
"Ustadz, jawab aku --" lanjut Qianzy.
"Masih," jawab Husain langsung. "Kamu bersedia mau mencari istriku, lamaran itu masih akan tetap lanjut," lanjutnya dengan pasti.
Qianzy menjadi malu sendiri. Pasalnya lihat Husain sama sekali tidak pada basa-basi dan langsung menjawabnya begitu saja.
"Tapi saya tahu, semuanya masih butuh proses. Jadi, saya akan sabar menunggu sampai kamu mau menerima lamaran saya," imbuh Husain dengan senyuman.
"Kok, pakai saya lagi? Kalau seperti itu malah jadinya nggak akrab, tau!" protes Qianzy.
"Saya sudah berkali-kali mencoba. Tapi tetap saja lidah saya ngerasa keluh dan sepertinya, itu kurang pantas saja. Em, jadi lebih baik saya kembali menggunakan kata saya untuk menyebut diri saya sendiri," sahut Husain.
Qianzy menyipitkan matanya lagi. Kemudian memberikan kenangan-kenangan untuk Husain.
"Apa ini?" tanya Husain.
"Apakah kau rabun Ustadz? Ini namanya bandul kunci, masih kurang jelas, kah? Apakah kudu diperiksa matanya?" Qianzy benar-benar membuat Husain heran.
"Iya sih, tapi untuk apa? Aku tidak memiliki kunci menganggur supaya bisa di pakaikan bandul," Husain tenyata tidak peka.
Qianzy pun meminta ponsel milik Husain. Itupun Husain masih menanyakan untuk apa Qianzy meminta. Gemas sudah Qianzy dengan pria seperti Husain.
"Astaga … Maksudnya astaghfirullah hal'adzim. Kenapa ustadz malah melompat seperti itu, sih?" sentak Qianzy.
"Ya karena kamu menyentuh paha saya. Saya jadi terkejut dan reflek melompat. Kamu mau apa sih minta handphone saya?" tanya Husain masih waspada.
"Allahu Rabbi. Aku hanya mau pinjam sebentar wahai kawan!" jawab Qianzy memegang kepalanya karena sudah pusing menghadapi Husain.
Dengan pelan menyodorkan ponselnya, Husain masih bingung dengan apa yang ingin Qianzy lakukan pada ponselnya itu.
"Dari tadi kek!" kesal Qianzy.
Qianzy mengaitkan rantai kecil bandulan kunci itu ke ponsel Husain. Bandulan cantik itu akhirnya melekat di ponsel Husain. Setelah itu, Qianzy pun memberikan ponsel Husain kembali.
"Oke, pulanglah sekarang," usir Qianzy.
"Oh, baiklah--"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Husain. "Hehe, wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh! Hati-hati di jalan, ustadz!" jawab Qianzy semangat.
Setelah Husain pamit, Qianzy pun menutup pintu rumahnya. Kemudian, segara bersihkan diri untuk tidur. Qianzy tenang karena Husain masih ingin menjadikan dirinya sebagai istri dari Husain.
"Jadi, lamaran itu masih berlaku. Tinggal tugasku membuat Mas Abid dan Ustadzah Rani menikah ini," gumam Qianzy. "Shh, setelah itu, baru deh mengurus Anjani itu, nyebelin banget dia jadi orang!" umpatnya.
Malam di kamar Husain. Dia terus memandangi bandulan yang terpasang di ponselnya. Bandulan berbentuk kunci berhiaskan permata biru itu membuat Husain tersenyum-senyum sendiri.
"Jika seperti ini terus, maka aku akan penen dosa ini. Barang-barang darinya ini membuatku terus mengingatnya," Husain bergumam.
"Apakah memang ini cara dia selalu mengingatkan aku, supaya aku mengingat tentang dia?"
Husain masih sadar jika barang pemberian dari wanita yang bukan mahramnya itu akan mengundang dosa. Sebab, dia akan kepikiran dengan seseorang yang bukan seharusnya ia pikirkan.
Setelah mengusap-usap bandulan tersebut, Husain merebahkan tubuhnya di ranjang. Memanjatkan doa tidur dan segera menutup matanya.
***
***
Suara adzan subuh berkumandang. Semua santri bersiap untuk melaksanakan kewajibannya salat subuh di masjid bagi santri laki-laki. Kemudian, bagi santriwati, akan salat di aula besar, bagian santri putri.
Sedangkan Qianzy, dia malah tidak bisa ikut ke aula karena dirinya hendak salat di rumah sendiri. Abid, sang kakak. Menasehati adiknya, jika raga masih sehat, ia meminta Qianzy untuk meringankan langkah dan kakinya menuju aula untuk salah berjamaah.
"Kenapa begitu? Bukankah sama-sama salat saja, 'kan?" protes Qianzy.
"Jika di jelaskan, maka waktu subuh akan segera habis. Nanti bisa kamu tanyakan kepada ustadzah Rani. Di sisi lain, kamu belum hafal bacaan salat, 'kan? Jadi, apakah kamu bisa salat sendiri?" bicara Abid memang sangat lembut. Qianzy yang tadinya kekeh ingin salat subuh di rumah, dia pun jadi patuh untuk dalat di aula.
Melihat adiknya yang sudah jarang protes dengannya, membuat Abid senang. Meski Qianzy tidak asik jika tanpa protesannya, Abid merasa aneh juga dengan hal yang tak biasa itu.
"Sebenarnya, Mas paling suka saat kamu menyela pembicaraan atau protes terhadap orang lain. Tapi, begini juga sudah bagus," gumam Abid, meneruskan langkahnya ke masjid.
Setelah salat subuh di laksanakan. Qianzy malah tertidur dengan bersandar di dinding. Di sampingnya, Hikmah terus saja membangunkannya. Dia hanya tidak ingin sampai ustadzah Ratih yang sangat galak mendapati Qianzy yang ketiduran kala ustadzah Rani memberikan siraman qolbu di pagi hari.
"Mbak, Mbak Qian. Bangun, dong!"
"Mbak--"
__ADS_1
"Ash, kau ini mengganggu tidurku. Diamlah!" tepis Qianzy.
"Jangan tidur. Bisakah Mbak Qianzy menahan kantuknya selama 15 menit saja? Ceramah ustadzah Rani akan selesai sebentar lagi," bisik Hikmah.
Sayangnya, ustdazah Ratih sudah mengetahui tingkah mereka. Ustadzah Ratih menganggap bahwa Hikmah dan Qianzy asik mengobrol dengan berbisik-bisik.
"Maaf ustadzah Rani, saya menyela …," ucap Ustadzah Ratih mengangkat tangannya.
"Silahkan, ustdazah," sahut ustadzah Rani.
"Itu yang dipojok kanan, paling belakang sendiri, dua-duanya berdiri!" tegas ustadzah Ratih.
Semua langsung menatap Qianzy dan Hikmah. Hikmah menghela napas panjang. Ketika bersama dengan Qianzy, selalu saja dia juga terkena hukuman.
"Mbak Qian, bangun. Ustadzah Ratih memanggil kita," Hikmah mencolek paha Qianzy.
"Hikmah! Qianzy!" sentak Ustadzah Ratih.
Hikmah langsung berdiri. Namun, Qianzy malah melanjutkan tidurnya. Sampai ustadzah Ratih terus saja memanggil namanya berkali-kali. Bahkan, Qianzy juga di panggil dengan nama lengkapnya. Itu pertanda, ustadzah Ratih sudah emosi.
"QIANZY TABITHA!"
"Hash, iya, iya. Aku berdiri!" sulu Qianzy.
"Lepas mukena kalian, lalu berlari mengelilingi lapangan aula dan memakai jilbab warna orange itu," perintah ustadzah Ratih.
"Ih, ogah ah! Jelek gitu jilbabnya, warnanya terlalu mencolok, aku tidak suka!" protes Qianzy.
Jilbab tersebut adalah, jilbab dimana santri yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan harus memakainya. Warnanya mencolok karena orange nya orange sedikit bersinar dengan bahan yang tidak enak di pakai di kepala.
"Kamu tidur ketika ustadzah Rani memberikan tausiyah. Hikmah, kamu juga tidak langsung memberitahu saya, apa maksudnya?"
Ustadzah Ratih memang sangat tegas. Tausiyah yang diberikan ustadzah Rani tidaklah lama. Jadi, ustadzah Ratih tidak ingin ada yang melelwatkannya. Bahkan, yang sedang berhalangan saja juga mendengarkan tausiyah ustadzah Rani dari barisan ujung belakang.
Dengan sedikit kesal, Qianzy pun meraih jilbab itu dan memakainya. Setelah itu, dia dan Hikmah berlari mengelilingi lapangan di depan aula. Dimana, pasti nantinya santri laki-laki bisa melihatnya.
Anjani senang melihat Qianzy di hukum seperti itu. Jika Hikmah berlari dengan menundukkan kepala karena malu, tapi tidak dengan Qianzy. Dia berlari dengan wajah mendongak ke atas, dengan santainya, ketika kakaknya lewat, malah Qianzy melambaikan tangannya.
__ADS_1