Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat


__ADS_3

Pagi setelah aktifitas dalam rumah sudah selesai, Qianzy memanggil tiga sahabatnya untuk membantunya membersihkan bak kamar mandi yang sudah mulai kotor. Romli, Rudi dan Muslih selalu ada jika Qianzy sedang membutuhkannya.


"Kamu manggil kita bertiga ada hal apa, Qian?" tanya Romli. 


"I-i-iya, a-ada apa? Ke-kenapa k-kamu … me-manggil ka-kami?" sahut Rudi. 


"Ka--" sahutan Muslih terhenti saat Qianzy mengangkat telapak tangannya. "Jangan bertanya lagi. Satu saja yang nanti bertanya,"


Qianzy ingin mengetahui semua hal yang berkaitan dengan Anjani. Qianzy masih kesal dengan perlakuan Anjani kepada kakaknya kemarin. 


"Oh, hanya itu? Itu gampil, Qian. Sore nanti, informasi tentang keluarga Anjani akan segera aku berikan padamu," jawab Romli menyetujui apa yang diinginkan oleh Qianzy. 


"Tapi ingat … Baik Mas Abid maupun Ustadzah Husain tidak boleh ada yang tau aku membutuhkan informasi tentang cewek menyebalkan itu, paham?" 


Ketiga sahabat Qianzy menyetujui. Mereka bertiga sudah menganggap Qianzy teman dekatnya sendiri. Tapi, ada hal yeng membuat Romli merasa diistimewakan oleh Qianzy, karena selalu di percaya oleh gadis berusia 19 tahun itu. 


"Aku rasa nih, ya. Qian ini suka deh sama aku. Sering kali dia meminta bantuan dariku dan mengandalkan aku soalnya," celetuk seorang Romli. 


"Qian itu meminta kita bertiga. Dia tahu kalau kamu pintar ngibul, jadi dia pikir kamu memang bisa diandalkan. Tapi ternyata tidak, kamu bisa diandalkan oleh Qian berkat kita berdua juga tau!" sahut Muslih tidak terima. 


"Halah, aku tuh yakin, Lih! Qian itu pasti suka sama aku. Memang dia ini cocoknya sama aku, kok!" ucap Romli percaya diri. 


Rudi dan Muslih saling menatap, mereka saling jatuh cinta, kemudian tinggal di Jerman. Tentu saja tidak, mereka menertawakan Romli dengan percaya diri yang berlebihannya. 


"Hahaha, jika itu benar … mata Qianzy pasti rabun. Otaknya pasti sengklek bisa menyukai pria sepertimu, Rom, hahaha--" ejek Muslih. 


"Ki-kita i-iya kan, sa-saja. Biar di-dia se-seneng, Lih," bahkan Rudi saja juga tidak percaya jika Qianzy menyukai Romli. 


Terlepas dari kisah tingkap percaya diri Romli yang tinggi, akhirnya Qianzy memantapkan hati untuk mengikuti keyakinan kakaknya. Menjelang siang, dengan disaksikan seluruh santri, Qianzy akan melangsungkan dua kalimat syahadat dengan dibimbing oleh kakaknya sendiri. 


Di Aula besar, semuanya berkumpul. Tentu saja ada sekat pembatas yang sudah disiapkan oleh pihak pesantren agar santri putra dan putri tidak saling memandang satu sama lain. 

__ADS_1


"Qian, siap?" tanya Abid dengan berbisik. 


Qianzy mengambil napas panjang, mengelus dadanya dengan lembut dan tersenyum lebar menjawab pertanyaan kakaknya, jika dirinya baik-baik saja. 


Saat itu, Qianzy memakai gamis dan jilbab berwarna putih. Dengan riasan tipis mampu terlihat manis nan anggun dengan mata sipitnya. Sudah mantap dari hati, jika dirinya ingin mengikuti keyakinan sesuai hatinya. 


Seperti yang sudah pernah di katakan oleh Husain, "Kamu terlahir sebagai seorang muslim. Saya dan Mas Abid tidak akan memaksa kamu. Bagaimanapun juga, kamu tidak besar dalam lingkungan muslim Tapi, semua dosa yang kamu lakukan tetap akan di tanggung Ayah dan Mas Abid selaku Ayah dan kakak kandung kamu, Qian."


Menurut apa yang Qianzy baca, ia merasa takut dalam setiap helai rambutnya, setiap inci kulitnya menjadi bara api bagi Ayah dan kakak kandungnya. Kebaikan orang tua angkatnya sudah ia terapkan dalam dirinya. 


Kini, Qianzy menganggap, bahwa dirinya milik Abid dan Tuhan barunya. Jadi, apa yang hendak dilakukan Qianzy, pasti akan dipertanggungjawabkan oleh Ayah dan Kakaknya sampai nanti dirinya menikah. 


 Setiap orang berhak memilih dan memeluk agama menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Hal ini termasuk orang yang menjadi mualaf atau sebutan lain dari orang non-muslim yang pindah atau memeluk islam.


Tidak ada waktu yang ditentukan kapan bagusnya untuk menjadi mualaf sebab semua hari baik. Jadi, bagi kamu yang telah yakin ingin memeluk agama islam, kamu bisa kapan saja menjadi mualaf.


Lantas, bagaimana caranya menjadi mualaf secara sah secara di mata agama dan administrasi negara? Kemudian, bagaimana hukum dalam islam bagi seorang mualaf?


"Salah satunya melakukan khitan. Wajib bagi laki-laki, dan makruh untuk perempuan. Fitrah itu ada lima perkara : khitan, mencukur bulu ********, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis," lanjut Abid. (H.R Muslim 257). 


"Lalu yang kedua, mengucapkan dua kalimat syahadat. Yang ketiga mandi besar, yang ketiga melaksanakan rukun islam. Jadi, Qianzy, apa kamu sudah siap?" 


Qianzy mengangguk. Ia sudah memantapkan langkah. 


"Baik, ikuti apa yang akan Mas ucapkan, ya ….,"


أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ


Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.


"Aju bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan (aku bersaksi) bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."

__ADS_1


Dua kalimat itu diikuti dengan lancar dan benar oleh Qianzy. Setelahnya, semua saksi mengucapkan hamdalah. 


"Selamat adikku, kini kamu telah terlahir kembali. Bagaimana perasaanmu?" tanya Abid dengan mata berkaca-kaca. 


Qianzy kembali menyentuh dadanya. Menundukkan begitu lama, lalu mengangkat kedua tangannya dan sekilas seperti kedua orang tua kandungnya ada di belakang Abid dan tersenyum padanya. 


"Ayah dan Ibu kita tersenyum. Mami dan Papiku juga melambaikan tangan. Hatiku begitu tenang, damai dan juga terasa ringan, Mas," jawab Qianzy dengan pelan. 


"MasyaAllah …,"


Terlepas dari apa yang dilihat Qianzy, mungkin memang itu hanya sebuah khayalan bagi Abid. Namun, ia sangat bahagia mendapati adiknya yang sudah seiman dengannya. 


"Lalu, mandi besar …? Bisa Mas Abid jelaskan?" lanjut Qianzy penasaran. 


Mandi besar menjadi hal yang harus dilakukan oleh seorang yang sudah memeluk islam. Jika sudah mengucapkan kalimat syahadat, segeralah mandi besar. Sebagaimana hadits,


أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ الْإِسْلَامَ فَأَمَرَنِي أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ


Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memeluk islam. Kemudian beliau menyuruhku untuk mandi dengan air dan daun bidara. (HR. Abu Daud 355 – shahih)


"Setelah ini, semua berkas milikmu nanti biar Ustadz Husain yang membereskannya. Mas ada hadiah untukmu," Abid mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. 


Sebuah kotak berukuran sedang yang dibalut tapi menggunakan kertas berwarna biru muda. Dengan semangat, Qianzy langsung menerimanya dan segera membuka hadiah dari kakaknya tersebut. 


Kotak hadiah itu berisi diary almarhum Ibunya ketika beliau mengandung Qianzy. Banyak harapan yang ditulis oleh Ibunya di dalam buku itu. Abid juga membelikan sebuah jilbab yang dibordir sendiri oleh-nya. Lima jilbab itu ada ukiran nama Qianzy. 


"Cantik sekali jilbabnya, aku suka," ucap Qianzy dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. 


"Alhamdulillah jika kamu suka. Mas akan senang jika kamu memakainya. Ayo, kamu lihat lagi, ada apa di dalamnya," 


Sebuah iqra', dan seperangkat alat salat yang meliputi mukena, Al-Qur'an, tasbih dan juga sajadah. Itu kado paling istimewa yang Qianzy dapatkan dalam hidupnya selama 19 tahun. 

__ADS_1


Meski dahulu dirinya seorang agnostik, tidak ada yang memberikan hadiah yang bisa mendekatkan diri kepada salah satu Tuhan yang ada di Negaranya. Qianzy memeluk kakaknya sembari mengucapkan beribu kata terima kasih.


__ADS_2