
Di mobil, Abid mengatakan kepada Husain jika mereka masih harus menunggu Qianzy sebentar. Sebab, Qianzy akan ikut serta dalam menghadiri pernikahan tersebut.
Tak lama kemudian, Qianzy menyusul ke mobil dan menyapa Kakaknya. "Assalamu'alaikum, ayo, Mas. Aku sudah siap!" serunya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Sudah? Cantik sekaki adikku ini. Gamis baru, kah?" puji Abid dengan mengangkat jempolnya.
"Sekaki, sekali Mas! Ngelawak mulu deh," kedalam Qianzy.
Husain pun menyalakan mobilnya dan mereka berangkat menuju tempat pernikahan seorang keluarga pesantren ternama juga. Di setiap perjalanan, Qianzy terus mencuri pandang dengan Husain. Sekilas, Husain meliriknya dari kaca mobil depan. Sontak, membuat Qianzy langsung menegurnya.
"Apa lu liat-liat? Nyetir sono yang fokus!" sentak Qianzy dengan keras.
"Qi, nggak boleh gitu, ah. Tidak baik namanya, juga tidak sopan. Ustadz Husain jauh lebih tua loh darimu. Kamu harus hormati dia, dong," tutur Abid.
"Ogah!" tolak Qianzy mentah-mentah.
Husain hanya tersenyum tipis. Baginya, tidak ada yang mampu membuatnya tertarik selama ia tahu ketertarikan antara lawan jenis selain Qianzy pada pandangan pertamanya. Ia tersentuh hatinya ketika Qianzy terlihat menyesal tidak bisa membelikan kakaknya bubur ayam pagi itu.
Sesampainya di tempat acara nikahan orang, Abid juga memperkenalkan Qianzy kepada semua orang di sana. Banyak sahabat-sahabat dari kalangannya juga turut hadir dalam acara pernikahan keluarga pesantren tersebut.
"Set dah, ini nikahan di pesantren begini, ya? Sama aja mewah ini kalau di Kota besar sana," celetuk Qianzy takjub.
"Ya beginilah kalau keturunan dari pemilik pesantren besar jika mengadakan acara. Kebanyakan mereka mengundang sesama saja," sahut Abid.
"Dih, ada bule pula. Apakah ada dari keluarga pesantren yang blasteran dengan orang barat, Mas?" bisik Qianzy.
"Namanya Chen, dia tinggal dan besar di luar negri. Ibunya dari Australia dan Ayahnya adalah cicit pemilik pesantren ini. Me__" ketika Husain hendak menjelaskan, Qianzy langsung memotong pembicaraannya.
"Nggak nanya situ. Udah diem-diem bae, ngeselin!" sulut Qianzy.
"Qi, jangan seperti itu. Coba bicara dengan Ustadz Husain dengan baik dan ramah, pasti akan terlihat indah," tegur Abid.
"Hm," jawab Qianzy begitu saja.
Hal yang membuat Qianzy heran adalah ketika mereka tiba, sambutan para santri sangat antusias hingga membuat Qianzy tidak nyaman karena ia terus di salami sampai puluhan santriwati di sana. Takjub memang iya, namun hal itu tidak memberikan rasa nyaman kepadanya, sebab masih hal baru baginya.
"Weh, dah kek artis aja, gue. Sekali masuk gerbang, langsung di salami banyak orang," gumamnya.
__ADS_1
Acara demi acara telah dilalui, tiba saatnya Husain mengisi acara tausiyah. Saat itu, pandangan awal Qianzy membosankan ketika mendengar Husain tausiyah. Akan tetapi, semakin lama Qianzy menatap Husain dan mendengarkan suaranya, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"Gue nggak tau apa yang dia katakan. Tapi kenapa gue tertarik dengannya, ya? Hum, ini mungkin naluri gue untuk ngerjain dia dikemudian hari," gumam Qianzy mangguk-mangguk seperti orang tua.
"Pengantinnya juga bule, kah? Mirip banget sama bule yan tadi. Jangan-jangan mereka kakak adek pula," Qianzy mulai bosan hingga akhirnya ia tertidur.
Sampai di mana Abid harus membangunkan sang adik karena acara telah selesai. Qianzy ini polos-polos lucu, tapi juga sedikit nakal dengan kata-kata kasarnya bagi orang desa. Meski begitu, Qianzy tetaplah anak yang penurut dengan orang tuanya, ia tahu apa itu balas budi, jadi perbuatan buruknya hanya pelarian semata saja.
Sesampainya di rumah, Qianzy melanjutkan tidurnya. Ia tak peduli dengan image sebagai gadis kota yang cantik di depan pria manapun, yang terpenting dirinya nyaman dan tidak merugikan siapa-siapa, itu sudah cukup baginya.
"Qi, mau kemana?" tanya Abid.
"Lanjut tidur, aku masih ngantuk, Mas. Jangan ganggu aku, oke? Thanks," Qianzy bahkan sempat-sempat melambaikan tangan kepada Abid.
"Qianzy, ada-ada saja," gumam Abid menggeleng kepalanya.
Jika Abid heran dengan tingkah laku adiknya, bertolak belakang dengan Husain yang semakin penasaran dengan gadis berusia 19 tahun itu.
"Mas, kenapa Qianzy bisa di adopsi?" tanya Husain.
"Oh, aku belum pernah cerita detail, ya? Sini aku ceritakan__"
Rasa hormat Husain semaki besar kepada Abid karena ketabahan dan usahanya yang ingin menemukan sang adik dan membawanya kembali bersama. Husain memang terlahir dari keluarga berada, namun ia adalah anak tunggal, jadi dirinya belum bisa merasakan bagaimana menyayangi seorang saudara kandung.
Malam telat tiba. Saat di pesantren sudah ada Husain, Abid tenang menyerahkan semua tanggung jawab pesantren kepadanya. Husain bukanlah satu-satunya orang yang Abid percayai, namun Husain lah satu-satunya orang yang mampu mengerjakan tugas apapun dengan sangat baik.
Usai makan malam, Abid mengajak Qianzy jalan-jalan keluar pesantren sampai ke alun-alun Kota. Mereka sengaja jalan-jalan berdua untuk mendekatkan hati satu sama lain.
"Wah, indah sekali Kota ini di waktu malam, Mas. Nanti, bawa aku jalan-jalan keluar lagi, ya ...," celetuk Qianzy menikmati pemandangan di alun-alun.
__ADS_1
"InsyaAllah, jika nanti Mas ada waktu lagi, Mas akan ajak kamu ke sini. Kita ajak Ustadz Husain sekalian," sahut Abid.
"Dih, ngapain ajak dia? Dia mah kuno, nggak asik lah!" tepis Qianzy.
"Eits, siapa bilang dia nggak gaul? Dia ini adalah ustadz milenial, loh. Dia bisa nyambung saat berinteraksi dengan siapapun dan usia berapapun," terang Abid.
Akan tetapi, gadis berusia 19 tahun ini tetap tidak percaya jika Husain bisa se-asik itu. Qianzy malah melemparkan pertanyaan yang membuatnya terharu mendengarnya dari Abid.
"Mas Abid kan sudah berusia 30 tahun, kenapa sampai saat ini masih belum menikah?" tanya Qianzy.
"Apakah usia itu patokan untuk pernikahan?" tanya Abid kembali.
"Bukan gitu, maksudnya banyak sekali usia segitu sudah menikah, apalagi seorang pemuka agama seperti, Mas Abid ini,"
Abid terdiam, ia menghentikan langkahnya dan duduk di bawah lampu yang sedikit redup. Kemudian menjawab pertanyaan dari sang adik.
"Mas sudah berjanji dengan diri Mas sendiri. Mas belum akan menikah jika belum menemukanmu dan kembali kepada keluarga kandungmu sendiri. Masih ada hal yang ingin Mas lakukan bersamamu, masih ada hal yang ingin Mas tunjukkan padamu. Kalau bisa, kamu dulu yang menikah, biar Mas lega melihatmu bahagia," ungkap Abid.
"Um ... pengen peluk, boleh?" tanya Qianzy merentangkan tangannya.
__ADS_1
Abid tersenyum, kemudian memeluk adiknya. Bagaimana Qianzy akan tega meninggalkan kakaknya sendirian. Ia juga ingin menyaksikan kakaknya bahagia bersama wanita yang dicintainya. Qianzy juga berjanji pada diri sendiri, akan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.