Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Njarem


__ADS_3

"Bagaimana, Bu Bidan? Apa lukanya sangat parah?" tanya Husain. 


"Woy lah! Lu do'ain gue sakitnya parah?" sulut Qianzy tidak terima.


"Mbak Qian, jangan bicara seperti itu. Beliau ini guru loh, harus ada sopan santun kalau bicara dengan beliau," sahut Ustadzah Rani dengan lembut. 


"Terus masalahnya apa? Aku kan bukan murid dia!" ketus Qianzy. "Apa lu lihat-lihat!" sentak Qianzy kepada Husain. 


"Kok, lu dan gue nya timbul lagi. Jangan, ya. Bagaimana kalau aku dan kamu, saya dan Anda? Lebih enak di dengar, bukan?" tutur Ustadzah Rani. 


Qianzy melotot kepada Husain, seperti dirinya sedang memiliki dendam kesumat pada Ustadz berusia 26 tahun itu. Sementara Husain sendiri malah memalingkan pandangannya dan sesekali melirik ke arah Qianzy. 


"Luka bakar ini tidak terlalu parah. Alhamdulillah, maafkan aku, Mbak Qian. Aku benar-benar merasa bersalah," 


Ustadzah Rani terus saja meminta maaf karena merasa bersalah. Ia merasa ceroboh sampai menuangkan air panas ke tangan dan kaki Qianzy dengan Abid yang sedang jauh darinya. 


"Haih, mau sampai kapan Ustadzah minta maaf? Aku muak mendengarnya, sudahlah! Ini bukan kesalahanmu, tenang dan nikmati hidupmu dengan damai," terang Qianzy santai. 


"Tapi luka ini--" Ustadzah Rani kembali menunduk. 


"Ini semua gara-gara dia!" tunjuk Qianzy kepada Husain. "Dia penyebab dari luka ini!" sulutnya. 


"Iya, jika semua ini salah saya, saya minta maaf sebesar-besarnya. Mohon maafkan saya, Mbak Qianzy," ucap Husain mengalah.


Ustadzah Rani heran dengan Husain yang gampang mengalah dengan Qianzy. Selama yang ia tahu, Husain sangat susah dikalahkan jika dirinya tidak salah. Akan tetapi, Ustadzah Rani tahu pasti jika Husain tidaklah salah dan malah mengakui jika dirinya bersalah. 


"Apa Ustadz Husain salah makan tadi? Kenapa beliau … ah sudahlah, ini juga adik Kyai, jika banyak kesalahan yang dilakukan Mbak Qianzy akan membuat beliau semakin sedih nantinya," gumam Ustadzah Rani dalam hati. 


Tatapan Qianzy kepada Husain masih saja seperti musuh bertemu musuh. Kesal karena dirinya dinaikkan di gerobak motor, tentunya juga kesal karena mengingat Husain mengatakan suka kepadanya. 

__ADS_1


"Lihat saja, aku akan membuat Ustadz Mukidi ini menjadi bubur, terus aku penyet-penyet dan aku akan kasih makan untuk kecoa. Ngeselin banget, kalau aku baper gimana? Aku akan aduin nanti ke Mas Abid!" sulut Qianzy dalam hati. 


Sesampainya di pesantren, dibantu oleh Ustadzah Rani turun dari gerobak. Masih dengan tatapan sinis, Qianzy melarang Husain untuk dekat-dekat dengannya. Qianzy seolah berubah menjadi ratu es kepada Husain si raja es. 


"Eh, mau apa ikutan turun?" tunjuk Qianzy tepat di wajah Husain. 


"Mbak Qian …," Ustadzah Rani mencoba meredam emosi Qianzy. 


"Parkir sana, dan segera pergi. Menjauhlah dariku, sejauh mungkin. Gue, oh bukan gue, tapi aku sangat membencimu, Ustadz Mukidi!" amarah Qianzy rupanya tidak main-main. "Go!" teriaknya. 


"Cepat sembuh dan tolong maafkan saya, Qianzy. Ustadzah, tolong jaga dia selagi Kyai belum pulang. Assallamu'alaikum," pamit Husain mengalah pergi. 


Ada rasa bersalah di hati Qianzy mengusir Husain dengan kasar. Tapi, ia tidak ingin fokusnya dekat dengan kakaknya dan belajar ilmu agama terkecoh dengan masalah pribadi, yaitu masalah cinta. 


"Maaf, Ustadz Mukidi. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, ini juga baru untukku, jangan biarkan aku terus bawa perasaan setiap kali melihatmu. Menjauh, adalah cara paling ampuh untukku fokus berbakti kepada kakakku," batin Qianzy. 


Mereka juga baru kenal selama tiga hari, Qianzy memang sedikit dingin jika mengenai seorang lelaki, karena dirinya enggan untu terluka lagi hatinya. Sekali memiliki seorang kekasih, Qianzy hanya akan memberikan harapan palsu saja. Tapi tidak dengan Husain. Meski dirinya masih selalu kesal dengan Husain, Qianzy tetap enggan untuk memberi harapan palsu kepadanya. 


"Tidak terlalu, Mas. InsyaAllah ada Ustadzah Rani dan salah satu santri yang siap menemani juga merawat Qianzy dengan baik," jelas Husain. 


"Alhamdulillah jika sudah ada yang memperhatikannya. Tolong sekali ya Ustadz Husain, jaga hartaku paling berharga itu. Jangan lagi ada kulit lain yang tergores, ya? Saya tutup dulu, Assallamu'alaikum warahmatullahi wabbarokatuh," Abid memutus telponnya karena akan sibuk dengan urusannya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh," balas salam Husain. 


Husain lega Abid tidak marah padanya karena gagal menjaga amanahnya. Setelah itu, Husain kembali ke aula santri putra untuk melanjutkan kegiatannya. 


***


Di malam hari, Qianzy mulai merasakan sakitnya luka di tangan dan kakinya. Ia terus meminta Hikmah untuk mengipasi kakinya menggunakan kipas sate. Sebab, jika menggunakan kipas angin akan perih. 

__ADS_1


Qianzy mulai merengek dan terus memanggil mendiang Maminya. "Mami, sakit banget. Ini seperti terbakar kembali, aku ingin pulang ke Jakarta …,"


"Aku mau Mbak Lia juga, huaa …." tangisan Qianzy membuat beberapa santri putri menjadi sedih. Terlihat sekali Qianzy ini dulunya adalah anak yang sangat manja dengan kedua orang tua angkatnya. 


"Aku ingin Mas Abid," rengek Qianzy kembali. 


"Mbak Qian juga belum makan loh, jangan nangis lagi, ya? Nanti malah semakin sakit kalau apa-apa nggak mau dan terus menangis," ucap Hikmah. 


"Aku mau Mas Abid sekarang!" sentak Qianzy. 


Ustadzah Rani dan juga Ustadzah lain juga sudah berusaha menghibur Qianzy. Akan tetapi, tetap saja Qianzy sulit sekali untuk di tenangkan. 


"Bagaimana ini, Ustadzah?" tanya Hikmah. 


"Tidak ada cara lain, kita harus panggil Ustadz Husain. Jika tidak, nanti Mbak Qian malah ndak mau makan, tambah sakit, Kyai bakal sedih dong," ujar Ustadzah Rani cemas. 


Segera Hikmah berlari menuju aula santri putra dan meminta santri putra untuk memanggilkan Ustadz Husain agar bersedia datang ke rumah Abid. 


Ustadzah Rani juga mengatakan, hanya Husain yang memiliki nomor telpon Abid dan yang pasti diangkat telponnya. Maka dari itu, Ustadzah Rani meminta Hikmah untuk memanggil Husain yang saat itu masih mengajar mengaji. 


Tapi, kala Hikmah terburu-buru menuju aula putra, tak sengaja ia menabrak Anjani. "Aduh, maaf Mbak Anjani, saya terburu-buru," ucap Hikmah merasa bersalah. 


"Astaghfirullah hal'adzim, kamu ini kenapa, Hikmah? Tak bisakah kamu lebih hati-hati? Kamu ini mau ke mana?" kesal Anjani. 


"Maaf, Mbak Anjani, saya mau ke aula putra untuk memanggil Ustadz Husain, karena Mbak Qianzy," jawab Hikmah masih dengan napas terengah-engah. 


"Tunggu! Maksud kamu apa?" tanya Anjani penasaran. 


"Maaf, saya harus terburu-buru. Jika tidak, akan berakibat fatal. Assalamu'alaikum dan maaf sekali lagi," Hikmah kari begitu saja. 

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," 


Anjani merasa kesal karena Hikmah hendak memanggil Husain hanya demi Qianzy. Anjani sangat tidak menyukai Qianzy karena dinilai telah dekat dengan Husain, padahal belum lama mengenalnya. Anjani hanya bisa menggertak gigi.


__ADS_2