Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Kekesalan Qianzy Yang Berujung Kecemburuan


__ADS_3

Qianzy tiba-tiba terlihat murung. Dia merasa tidak terima jika ustadzah Rani menyukai Husain sampai seperti itu. Saat itu, tidak sengaja saja melihat ustadzah Rani yang sudah membawa semua barangnya ke luar.


"Ustadzah Rani? Mau kemana dia?"


Gadis berwatak random itu segera melangkah mendekati ustadzah Rani yang sedang sibuk sendiri. Masih dengan kegalauannya yang mendengar bahwa wanita yang ia jodohkan dengan kakaknya itu, rupanya menyukai pria yang selalu ada kaitannya dengannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Qianzy. "Ustadzah mau ke mana?" tanyanya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Qianzy? Um, saya mau pulang. Sebentar lagi saya akan menikah, jadi ... saya akan menjalani pingitan dulu," jawab ustadzah Rani.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Ustadzah Rani, Qianzy. Kalian kenapa ada di sini?" sapa ustadzah Fitri yang kebetulan melintas juga.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"


"Qianzy, ustadzah Fitri. Saya mau pulang ke rumah karena sebentar lagi saya akan menjalani pingitan," jelas ustadzah Rani.


"Lah, bukannya pingitan kamu akan dilaksanakan di pesantren, ya? Kenapa tiba-tiba jadi pulang ke rumah? Pernikahan kamu juga diundur beberapa hari juga. Kenapa, sih? Sebenarnya ada hal apa yang selalu buat ... Astaghfirullah hal'adzim, maafkan saya ustadzah Rani. Seharusnya saya tidak mempertanyakan hal seperti ini karena masalah pribadi ustadzah," ujar ustadzah Fitri.


Tatapan mata Qianzy tidak seperti biasanya. Dia terus menatap ustadzah Rani dengan tatapan yang mendalam. Ucapan dari beberapa santri membuatnya terus kepikiran.


"Assallamu'alaikum, ustadzah Fitri. Mohon maaf sebelumnya, saya membutuhkan bantuan ustadzah untuk menata ulang kamar dua itu. Segera ustadzah, karena ustadzah yang lain juga sudah mau sampai ke kamar tersebut,"


Tiba-tiba ada seorang santriwati yang menghampiri mereka dan mengajak ustadzah Fitri untuk ikut bersamanya. Karena memang situasi sedang repot, ustadzah Fitri pun pamitan. Ustadzah Rani tersenyum membalas salam dari ustadzah Fitri. Tapi tidak dengan Qianzy yang terus saja menatap ustadzah Rani dengan tatapan penuh dengan dendam.


"Eh, Qianzy. Kamu masih di sini?" tanya ustadzah Rani.


"Aku mau bicara berdua dengan ustadzah. Tapi tidak di sini. Apa bisa?" suara Qianzy masih saja datar.


"Um, bukankah kita bisa bicara di sini? Jika ma--" kata-kata ustadzah Rani terhenti karena Qianzy menyela. "Tidak bisa!" sela Qianzy. "Aku ingin bicara di tempat yang sepi, karena ini sangat penting sekali," lanjut Qianzy dengan tatapan yang misterius.

__ADS_1


Mendengar itu, membuat ustadzah Rani menjadi heran dengan Qianzy yang bersikap tidak seperti biasanya. Jika Qianzy marah sekalipun, sepengetahuan ustadzah Rani, Qianzy tidak akan bertingkah laku seperti itu. "Baiklah, kalau seperti itu. Ayo, kamu mau mengajak saya bicara di mana?" ustadzah Rani menyetujuinya.


Barang-barang milik ustadzah Rani, sementara ia letakkan di samping pohon yang tidak jauh dari mobil terparkir yang mau mengangkut barangnya ke rumahnya. Lalu, ustadzah Rani pun mengikuti langkah Qianzy. "Sebenarnya, Qianzy ini mau membawaku kemana, ya? Dia juga mau membicarakan tentang apa denganku?" batin ustadzah Rani.


Langkah Qianzy terhenti di belakang pesantren. Di mana memang tempat itu jarang sekali ada yang menjamah karena memang tidak ada apapun di sana. Hanya saja, setiap minggu pasti akan ada yang memberikannya.


"Nah, kita kenapa juga ke sini, Qian? Jika kamu ingin mengatakan hal penting, bukankah kita bisa ke rumah Kyai Abid atau kamarnya Hikmah, mungkin?" usul ustadzah Rani.


Meski langkah kaki Qianzy terhenti, Tapi tetap saja tubuh gadis berusia 19 tahun itu tidak memutar balik ke arah ustadzah Rani.


"Qian, sebenarnya hal penting apa yang ingin kamu bicarakan kepada saya, sampai membawa saya ke belakang pesantren ini?" lanjut ustadzah Rani bertanya kepada Qianzy yang belum juga menatapnya.


Terlihat jelas jika Qianzy maksudnya pas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan-pelan. Setelah itu, barulah Qianzy membalikkan tubuhnya dan menghadap ustadzah Rani.


"Sejak kapan ustadzah Rani menyukai ustadzah Husain?" tanya Qianzy tiba-tiba.


Deg!


"Ma-maksud kamu apa, Qianzy? Maaf, saya tidak mengerti," tanya ustadzah Rani.


"Ustadzah ... aku tahu, kok, kalau ustadzah itu suka dengan ustadz Husain. Jika benar—" ucapan Qianzy terhenti, kemudian menghela napas. "Jika semua itu benar, kenapa ustadzah Rani seolah-olah menyukai kakakku?" sambungnya.


"Apakah ustadzah ingin melihat betapa bodohnya aku yang malah menjodohkan kakakku dengan ustadzah? Sedangkan kakakku terus saja menolak dan aku memaksanya?"


"Jika ustadzah menyukai ustadz Husain, kenapa juga ustadzah menunjukkan seolah ustadzah ini menyukai kakakku?" nada bicara Qianzy sudah mulai meninggi.


"Jika memang begitu adanya, silahkan ustadzah Rani pulang menjalani pijitan, pilihan, pi—"


"Pingitan, Qian," sela ustadzah Rani membenarkan.

__ADS_1


"Iya, itu!" teriak Qianzy.


"Lebih baik memang ustadzah Rani pergi! Pergi dan jangan pernah kembali lagi! Kalau bisa, sekalian bawa ustadz Husain bersama dengan ustadzah. Aku juga muak melihatnya!"


"Assalamu'alaikum!"


Qianzy pergi begitu saja. Tanpa mendengarkan penjelasan dari ustadzah Rani, Qianzy pergi dengan amarahnya yang tidak tahu, amarah itu karena apa dan di tujukan oleh siapa.


"Aku memang mengagumi ustadz Husain, Qianzy. Tapi sayangnya ... meskipun beratnya rasa sukaku kepada ustadz Husain, jika hari ustadz Husain memilihmu, aku bisa apa?" batin ustadzah Rani.


Langkah Qianzy semakin cepat. Hatinya dipenuhi dengan amarah. Sampai ketika ia melewati Hikmah, tidak menyapa ataupun memberikan salam. Qianzy melewati Hikmah begitu saja. Padahal saat itu, Hikmah sedang bersama dengan Monica.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, mba—"


"Mbak Qi—loh, kok, bablas? Mbak Qian!" Hikmah yang bingung menjadi tambah bingung.


Ketika Hikmah mau mengejar, tangannya ditahan oleh Monica. "Dia sedang marah sepertinya. Biarkan saja dulu. Siapa tahu Qianzy sedang membutuhkan waktu sendiri," ucapnya.


"Kalau begitu, jauh lebih baik kalau aku pulang dulu saja. Jangan lupa kamu katakan kepadanya untuk masuk kuliah besok, ya ...."


Monica yang pernah berteman selama 3 tahun dengan Qianzy paham betul bagaimana cara mengatasi Qianzy ketika marah. Qianzy hanya membutuhkan waktu sendiri.


Sampai di mushola kecil, Qianzy duduk dengan melipat tangannya. Wajahnya di tekuk dan mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengapa dirinya kesal.


"Lah, kenapa aku kesal ini?"


"Oh, benar saja aku kesal. Aku gagal menjodohkan kakakku dengan ustadzah Rani. Di mana aku mengira kalau ustadzahrani ini memang cocok untuk Mas Abid," gumamnya.


"Tapi kenapa harus ustad Husein, sih, yang disukainya? Kenapa bukan ustadz yang lain. Bukan tadi Pesantren Ini juga masih banyak ustadz-ustadz yang masih lajang? Kenapa dari sekian banyak ustadz di pesantren ini harus ustadz Husain, sih!"

__ADS_1


"Ini kenapa juga aku kesel ketika ada wanita lain yang menyukai ustadz Husain? Sakit banget hati ini merasakannya__"


Qianzy terus mengomel sendiri karena hal itu. Dia terus menyentuh bagian tubuh depannya untuk merasakan sakitnya hatinya kala mendengar seorang pria yang mendekatinya, di sukai oleh pembimbingnya sendiri.


__ADS_2