
"Lepaskan saya, Ustadzah!"
"Kamu begini … apa tidak lelah, Anjani? Kamu mengejar seseorang yang mungkin bayangannya saja tidak bisa kamu sentuh,"
"Ustadzah bodoh, kah? Bayangan kan memang tidak di sentuh! Logika di pakai, Ustadzah. Kyai mulu sih yang ada di otak, Ustadzah!" Anjani masih ngotot membela diri.
"Astaghfirullah hal'adzim. Anjani, kamu bicara seperti ini dengan saya?" Ustadzah Rani sampai mengelus dada karena perkataan Anjani yang dinilainya sudah sangat kasar.
Dengan paksa, Ustazah Rani mengantar Anjani sampai ke ruangan Ustadzah Fitri. Meminta beliau untuk menghukum Anjani dengan sepantasnya dengan apa yang sudah Anjani lakukan pada dirinya.
"Ustadzah Rani dan Ustadzah Fitri nggak bisa menghukum saya seperti ini! Saya adalah anak orang terpandang di Kota ini. Bagaimana mungkin kalian bisa menghukum saya!" ketus Anjani dengan mata melotot.
"Assalamu'alaikum, ada apa ini?" kebetulan saat itu Abid sedang ada perlu dengan Ustadzah Fitri juga.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Anjani melepaskan diri dari genggaman Ustadzah Fitri dan Ustadzah Rani. Kemudian berjalan mendekati Abid dan mengungkapkan sesuatu yang membuat Abid sedikit tersinggung.
"Bagus, kebetulan Kyai datang diwaktu yang tepat. Saya ingin mengatakan bahwa sebaiknya Kyai menahan adiknya yang murtad itu untuk jauh-jauh dari calon suami saya, Ustadz Husain!" desis Anjani.
"Astaghfirullah hal'adzim …,"
Abid mengusap dadanya sendiri. Sakit hati ketika adiknya di sebut murtad oleh Anjani.
"Kenapa? Kyai marah karena saya menyebut adik Kyai dengan sebutan murtad?" lanjut Anjani.
"Bukankah memang benar, 'kan? Dia dilahirkan menjadi seorang muslim dari rahim seorang muslimah dan keluarga muslim. Tapi dia dibesarkan oleh keluarga yang non muslim. Juga dia seorang agnostik, 'kan? Dia tidak menganut agama apapun! Apakah ini masih tidak jelas?"
"Bahkan dia berani bermimpi menikah dengan seorang Ustadz? Keluarga Ustadz Husain pun pasti tidak yakin akan menerimanya,"
"Apa karena sa--"
__ADS_1
"Cukup!"
Plak! Plak!
Dua kali tamparan mendarat ke pipi Anjani dari Ustadzah Rani. "Kamu keterlaluan Anjani. Saya akan mengurus berkas kamu, segeralah pamit dengan Kyai dan yang lainnya!" tegas Ustadzah Rani.
"Kenapa Kyai diam? Masih berpikir siapa yang salah dan benar? Qianzy, dia baru tiba dan tinggal di sini selama 4 bulan. Sudah berhasil menyingkirkan aku darimu, hah?" ketus Anjani.
"Ingat siapa yang membantu seluruh pembangunan di pesantren ini? Lalu, siapa juga yang mengurus Kyai ketika Anda masih kecil, ketika orang tua Anda meninggal?"
"Qianzy memang adik kandung, Kyai. Tapi keluarga saya dan keluarga almarhum Paman Anda-lah yang paling berjasa dalam hidup Anda Kyai!"
Anjani terus saja mengomel, mengungkit semua kebaikan yang pernah orang tuanya berikan kepada keluarga pesantren. Paman Abid, adalah sahabat dari orang tua Anjani. Hubungan keduanya sangat baik. Namun, Anjani merusak hubungan baik itu dengan kecemburuannya dengan Qianzy.
Dari balik pintu, Qianzy mendengar semua keluh kesah Anjani. Ia tidak marah jika harus menjauh dari Husain. Tapi, Qianzy sangat marah melihat kakaknya di permalukan seperti itu.
"Qian, apa yang dikatakan An--"
"Berapa donasi yang orang tua Anjani berikan kepada pesantren ini selama Pamanku masih hidup?" tanya Qianzy menyela perkataan Husain.
"Rincikan semuanya. Aku yang akan membayar semuanya, jangan bilang kepada kakakku, permisi!" Qianzy kembali ke rumah dan mengecek semua harta yang diberikan kepada orang tua angkatnya.
Harta itu rupanya belum diambil alih oleh keluarga orang tua angkatnya. Qianzy menelpon pengacara untuk mencarikan semua total yang bisa di rupiahkan dalam waktu cepat. Ketika Qianzy ditanya oleh pengacara untuk apa uang tersebut, Qianzy menjawab bahwa dirinya ingin memiliki usaha sendiri di kampung kakaknya.
"Baik, Nona. Saya akan urus semua ini. Perusahaan masih berjalan dengan lancar, semua uang sisa modal akan masuk ke rekening pribadi Nona,"
"Baik, saya tunggu ya, Pak. Secepatnya Bapak urus agar saya bisa berkembang di sini."
Qianzy menutup telponnya. Sakit hatinya begitu dalam, selalu teringat bagaimana ekspresi wajah Abid saat di permalukan oleh Anjani. "Anjani, kamu belum tau saja, berapa besar harta yang aku miliki saat ini. Jika kamu menilai semuanya dengan uang, maka aku juga bisa membeli harga dirimu itu!" ketus Qianzy.
Jangan di contoh sifat Qianzy yang terbilang pendendam. Sejatinya, balas dendam terbaik itu hanya dengan menjadikan diri jauh lebih baik sebelumnya. Tapi ini novel, jadi halu itu mesti tinggi ya kan?
__ADS_1
__--
Malam semakin larut, Qianzy masih menunggu Abid pulang. Tidak seperti biasnya kakaknya pulang terlambat. Masih ada banyak hal yang ingin Qianzy tanyakan kepada Abid masalah masa lalunya dengan keluarga Anjani.
"Assalamu'alaikum," salam Abid dengan suara lembutnya.
"Sebentar!"
"Ah, akhirnya pulang juga meski terlambat," gumam Qianzy bergegas membukakan pintu.
Qianzy menyambut hangat kakaknya dengan baik. Dia juga membuatkan donat andalannya yang mulai menjadi makanan kesukaan Abid di saat Qianzy membuat camilan.
"Kenapa pulang terlambat?" tanya Qianzy.
"Eh, lihatlah siapa yang ngambek? Mas ada diba'an di masjid. Jadi terlambat pulang. Kamu nggak dengarkah ada diba' di masjid?" jawab Abid menyembunyikan kekecewaannya kepada Anjani.
Namun, Qianzy tipe orang yang tidak suka berbohong, bertele-tele maupun basa-basi lebih lama lagi. Langsung menuju ke inti permasalahan dengan memberikan donat yang ia buat.
"Aku dengar yang dikatakan Anjani tadi. Ceritakan dengan detailnya, atau aku akan pulang ke Jakarta!" desaknya, berharap kakaknya mau jujur kepadanya.
Qianzy memang sudah besar. Tapi Abid hanya tidak ingin dukanya dirasakan oleh adiknya juga yang baru kembali. Bukan Qianzy yang tidak mampu membuat kakaknya luluh hingga Abid mau menceritakan semuanya.
Sejak orang tuanya meninggal, Abid di rawat oleh Paman dan Bibinya. Paman dan Bibinya ini sahabat dari kedua orang tua Anjani. Ketika Paman dan Bibinya sudah mulai sakit-sakitan, semua biaya pembangunan di tanggung oleh kedua orang tua Anjani dengan maksud, ketika kedua orang tua Anjani telah tiada nanti, Anjani ada yang merawatnya, yakni Abid.
Dua keluarga ini juga bersahabat baik dengan kelurga Husain. Itu mengapa tiga anak dari orang tua yang saling menjalin persahabatan ini tinggal di pesantren yang sama. Tujuannya adalah, supaya bisa selalu hidup rukun dan memajukan pesantren bersama-sama.
Ketika mereka tumbuh bersama, munculah perasaan cinta di hati Anjani untuk Husain. Namun tidak dengan Husain. Hatinya masih terkunci untuk dirinya sendiri dan ilmu yang dikejarnya. Merasa dirinya pantas untuk Husain, Anjani meminta Abid dan kedua orang tuanya untuk membantu mengatur perjodohan untuknya.
Awalnya Abid dan orang tua Anjani sendiri menolak permintaan konyol Anjani. Tapi, setiap kali Anjani menginginkan sesuatu dan tidak dituruti, ia akan mengancam mereka melakukan bunuh diri dengan menelan racun serangga.
Perjodohan itu rupanya di dukung penuh oleh Ibunya Husain. Tapi tidak dengan Ayahnya Husain yang bersifat netral. Bagi Ayahnya, wanita pilihan Husain sendiri adalah yang terbaik. Semua hanya karena status dan martabat keluarga yang dijunjung tinggi oleh Ibunya Husain, jadi menyetujui perjodohan tersebut.
__ADS_1
Abid menceritakan semuanya kepada Qianzy malam itu. Meski begitu, Qianzy menolak keras jika hidup kakaknya atas donasi yang diberikan oleh kedua orang tua Anjani. Saat itu, dirinya hanya bisa diam dengan memberikan semangat untuk kakaknya.
"Mas, aku janji. Aku akan membuatmu dipandang jauh lebih tinggi dari yang sekarang. Aku akan menerima lamaran Ustadz Husain dan menjadi muslimah seperti yang kamu inginkan, Mas. LIhat saja nanti, Anjani yang akan meminta maaf kepadamu lebih dulu! Ini janji Qianzy Tabitha tang tidak pernah ingkar dalam berjanji." gumam Qianzy dalam hati.