
Semalaman, Qianzy hanya diam terpaku di ruang tengah. Ia memikirkan sesuatu untuk membuat Anjani terdiam. Bagaimanapun juga, Anjani telah melukai hati kakaknya, dan dirinya pun tak dapat menerima itu.
"Aku harus bagaimana? Jika langsung menerima lamaran Ustadz Husain, bakal nggak seru sebelum lihat Anjani terluka," gumamnya.
"Tapi, kata Mas Abid, membuat orang terluka hatinya itu tidak boleh. Ahh, bagaimana, ya? Mas Abid ini terlalu baik, deh!"
"Tidak! Aku bukan Mas Abid, aku adalah Qianzy! Qianzy yang ditindas tidak pernah akan terima begitu saja!" ucap Qianzy semangat, dengan mengepalkan tangannya.
Tok, tok, tok….
Suara pintu di ketuk. "Assalamu'alaikum," begitu juga dengan suara salam seorang pria yang sangat Qianzy kenal. Abid telah pulang dari luar kota lagi, dengan riang, Qianzy segera berlari menyambut kepulangan kakaknya.
"Wa'alaikumsallam, Mas Abid pulang!" girangnya.
"Mas Abid, aku rindu!" sambutnya dengan raut wajah memelas. Bahkan memeluknya dengan erat.
"Mas bawa jajan. Mau makan, atau masih mau meluk, nih?" ucap Abid, menunjukkan buah tangan yang ia bawa.
Abid masih harus memberikan penjelasan kepada Qianzy. Ia berpikir, jika Qianzy ini adalah tipe gadis yang manja. Meski tak mungkin adanya hasrat, tapi Abid tak ingin Qianzy sering memeluknya. Sebab, jika orang lain sampai tahu dan mengartikan lain, maka jatuhnya akan jadi fitnah.
"Bagaimana belajarmu hari ini?" tanya Abid.
"Bagus, hari ini juga Ustadz Husain ceritain kisah juga," jawab Qianzy sibuk makan.
"Alhamdulillah, semoga saja … Ustadz Husain bisa membuat kamu jauh lebih baik lagi," lanjut Abid.
"Aamiin,"
Malam itu, Qianzy berhasil tidur dengan nyenyak. Bangun salat subuh juga tidak susah dibangunkan. Bahkan Qianzy juga sudah bisa bangun sendiri, kemudian salat subuh dan melakukan rutinitas santri di pagi hari.
"Perjodohan Ustadzah Rani dipercepat. Katanya, ada hubungannya dengan kedekatan Ustadz Husain dengan Mbak Qianzy, kah?"
"Aku dengar dari beberapa sumber, kalau Ustadzah Rani mempercepat perjodohannya, karena tidak enak hati dengan Kyai, dan itu karena … Ustadz Husain dan Mbak Qianzy,"
"Mbak Qianzy ini siapa, sih? Adiknya Kyai yang dari Jakarta itu, bukan?"
"Aku rasa, jika memang Ustadz Husain lebih memilih Mbak Qianzy di banding Mbak Anjani, pasti akan heboh lagi deh. Sebab, dari segi fisik, memang Mbak Qianzy lebih cantik dan lebih modis dari Mbak Qianzy,"
"Tapi, masa iya kalau Ustadz Husain lebih memilih Mbak Qianzy. Kalian lebih tau bukan, Mbak Anjani lebih sholehah, lebih paham agama juga."
__ADS_1
Beberapa santriwati itu terus membicarakan antara mereka bertiga. Tentu saja membuat Qianzy tidak nyaman, perkataan santriwati itu terus terngiang di telinganya.
Sempat ia berjalan sampai kakinya masuk ke galengan air, belum lagi ia menabrak pembatas dari batas suci mushola kecil yanga ada di pesantren perempuan.
"Apa aku tidak pantas dicintai seseorang seperti Ustadz seperti Ustadz Husain?"
"Apa salah jika aku menjadi bagian dalam kehidupannya?"
"Aku juga bisa belajar agama dengan giat agar seperti Ustadzah Rani dan Ustadzah lainnya," Qianzy sakit hati.
Cempluk!
Kaki Qianzy kembali masuk ke galengan air sampai kakinya terluka. Melihat Qianzy kesakitan, Ustadzah Rani yang sedang lewat pun membantunya.
Ustadzah Rani tidak sendirian, ia berjalan bersama dengan salah satu santri yang selalu bersamanya. Tak lain adalah pengganti Ustadzah Rani, namanya Aqila. Ia akan menggantikan Ustadz Rani setelah Ustadzah Rani menikah nanti.
"Astaghfirullah hal-adzim, Mbak Qian. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ustadzah Rani.
"Kakiku terluka, darahnya banyak banget, Ustadzah. Bisakah Ustadzah menolongku membawakan obat merah dan perban?" pinta Qianzy meringis menahan kesakitan.
"MasyaAllah, kulit kakimu putih dan sangat bersih. Pantas jika kamu disebut putri dari keluarga keturunan Tionghoa. Kamu sudah persis seperti mereka, meski Kyai berkulit hitam manis." Ustadzah Rani bahkan sempat-sempatnya bercanda.
Ketika di jalan, mereka bertemu dengan Fathan Muzzamil dan mencoba membantunya. Namun, di tolak oleh Qianzy. Ini bukan yang pertema kalinya Fathan di tolak, sudah kesekian kalinya Fathan mengalami penolakan dari Qianzy selama ia tinggal di Pesantren.
"Kamu kenapa lebih memilih pertolongan dari Ustadzah Husain daripada aku, Qian? Ingat, Ustadz Husain telah di jodohkan dengan Anjani, kamu bisa apa?" kesal Fathan.
Mendengar itu membuat Qianzy semakin kesal, ia mendorong keras tubuh Fathan dan meminta Ustadzah Rani segera mengantarnya ke ruang kesehatan.
________
Ustadzah Rani dengan telaten membersihkan darah yang ada di lukanya kaki Qianzy dengan lembut. Sedangkan pikiran Qianzy masih traveling ke seputar perkataan Fathan jika Husain telah dijodohkan dengan Anjani
"Mbak Qian, apakah ini sakit atau tidak? Mengapa kamu tidak ber-ekspresi ketika saya menuangkan alkohol di lukamu?" tanya Ustadzah Rani.
"Aku pengen pulang, Ustadzah--" jawab Qianzy tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba? Ada masalah apa?" lanjut Ustadzah Rani.
"Maafkan aku ustadzah," ucap Qianzy. "Aku hadir diantara hubungan kalian semua. Aku ingin Ustadzah menikah dengan kakakku, Mas Abid. Dan aku sepertinya juga menyukai Ustad Husain," Lirih Qianzy.
__ADS_1
"Tapi dia sudah di jodohkan dengan Anjani. Lalu, orang tua mereka pasti juga sudah mengatur semuanya dengan baik. Jika aku tidak bisa mendapatkan Ustadz Husain, maukah Ustadzah menikah dengan, Mas Abid-ku?"
Pertanyaan Qianzy membuat Ustadzah Rani tercengang, lalu menghela nafas panjang. Keadaan yang memaksa Ustadzah Rani harus menerima perjodohan itu. Bukan karena kehadiran Qianzy ke pesantren.
"Mbak Qian, sebenarnya saya nggak paham apa yang Mbak Qian omongin ini?" tanya Ustadzah Rabi.
"Jika masalah perjodohan antara Ustadz Husain dengan Anjani, memang sudah ditetapkan sejak dahulu. Tapi Ustadz Husain belum memberi keputusan. Sedangkan saya dengan Kyai ... Itu mana mungkin!" jelasnya.
Beberapa tahun lalu, Anjani dan Husain memang sudah di jodohkan. Tapi, Husain belum memberikan keputusan resmi tentang perjodohan tersebut. Selama itu, hanya Anjani yang terus maju, namun tidak dengan Husain.
"Jadi, Ustadzah Rani memang tidak bisa nikah sama Mas Abid?" tanya Qianzy.
Ustadzah Rani menggeleng dengan senyuman.
"Padahal aku ingin banget Ustadzah Rani bisa menikah dengan Mas Abid. Ustazah sangat baik padaku, aku pikir Ustadzah adalah wanita yang cocok dengan Masku," Qianzy kecewa.
Hal yang mengganjal dalam hati Qianzy saat itu, membuatnya malas bertemu dengan Husain. Padahal, memang sejak awal Qianzy tahu bahwa Anjani adalah gadis yang sudah di jodohkan dengan Husain. Sehingga ia memilih untuk membolos belajar ketika Husain sudah menunggunya di tempat belajar seperti biasa.
Qianzy masuk kembali ke kamarnya setelah lukanya di perban oleh Ustadzah Rani. Pikirannya sedang kacau, gelisah dan merana.
"Aku kan sudah tahu kalau Ustadz Husein itu telah dijodohin sama Anjani. Tapi kenapa hatiku rasanya sakit banget, ya? Bukankah kemarin-kemarin masih bisa biasa saja, ya?"
Rasa sakit itu bahkan dapat Qianzy rasakan sampai di paling hatinya. Awalnya, hanya ingin membalas dendam kepada Anjani, dengan menerima lamaran Husain. Namun Qianzy tidak tahu, bahwa hatinya telah terpikat dengan Husain.
Ia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Memeluk potret kedua orang tua angkatnya. Kemudian terlelap menuju ke alam mimpi. Tak terasa ia bangun di waktu ashar dan melewatkan salat dzuhur dan ashar.
Tring …!!
Bunyi alarm terdengar nyaring di telinganya. Karena saat itu, ia sedang memakai handset agar tidurnya nyenyak. Posisi, Abid memang jarang sekali di rumah.
"Woy, haih. Alarm bunyi? Jam berapa ini? sepertinya di luar masih terang eh," gumamnya sembari melihat layar ponselnya.
"16.02? Heh, jam 4 lebih? Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? Pasti Ustadzah Fitri dan Ustadz Husain akan marah sama aku karena bolos belajar,"
"No! Aku harus keluar dan segera mandi."
Waktunya sangat mepet, semua santriwati sudah mulai mengaji setelah salat ashar. Qianzy segera salat ashar sendirian di aula. dengan mata yang terus mengamati, Ustadzah Fitri sudah memasang wajah yang menyeramkan.
"Mampus! Asli, setelah ini pasti aku kena hukuman! Kampret memang! Bener-bener dah, mampus!" umpat Qianzy dalam hati.
__ADS_1