
"Astaghfirullah hal'adzim! Mas Abid!" teriak Qianzy terkejut.
"Bagus malam-malam begini masih berkeliaran. Keluar tidak pamitan dan pulang mindik-mindik seperti maling. Kamu mau jadi apa, Qian!" tegas Abid.
Qianzy mulai mewek dengan wajah jeleknya. "Huaa … Mas Abid membentakku, Mas Abid tidak lagi sayang padaku. Aku mau pulang ke Jakarta saja!" teriak Qianzy seperti anak kecil yang minta kinderjoy tidak dituruti.
Husain mendengar teriakan Qianzy. Teriakan 'hua' nya saja, membuatnya panik dan segera kembali ke rumah Abid untuk memastikan Qianzy baik-baik saja.
"Qian, kamu nggak papa, 'kan? Saya tadi mendengar kamu berteriak. Ada apa?" tanya Husain langsung menerobos masuk.
"Dasar bodoh! Aku akting, Ustadz! Noh dibelakanmu ada singa yang siap mau menerkam!" sulut Qianzy menunjuk Abid yang dibelakangi oleh Husain.
Husain langsung menoleh. Ia tersenyum dengan senyum pelitnya. "Assalamu'alaikum, Mas. Sudah lama di sini?" sapa Husain.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Oh, jadi aku kecolongan ini? Kalian ternyata sering berdua begini, ya? Hukuman telah menanti kalian berdua!" tegas Abid.
Ketika Qianzy ingin protes, Husain menahannya dengan menatap Qianzy dann menggeleng kepalanya dengan pelan. Husian menerima segala jenis hukuman dari Abid, karena memang dirinya merasa bersalah sudah lancang masuk ke rumah tanpa salam dan tanpa permisi lainnya.
"Ustadz, kita kan~"
"Saya dan Qian akan terima hukuman apapun dari, Mas Abid," sela Husain.
"Kapan aku setuju?" desis Qianzy.
"Qian, kita memang bersalah. Lihat jam dinding di sana, sudah pukul berapa itu?" tunjuk Husain.
"Serahlah! Ya udah apa hukumannya!" seru Qianzy mengalah.
Abid memandang keduanya secara bergantian. Dari pandangannya, Husain dan Qianzy memang terlihat cocok. Mereka saling melengkapi di kekurangannya masing-masing. Abid tidak ingin Husain menikahi Anjani karena bagi Abid, Anjani memiliki tempramen yang sedikit buruk. Itu semua karena sejak kecil, Anjani selalu dimanja oleh siapa pun.
__ADS_1
"Hukuman akan aku berikan kalau aku sudah memikirkan hukuman apa yang cocok untukmu, Ustadz Husain," ujar Abid.
"Tapi, Qian. Kamu tetap Mas hukum. Mulai besok, kamu belajar bersama Ustadz Husain ditemani dengan Hikmah," sambung Abid.
"Loh, kok, gitu? Kenapa Ustadz Husain tidak di hukum sekalian? Aku nggak mau ah, kalau Ustadz Husain tidak dihukum juga. Hukuman ini kan dia yang menyetujui!" protes Qianzy tidak terima dengan keputusan kakaknya.
"Ya sudah," ucap Abid dengan raut wajah dan nada bicara yang berbeda.
Sudah tahu sejak Qianzy kecil, jika orang tua, atau seseorang menjawab dengan apa yang dilakukan Abid, itu tandanya ia bicara berlainan arti dengan hatinya.
Tidak ingin Abid kecewa, Qianzy akhirnya mau belajar agama bersama dengan Husain esok hari. Bagaimana mungkin Qianzy membuat kakaknya sedih. Sebab, tujuan utamanya saat ini hanya ingin membuat kakaknya bahagia.
***
Pagi yang cerah, untuk pertama kalinya Qianzy masuk pesantren lagi. Kali ini, ia akan belajar bersama dengan yang lainnya. Di dampingi Hikmah tentunya.
Pelajaran madrasah pagi membuat Qianzy belum bersemangat karena ia masih memikirkan hukuman kakaknya semalam.
Qianzy mampu menghafal banyak benda, organ tubuh dan juga kosa kata sapaan keseharian dengan bahasa Arab. Qianzy juga sudah mampu naik ke kelas lebih tinggi lagi dan belajar fiqih di pagi hari itu. Pada dasarnya, Qianzy memang anak yang cerdas, hanya saja malas untuk diasah.
"MasyaAllah, Mbak Qian. Semangat belajarmu bagus sekali, saya bangga kepadamu yang makin hari sudah jauh lebih baik," puji Ustadzah Rani.
"Alhamdulillah, jadi … bolehkan aku maskeran pagi ini? Aku harus terlihat cantik ketika bertemu dengan Ustadz Husain nanti," celetuk Qianzy
Ustadzah Rani berpikir, Qianzy sudah berubah banyak di saat dirinya mengurung diri di kamar setelah melaksanakan dua kalimat syahadat. Namun, nyatanya masih saja sama di pikiran Ustadzah Rani. Ketertarikan Qianzy pada dunia masih besar. Ustadzah Rani menasihati Qianzy tentang hukumnya mempercantik diri untuk orang yang bukan mahramnya.
"Heh, ada hukumnya juga, kah?" tanya Qianzy.
"Ada, dong. Mau dengar?" ujar Ustadzah Rani dengan nada suaranya yang lembut.
"Em, boleh lah boleh lah. Berhubung masih jam segini, aku akan mendengarkan hukumnya bersolek di depan kaum laki-laki. Monggo!" celetuk Qianzy duduk dengan anggun di samping Ustadzah Rani.
__ADS_1
Berhias dalam ajaran Islam bukanlah sesuatu hal yang dilarang. Malah, Islam mengajarkan cara berhias yang baik tanpa harus merugikan atau merendahkan martabat wanita itu sendiri.
Penggunaan riasan ini diizinkan asal tidak berlebihan, utamanya di bagian-bagian tubuh tertentu. Larangan ini disebut Tabarruj yang berarti sesuatu yang terang, dan tampak. Imam asy-Syaukani dalam karyanya yang berjudul Fathul Qadiir berkata, "At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki."
Hal lain yang perlu diperhatikan ketika berhias adalah masalah aurat. Perlu dipahami mana anggota tubuh yang masuk dalam kategori aurat dan mana yang bukan. Wanita secara umum adalah aurat, hal ini ditegaskan dalam HR Tirmidzi yang menyebutkan, "Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya."
"Wuah, wanita itu aurat. Lalu, aku harus bagaimana? Apakah aku harus bercadar? Lalu, mau kuapakan make up sebanyak itu di dalam tasku?" tanya Qianzy mulai teringat, jika dirinya suka sekali make up-an dan membuat video tentang ber-make up.
"MasyaAllah, Mbak Qian. Aurat wanita memang seluruh tubuh, kecuali wajah, telapak tangannya. Jika kamu ingin memakai riasan, pakailah … asal niatnya jangan untuk terlihat cantik di depan lelaki yang bukan mahramnya," jelas Ustadzah Rani.
"Wah, tapi tetap boleh, 'kan? Asal niatnya nggak bermaksud buat laki-laki lain biar lihat kita cantik dan mengundang hasrat. Begitu, 'kan?" lanjut Qianzy semangat.
"Boleh, tapi jangan menor. Tapi, alangkah baiknya … jika kamu bersolek untuk suamimu nanti," goda Ustadzah Rani.
"Woo, siapa ya calon suamiku nanti?" Qianzy mulai mengkhayalkan idol K-pop yang membuatnya tergila-gila. Namun, terlintas dalam pikirannya jika Husain telah melamarnya.
"Siapa yang kamu bayangkan?" tanya Ustadzah Rani menoel pipi Qianzy.
"Ah, Ustadz Husain, hahaha …." canda Qianzy diiringi tawanya yang khas.
Ustazah Rani ikut tersenyum. Ia bahagia melihat Qianzy bahagia. Teringat bahwa dulu ia juga pernah mengatakan bahwa dirinya juga selalu memikirkan Abid saat masih jadi anak madrasah.
"Hati-hati kalau bicara, nanti malah akan menjadi doa, loh," lanjut Ustadzah Rani kembali mencubit pipi Qianzy.
"Ya emang kenapa kalau menjadi kenyataan? Ustadz Husain boleh juga, haha … canda Ustadzah, aku hanya menggodamu saja. Kenapa? Apa kau menyukainya, ha?" Qianzy terus menggoda Ustadzah Rani.
Tak sengaja Husain dan Fathan mendengar celotehan dari Qianzy. Fathan tersenyum, ia hanya menganggap ucapan Qianzy itu lelucon saja. Berbeda dengan Husain yang saat itu menatap Qianzy dari kejauhan dengan tatapan gelisah.
"Qianzy ini lucu juga, ya?" ujar Fathan. "Saat Ustadzah Rani bertanya siapa yang dia bayangkan, dengan cepat langsung menyebut namamu, Ustadz. Haha, lucu sekali Qianzy ini, aku semakin menyukainya!" imbuhnya.
Mendengar kata suka dari mulut Fathan yang ditujukan oleh gadis yang disukainya juga, seketika wajahnya menjadi berubah kesal. Seakan Husain tidak rela jika ada lelaki lain yang mendambakan Qianzy.
__ADS_1