Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Dari Sebuah Syal Putih


__ADS_3

"Mas, nanti kalau Mas nikah duluan, aku yang mengatur semuanya, ya. Boleh?" tanya Qianzy berjalan sambil menggandeng


"Kamu yang akan nikah duluan," sahut Abid. 


"Ih, Mas duluan!"


"Kamu duluan,"


"Mas Abid,"


"Qianzy,"


Jalan-jalan malam berakhir makan dipinggir jalan. Mereka begitu menikmati kebersamaan meski hanya keliling Alun-alun. Kemudian, mereka pulang membawa banyak belanjaan baju muslim untuk Qianzy dan beberapa cendera mata untuk di pajang di kamar Qianzy. 


"Mas akan ke masjid, kamu langsung pulang saja," celetuk Abid membelai kepala Qianzy. 


"Hih, Mas kan baru sampai. Tidakkah kita harus istirahat sejenak? Kenapa Mas buru-buru ke masjid?" tanya Qianzy manja. 


"Mas belum salat isya', Mas tidak boleh menundanya lagi. Kamu masuk dulu, ya. Istirahat," jawab Abid dengan lembut. 


"Aku boleh jalan-jalan ke pesantren sebentar, nggak? Bentar aja …," Qianzy meminta izin. 


Abid yang selalu baik hati kepadanya, mengizinkannya dengan mudah. Dengan catatan, Qianzy harus kembali sebelum jam 10 malam. Sebab, saat itu masih sekitar jak 8 malam. Abid belum salah isya' karena mereka pergi bahwa ashar. Salat maghrib telah ia tunaikan di masjid alun-alun. 


"Asha! Aku cari dulu noh si tiga serangkai. Kubelikan ini, pasti mereka suka!" seru Qianzy girang. 


"Hm, dua hari aku di sini, baru tau kalau pesantren sangat menenangkan hati ketika malam seperti ini," gumam Qianzy. 


Bertemu lah ia dengan Romli, Muslih dan Rudi. Mereka bertiga baru saja turun dari asrama hendak ke masjid. 


"Hey, kalian!" teriak Qianzy. 


"Qiqi?"


"Kamu ngapain di sini?" tanya Muslih. 


"Iya, i-ni kan, a-asrama pu-putra," sahut Rudi. 


"Nanti kalau Kyai tahu, bagaimana?" timpal Romli. 


Qianzy memutar bola matanya. Kemudian menghembuskan napasnya. "Astaga, kalian ini bawel deh! Kyai ada di masjid tenang saja," 


"Lagi pula, Kyai kalian itu kan sayang banget sama aku. Jadi, mana mungkin dia marahin aku cuma karena datangi kalian ke sini," celetuk Qianzy. 

__ADS_1


"Tapi kamu ada Ustadz Husain, dia--" ucapan Romli terputus kala Husain datang beneran. 


"Kenapa berhenti? Dia kenapa?" tanya Qianzy. 


Husain meminta ketiganya untuk diam. Agar ia tahu Qianzy akan bicara apa tentangnya. Sembari memberikan sarung, baju koko dan juga peci, Qianzy mengomel mengeluh tentang Husain kepada mereka bertiga.


"Definisi ustadz itu kek mana, sih? Katanya sih Ustadz, tapi kata-katanya itu loh, nyebelin banget!" seru Qianzy.


"Masa iya, dia itu udah tahu kalau aku hanya anak angkat, masih aja diperjelas dengan ketusnya," sambungnya.


"Uh, aku rasa doain dia ini jomblo seumur hidup. Adapun orang yang mau nikah sama dia, pasti karena terpaksa!" tukas Qianzy sembari makan coklat yang ia bawa. 


Romli, Rudi dan Muslih hanya mangguk-mangguk saja. Ketiganya juga senyum dengan terpaksa. Romli sudah memberikan kode untuk Qianzy berputar, namun Qianzy tidak tahu kode tersebut. 


"Berputar lah engkau ke kanan, peganglah tanganku erat-erat. Berputarlah engkau ke kiri, syalala lala lala lala...," Romli sampai bernyanyi dengan lirik yang salah agar Qianzy tahu maksudnya. 


"Hey, temen kalian berdua ini kenapa, sih? Gaje deh!" seru Qianzy. 


"Ada ustad, dibelakang," Muslih akhirnya bisa bicara. 


"Ustadz? Ustadz Husain?" Qianzy masih saja bertanya. 


Ketiganya mengangguk. 


Kembali mereka bertiga mengangguk dengan wajah meringisnya. Perlahan Qianzy menoleh dan melihat adanya Husain di belakangnya. 


"Eh, ustadz Junaidi, apa kabar? Mau sarung juga? Tapi mohon maaf, habis. Gue, eh, aku cuma beliin buat mereka bertiga, hehe ...," ujar Qianzy dengan terkekeh terpaksa. 


"Kami duluan, ya, assalamu'alaikum," Romli, Rudi dan Muslih kompak meninggalkan Qianzy bersama dengan Husain. 


Husain ini memang terkenal tegas di pesantren. Semua santri menghormatinya, bahkan ada yang takut jika berurusan dengannya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Husain dingin. 


"Buset gue ditinggal kabur. Awas aja mereka bertiga, ketemu lagi gue blender tuh!" dengus Qianzy. "Hehe, kalau begitu, aku juga pamit, ya, Ustadz ganteng, manis, tata--" 


Sebelum Qianzy berhasil kabur, Husain menahan syal yang melingkar di leher Qianzy. Merasa tak bisa kabur lagi, Qianzy akhirnya pasrah. 


"Mau kemana?" tanya Husain dengan aura freezer empat pintu. 


"Haih, gagal kabur. Dah lah, hadapi saja dia," gumam Qianzy dengan tatapan wajah datarnya. 


Meski sudah tertangkap, Qianzy masih saja berkelit tak ingin merasa disalahkan. "Em, Ustad terus aja pegang ini syal. Mau?" dengan senyuman lebar, Qianzy malah menawarkan syalnya yang terus saja dipegang oleh Husain. 

__ADS_1


Sontak Husain langsung melepaskan syal itu. Suasana menjadi canggung. Qianzy tiba-tiba melepaskan syal tersebut dan memberikan kepada Husain dengan menyentuh tangan Husain. 


"Nih, buat kamu saja. Anggap kenangan dariku, aku mau kabur dulu, bye!" 


"Astaghfirullah hal'adzim," Husain kaget ketika tangannya disentuh oleh tangan Qianzy saat memberikan syal berwarna putih tersebut. 


Syal itu dibeli oleh Qianzy waktu dirinya berlibur di China. Ia membeli memakai uang tabungannya sendiri. Husain tak ada niatan untuk hal lain, tapi dengan sentuhan yang berumur detik itu, membuat Husain semakin penasaran dengan Qianzy. 


"Sayang banget, itu syal aku beli dari China pakai uang tabunganku sendiri. Ya udah deh, anggap saja itu memberikan hadiah untuk dia yang julid itu," ucap Qianzy dengan nafas terengah-engah. 


Sesampainya di rumah, Qianzy langsung mengganti pakaiannya dan segera tidur. Sebelum tidur, Qianzy kembali mengisi buku hariannya dengan tulisan tangannya yang indah. 


"Hari aku memberikan syal kepada ustadz julid itu. Besok apa lagi yang aku berikan agar dia tidak muncul di depanku?" -tulis Qianzy. 


Husain melipat syal tersebut dan memasukkannya kedalam kantong baju koko nya. Terbesit dalam pikirannya, jika ia hendaklah mengembalikan syal itu melalui Abid. 


Ketika di masjid, Husain memanggil Romli, Muslih dan juga Rudi. "Kalian bertiga ikut saya!" tegasnya. 


"Kita dalam masalah apalagi ini? Masa iya cuma terima sarung, peci dan baju koko, kita akan dihukum, sih?" bisik Romli. 


"Sudahlah, jangan berprasangka buruk. Kali aja beliau kau bertanya tetangga Qiqi kita," bisik Muslih. 


"Mu-muslih be-benar, ja-jadi, ki-kita tidak bo-boleh su-su'udzon," sahut Rudi. 


Berhentilah langkah Husain di depan aula santri laki-laki. "Kalian tahu, kenapa saya membawa kalian ke sini?" tanyanya. 


Romli, Rudi dan Muslih menggeleng kepala. "Tidak tau, Ustadz. Ada apa nggeh?" tanya Romli. 


"Saya minta kalian untuk mengajari adik-adik kita mengaji. Malam ini, ustadz Rahmat sedang pulang ke rumahnya, jadi tidak ada yang menggantikan beliau. Semoga saja kalian senggang dan bisa membantu beliau," ucap Husain dengan wajah datarnya lagi. 


"Hoalah," ucap Romli, Rudi dan Muslih bersamaan. 


"Tak kiro opo,"


"Ya, ustadz. InsyaAllah amanah!"


"Baik, kalau begitu ... saya tinggal dulu, assalamu'alaikum," pamit Husain. 


"Wa'alaiumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Hati-hati ustadz,"


Awalnya, Husain ingin menanyakan sesuatu tentang Qianzy kepada ketiganya. Akan tetapi, niat itu ia urungkan karena memang tak ada yang perlu di tanyakan dengan ketiganya. 


Hm, Kira-kira Husain mau mempertanyakan apa tentang, Qianzy? 

__ADS_1


__ADS_2