
Dari perut, naik ke hati. Begitulah yang Husain rasakan. Namun, tak mungkin ia tunjukkan ketertarikannya kepada Qianzy karena itu memang mustahil baginya.
"MasyaAllah, anak ini ternyata bisa berkreasi dalam membuat makanan juga. Enak sekali donat dan gorengan buatannya," puji Abid dengan bangga.
"Anda saja dia juga seorang muslimah. Pasti sudah saya nikahkan dengan kamu, Husain," lanjutnya.
Uhuk … uhuk….
Husain sampai batuk akibat tersedak kalau Abid mengatakan ingin menikahkan dirinya dengan Qianzy jika Qianzy seorang muslimah.
"Minum," kata Abid memberikan sebotol air mineral yang ia sediakan selalu di atas meja.
"Lain kali, kalau makan berdoa dulu! Jadi tersedak, 'kan? Atau malah, kamu ingin semuanya, jadi makannya cepet-cepet?" goda Abid.
"Ya Allah, saya kan … Sudahlah, yang penting minum dulu," Husain hanya bisa mengiyakan saja.
Pembahasan malam itu berakhir dengan baik. Husain kembali ke pondok dan segera membersihkan diri untuk istirahat. Ketika selesai cuci wajah, ia melihat syal Qianzy yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Seketika teringat dengan celotehan Qianzy yang selalu ketus padanya.
"Astaghfirullah, bahaya jika aku taruh di sini. Sebaiknya aku taruh saja di laci atau kotak kecil. Bisa jadi, setan menguasai pikiranku nanti, na'udzubillah," gumam Husain
Syal itu di masukkan ke dalam kotak kecil, kemudian di simpan dalam almarinya rapat-rapat. Husain lalu duduk di bangku kamarnya. Menatap lampu yang biasanya menerangi dirinya kala menulis di meja kamarnya.
Sembari mengusap dada, Husain berkata, "Ya Allah, ini kali pertama bagi hamba merasakan sesuatu dengan lawan jenis. Apakah ini suatu perasaan yang seperti itu?"
"Aku banyak bertemu santri perempuan setiap harinya ketika mengajar. Tapi bertemu dengan Qianzy--"
Mencintai seseorang yang belum menjadi muhrimnya tentu tak boleh berlebihan, misalnya dalam memandangnya, walaupun memiliki perasaan lebih dan tidak mendekat secara langsung, melihat yang bukan muhrim juga termasuk zina mata yang harus dihindari.
Lebih baik berjuang dengan sabar hingga mendapatkan hubungan yang halal. Saat sahabat sedang merasa jatuh cinta maka sahabat harus bisa menjaga diri dan menjaga kehormatan sebagai seorang muslimah. Seperti dalam sebuah hadits yang artinya,
"Janganlah engkau iringkan satu pandangan kepada wanita yang bukan mahram dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu halal bagimu, tetapi tidak yang kedua!". (HR Abu Daud).
"Tidak! Aku tidak boleh mencintai seseorang untuk waktu ini. Masih banyak yang harus aku selesaikan sampai waktunya nanti tiba," gumam Husain merebahkan tubuhnya, dan berdoa untuk tidur.
__ADS_1
Malam bagi Qianzy adalah malam yang sangat menyebalkan. Ia terus teringat dengan kedua orang tua angkatnya yang telah tiada ketika dirinya sendirian di kamar.
"Benci banget kalau jam segini belum bisa merem. Tuh anak bertiga kemana juga, kenapa sampai saat ini belum datang," gerutu Qianzy menunggu ketiga teman barunya.
Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya yang Qianzy tunggu telah tiba. Romli, Rudi dan juga Muslih keliling melewati luar jendela kamarnya.
"Eh buset, kalian bertiga kemana aja jam segini baru muter?" tanya Qianzy berbisik.
"Kita harus ngajar anak-anak ngaji dulu. Ini semua karena ustadz Husain. Beliau meminta kamu mengajari anak-anak itu ngaji, karena kamu," jelas Romli dengan berbisik juga.
"Haih, terus ini jadi nggak? Aku bawa bakso dan beberapa tempura. Kita jadi mau bakar-bakaran lagi atau enggak?" tanya Qianzy.
Romli, Rudi dan Muslih tidak langsung menjawab. Mereka merundingkan terlebih dahulu, agar tidak salah langkah dan berakhir dengan sebuah hukuman.
"Baiklah, kami mau. Tapi ada syaratnya," desis Muslih.
"Heh, sejak kapan kalian berani bernegosiasi denganku seperti ini?" kesal Qianzy.
"Haih, ini tidak sulit, Qiqi. Hanya saja … jika kita ketahuan, apa kamu bersedia membela kami?" sahut Romli.
"Kalian terlalu berisik. Kita lihat saja nanti, jika memang kakakku marah lagi, aku yang akan membereskannya!" seru Qianzy melompat dari jendela kamarnya.
Qianzy memang susah untuk duduk tetang dalam rumah. Sejak kecil, Qianzy memang sudah dibebaskan dalam pekerjaan rumah. Meski kedua orang tua angkatnya sibuk, tapi Qianzy termasuk anak yang selalu di manjakan.
Qianzy dan tiga sahabatnya berkeliling dulu menjalankan tugas dari pesantren berjaga malam. Setelah selesai, seperti biasa mereka membangun api unggun kecil dan mulai membakar bakso dan tempura yang Qianzy bawa.
"Bakso mah oke di bakar. Tapi tempura? Bukannya malah makin alot, ya?" tanya Muslih.
"Nikmati saja alurnya …," ujar Qianzy mulai menusuk satu persatu bakso yang ia bawa.
"Kamu tinggal di rumah Kyai terus. Kapan kamu membeli ini semua?" tanya Romli.
"Dih, jaman udah modern. Kita sudah dimanjakan dengan fasilitas internet dan teknologi, Bro." jelas Qianzy santai.
__ADS_1
Masih sibuk dengan bakar membakar, mereka mulai menghibahkan Husain yang terkenal tegas dan jarang sekali bicara seperti Ustadz lainnya, kecuali sedang mengajar.
"Haih, kenapa kalian ngomongin dia? Ngomongin orang itu nggak baik, nggak ada faedahnya. Mending kita makan," ucap Qianzy sibuk memutar-mutar bakso tusuknya agar tidak gosong.
Ketiga sahabatnya mengacungi jempol untuk ucapan emas Qianzy yang malas membicarakan orang lain. Selepas mereka asik makan, mereka tertidur tepat di dekat pondok kecil yang memang tempat mereka tidur sebelumnya.
Tiba-tiba telpon Qianzy berdering, mengangetkan teman-temannya sampai mereka terbangun.
"Sory, kalian lanjut aja tidurnya. Aku angkat dulu telpon ini," ucap Qianzy.
Telpon itu rupanya deri mantan kekasihnya yang bernama Christian. Sang mantan menanyakan dimana dirinya sekarang. Seorang mantan yang masih sangat mencintainya, membuat Qianzy enggan untuk memiliki hubungan lagi dengannya.
"Ada apa?" tanya Qianzy.
"Kamu dimana?" tanya Christian.
"Apa pedulimu?" ketus Qianzy.
"Aku ingin bertemu, biasalah kita--"
"Aku sibuk. Jangan ganggu aku! Apalagi, ini jam berapa? Apakah kau sudah tidak memiliki sopan santun lagi menelpon orang jak 3 pagi?" sulut Qianzy.
Qianzy mematikan telpon dari mantan kekasihnya itu. Segera ia bergegas kembali ke pondok kecil dan membangunkan teman-temannya untuk tidak tidur karena waktu sudah masuk di sepertiga malam.
"Bangun, woy! Kalian mau tahajud, 'kan? Aku pulang dulu, sebelum Mas Abid datang dan memergoki kita makan-makan bareng lagi!" seru Qianzy membangunkan ketiga temannya.
"Ta-tapi, ka-kamu …," ucapan Rudi terhenti.
"Sudahlah, bukan maksud aku memotong ucapanmu. Maaf nih, ya. Aku pamit dulu," Qianzy memakai hoodie-nya kembali seraya menutupi kepalanya menggunakan topi hoodie-nya.
Ketika dirinya berjalan melewati mushola kecil yang kemungkinan sudah jarang digunakan, Qianzy melihat Husain berada di sana dengan Al-Qur'an di tangan. Matanya terpejam dan mulutnya terus komat-kamit.
"Dia hafalan? Kenapa dia ada di sana sendirian?" batin Qianzy. "Wah, makin kepo aku! Biar kulihat lebih dekat lagi," gumamnya.
__ADS_1
Perlahan, langkah kaki Qianzy mendekati Husain di mushola kecil tersebut. Mendengar Husain melantunkan ayat suci Al-Qur'an membuat air mata Qianzy menetes seketika.
Apakah Qianzy akan ketahuan?