Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Kesal


__ADS_3

Qianzy terus mengelus dadanya. Masih belum mengetahui sebab dirinya berdebar dan meneteskan air matanya. Kakinya terus mendekat sampai jarak diantaranya dengan Husain tidak jauh.


"Suaranya bagus juga, lembut gitu. Tapi sayang, dia nyebelin kuadrat. Dadar mukidi!" keluh Qianzy. 


"Apa kamu sudah puas di sana? Atau mau lanjut mendengarkan saya mengaji?" tegur Husain mengetahui keberadaan Qianzy. 


"Buset, dia tau aku di sini? Jangan-jangan dia anak indihouse lagi. Ehh, indihouse, indigo!" Qianzy masih berperang dengan hatinya. 


"Qianzy! Masih belum mau keluar?" 


Dengan tawa terpaksa, Qianzy keluar dari tempat persembunyiannya. Menunjukkan diri dengan senyum konyolnya seraya menyapa Husain dengan lembut. "Assallamu'alaikum, Ustadz Mukidi. Haih, di sini adem juga, ya. Enak suasananya," 


"Wa'alaikum, kamu ngapain jam segini di luar?" tanya Husain. 


"Em, anu … habis bakar-bakaran tadi. Lapar, sih. Jadi ya gitu, sambil ini … lihatin cat di tembok mushola kecil ini sudah mulai mengelupas," jawab Qianzy banyak alasan. 


"Pulang sekarang juga!" pinta Husain dengan tegas, masih dengan memalingkan pandangannya. 


"Dih, ngatur. Mas Abid aja b aja, kenapa ustadz ngatur aku?" ketus Qianzy. 


"Mas kamu sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu. Kasihan deh yang di tinggal kakaknya," ejek Husain. 


Qianzy terkejut, ia tidak percaya jika kakaknya akan pergi ke luar kota tanpa pamitan dengannya maupun mengajaknya pergi bersama. "Kamu pasti bohong, 'kan?" sulut Qianzy menunjuk wajah Husain yang kala itu masih duduk di tepi mushola. 


"Hum, sebaiknya kamu berpikir lagi sebelum mengatakan saya berbohong," celetuk Husain.


Setelah itu, Husain beranjak dan sebelum meninggalkan Qianzy, ia berbisik, "Qianzy, tanggung jawab kamu ada di tangan saya dan ustadzah Rani. Siap-siap saja mendapat pengajaran dariku nanti, permisi."


Dengan senyuman, Husain meninggalkan Qianzy yang masih terdiam di mushola, antara kesal dan sedih karena Abid pergi tanpa pamit kepadanya. 


"Ustadz Mukidi ini, membuatku sangat jengkel! Lihat saja bagaimana aku akan membuatmu menderita karena jerat cintaku!" pekik Qianzy. 


"Selama ini, aku tidak pernah berusaha membuat laki-laki jatuh hati padaku. Tapi lihat saja, setelah ustadz Mukidi yang menyebalkan itu jatuh dalam genggamanku … Aku akan membuatnya sakit hati yang tidak akan pernah terlupakan!"


"Hih, kesel banget aku!" gerutu Qianzy jalan seperti anak kecil dengan menghentakkan kakinya. 


Mengingat waktu masih gelap, Qianzy menyambung tidurnya. Berharap ketika terbangun, Abid sudah pulang karena terlupa berpamitan dengannya. 


Mentari pagi menerobos masuk dari celah ventilasi jendela kamarnya. Qianzy menatap jam di dinding, menunjukkan waktu pukul 7 pagi. 

__ADS_1


"Hm, jam segini biasanya Mas Abid udah sibuk bangunin aku untuk sembahyang. Jangan-jangan--"


"… Mas Abis beneran nggak pamitan sama aku?"


Klunting… 


Suara sendok atau logam ringan terjatuh. Qianzy mengira jika itu adalah kakaknya yang pulang kembali karena belum berpamitan dengannya. 


"Mas Abid?"


"Aku yakin, pasti itu Mas Abid. Dia mana bisa jauh dariku dalam waktu yang lama. Aku kan adik kesayangannya!"


Qianzy sudah semangat untuk keluar kamarnya. Ia sampai berteriak memanggil nama kakaknya. Namun, siapa yang menjatuhkan benda itu ke lantai. 


"Mas A--"


"Oh, Hai. Selamat pagi, Mbak Qianzy. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk kamu, Mbak. Mbak bisa mandi dulu, soalnya masih kurang lauk. Belum saya goreng," 


Sambutan itu ternyata dari Ustadzah Rani. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk Qianzy yang tak bisa melakukan aktivasi apapun sebelum ada yang masuk dalam perutnya di lagi hari. 


"Hm, Mas Abid … udah pergi beneran, ya?" tanya Qianzy dengan lesu. 


"Sudahlah, aku mau mandi dan sembahyang dulu. Ustadzah bisa buatin aku teh hangat, nggak? Pengen banget pagi ini aku minum teh hangat," pinta Qianzy dengan sopan. 


"Bisa, kok. Mbak Qianzy mandi dan sembahyang dulu aja nggak papa," ucap Ustadzah Rani masih sangat ramah. 


Masih dengan kelesuan wajah dan hati, membuat Qianzy tidak semangat dalam menjalani apapun selama seminggu sampai Abid benar-benar kembali. 


Ketika sarapan, meski ditemani oleh Ustadzah Rani, Qianzy nampak tidak semangat sama sekali. Telur ceplok setengah matang kesukaannya saja bahkan tidak di sentuh sama sekali. 


"Mbak Qianzy," panggil Ustadzah Rani. 


"Qianzy aja. Ngapain juga pakai sebutan Mbak. Mudaan aku juga!" sahut Qianzy. 


"Setelah ini, mau jalan-jalan nggak? Saya mau kok temani kamu jalan-jalan keliling pesantren," ajak Ustadzah Rani. 


"Serius?" tanya Qianzy berubah cerah wajahnya karena ajakan ustadzah Rani. "Heleh, aku malas ketemu sama Ustadz Mukidi!" lanjutnya. 


"Ustadz Mukidi? Siapa ustadz Mukidi ini? Sepertinya di pesantren ini tidak ada yang namanya ustadz Mukidi deh," ustadz Rani bertanya dengan nada yang meneduhkan. 

__ADS_1


"Ck, itu loh. Si ustadz yang ketus, kalau ngomong nylekit banget di hati. Pen aku hajar juga nantinya!" ungkap Qianzy, mengadu seperti anak kecil yang sedang bertengkar dengan temannya. 


"Sejak kapan namanya Mukidi? Beliau ustadz Husain namanya. Kamu asal ganti nama orang aja, dia ini masih keturunan orang terpandang, loh!" terang Ustadzah Rani. 


"Bodoamat, mau dia anak presiden sekalipun, aku nggak peduli. Nggak ada untungnya juga aku ngurusi dia. Mending aku urusin hidupku sendiri!" ketus Qianzy. 


Usai sarapan, Ustadzah Rani membawa Qianzy jalan-jalan ke pesantren. Banyak sekali santri yang sedang kerja bakti karena memang hari minggu selalu dikhususkan kerja bakti. 


"Wuih, rame juga, ya. Tau gini, aku bangun lebih awal. Bisa bermain dengan para santri ini," celetuk Qianzy. 


"Iya, setiap minggu memang kami seperti ini, Qianzy. Tapi ada juga kegiatan di hari lain. Bukan hanya hari minggu saja," jelas ustadzah Rani. 


"Tapi aku kan bukan orang muslim. Apakah boleh ikut serta?" tanya Qianzy lagi. 


"Tidak masalah. Ayo, kita kenalan dengan yang lainnya." 


Ustadzah Rani memang baik hati. Kenapa tidak? Dirinya sangat mengagumi Abid dan pasti akan sayang dengan Qianzy. Bukan masalah Qianzy adalah adik dari pria yang dikaguminya. Melainkan, Ustadzah Rani menang mulai menyukai Qianzy. 


"Hikmah! Tolong dong kesini sebentar," Ustadzah Rani memanggil seseorang. 


"Assalamu'alaikum, Ustadzah. Ada apa, nggeh?" tanya santri itu. 


"Qianzy, ini namanya Hikmah. Jika saya sedang sibuk dan tidak bisa menemani kamu jalan-jalan, kamu bisa memanggilnya," ustadzah Rani memperkenalkan Hikmah kepada Qianzy. 


"Dan Hikmah, ini Mbak Qianzy. Adik dari Kyai Abid yang baru datang itu," ustadzah Rani juga memperkenalkan Qianzy kepada Hikmah. 


"Serius? Ini Mbak Qianji, Kinji? Eh, sinten ustadzah?" Hikmah terlalu bersemangat sampai sulit mengucapkan nama Qianzy. 


"Qian. Kamu bisa memanggilku dengan nama itu. Senang bertemu denganmu," Qianzy mengulurkan tangannya. 


Ketika bersalaman, Qianzy terkejut di saat Hikmah hendak mencium tangannya. Langsung Qianzy tarik tangannya agar tidak lagi di ciumi habis eh Hikmah. 


"Set dah! Aku masih muda, gitu amat ciumnya. Cewek juga akuh!" protes Qianzy. 


"Semuanya, ini adiknya Kyai datang. Ayo salim semuanya!" teriak Hikmah. 


Qianzy langsung menyembunyikan tangannya agar tidak semua orang mencium tangannya dengan mudah. Itu belum terbiasa baginya. Tapi, ustadzah Rani mengedipkan matanya, kode agar Qianzy mau memberikan tangannya untuk di salami oleh santri lain. 


"Mampus! Baru juga tadi selesai luluran! Tau gini, aku tadi sarapan sambel terasi saja!" umpat Qianzy dalam hati. 

__ADS_1


__ADS_2