
Meski banyak yang menyukai Qianzy, tapi tetap ada yang tidak menyukai kedatangan Qianzy di pesantren itu. Seseorang itu adalah seorang wanita, memiliki perasaan kepada Husain.
"Oh, ini adiknya Kyai. B ajah!" seru seorang gadis dengan tatapan sini kepada Qianzy.
"Dih, ngungkapin diri sendiri?" tampik Qianzy.
"Maksud kamu apa?" tanya gadis itu.
"Ck, merusak moodku aja, sih?" ketus Qianzy.
"Assalamu'alaikum," salam seorang laki-laki.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Seorang laki-laki itu adalah, yakni Husain yang kala itu hendak meminta ustadzah Rani menemui seorang tamu yang datang.
"Ustadz Husain, kenapa njenengan datang kemari?" tanya Ustadzah Rani.
"Em, ada tamu. Sebaiknya ustadzah saja yang menemui beliau. Saya, ada beberapa pekerjaan mendadak di toko," ujar Husain.
"Begitu, ya. Baiklah, Qianzy, kamu jalan-jalannya sama Hikmah atau yang lain dulu, ya. Kita bertemu lagi nanti," ucap ustadzah Rani dengan lembut.
"Iya deh, sana temui dulu tamunya," Qianzy bahkan tidak keberatan ditinggal ustadzah Rani.
"Assalamu'alaikum, semuanya,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Ustadz Husain, tunggu!" seru gadis yang sebelumnya menegur Qianzy dengan tidak baik.
Gadis itu bernama Anjani. Seorang santri yang sudah nyantri di pesantren Al-As'ariyah selama empat tahun.
"Iya," jawab Husain.
"Em, mengenai pelajaran yang ustadz ajarkan … bagaimana jika di evaluasi lagi? Besok mata pelajaran itu, saya belum paham benar, ustadz," celetuk Anjani.
"Dih, caper!" umpat Qianzy dalam hati.
__ADS_1
"Em, baiklah. Kita bertemu besok, ya." jawab Husain tanpa basa-basi.
"Hih, susah banget cairin gunung es ini. Bagaimana bisa aku mengejarnya selama ini, tapi belum pernah ada hasilnya!" gerutu Anjani dalam hati.
"Hikmah, ayo, kita jalan lagi. Tapi antar aku pulang dulu, mau ambil uang. Kita jajan nanti, oke?" ajak Qianzy tanpa memperdulikan santri yang suka cari perhatian seperti Anjani.
"Iya, Mbak," Jawab Hikmah.
Qianzy melewati Husain begitu saja. Seolah, ia memang tidak mengenali Husain. Qianzy tak ingin dekat dengan siapapun yang akan menyulitkan hidupnya di pesantren. Tujuan utama datang, hanya ingin mengenal lebih dalam kakaknya tanpa harus memiliki perasaan lain yang akan membuatnya pusing.
"Qian, tunggu!" Husain menghentikan langkah Qianzy.
"Hum, ada apa, Ustadz Mukidi?" lagi-lagi Qianzy sulit memanggil nama Husain. Alhasil, membuat semua santri yang mendengar nama yang diberikan Qianzy kepada Husain terkejut.
"Husain," jelas Husain.
"Mulutku, serah aku lah!" ketus Qianzy.
"Heh, dimana sopan santun kamu. Meski kamu adiknya Kyai, tapi beliau ini adalah Ustadz hebat di pesantren ini. Yang sopan sedikit ngapa!" tegur Anjani.
Qianzy kembali memutar matanya. "Ada apa, Ustadz Husain. Kenapa memanggil saya?" tanya Qianzy lebih lembut.
"Hm," itulah jawaban Qianzy sembari mengajak Hikmah pergi.
Qianzy memang lain dari gadis lainnya. Terlihat cuek, tapi membuat penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh. Tapi, Husain sadar, dirinya tidak mungkin mengejar seseorang yang dirinya saja sulit untuk di raih.
"Kenapa Ustadz Husain tersenyum setelah Qianzy pergi. Bukankah beliau selalu kesal dengan orang yang membangkang dirinya?" batin Anjani heran.
Namun, sebelum Qianzy mengajak Hikmah jalan-jalan, Hikmah mengajak Qianzy masuk ke santri putri lebih dulu. Banyak yang Hikmah tanyakan kepada Qianzy seperti dirinya seorang wartawan.
"Wah, mau lanjut kuliah juga, ya? Apa jangan-jangan Mbak Qianzy ini mau dijodohkan dengan Ustadz Husain, ya?" ujar Hikmah membuat langkah Qianzy terhenti.
"Maksudnya?" Qianzy menyipitkan matanya lagi.
"Hehe, canda, Mbak. Ya habisnya, sebulan yang lalu, saya dengar kalau Kyai mau menjodohkan adiknya dengan Ustadz Husain, ya berarti Mbak Qianz, dong!" seru Hikmah.
Sebulan yang lalu, memang ada pembahasan perjodohan dengan Ustadz Husain. Tapi, yang Hikmah dengar adalah kesalahpahaman. Abid bukan menjodohkan Qianzy dengan Ustadz Husain. Melainkan menjodohkan santri lain dengan sepupu dari Ustadz Husain.
__ADS_1
"Kampret memang, maunya mereka apa coba? Segala macem jodohku di atur. Hih, pengen tak ih!" umpat Qianzy salah paham.
"Astagfirullah hal'adzim, jangan suka mengumpat. Apalagi mengumpat kepada orang tua. Itu tidak baik, Mbak Qianzy," tutur Hikmah.
"Hih, kamu nggak tau aja. Selama hidupku, orang tuaku selalu membebaskan aku memutuskan segala sesuatu, ini Mas Abid--" ucapan Qianzy terhenti kala Hikmah memberikan pencerahan.
Hikmah sibuk memberi pencerahan sedikit kepadanya. Bukannya diperhatikan, Qianzy malah terus menggoda teman barunya itu dengan celetukannya yang sangat meresahkan.
Sesampainya di kamar, Qianzy semakin terdiam karena dalam satu kamar itu terdapat 6 kasur tipis dan sedikit kecil. Jika di rumah kakaknya, dirinya tetap tidur di kamar yang besar dan kasur yang tinggi.
"Ini apa, miskah?" tanya Qianzy melongo.
"Ini kamar kami, itu di ujung sana … tempat tidur saya," jawab Hikmah dengan senyuman.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," Hikmah menyapa lima orang temannya yang sekamar
Masih tidak percaya jika santri harus tidur di kasur yang tipis dan sempit, hampir membuat Qianzy putus asa. Mengapa Qianzy berpikir demikian? Sebab, sejak kecil dirinya hidup bergelimang harta, dan tidak tahu menahu tentang islam yang sesungguhnya.
"Ini kasur langsung ke lantai? Kalian nggak tambahin ini dulu, em ... Karpet gitu?" tanya Qianzy.
"Yo ndak, to? Kita mana bisa beli karpet, uangnya di tabung saja. Begini sudah alhamdulillah," saut Hikmah, lagi-lagi dengan senyuman yang membuat Qianzy semakin teriris hatinya.
Qianzy menanyakan ada berapa kamar di asrama santri putri. Ia akan membelikan karpet lantai minimal, agar santri tidak ada yang gampang sakit.
"Kalian nggak ikutan kerja bakti?" tanya Qianzy.
"Ndak, Mbak. Kita ada piket lain, emm ini siapa, Hikmah?"
"Oh, iyo. Aku lupa kenalin, semuanya kenalin. Ini namanya Mbak Qianzy, adiknya Kyai yang baru tiba kemarin itu," Hikmah mengenalkan Qianzy kepada kelima santri yang ada di kamar itu.
"Ya Allah, ndak tau eh. Nyuwun ngapunten, Mbak," salah satu santri itu menyalami seraya mencium tangan Qianzy.
"Eh, apa-apaan, sih? Salaman aja cukup, kenapa sampai cium tangan?" Qianzy yang belum terbiasa langsung menarik tangannya kala meraka hendak mencium tangannya. "Jangan bahasa Jawa juga, aku belum mudeng!"
"Kami juga mau mendapatkan berkah dari njenengan," jawab santri itu.
"Tapi aku bukan orang Islam. Kalian tidak perlu melakukan itu lah. Biasa aja, aku nggak suka di cium gini tangannya. Cukup salim aja besok-besok!" pinta Qianzy.
__ADS_1
Hikmah mengajak Qianzy keliling lagi, masih banyak yang ingin Qianzy rombak pesantren itu agar semua santri nyaman tinggal di sana. Dengan uang yang Qianzy dapatkan sebagai ahli waris, ia ingin menambah bangunan pesantren lagi kedepannya. Hal itu akan ia rencanakan nanti, di saat kakaknya pulang.