Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Ada Apa dengan Qianzy?


__ADS_3

"Guru kamu di sini bukan hanya Mas saja Qianzy. Kamu akan mulai belajar dengan Ustadzah Rani  Ustadzah Fitri dan Ustadz Husain," ujar Abid. 


"Ustadzah, mohon bimbingan kalian untuk adik saya, ya …," imbuhnya. 


"InsyaAllah, Kyai. Kamu akan melaksanakan amanah dengan baik,"


"Tidak bisa!" tolak Anjani. "Saya menolak keras jika Ustadz Husain mengajari Qianzy. Mereka bukan mahram dan tidak boleh berduaan!" seru Anjani kesal. 


"Ada hikmah," jawab Qianzy dengan santai. 


Anjani masih menahan amarah mengingat semua penghuni pesantren sedang ada di sana. Namun, tetap saja ia menolak jika Husain menjadi guru utama bagi Qianzy. 


"Aku tau, Kyai. Kamu mau menjodohkan Qianzy dengan calon suamiku, 'kan? Lihat saja nanti, aku akan membuatmu jauh lebih malu dari semalam! Dasar bodoh!" umpat Anjani dalam hati.


Tak ada yang perlu Anjani ributkan lagi. Abid tak mau sampai semuanya tahu sifat asli Anjani yang sedikit buruk. Meski begitu, Anjani masih Abid anggap seperti adik sendiri karena kebaikan orang tuanya waktu lalu. 


"Qian, kamu mulai belajar dulu bersama dengan Ustadz Husain di mushola samping masjid itu, ya. Sore dan malam kamu bisa belajar bersama dengan Ustadzah Rani atau Ustadzah Fitri," ucap Abid. 


"Iya, Mas." 


Qianzy tak banyak bicara saat itu. Pikirannya di penuhi dengan kakaknya yang selalu dipermalukan oleh Anjani. Dia bukan santri, tapi hanya tinggal di pesantren demi Husain. 


Melihat Qianzy begitu terlihat frustasi, membuat Husain bertanya-tanya. "Apa yang membuatnya begitu frustasi? Hari ini, dia terlihat tidak semangat. Padahal, dia baru saja memulai kisah barunya. Ada apa dengannya?"


****


Siang hari, Qianzy tak kunjung datang ke mushola untuk belajar. Husain menjadi kepikiran dan inisiatif mengirim pesan kepada Qianzy. Ia mendapatkan nomor Qianzy dadi Abid sendiri. [Apakah, kamu baik-baik saja?] -, pesan dari Husain. 


Namun, tak ada balasan dari Qianzy, karena Qianzy sudah kembali ke rumah dan malah tertidur dengan membawa kekesalannya. 


Hari demi hari berlalu. Sejak menjadi mualaf, Qianzy masih menyendiri di rumah dan jarang sekali keluar rumah. Ia juga tak lagi bertemu dengan Hikmah, serta tiga teman prianya.


"Qian, ada Hikmah tuh. Kamu mau temui dia nggak?" tanya Abid sembari mengetuk pintu kamar Qianzy. 


"Suruh dia ke kamarku saja, Mas. Aku sedang maskeran soalnya!" teriak Qianzy. 


"Mas berangkat ke desa sebelah dulu, ya. Jangan lupa belajar hari ini, Ustadz Husain  sudah menunggu di mushola,"


"Iya, Masku yang ganteng!" 


Hikmah pun masuk ke kamar Qianzy. Betapa terkejutnya Hikmah kala melihat poster besar idola memenuhi dinding kamar Qianzy. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Mbak. Ini gambar siapa?" tanya Hikmah. 

__ADS_1


"Heh, kebanyakan orang, datang tuh pakai salam. Kenapa kamu langsung istighfar?" sahut Qianzy. 


"Oh, astaghfirullah. Assalamu'alaikum, Mbak Qianzy. Apa kabar, dah beberapa hari nggak ketemu. Rindu loh aku," ucap Hikmah menepuk-nepuk pundak Qianzy. 


"Wa'alaikumsallam. Hilih rindu apaan dah! Geli tau!" jawab Qianzy. "Ada apa kamu ke sini?" tanyanya. 


Sebelum mengatakan tujuannya, Hikmah bertanya lebih dulu masalah idola Qianzy itu. Qianzy hanya mengatakan bahwa ia hanya menyukai karya dari sang idolanya, bukan yang lain. 


"Oh, satu lagi. Aku hanya penikmat wajah tampan mereka saja. Kenapa? Salahkah?" tanya Qianzy sinis. 


"Yo ndak salah, hanya saja, perlu Mbak Qian ketahui, mengidolakan seseorang yang berlebihan itu tidak boleh. Apalagi sampai mengagung-agungkan," terang Hikmah. 


"Kenapa gitu?" tanya Qianzy. 


Hukum mengidolakan orang non muslim adalah haram, apabila mengagumi dan mengidolakan orang tersebut hingga menjadi seorang fans fanatik yang membenarkan semua yang ada pada diri sang idola, mengikuti dan memakai semua yang dilakukan sang idola dan juga ikut membenarkan atau mengakui agama yang telah dianutnya 


"Tapi, aku masih tahap wajar mengidolakan dia. Sebatas suka lagu-lagu sama tampangnya aja, hehehe …." celoteh Qianzy mengusap-usap wajah idolanya. 


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ


"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan mencantumkan ***********."(QS. An Nuur: 31).


Zina mata, yaitu melihat yang tidak dapat dilihat lebih dari pandangan pertama dalam rangka bernikmat-nikmat dan dengan syahwat.


Setelah mendengar penjelasan dari Hikmah, Qianzy terus memandangi poster-poster dan potret idol miliknya. 


Apa yang dikatakan temannya ada benarnya juga. Qianzy saat itu sudah dalam tahap berhijrah, ia tidak akan hijrah hanya setengah-setengah saja demi masa depan dan demi kakaknya. Jadi, ia mulai mengemasi barang yang bersangkutan dengan idolnya. 


______------------


Seperti biasa, malam sebelum jam 9, Qianzy bersiap hendak ke kamar mandi. Setelah ke kamar mandi, ia berniat untuk jalan-kalan sebentar mencari angin malam supaya bisa lebih tenang untuk menghadapi Husain esok hari. 


Sebab, siang tadi, Qianzy tidak jadi belajar lagi bersama Husain maupun para Ustadzah karena ia belum ingin. 


Saat Qianzy melewati kamar mandi putra, ia melihat ada hal aneh yang ada di samping kamar mandi putra itu. 


"Ada yang mengibrol, tapi pintu kamar mandi ya terbuka?" gumam Qianzy. 


Awalnya semua masih baik-baik saja Qianzy dan mendengar beberapa suara santri putra mengobrol sambil buang air. Sampai di saat penghujung tiba, ketika Qianzy hendak membuka pintu yang sedikit terbuka itu, ia mendapati bahwa toiletnya kosong.


"Heh, kok kosong?"


"Bukannya tadi ada santri putra, ya?"

__ADS_1


Qianzy kembali memastikan jika toilet itu baru digunakan oleh santri untuk mengobrol. Akan tetapi, saat Qianzy pastikan lagi, toilet itu jelas-jelas masih kering. Membuat bulu kuduknya seketika berdiri. 


"Jelas-jelas aku mendengar suara meraka sedang ngobrol. Tapi, kenapa sekarang kosong?" gumam Qianzy membalikkan badannya dan berjalan perlahan. 


"Apakah ada hantu yang suka prank?"


"Tapi, kalau itu hantu beneran, ngapain aku masih bertahan di sini? Seharusnya kan aku lari, kembali ke rumah dan menceritakan ini kepada Mas Abi!"


Ketika Qianzy sibuk berperang dengan hatinya sendiri, keluarlah Husain dari pojok toilet yang khusus untuk Ustad di sana. Melihat Qianzy ada di depan toilet santri putra, ia pun bergumam.


"Ngapain dia di sini?"


"Ini kan~"


Husain membasahi tangannya, kemudian memercikan air kepada Qianzy dan menanyakan apa yang Qianzy lakukan di sana. 


"Sst, ngapain!" bisik Husain. 


"Hah? Nggak denger," sahut Qianzy berpikir jika suara itu adalah suara Husain. 


"Qian!" 


"Buset, dia tau namaku. Anjiir, kek mana ini? Eh astaghfirullah mulutku!" Qianzy malah ketakutan sendiri. 


"Tolong ya, aku udah nggak melakukan sembahyang itu lagi. Aku mualag sekarang, pergilah! Dagingku tidak enak~" Qianzy bergimam sendiri tanpa memperdulikan Husain yang sedari tadi memanggilnya. 


Husain berusaha memanggil Qianzy lagi. Kali itu, ia sampai membalikkan badan Qianzy untuk memastikan bahwa dirinya itu nyata, bukankah hantu. 


"Hey, Ustadz! Iya, 'kan? Kamu Ustadz Husai, 'kan?" Qianzy memandangi Husain dari atas sampai bawah. 


Ia memastikan kaki Husain masih menginjak tanah. "Ngomong, dong!" Qianzy terus saja mengoceh tiada henti. 


Sedangkan Husain hanya diam dan acuh kepadanya. Hatinya penuh dengan pertanyaan melihat Qianzy ada di depan toilet santri putra yang anetinya, saat itu Qianzy ada di bagian pondok santri putra. 


"Ustadz, ih, kok diem, sih? Ngomong kek, Ustadz! Ustad Husain!"


Tanpa mempedulikan Qianzy, Husain jalan saja meninggalkan Qianzy di depan toilet santri putra. Merasa ngeri sendiri, Qianzy menyusul Husain dan terus berusaha mengajak Husain bicara. 


"Ustadz, ngomong dong. Jangan jalan terus begini, lagi sariawan, kah?" tanya Qianzy dengan suara keras. 


"Saya mohon kamu untuk diam, bisa?" bentak Husain membalikkan badan. Ia kesal saja, mengapa Qianzy sampai ke pondok santri putra. 


Tatapan mata Qianzy menjadi berubah. Hatinya sangat sakit ketika Husain menghardiknya. Matanya sampai berkaca-kaca. Membuat Qianzy sampai bingung dengan perasaannya yang dirasakan saat itu. 

__ADS_1


__ADS_2