
"Kenapa harus dia, sih?"
"Sudah sangat jelas, keluarga Ustadz Husain hanya ingin aku menjadi pendamping hidupnya. Kenapa Ustadz Husain yang tidak pernah melirik wanita mana pun, sekarang malah peduli dengan wanita?" Anjani terus menggerutu tiada hentinya.
Anjani melihat Husain juga tergesa-gesa dengan diikuti langkahnya oleh Hikmah. Membuat hatinya semakin panas dan tidak rela, pria yang telah dijodohkan dengannya memperhatikan wanita lain.
"Qianzy memang perempuan sampah! Aku akan memberitahukan padanya, bahwa aku ini calon istrinya, Ustadz Husain." pekik Anjani berjalan kembali menunjukkan aula santri putri.
Melihat Qianzy terus kesakitan membuat Ustadzah Rani cemas. Merasa bersalah karena kejadian siang itu. "Mbak, maafin saya, ya. Jadi ya seperti ini gara-gara saya. Katakan, apa yang Mbak Qian, mau … pasti saya akan lakukan untuk Mbak Qian," ucap Ustadzah Rani.
"Assalamu'alaikum," salam Husain dengan wajahnya yang panik. "Bagaimana keadaan kamu, Qianzy?" tanyanya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz, tolong bicaralah dengan Mbak Qianzy. Kami akan menunggu kalian di luar," ucap Ustadzah Rani mengajak Hikmah dan beberapa santri yang tadinya mengoleskan salep, untuk keluar terlebih dahulu.
"Harus ada satu orang yang menemani saya di sini. Sebaiknya, Anda, Ustadzah. Saya tidak ingin ada fitnah yang keluar karena membiarkan kami berdua di sini," pinta Husain untuk Ustadzah Rani tetap tinggal di ruang tamu itu.
Qianzy masih membuang muka untuk Husain. Dengan sabar, Husain menanyakan mengapa dirinya terus menangis. Ada sesuatu yang lain selain Qianzy kesakitan karena luka itu menurut Husain.
"Apa kamu merindukan, Mas Abid?" tanya Husain.
Tak merespon, Qianzy masih saja membuang muka. Enggan melihat Husain, Qianzy menyeka air matanya dan meminta Ustadzah untuk membawa Husain keluar jika dia belum menelpon Abid.
"Ustadzah Rani," panggil Qianzy.
"Iya, Mbak,"
"Aku ingin Mas Abid. Aku ingin telpon Mas Abid malam ini juga! Jika seseorang tidak bisa menelponnya, maka usir dia dari rumah ini!" perintah Qianzy.
"Tapi, Mbak. Kyai mungkin saat ini masih sibuk, atau bahkan sedang istirahat. Apa Mbak mau, aktivitas atau waktu istirahat Kyai di ganggu?" tutur Ustadzah Rani dengan lembut.
"Oh, kalau gitu aku nggak mau makan!" Qianzy mengancam.
__ADS_1
Ustadzah Rani dan Husain saling mengode, mereka bingung mau bagaimana lagi membuat Qianzy mengerti. Terpaksa, Husain meminta Ustadzah Rani untuk keluar sebentar dan hendak bicara empat mata dengan Qianzy.
"Ustadz, yakin?" bisik Ustadzah Rani.
"InsyaAllah, saya yakin bisa menangani ini sendiri," jawab Husain yakin. "Tolong Ustadzah bawa Anjani pergi, bisa? Saya kurang suka dia terus ada di depan rumah seperti itu. Atau …,"
Sebelum Husain menjelaskan perihal Anjani, Ustadzah Rani sudah paham dengan maksudnya. Ustadzah Rani setuju saja dengan perintah Husain dan kembali lebih dulu ke pesantren. Setelah Ustadzah Rani pergi, baru Qianzy mau bicara dengan Husain.
"Nggak usah sok peduli! Semua ini gara-gara lu tau!" sulut Qianzy kembali menggunakan bahasa itu.
"Maaf, ya. Jika memang ini semua gara-gara saya, dengan tulus saya akan meminta maaf padamu," ucap Husain sabar.
"Ogah! Buat apa gue maafin lu? Yang ada … lu makin sok tau kedepannya, mana segala macem lu kata suka sama gue lagi? Kalau lu mau hibur gue, minimal nggak usah pakai mengaduk-aduk perasaan!" ketus Qianzy dengan wajahnya yang di tekuk.
Husain menghela napas, melepaskan dengan pelan dan mulai menatap Qianzy kembali. Lalu, bertanya, "Jika saya serius suka sama kamu, dan ingin serius bersama kamu, apakah kamu akan menolak?"
Terkejut, heran dan rasa tidak percaya menjadi satu. Bagaimana tidak, keduanya baru kenal selama dua hari dan Husain berani menyatakan perasaan sukanya. "Gue bilang, lu jangan suka menghibur dengan mempermainkan perasaan orang. Bisa nggak, sih?" kesal Qianzy.
"Nggak usah ngadi-ngadi! Lu ngomong beginian udah bikin gue baper tau!" ketus Qianzy. "Udah deh, jika lu nggak bisa telponin Mas Abid buat gue, lebih baik lu pergi. Pulang gih sono ke rumah lu atau ke kamar lu. Takut tau nggak, sih, gue?" imbuhnya dengan mengusir Husain.
Husain tidak menyerah, dia tetap menjelaskan niat baiknya bersama dengan Qianzy sebagai mana pernah di bahas setelah Abid menemukan identitas Qianzy beberapa tahun silam. Entah karena apa Husain ingin menikahi Qianzy dengan mendadak, tapi Husain tahu jika itu adalah hal baik yang memang harus ia lakukan.
"Pergi, sana!" usir Qianzy. "Mukidi, pergi!" bentaknya dengan memukul bahu Husain menggunakan bantal kecil yang ada di sofa.
"Qianzy saya serius," ucap Husain tidak menyerah.
"Sumpah gue takut kalau lu kek gitu terus, Ustadz! Pergi dah!"
Amukan Qianzy tak dapat Husain tangani lagi. Pada akhirnya Husain memilih untuk pergi dan membiarkan Qianzy bisa lebih tenang lagi. Setelah itu, Husain meminta Hikmah yang masih ada di depan rumah untuk menemani Qianzy dan merawatnya sampai lukanya sembuh.
"Nggeh, Ustadz. Saya siap merawat, Mbak Qianzy," jawab Hikmah mantap.
__ADS_1
"Jika ada apa-apa, kamu bisa meminta Ustadzah Rani, atau kamu sendiri datang kepadaku. Saya akan selalu ada untuk Qianzy 24 jam sempai Kyai kembali, paham?" tutur Husain.
"InsyaAllah paham, Ustadz," jawab Hikmah.
"Assallamu'alaikum," pamit Husain.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"
Setelah Husain sudah tidak terlihat lagi, Hikmah masuk menemui Qianzy yang termenung duduk di sofa putih di ruang tamu rumah tua itu. Tatapan Qianzy masih menunduk, seolah ia sedang berpikir keras mengenai sesuatu.
"Assallamu'alaikum,"
"Udah gue bilang, lu pergi dan menjauh dari gue, Mukidi!" teriak Qianzy melempar Hikmah dengan bantal kecil.
"Astaghfirullah hal'adzim, ini saya, Hikmah, Mbak Qianzy. Kenapa Mbak meminta saya keluar dan menjauh? Apa salah saya?" tanya Hikmah mengambil bantal kecil itu.
"Oh, itu kamu? Maaf, aku pikir tadi Ustadz Husain. Maaf, ya?" ucap Qianzy.
"Ustadz Husain baru saja pergi. Ada apa, sih? Kenapa jadi semarah itu?" tanya Hikmah penasaran.
"Biasa aja, nggak ada yang istimewa," jawab Qianzy. "Aku lapar, bisa tolong masakin aku sesuatu nggak?" imbuhnya mengelus perutnya sendiri.
"Kecil itu, mah. Mau makan apa? Biar Hikmah yang masakin buat Mbak Qianzy!" seru Hikmah menepuk bahunya.
Qianzy tersenyum, kemudian meminta Hikmah untuk memasak nasi goreng dan juga membuat gorengan tahu isi. Sembari menunggu masakan yang Hikmah masak selesai, Qianzy memeriksa ponselnya, berharap kakaknya memberikan kabar dan menanyakan keadaannya saat itu.
"Mas Abid kenapa nggak hubungi aku, ya?" gumamnya. "Ustadzah Rani bilang, kalau Ustadz Mukidi sudah memberitahu keadaanku padanya. Apa dia tidak memperdulikan aku lagi?"
Bagai perahu di terjang badai, Qianzy baru saja ingin merasakan kasih sayang dari kakak kandungnya yang selama ini belum ia ketahui. Tapi Abid malah memilih untuk melakukan perjalan ke luar kota selama lebih dari tiga hari.
Kenapa Husain langsung ingin menikahi Qianzy? Padahal Qianzy dengannya masih memiliki perbedaan keyakinan?
__ADS_1