipun lahirnya orang tersebut sudah mendapatkan nilai plus.
***
__ADS_1
Ketika kelas sudah selesai semuanya, Qianzy bersiap hendak keluar. Dia membereskan buku dan laptopnya dengan cepat. Sore itu, ada janji dengan Monica untuk mengetahui siapa pria tampan yang selalu mengganggu pikirannya itu.
Sayangnya, ketika di depan pintu kelas, Hikmah mencegahnya untuk pergi tanpa izin dulu kepada Abid atau Husain terlebih dahulu. Hikmah memang menjalankan perintah dari Abid, Husain dan Ustadzah Rani untuk menjaga Qianzy.
"Kenapa dah? Ngapa musti ngadepaplang tangan begini, hah!" ketus Qianzy dengan bahasa baru yang ia pelajari dari teman kampus lainnya.
"Dih, ngadepaplang. Mbak Qian mau kemana? Kenapa dari tadi sepertinya Mbak Qian ini menghindari aku? Kenapa?" tanya Hikmah dengan suara lantangnya.
"Bukan urusanmu, dah sana pergi!" usir Qianzy.
"Wah, mbak Qian nih marah juga to sama aku? Kan tadi yang buat salah Mbak Anjani sama itu ... anu, siapa namanya?" Hikmah ini di sisi lain memiliki tingkah lucu, dia juga sedikit lemot cara berpikirnya.
Qianzy memaksa Hikmah untuk pulang lebih dulu. Dia tidak mau jika gadis polos itu sampai mengetahui niatnya yang ingin ghibah masalah lelaki dengan Monica, teman lamanya.
"Pulang duluan sana. Aku masih ada urusan!" kembali Qianzy mengusir Hikmah dari padangannya.
"Buset nih anak tangguh juga. Bagaimana caranya aku bisa lepas dari dia ini, ya?" gumam Qianzy dalam hati.
Beberapa detik kemudian. Monica sudah mengirim pesan untuk pertemuan mereka di cafe permata. Tempat pertemuan menjadi ganti karena tidak ingin pria yang ingin mereka bicarakan, ada yang mendengarnya nantinya.
[Kamu di mana? Kita ganti saja tempat bertemu. Ada seseorang yang terus mengawasiku sejak dari aku mengikuti pria yang kau maksud ini.] - pesan dari Monica.
[Astaga, kamu bilang, kamu bisa handle masalah ini. Di cafe mana gantinya?] - Qianzy membalas.
[Cafe Permata]
Setelah mendapat pesan singkat dari Monica, Qianzy kembali memikirkan bagaimana cara supaya bisa terlepas dari Hikmah. Ketika sedang pusing-pusingnya mikir, datanglah Anjani dan Andreas mendekati mereka.
"Mbak, itu kan ...."
__ADS_1
Saking tidak beraninya bicara, Hikmah hanya bisa menunjuk sebentar, tapi tidak berani menyebut nama dari dua orang usil itu, Andreas dan juga Anjani.
"Ngapain lagi lu datang kemari?" Qianzy bertanya dengan menyulut.
"Sayang, kamu ini kenapa, sih? Sejak kita putus, lalu orang tuamu meninggal, kenapa kamu jadi berubah? Pasti ini gara-gara orang yang mengaku sebagai kakak kandungmu itu kan?" Andreas mulai memunculkan sikap aslinya lagi.
"Apa-apaan, lu? Kenapa bawa-bawa nama kakak gue? Kakak gue pria yang baik. Kagak kayak elu!" Qianzy mudah terpancing emosi.
"Mbak Qian, sudahlah__" lirih Hikmah.
Sementara itu, tatapan Anjani kepada Qianzy juga aneh. Anjani terlihat sekali memendam dendam yang sangat besar terhadap Qianzy. Dia masih belum terima jika Husain lebih memilih Qianzy daripada dirinya.
"Kenapa dengan matamu? Silinder? Plus minus hoka hokke? Atau katarak? Ih, bahaya. Periksa sana, biar segera diobati," ledek Qianzy.
Merasa tertantang, Anjani bicara dengan ketus kepada Qianzy. "Kamu hanya anak pembawa sial bagi orang yang merawatmu. Apa kamu cukup pantas bersanding dengan Ustadz Husain? Jangan bermimpi!"
Seketika, Qianzy menjadi bingung. Ungkapan kata dari Anjani karena tidak nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan.
"Kamu ngomong apa? Ngomong apa nyuci? Atau kamu bocil, yang setiap shalat hanya baca weswhweshwesh saja, ha?" Qianzy mulai muak.
"Dah lah, males ngeladenin orang kek kalian berdua. Hikmah, ayo kita pergi!" ucap Qianzy sedikit emosi.
"Qianzy! Aku masih mencintaimu!"teriak Andreas.
"BASI!" sahut Qianzy dari kejauhan.
"Aku akan selalu setia menunggumu!" teriak Andreas lagi.
Namun, langkah Qianzy sangat cepat, sampai Andreas yang tidak mengejarnya, sudah tidak melihatnya lagi. Bahkan bayangan itu juga udah hilang.
__ADS_1