
"Assalamu'alaikum,"
"Ah, itu pasti ustadzah Rani," gumam Qianzy segera merapikan tasnya. "Wa'alaikumsallam, bentar!" sahutnya dengan terburu-buru.
Qianzy sampai lari dan lupa mengunci pintu kamarnya. Membukakan pintu untuk ustadzah Rani dan memintanya masuk.
"Wa'alaikumsallam, ustadzah Rani. Hehehe sudah datang? Masuk dulu lah--"
Dengan senyum manisnya, ustadzah Rani menjawab, "Tidak perlu. Kita sudah terlambat, loh. Ayo sebaiknya kita segera berangkat saja," ajaknya.
"Hum, baiklah!"
Mereka pun berangkat. Qianzy sangat antusias menjadi calon mahasiswi. Sepanjang perjalanan, Qianzy juga terus bernyanyi, membuat ustadzah Rani ikut senang mendengarnya.
"MasyaAllah, suara kamu sungguh merdu. Jika kamu bershalawat atau sering-sering ikut murottal di pesantren, pasti suara kamu akan jauh lebih bagus lagi," sanjung ustadzah Rani.
"Memangnya bisa seperti itu?" tanya Qianzy.
"Bisa saja. bukankah itu sama saja dengan kamu mengasah suara kamu?" jawab ustadzah Rani.
"Bener juga, sih. Boleh, deh! Um, kapan-kapan, jika ada acara itu lagi, Ustadzah Rani panggil saja aku ke rumah," ujar Qianzy. "Aku akan coba ikutan apa itu total, tortal, portal …,"
"Murottal, Qianzy," jawab Ustadzah Rani.
Qianzy pun tertawa. Mereka sudah saling akrab, berharap Qianzy bisa menjodohkan Ustadzah Rani dengan kakaknya. "Srebet aja kali, ya? Toh, mereka juga belum nikah. Ustadzah Rani hanya cocok untuk Mas Abid! Harus! Lihat saja bagaimana aku akan usahakan semuanya!" dengan percaya diri dan yakin, Qianzy pasti akan bisa menyatukan mereka.
Sekitar 20 menit, sampailah mereka di kampus. Kampus itu memang besar, banyak juga mahasiswa baru yang mendaftar. Membuat Qianzy langsung pusing dengan adanya banyak orang lalu lalang di sana.
"Huek!"
"Qianzy, Kamu kenapa? Apakah kamu salah makan tadi pagi sebelum berangkat?" tanya Ustadzah Rani.
"Mana ada? Seorang Qianzy tidak pernah salah makan. Orang cuma makan sedikit, kok!" sulut Qianzy. "2 porsi--" imbuhnya.
__ADS_1
"Itu kamu kebanyakan makan, jadinya aku merasa mual. Baiklah kalau begitu, kita langsung pergi ke pendaftarannya."
Ustadzah Rani menggandeng tangan Qianzy seperti menggandeng anak kecil. Beberapa dari orang-orang itu sampai memandang mereka berdua. Memang sudah takdir, di sana mereka dipertemukan oleh Anjani dan Hikmah.
"Qianzy! Kenapa kamu ke sini?" tanya Anjani ketus.
"Lah, ini kan kampus, sista! Tempat orang belajar, ya wajar dong kalau aku ke sini. Setidaknya kalau bertanya itu yang berbobot lah," jawab Qianzy sedikit ngegas.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Anjani, tidak salam terlebih dahulu, malah langsung mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Qianzy?" terus Ustadzah Rani.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ustadzah Rani itu kenapa, sih? Selalu saja membela Qianzi, Qianzi dan Qianzy terus. Bosan tau!" protes Anjani.
"Hahaha, lawak dia. Heh, ya pantes lah kalau aku dibelain, orang aku cantik gini," Qianzy memang suka memancing emosi Anjani.
"Kamu …," Ucapan Anjani tersela oleh Ustadzah Rani.
"Sudah, sudah. Kalian berdua ini, tidak di pesantren dan tidak di sini sama saja! Kenapa sih selalu bertengkar? Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang seperti ini?"
Ustadzah sudah sangat geram dengan Anjani dan juga Qianzy yang selalu saja bertengkar ketika bertemu. Selalu saja ada yang diributkan oleh mereka berdua.
"Dia aku tinggal. Dia habisnya lama bener, sih!" ketus Anjani.
"Wah, wah, wah. Emang bener ya kamu, ngajak ribut mulu. Eh, beliau ini Ustadzah, beliau adalah seorang guru, guru kita, sista! Ya, minimal hargailah dia dengan bahasa dan tutur kata yang sopan. Kenapa jawabnya ketus banget gitu, sih?" sahut Qianzy..
"Kalau kamu tidak terima dengan apa yang aku katakan kepada Ustadzah Rani, diamlah! Ngapain kamu didengar!" cetus Anjani.
"Bener-bener lu ya cari ribut sama gua. Eh, jangan mentang-mentang lu anak orang berada, atau anak orang yang terpandang, terus menurut lu, gua takut gitu? Kagak!" Qianzy mulai menunjukkan jati dirinya.
"Nah keluar kan bahasa kasarnya. Kamu itu memang tidak pantas untuk Ustadz Husain. Lebih baik kamu itu mundur dari aku, kamu tidak pantas bersaing denganku, Qianzy! Tidak pantas, karena aku ini memang sudah dijodohkan dengan Ustadz Husein sejak dulu, paham?" Anjani mulai mengungkit perjodohan.
Qianzy melangkah mendekati Anjani. Dia pun berbisik, "Tapi kalian baru sekedar perjodohan. Tapi aku lihat sudah mendapatkan perhatian dari Ustadz Husain,"
Senyuman penuh aura dingin nan menusuk Qianzy seolah-olah meledek Anjani. Sehingga membuat Anjani semakin kesal dan tiba-tiba saja ia mendorong tubuhku sampai hendak terjatuh.
__ADS_1
Beruntung saja, di belakang Qianzy ada yang menangkap dirinya. Jadi, Qianzy belum sampai terjatuh dilantai. Tahukah siapa yang menangkap Qianzy? Dia adalah mantan kekasihnya, Christian Andreas.
"Andre?"
"Lu ngapain ke sini? Jangan bilang lu juga kuliah di sini?" tanya Qianzy.
"Iyaa aku datang jauh-jauh dari Jakarta sampai ke sini hanya untuk kamu," jawab Andreas.
"Sayang, aku pengen kita balikan. Kita awali hubungan kita dari awal. Aku benar-benar menyesal telah menghianati cinta kita," ucapnya dengan meraih tangan Qianzy.
"Lu apaan sih pegang-pegang gua gini. Bukan mahram tahu!" ketus Qianzy.
"Sayang, kamu kenapa sih jadi kayak gini? Katakan padaku, siapa yang ngajarin kamu seperti ini. Oh, pasti mereka berdua 'kan?" tunjuk Andreas kepada Ustadzah Rani dan juga Anjani.
"Kenapa jadi aku? Enak saja kalau ngomong!" tepis Anjani.
"Lu ngapain sih datang kemari, Andreas. Belum belum puas lu, nyakitin gua? Lu juga belum puas, morotin harta gua? Terus, buat apa lu datang kesini. Minta balikan lagi, gitu? Cih, sakit lu!" Qianzy mendorong tubuh Andreas dan pergi meninggalkannya.
Ketika Andreas ingin mengejar, ditahan oleh Ustadzah Rani. Ustadzah Rani mengatakan, bahwa Andreas tidak boleh lagi menyentuh sembarangan bagian tubuh Qianzy meskipun itu hanya tangannya.
"Lah, kenapa? Dia pacar gua, Mbak. Ya, suka-suka gua dong mau nyentuh dia. Gimana, sih!" sulut Andreas.
"Tapi Qianzy yang sekarang itu berbeda dengan Qianzy yang dulu, Mas. Saya mohon kepada kamu, jangan pernah lagi mengganggu Qianzy, permisi," pamit Ustadzah Rani.
"Anjani, Saya tunggu kamu di sana juga, Assalamual'aikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah Ustadzah Rani pergi, Anjani pun mengatakan kepada Andreas, jika dirinya bersedia untuk membantunya mendapatkan cinta Qianzy lagi dengan cepat.
"Dari tampang lu ... gua nggak percaya. Model-modelan wanita seperti lu, nggak mungkin bantuin cuma gotong-royong doang. Lu pasti ada maunya, 'kan? Ngaku lu!" cetus Andreas.
"Benar," jawab Anjani.
__ADS_1
"Tuh kan. Dah ketebak woy. Kagak ada di dunia ini, orang melakukan suatu hal cuma-cuma aja gitu," celetuk Andreas. Jadi, katakan! Lu mau apa dari gue?" sambungnya.
Entah apa yang Anjani pikirkan, tapi senyum liciknya itu sudah terpancar sangat terang benderang jika dia memiliki rencana yang negatif untuk Qianzy.