Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Asiyah?


__ADS_3

Ba'da maghrib, Husain di panggil  oleh Abid ke rumah untuk mengajar Qianzy, yang dimana siang tadi jadwal Husain mengajar sudah diambil oleh Abid sendiri.


"Hish __ apa-apaan ini? Bukankah jadwal mengajar Ustadz Husain itu siang hari ya? Kenapa malam-malam jua datang kemari?" tanya Qianzy dengan ketus. 


"Mas-mu yang memintaku datang. Jika kamu ingin protes, sana ke protes ke Mas Abid," jawab Husain sibuk mengeluarkan buku. 


Husain mengeluarkan buku kisah Asiyah istri Fir'aun. Qianzy mengingat-ingat kembali nama dari Asiyah. "Bukannya Aisyah? Kenapa jadi Asiyah? Hish typo ini, harusnya Aisyah, 'kan?" 


Husain tersenyum dan tertawa kecil. Kemudian menjelaskan siapa Aisyah dan siapa Asiyah kepada Qianzy. 


"Aisyah adalah istri Rasullullah, jika Asiyah adalah istri Fir'aun," jelas Husain.


"Buset, istri Fir'aun. Orang jahat punya istri pula? Ck, sungguh kasian dengan Asiyah ini. Tapi, gimana kisahnya, Ustadz?" tanya Qianzy penasaran. 


Asiyah atau Asiyah binti Muzahim kerap disebutkan sebagai wanita keturunan Bani Israel meski masih diragukan kebenarannya. Berikut sekilas tentang sosok Asiyah binti Muzahim, 1 dari 4 wanita yang dirindukan surga.


"Kok, bisa dirindukan surga? 'Kan suaminya orang jahat. Bagaimana mungkin?" sela Qianzy.


"Bisa dengarkan dulu sampai akhir nggak? Nanti, setelah kisahnya selesai, baru kamu boleh mengajukan pertanyaan," ucap Ustadz Husain dengan sabar.


"Hehehe, yaa maaf __"


Asiyah sedikitnya dua kali menolak keinginan Fir'aun saat masih hidup dan menjadi istrinya.


Penolakan pertama adalah saat hendak dipinang orang yang menganggap dirinya sebagai Tuhan.


Tidak disebutkan dengan jelas latar belakang atau dukungan keluarga yang diberikan hingga Asiyah berani menolak pinangan tersebut. Asiyah disebutkan luluh saat orangtuanya ditangkap dan dianggap bertanggung jawab atas penolakan Asiyah.


"Bener tuh keputusannya. Bisa-bisanya manusia menganggap dirinya Tuhan. Ada modelan lakik kek Fir'aun di zaman sekarang, sudah aku remuk satu biji masa depannya!" celetuk Qianzy.


"Astaghfirullah hal'adzim --" sebut Husain.


"Qian," panggil Abid.


"Iya, Mas?" sahut Qianzy.


"Kamu bicara apa itu? Biji siapa yang ingin kamu remuk itu? Jangan bicara seperti itu lagi. Dengarkan dulu apa yang hendak Ustadz Husain katakan, baru nanti kamu bertanya kembali diakhir cerita," tegur Abid.

__ADS_1


"Tapi gemes banget. Manusia ngaku Tuhan, pantas saja mayatnya tidak diterima bumi, jahat sih!" sudah sok tahu, Qianzy juga bicara dengan ketus.


Abid dan Husain sama-sama menepuk keningnya. Kemudian, Husain pun melanjutkan kisahnya karena Qianzy sudah tidak bertanya lagi. 


Penolakan kedua adalah saat Asiyah tidak mau membunuh anak laki-laki yang ditemukan dalam keranjang. Asiyah berhasil mengelabuhi Fir'aun yang saat itu mewajibkan tiap anak laki-laki yang baru lahir dibunuh.


Hal itu karena Firaun khawatir takhtanya direbut berdasarkan tafsir mimpi dari para ahli nujum. Yang dimana,  Anak tersebut ternyata adalan Nabi Musa AS, yang kelak membawa wahyu dari Allah SWT dan membongkar kebohongan Firaun. Kisah tentang Asiyah yang mengambil kisah Nabi Musa AS disebutkan dalam Al-Qashash ayat 9.


"Weh, makin ngadi-ngadi tuh lakik! Bayi pun mau di bunuh? Dengan cara apa membunuhnya kalau boleh tahu, Ustadz?" lanjut Qianzy gemas.


"Dibanting, " jawab Husain.


BRUAK!


Qianzy menggebrak meja dengan keras, sampai Abid terkejut dan kopi yang baru saja hendak di seruput menjadi tumpah. Husain sendiri cukup mengusap dadanya karena terkejut sembari istighfar.


"Bener-bener tuh lakik bikin gue emosi. Nggak mau baca ah! Ngeselin gitu kisahnya, amit-amit nemu lakik kek si kudrun, tamrun, jamrun __ Fir'aun, astagfirullah hal'adzim! Emosi kan aku jadinya,"


Melihat Qianzy yang emosi hanya membuat Husain dan Abid menganga. Mereka saling menatap, dan kemudian Husain mengalihkan pembicaraan. 


"Kita bahas yang lain saja dulu. Ayo, kita belajar iqra' nya lagi," 


Melihat adiknya yang semangat belajar, membuat abid terharu. Bagaimana tidak, 19 tahun tidak pernah mengenal dan belum pernah bertemu. Tetapi Qianzy mau berubah dan kembali ke keyakinan yang sudah dia bawa sejak lahir untuk Abi dan dirinya. (Abid)


"Aku akan ke pesantren sebenar. Pintu akan aku buka lebar-lebar, kalian lanjutkan saja belajarnya. Assalamu'alaikum," pamit Abid, sudah siap pergi. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh __"


Usai belajar, Qianzy dan Husain masih duduk berhadapan di ruang tamu. Buku dan beberapa kitab lainnya sudah di kemas ke dalam tas. Hanya saja, mereka masih sibuk dengan ponselnya masing-masing. 


Saat Qianzy hendak menanyakan sesuatu kepada Husain, dia melihat Husain tiba-tiba menjadi berbeda. Tatapan mata Qianzy seolah ada magnet yang tidak ingin lepas memandang seorang Husain. 


Terdengar seperti ada lantunan biola yang sangat menyentuh dengan aluna ritme romantis. Meski rambut Husain berada dalam peci, tetap saja Qianzy seolah melihat ada angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah Husain. 


"Wajahnya begitu teduh. Sangat menyejukkan hati. Alisnya yang sedikit tebal, bibirnya yang tipis dan juga hidungnya yang mancung itu __" Qianzy masih berkhayal. 


"Woy! Sadar Qianzy! Lu kenapa dah? Bisa-bisanya lu jatuh cinta sekarang. INgat Qian, cinta itu menyakitkan, cukup dia yang menyukaimu, kau jangan!" Qianzy meyakinkan diri untuk tidak terjerat cinta lagi. 

__ADS_1


Tapi,  jantungnya selalu berdebar kala melihat wajah Husain malam itu. Tak sadar, Qianzy pun terus menampar pipinya sendiri karena tidak ingin terbuai dengan indahnya jatuh cinta. Sebab, di balik indahnya jatuh cinta, pasti akan sakit jika sudah menemukan pengkhianatan cinta. 


Seperti yang sudah pernah terjadi kepada Qianzy waktu membina hubungan dengan Andreas. Tak sampai terhitung bagaimana Andreas selalu saja menyakiti hatinya dalam segala bentuk. 


Husain yang heran dengan tingkah gadis yang dia sukai itu pun bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu menampar pipimu sendiri?" 


"Ah, tidak!" jawab Qianzy sedikit meninggi. 


"Hash, sialan!" umpat Qianzy lirih dengan memalingkan wajahnya. 


"Qian, ada apa?" tanya Husain kembali. 


"Gwaenchanha--gwaenchanha," jawab Qianzy.


Husain masih tidak mengerti atas jawaban yan Qianzy berikan. "Ah, aku baik-baik saja. Tenang, aku masih waras, kok." lanjut Qianzy kembali memalingkan wajahnya. 


Meski tidak tahu apa yang dimaksud dengan Qianzy, tetap saja Husain mengangguk-angguk saja. 


"Oh, iya. Mas Abid belum pulang sampai se-larut ini. Aku tidak enak hati dengan santri lain jika mereka tahu aku ada di sini … jadi, aku pamit saja, ya __" 


Husain dan Qianzy memang sudah sedekat itu sampai mereka menyebut diri dengan bahasa aku dan kamu. Qianzy malah mencegah Husain pulang. Dia masih ingin menanyakan tentang lamaran yang pernah Husain lakukan padanya. 


"Aaaa tunggu!" 


"Iya?" 


"Sialan, wajahnya begitu manis pula! Sadarlah dulu, Qianzy!" batin Qianzy dengan mengedipkan matanya kembali secara berulang. 


"Qian, kalau kamu sakit, kamu istirahat saja lebih awal. Besok setelah absen, aku akan mengantarmu kuliah," ucap Husain mengkhawatirkan Qianzy. 


"Bukan itu, Ustadz Husain. Tolong pahami aku __" 


Husain menaikkan alisnya. 


"Apakah lamaran Ustadz waktu itu masih berlaku untukku?" tanya Qianzy tiba-tiba. 


Pertanyaan itu terlalu mendadak dan tidak Qianzy awali dengan basa-basi. Membuat Husain gugup ketika ingin menjawabnya. 

__ADS_1


Lalu,  apa jawaban Husain?


__ADS_2