Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
3 Bulan Berlalu


__ADS_3

Malam itu, Husain bermalam di rumah Abid. Ia terbangun di tengah malam karena haus. Saat ia membuka matanya, baru tersadar bahwa dirinya sudah tidak berada di kamarnya, melainkan di kamar Qianzy dan Qianzy mengalah ke kamar tamu. Sebab, demam Husain jauh lebih parah dan hanya kamar Qianzy yang paling nyaman. 


"Dimana ini?"


"Kamar perempuan?" 


Pandangan Husain tertuju pada sebuah potret cantik Qianzy ketika mengenakan pakaian adat china saat berlibur ke Tiongkok. 


"Qianzy?"


"Oh, jadi ini kamar Qianzy. Semalam aku pingsan, pasti Mas Abid yang membawaku kemari," gumamnya. "Haus sekali, sebaiknya aku ke dapur dulu."


Dengan langkah sempoyongan, Husain berusaha terus berjalan sembari jalan dengan meraba. Ia demam tinggi, sehingga berdampak pusing yang berlebihan. 


Saat ia hendak sampai ke dapur, Husain hampir saja terjatuh. Beruntung, Qianzy menangkapnya dengan cepat. Jika tidak, Husain akan beneran jatuh dan kepalanya akan terluka karena terkena sudut meja makan. 


Mereka terlihat seperti berpelukan. Dalam kegelapan, Husain berusaha untuk melihat lebih jelas lagi siapa yang menahannya supaya tidak terjatuh. 


Memang, jika seseorang telah jatuh cinta, ia akan mengenali langsung siapa yang ia cintai meski suasana dalam kegelapan. 


"Qianzy, kamu kah ini?"


"Ya terus siapa? Hikmah?" sulut Qianzy. "Ini nggak papa nih aku peluk gini?" imbuhnya menunjukkan tangannya yang saat itu menggenggam tangan Husain. 


"Darurat, tapi … Astaghfirullah hal'dzim!" Husain langsung melepas genggaman tangan Qianzy dengan cepat. 


"Nah, loh! Udah ayo, aku papah aja dah pakai kain," ujar Qianzy. "Sebenarnya aku tuh tadi mau ngagetin. Pas aku mau ngagetin, eh… Ustadz udah mau jatuh aja, yang enggak jadi deh ngagetinnya," celoteh Qianzy. 


Setelah memapah Husain sampai duduk, Qianzy mengambilkan air putih untuk Husain minum. Qianzy tahu, jika orang sedang demam pasti akan sering haus. 


"Lu, gue-nya … udah hilang, ya?" tanya Husain berniat menggoda. 


"Sorry," ucap Qianzy duduk di depan Husain. 


"Untuk?" tanya Husain. 

__ADS_1


"Semalam, sebelum Mas Abid istirahat, beliau kasih wejangan gitu lah ke aku. Dia suruh aku minta maaf karena udah ganti nama Ustadz jadi nama Mukidi dan itu adalah suatu ejekan," jawab Qianzy.


"Terus, Mas Abid juga minta aku untuk merubah gaya bicara aku yang ketus saat dengan Ustadz gitu aja," terangnya sembari membuka kaleng kripik. 


Suasana kembali menjadi canggung. Sebenarnya, Husain jauh lebih suka sikap Qianzy yang sebelumnya. Tapi, melihat gadis berusia 19 tahun itu sedikit tenang, membuatnya semakin berdoa untuk di jodohkan dengannya.


"Soal lamaran--"


"Hal itu, bisa kita bahas nanti, Qian," uap Husain dengan suara lemas. 


Qianzy terdiam kembali. Tak lama kemudian, ia berkata, "Aku mau menikah denganmu, dengan syarat Mas Abid dulu yang menikah, bagaimana?" 


Husain bingung bagaimana membuat Qianzy mengerti, jika Abid belum mau menikah sebelum melihat adiknya menikah terlebih dahulu. Tak ingin ambil pusing, Husain berkata bahwa, "Sebaiknya, kalian fokus dalam menjalin hubungan kakak adik. Puas-puaskan dulu, menikmati suasana ini,"


"Jarang sekali, Mas Abid ini tersenyum. Hanya dengan kamulah, Mas Abid bisa tersenyum bebeas seperti itu," tutur Husain. 


"Oh, iya. Kamu juga demam, 'kan? Kenapa kamu belum tidur? Jika begadang, nanti malah akan semakin sakit nanti," sambung Husain dengan suara yang meneduhkan hati. 


"Heleh, yang paling parah diantara kita ya dirimu, Ustadz. Kau bahkan sampai pingsan karena demam tinggi. Minumlah air hangat ini, aku akan membuat kamu sup penghangat badan untukmu," ucap Qianzy tak lagi dengan kasar kepada Husain.


------_


Tak terasa, 3 bulan terlampaui. Qianzy dan Husain semakin dekat karena Qianzy selalu ikut kemana Husain pergi kalau mengantar barang dagangannya. Ketika Husain mengajar, Qianzy juga selalu ada di kelasnya meski itu di kursi paling belakang. Mereka juga suka makan siang bersama, tentu saja terkadang ada Hikmah di antara mereka berdua. 


Sebab, Husain memang tidak nyaman jika hanya berduaan dengan Qianzy saja. Apapun alasannya, memang laki-laki dan perempuan dewasa tidak diperbolehkan berduaan tanpa ada yang mendampingi. 


"Jadi, hari ini jadi?" tanya Husain. 


"Jadi dong, 'kan ini semua juga demi Mas Abid!" seru Qianzy semangat. 


"Tapi alangkah baiknya, kamu masuk muslim karena Allah dan karena diri kamu sendiri, Qian. Bukan karena Mas Abid saja," tutur Husain. 


"Iya aku tahu, Ustadz. Aku kan juga melakukan ini demi Ustadz juga. Kita kan mau menikah kedepannya, jadi sesuai dengan persyaratan orang nikah di agama muslim. Harus seiman, bukan begitu?" celetuk Qianzy. 


Husain tersenyum, tak menyangka jika Qianzy juga melakukan itu demi dirinya. "Ih, kenapa? Malu, ya? Merah gitu pipinya?" goda Qianzy. 

__ADS_1


"Mbak Qian sama Ustadz Husain mau nikah?" sahut Hikmah. 


Rupanya mereka melupakan bahwa Hikmah ada diantara mereka berdua. Hikmah berdiri di belakang mereka sembari mendengarkan apa yang dikatakan Qianzy kepada Husain. 


"Ya Tuhan, aku melupakan makhluk satu ini, Ustadz," celoteh Qianzy membuat Husain tertawa. 


Hikmah yang tidak mendengar ejekan Qianzy malah ikut tertawa Husain. Bahkan, ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Tanpa mereka sadari, Anjani sedang mengintai mereka dari kejauhan. 


"Apa-apaan, sih? Kenapa Ustadz Husain selalu dekat dengan Qianzy? Aku kan calon istrinya yang dipilih oleh orang tuanya," dengus Anjani. 


"Qianzy ini, ya. Adik Kyai murtad, tapi masih saja berusaha mengikat seorang Ustadz yang sudah memiliki calon istri!" ketusnya dengan mengepalkan tangannya. 


Ucapan buruk Anjani tidak sengaja terdengar oleh Ustadzah Rani. Tidak suka dengan sikap Anjani, Ustadzah Rani spontan menarik telinga Anjani sampai Anjani kesakitan. 


"Aduh, sakit, Ustadzah. Tolong lepaskan saya!" Anjani memohon. 


"Kamu ini sudah lama menjadi seorang santri, tapi mulut kamu masih saja busuk, Anjani. Kamu ini kenapa selalu memusuhi Mbak Qianzy. Padahal Mbak Qianzy saja tidak pernah mengusikmu!" tegur Ustadzah Rani masih dengan menarik telinga Anjani. 


"Ustadzah membelanya, karena dia adik Kyai Abid, 'kan?" 


"Mana ada seperti itu. Kamu yang salah, makanya saya menegur kamu. Kenapa memangnya jika Mbak Qianzy ini adiknya Kyai?" Ustadzah Rani mulai kesal. 


"Sebab Ustadzah suka dengan Kyai. Nggak usah munafik deh jadi orang. Kalau suka bilang, jangan sok jual mahal dengan menerima lamaran orang lain!" sulut Anjani. 


Plak! 


Kali itu, memang pantas Anjani mendapat tamparan dari Ustadzah Rani. Anjani tidak pernah berkata manis dan cenderung suka mengadu domba. Ustadzah Rani bingung, mengapa Abid tidak mengeluarkan santri seperti Anjani itu. 


"Anjani, kamu ini jauh lebih muda dari saya. Apa begini cara kamu berbicara dengan orang yang lebih tua?" tegur Ustadzah Rani. 


"Bahkan Qianzy yang dari kita saja--"


"Qianzy, Qianzy, Qianzy! Dia baru di sini 4 bulan dan sudah menjadi pusat perhatian? Wah, hebat! Bahkan orang musyrik seperti dia pun di hormati?" sela Anjani dengan nada yang tidak menyenangkan. 


Ustadzah Rani sudah hilang kesabarannya. Ia menyerahkan Anjani untuk dihukum oleh ketua pengelola santri putri, Ustadzah Fitri. Anjani ini memang orang berada, itu sebabnya ia sangat sombong akan keberuntungannya itu. 

__ADS_1


__ADS_2