
"Kalian jangan kejar aku!" teriak Qianzy tertawa dalam derasnya hujan.
"Kamu mengejek kami tadi. Jadi, kamu harus menerima hukuman dari kami," Abid langsung mengejarnya, meraih tangannya.
Lalu, disusul lah oleh Husain membawa ember, mengguyur tubuh Qianzy yang saat itu sudah basah kuyup. Pemandangan indah itu juga dilihat oleh beberapa santri, termasuk Anjani dan juga Ustadzah Rani.
"Mas Abid, jangan gelitiki aku! Aku akan SmackDown kamu kalau terus menggelitik tubuh bohay ku ini!" teriak Qianzy.
"Ampun, ampun. Aku salah, iya aku salah. Ustadz Husain berhenti menyiramku!"
Tubuh mereka, usia mereka bertiga juga sudah mencapai dewasa. Namun, mereka terlihat seperti anak kecil sore itu. Hingga pada malamnya, ketiganya demam secara bersamaan.
"Haduh, aku pusing sekali," keluh Qianzy. "Ini semua gara-gara Mas Abid dan Ustadz Mukidi itu!!" kesal Qianzy.
"Heh, kok Mas Abid, sih? Kamu kan yang mancing emosi Mas tadi? Mukidi siapa lagi itu?"
"Mukidi ya itu si Ustadz nyebelin yang tiba-tiba melamar aku!" ketus Qianzy keceplosan.
Abid penasaran, mengapa Qianzy memanggil Husain dengan sebut Mukidi. Dengan lantang, Qianzy menjawab, "Mukidi, Munyuk Kriting Berdiri, hahaha pantas buat dia!" serunya tanpa ada rasa berdosa.
"Astaghfirullah hal'adzim, Qian! Kamu dapat bahasa kasar seperti itu? Jahat!" kesal Abid dengan menyelentik bibir adiknya yang comel.
"Ih, sakit! Mas Abid udah nggak sayang lagi sama aku. Memihak Ustad Mukidi itu! Aku mau balik aja deh ke Jakarta, nggak mau lagi ketemu Mas Abid!" Qianzy merajuk dan menutupi dirinya menggunakan selimut.
Kala itu, keduanya tengah duduk di sofa tengah dengan menunggu obat yang Hikmah dan Ustadzah Rani buatkan di dapur. Ketika Hikmah dan Ustadzah Rani kembali, ia sudah melihat ruang tengah berantakan karena Qianzy dan Abid kembali bertengkar dengan melempar barang-barang. Meski hanya bantal kecil dan selimut yang mereka pakai.
"Astaghfirullah hal'adzim. Kalian ini kenapa? Apa masalah sore tadi belum selesai? Kenapa kalian sampai berantakin rumah seperti ini?"
Ustadzah Rani seperti memarahi kedua anaknya hang bandel dan juga usil. Dengan omelannya, Ustadzah Rani sembari merapikan ruang tengah kembali.
"Ustadzah Rani cocok sekali dengan Mas Abid. Tapi, kenapa Mas Abid menolak ketika aku ingin jadi makcomblang baginya?" gumam Qianzy dalam hati.
__ADS_1
Setelah Hikmah dan Ustadzah Rani selesai merawat kedua kakak beradik itu, mereka pun pamit untuk kembali ke pesantren. "Kyai, Mbak Qian, kami pamit dulu. Assallamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
Berlalunya Ustadzah Rani dan juga Hikmah, membuat Qianzy kembali bertanya mengapa Abid tidak mau menerima Ustadzah Rani sebagai calon istri yang ia rekomendasikan. Bahkan, mengatakan hal tidak mungkin bagi seroang Kyai seperti kakaknya.
"Astaghfirullah, kenapa kamu ini pengen tau banget sih urusan orang lain, Qian …," Abid sudah sangat sabar menanyakan itu.
"Hehe, kepo aja, Mas. Ustadzah Rani apa kurangnya? Cantik, baik, lemah lembut gitu. Cocok untuk Mas Abid. Kenapa nggak Mas lamar saja dia? Bukankah Mas tinggal cap cip cup milih istri di pesantren sendiri?" celetuk Qianzy.
Abid kembali tersenyum, kemudian mengusap kepala adiknya dengan lembut seraya mengatakan apa yang membuat nyantai bisa menjadikan Ustadzah Rani sebagai istrinya.
"Hm, dia sudah memiliki calon suami. Untuk apa Mas mengharap hal yang sudah memiliki Tuannya?" ujarnya.
"Oh, jadi gitu. Tapi, kenapa bisa begitu? Bukankah, yang aku dengar dari Hikmah, mereka ini saling menyukai, ya? Itu sebabnya aku ingin mereka menikah," gumam Qianzy dalam hati.
"Sekarang, tidur lah. Demam kamu belum turun nih, takut malah semakin sakit kalau begadang. Ayo, sana tidur!" pinta Abid dengan kelembutannya.
"Tapi, Mas--"
Dua orang santri tiba-tiba datang dan mengagetkan Qianzy sampai Qianzy lompat dari sofa hangatnya. "Ih, kalian ini apa-apa, sih!" seru Qianzy kesal.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa ini? Kenapa kalian sampai terengah-engah begini, ayo istighfar dulu," sambut Abid meminta keduanya duduk dan minum terlebih dahulu.
"Ma-maaf, hah hah hah, Mbak Qianzy. Kami hanya, hah hah hah," napas kedua santri itu masih saja terengah-engah sehingga menguat Qianzy sebal mendengarnya.
"Astaga, ayo katakan!" bentak Qianzy sambil menggebrak meja.
"Astaghfirullah, Qianzy. Yang sopan, jangan seperti itu!" tegur Abid.
"Maaf," ucap Qianzy menunduk.
__ADS_1
Usai bernapas dengan lega, kedua santri itu mengutarakan maksud mereka datang ke gubuk Kyai-nya. Mereka mengatakan bahwa Husain demam tinggi sampai pingsan dan akan segera dibawa ke rumah sakit.
"Apa? Si Ustadz songong itu demam tinggi sampai pingsan? Hahaha memang patut dia begitu, sukurin dah!"
"Qianzy! Apakah sopan jika kamu bicara seperti itu? Kenapa kamu ini, Astaghfirullah hal'dzim," tutur Abid mencubit pipi adiknya yang nakal itu.
Kemudian, meminta dua santri itu untuk membawa Husain ke rumah. Supaya Abid bisa sekalian merawatnya. Masih dengan wajah di tekuk, Qianzy ingat betul bagaimana pria berusia 26 tahun itu melamarnya.
"Kenapa aku selalu kepikiran dengan lamaran dia, sih?" kesalnya dalam hati.
"Qian …," Abid memanggil. "Ahh, iya. Ada apa, Mas?" sahut Qianzy.
"Ustadz Husain sudah melamarmu juga kepada Mas. Lalu, apa keputusanmu? Hatchu!" tanya Abid dengan di sela bersinnya.
"Hatchu! Hatchu!" bersinnya Abid menular kepada Qianzy. "Huamm…." bahkan Qianzy pura-pura mengantuk supaya dapat menghindari pertanyaan kakaknya.
"Jangan kabur dan jangan beralasan, Qian. Kamu bukan anak kecil lagi, segera pikirkan jawabannya. Atau kamu hanya akan memberikan harapan kepada Ustadz Husain!" tegas Abid.
Kembali Qianzy menguap. Demam dan pusingnya ia buat untuk alasan menghindari Abid dan segala pembahasan lamaran untuknya. "Kamu mau kemana? Tetap di sini. Kamu hanya boleh istirahat setelah menjawab pertanyaan, Mas!"
Qianzy patuh seketika seperti anak kucing. Lalu, malah bertanya balik dengan pertanyaan, "Jadi, Mas maunya gimana? Aku terima lamaran itu?"
"Itu yang terbaik," desis Abid.
"Ogah!" tolak Qianzy, ia berdiri dan segera berlari ke kamar.
Bagi Abid, ia senang jika Qianzy belum mau menikah. Sebab, ia ingin sekali menikmati waktu yang terbuang bersama adiknya. Namun, Abid akan jauh lebih bahagia jika Qianzy mau menikah dengan Husain sebagai pilihannya.
Meski cinta memang akan tumbuh dengan sendirinya, tapi Abid sangat berharap jika Qianzy benar-benar mau mempelajari dan mengikuti keyakinannya yang ia bawa sejak lahir.
"Aku tidak akan memaksa karena kamu sudah dewasa, Qian. Tapi, apakah Mas tidak boleh berharap lebih?" gumam Abid.
__ADS_1
"Mas janji, apapun keputusan kamu nanti. Mas akan menerima dengan lapangan dada. Almarhum kedua orang tua kita, pasti mengerti. Kini, aku hanya bergantung pada Husain saja."
Tak lama kemudian, dua santri itu datang membawa Husain yang masih terpejam. Tak lama kemudian di susul oleh dokter langganan yang sudah dipanggil oleh Ustadzah Rani beberapa waktu lalu.