Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Malam--


__ADS_3

Husain terus beristighfar sampai ke masjid. Ia tak menyangka bahwa dirinya mampu melakukan dosa itu. Mungkin, hanya bibirnya menyerempet pipi Qianzy saja, dan itupun tanpa sengaja. Namun, tetap saja baginya itu adalah dosa besar. 


"Ya Allah, apa sudah aku lakukan?" 


"Aku dan Qian, bibirku? Pipinya … tapi, astaghfirullah hal'adzim. Ada apa dengan aku ini ya Allah?" 


Husain terus saja berperang antara batin dan pikirannya. Ia merasa bersalah sudah melakukan hal tak senagaja tersebut. Bahkan ketika Fathan menegurnya, Husain sempat membentaknya.


"Assalamu'alaikum, Ustadz. Kenapa bengong saja, sih?" tegur Fathan. 


Tanpa menjawab salam dan memperhatikan kehadiran Fathan, Husain pergi begitu saja. Pikirannya benar-benar terganggu dengan kecupan yang tak di sengaja itu. Merasa berdosa dan bersalah telah melakukan hal yang tak seharunya dilakukannya. 


"Ustadz, Ustadz Husain!" Fathan sampai heran dengan sikap aneh Husain.


Merasa ada yang aneh, Fathan pun mengikuti Husain sampai ke masjid lagi. Husain sampai lupa tujuannya hendak kemana dan mau apa karena kecupan tak sengaja itu. 


"Ustadz, kenapa sih?" tanya Fathan sedikit keras suaranya. 


"Apa, sih? Bisa diem nggak?" bentak Husain. Bahkan sampai orang yang ada di masjid menoleh ke arah mereka. Husain sendiri yang membuat keributan. 


Fathan mengumpat, kemudian menjauh dari Husain yang terlihat sensitif. Usai sholat maghrib, Husain memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di area pembuatan batu bata yang sebelumnya pernah dipakai Qianzy dan tiga serangkai untuk bersembunyi. 


Ketika Husain sampai di sana, bertapa terkejutnya ia melihat Qianzy sedang membakar ikan dan jagung dengan berselimut warna hijau di sana. Qianzy begitu pemberani, bahkan di waktu malam sendirian di gubuk itupun ia sama sekali tidak takut. 


"Qianzy, kamu disini?" tanya Husain. 


"Lah, ustadz ngapain di sini juga?" tanya Qianzy ikut bingung. 


"Saya … saya," Husain mulai bingung. "Ada apa ini? Aku berusaha untuk melupakan sedikit dosa itu, mengapa aku malah menambah dosa dengan bertemu dengannya di tempat seperti ini?" gumam Husain dalam hati. 


"Hash sudahlah! Kemari dan duduklah. Aku sedang membakar jagung, ikan dan sedikit bakso. Kau mau menemaniku makan, Ustadz?" ajak Qianzy. 


Memang tidak ada cara lain untuk menghindarinya. Husain pun memilih untuk mengalah. Dia menemani Qianzy bakar-bakaran malam itu.

__ADS_1


"Nih, aku bakarin buat, Ustadz," Qianzy memberikan sosis dan bakso bakarnya kepada Husain.


"Terima kasih," ucap Husain dengan senyuman.


"Santai, brother! Ayo, makanlah!" 


Qianzy banyak membakar sosis, bakso, ikan dan juga jagung. Sejak kehilangan orang tuanya, Qianzy memang berubah sedikit dari sikap aslinya. Saat itu, dia sudah mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Apalagi, Qianzy memang berusaha akan mendapatkan hati Husain dan membantu kakaknya untuk menikah dengan Ustadzah Rani. 


"Kamu sering ke sini?" tanya Husain. 


Qianzy menggeleng. "Semenjak tiga serangkai itu menjauhiku, aku jadi jarang datang ke sini. Aku hanya bakar-bakaran di kamarku saja," jawabnya dengan senyumnya. 


"Bakar-bakaran di kamar? Kalau kebaran bagaimana? Bahaya tau!" tutur Husain. 


"Astaga, Ustadz. Bukan bakaran pakai alat ini. Ada alat yang lebih canggih menggunakan listrik. Nanti akan aku kasih tau kamu, kalau kita diberi kesempatan lagi untuk makan berdua," jawab Qianzy santai. 


"Tapi, makan di kamar itu tidak baik, Qian," lanjut Husain. 


"Kenapa tidak baik? Apa alasannya?" tanya Qianzy penasaran.


Meski memang mengenai tempat makan, aturan yang secara tegas mengatur, tidak ada. Hanya saja, ada beberapa rambu-rambu atau etika yang harus dijaga.


Satu di antaranya tidak makan di tempat umum atau terbuka, yang tidak semestinya digunakan sebagai tempat makan. Lalu, tidak makan di jalan atau sambil jalan atau bahkan makan sambil berbicara dan sambil tiduran.


"Maka, jika ada orang yang menanyakan bagaimana hukum makan di kamar atau tempat tidur, hukum makan tersebut diperbolehkan, hanya saja kurang tepat gitu," lanjut Husain. 


"Tapi tidak silahkan saja kalau mau makan di kamar. Tidak ada larangan, hanya kurang baik saja." tukas Husain. 


Mereka masih menikmati malam bersama. Sampai dimana, Husain memang harus kembali karena sudah jadwalnya dirinya mengajar santri-santrinya. 


"Baiklah, aku akan pamit dulu, ya. Terima kasih atas makanannya. Masih harus ngajar nih," pamit Husain.


"Malam-malam mengajar? Buset, yang bener saja. Siapa yang belajar? Siapa yang mau belajar di waktu segini?" Qianzy masih saja suka semaunya. 

__ADS_1


Husain menjelaskan bahwa memang kebanyakan santri selalu menghabiskan waktunya untuk belajar dan menghafal. Menjadikan Husain ingat kepada Qianzy yang jayanya mau belajar, tapi selalu bolos darinya. 


"Lalu, kapan kamu mau mulai belajar?" tanya Husain. .


"Oh, hehe. Kalau itu, kapan-kapan saja bagaimana?" 


Qianzy mulai melakukan negosiasi. Qianzy juga mengatakan bahwa dirinya sedang menunggu hidayah supaya bisa belajar dengan niat yang baik. 


"Hidayah itu di jemput, bukan di tunggu. Segera persiapkan dirimu besok. Saya akan tunggu kamu di tempat biasa dan kita harus belajar, oke? Assalamu'alaikum," Husain pergi. 


"Wa'alaikumsallam,"


"Ck, belajar, belajar, belajar terus. Aghhrr aku cekik lain kali tuh ustadz," umpat Qianzy. 


Sifat asli Qianzy yang selalu protes akhirinya muncul lagi setelah sekian lama tertidur. Memang sejak kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja dulu, Qianzy menjadi sedikit kesal dengan orang tuanya dan melampiaskan kekesalan kepada teman sekelasnya. Akhirnya, Qianzy tidak memiliki teman di sekolah karena selalu berbuat kurang baik. 


********


***


Hari demi hari terlewati. Qianzy juga sudah mulai belajar di siang hari bersama dengan ustadz Husain. Namun,  di sisi lain juga Qianzy mempersiapkan dirinya untuk masuk ke kampus. Abid tidak ingin pendidikan adiknya terganggu juga hanya karena pindah ke pesantren.


Meski terlalu pusing dan lelah bagi Qianzy harus berbagi tugas antara kampus dengan pesantren. Qianzy tetap ikhlas menjalaninya demi sang kakak. Dimana Qianzy merubah diri juga demi Abid dan juga Ayahnya di alam kubur. 


Apalagi, saat itu Qianzy juga sudah terbiasa memakai hijab dan memakai pakaian yang lumayan longgar dari sebelumnya. 


"Ini demi Almarhum Abi dan Mas Abid nih. Supaya mereka juag tidak tercebur ke neraka karena aku tidak menjaga aurat,"  gumam Qianzy kala memakai hijab di depan cermin meja riasnya. 


Pagi itu, Qianzy akan diantar oleh Ustadzah Rani ke kampus. Awalnya, Abid meminta Husain yang mengantar adiknya. Tapi Qianzy malah menolak dan meminta ustadzah Rani yang mengantarnya sampai ke kampus. 


"Sedikit liptint kali oke lah, ya? Meski berjilbab, fashion tetap harus nomor satu, dong!"


"Oh My God. Qianzy kamu cantik sekali. Kulitmu putih, matamu indah hahaha siapa yang bakal nolak aku? Sekelas ustadz Husain saja mau mengajakku menikah--"

__ADS_1


Qianzy terus memuji dirinya sendiri di depan cermin. Seketika, baru ingat jika tidak boleh sebab, memuji diri sendiri merupakan perkara yang diperbolehkan dalam Islam, hanya saja jika tidak berhati-hati maka perbuatan tersebut bisa menjerumuskan pada perilaku riya', yaitu memperlihatkan amal kebaikan demi tujuan ingin dipuji.


__ADS_2