
Ketika Qianzy keluar dari kamarnya, dia sudah bersiap hendak pergi ke kampus. Dia ke dapur untuk membuat sarapan. Melihat tudung saji yang tengkurap di atas meja, membuat Qianzy penasaran dan membuka tutup saji tersebut.
"Apa ini?" gumamnya.
Di dalam tutup saji tersebut, terdapat satu mangkok bubur, sambal goreng dan juga gorengan tempe mendoan yang terlihat begitu menggoda. Tak lupa di sisi mangkuk bubur itu ada secarik kertas yang bertuliskan,
'Maaf, tadi Mas sudah membuatmu marah dan mungkin membuat awal pagimu tidak baik. Ada bubur di atas meja yang sudah emas tutup menggunakan tutup saji. Dimakan, ya, masakan itu dari Mas, tapi yang masak Husain. Jadi jika kamu ingin protes-protes saja kepada Husain.'
Qianzy tersenyum tipis. Tak ingin membuang-buang makanan, akhirnya Qianzy duduk dan makan dengan tenang. Sebelumnya, Qianzy berdoa lebih dulu. Setelah itu, barulah menyuap dan merasakan makanan yang tersaji di sana.
Meski tidak masuk dalam kategori masakan enak, tetap saja bubur dan juga mendoan yang dewasa oleh Husein, Qianzy makan sampai habis. Bahkan, Qianzy juga sekalian mencuci mangkuk dan piring yang kotor.
"Makanan apa ini? Lumayan lah, masih enakndi makan juga. Daripada repot masak atau pergi ke dapur umum, lebih baik ya makan apa adanya aja," celetuknya.
Setelah itu, Qianzy bersiap pergi ke kampus. Mengambil tas, menyiapkan dompetnya dan juga buku yang harus dia bawa. Dia keluar sembari merapikan jilbabnya. Saat keluar, ia terkejut melihat Kakaknya dan Husain masih di luar.
"Kalian kenapa seperti itu? Mana berdiri deket begitu mirip anak si Lusi janda sebelah," celetuk Qianzy.
"Astaghfirullah hal'adzim, kamu tau Lusi dari mana?" tanya Abid.
"Noh, Ustadz Husain," tunjuk Qianzy. "Bahkan dia juga bilang kalau Lusi sampai menikah beberapa kali, dan katanya mau di jodohkan dengan Mas Abid," lanjut Qianzy jujur.
Abid langsung menatap Husain. "Kamu mengajari apa dengan adikku? Gibahin tetangga yang sudah jadi janda beberapa kali?" tanyanya.
"Astaghfirullah hal'adzim, mana ada, Mas? Bukan begitu, saya dan Qian waktu itu menolong Mbak Lusi, dan dia … dia cerita saja tentang pengalaman hidupnya," jawab Husain menundukkan kepalanya.
"Hish, kalian ini! Kenapa kelakuan kalian jadi aneh begini, sih?" tanya Qianzy mulai kesal. "Itu apa pula yang ada di belakang kalian, ha?" Qianzy benar-benar kesal.
Benda yang ada di belakang Husain dan juga Abid adalah sebuah motor untuk Qianzy yang dibeli oleh Husein menggunakan uang Abid.
"Motor? Untuk apa kalian memberiku motor?" tanya Qianzy.
__ADS_1
"Ini Husein yang membelikannya untukmu," jawab Abid.
Merasa tidak merasa membeli, Husain pun mengelak. "Lah, bukankah itu Mas Abid kemarin yang beli? Kok, jadi saya yang beli?" protesnya.
Abid melirik kearah Husain lagi. Mereka berdebat lagi hanya karena siapa diantara mereka yang membeli motor tersebut. Hal itu membuat Qianzy semakin kesal.
"CUKUP!"
Qianzy sampai berteriak karena keributan itu.
"Lain kali, kalau briefing harusnya lebih diperhatikan lagi apa misi kalian. Supaya, ketika bertemu denganku disini, saat ini, detik ini juga, kalian tetap kompak, epribadeh. Makanya, harusnya sih briefingnya lancar," celetuk Qianzy.
Husain dan Abid sama-sama diam. Melihat Qianzy kesal lagi membuat keduanya sedih. Merasa jika semua yang diberikan mereka, tidak memenuhi kualifikasi Qianzy Tabitha.
"Ini, Mas belikan kamu motor, supaya bisa kamu kendarai sendiri ke kampus. Takutnya nanti jika Ustadzah Rani sibuk di pagi hari, malah tidak bisa mengantarmu," ucap Abid
"Jika nanti kamu harus ke kampus cepat-cepat, jadi nggak usah nunggu Ustadzah Rani lagi atau nunggu Ustadz Husain untuk mengantar kamu," lanjut Abid.
"Benar, lagipula jika kamu bergantung dengan Mas Abid, kadang Mas Abi harus siap-siap di pagi hari mengajar santri di pesantren juga," timpal Husain.
"Sebenarnya aku tidak ingin menolak, Mas. Mas belikan aku motor seperti ini, juga pasti sudah dipikir matang-matang," jawab Qianzy sedikit tidak enak hati.
"Aku suka motornya, Aku juga suka … bahagialah Mas Abid baik banget memberikan aku sebuah motor, dan aku sangat berterima kasih atas motor ini," lanjut Qianzy.
"Masalahnya, aku punyanya surat izin mengemudi kendaraan roda empat, Mas. Um, aku nggak ada surat izin kendaraan roda dua," tukas Qianzy sedikit menyesal.
Suasana berubah menjadi canggung tiba-tiba. Tak lama kemudian datanglah Ustadzah Rani dan Hikmah untuk menjemput dan mengantar Qianzy ke kampus.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Wacalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
__ADS_1
"Wah, ada apa ini? Loh, Kyai belum berangkat? Lalu, Ustadz Husain juga belum pergi mengajar? Sedang apa kalian di sini?" sapa Ustadzah Rani.
Kedua pria dewasa itu diam saja. Mereka bingung mau menjawab pertanyaan Ustadzah Rani bagaimana. Sebelum bisa menjawab, Qianzy keburu pamit dengan kakaknya dengan mencium tangannya.
"Sudahlah, aku pamit saja. Ustadzah Rani juga sudah datang. Motornya taruh di dalam saja, besok aku akan urus surat izinnya," ucap Qianzy.
"Ah, satu hal lagi. Lain kali, jika kalian berdua tidak bisa memasak, jangan lagi, ya. Alangkah baiknya jika kalian belajar dulu memasak sebelum meminta seseorang untuk makan masakan," lanjut Qianzy.
"Jujur, bubur ayam, sambal dan tempe mendoan di atas meja itu masih bisa dimakan. Tapi, setiap rasanya hanya ada satu rasa. Mana ada sambal manis? Bibirnya juga hambat, mendoan juga asin doang, bisakah kalian masak lebih baik lagi sebelum memintaku mencobanya?"
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh! Ayo, Ustadzah Rani, Hikmah, kita berangkat!"
Qianzy pergi begitu saja setelah mengomel. Tapi memang benar apa yang dikatakan oleh Qianzy.
"Kenapa dia terlalu ceplas-ceplos? Apakah dia tidak tahu, jika nantinya akan ada hati yang terluka dengan ucapannya itu?" gumam Abid.
"Mas Abid, sudahlah. Mas yang sabar, ya. Saya tak kembali ke pesantren dulu. Malu saya tidak bisa memasak malah dipaksa memasak," ujar Husain menyentuh bahu Abid.
"Apa?" ketus Abid.
"Wabillahit taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, kabur--"
"Wa'alaikumsallam, Husain! Ustadz Husain!" teriak Abid.
Meninggalkan kekonyolan Abid dan Husain di pagi hari, Qianzy malah masih kesal dengan paginya. Di hukum setelah shalat subuh, makan bubur yang rasanya kurang masuk dan melihat dia pria penting baginya sedang berbuat konyol.
"Mereka berdua ini kenapa ya? Sampai membuatkan aku sarapan dan membelikan aku motor? Makin dibuat takut deh sama kelakuan random mereka," Qianzy bergumam dalam hati.
"Qian, ada apa?" Ustadzah Rani.
Qianzy menatap Ustadzah Rani lekat-lekat. Saat itu, mereka sedang ada di dalam taksi. Kemudian, Qianzy tiba-tiba saja bertanya, "Um, Ustadzah Rani mau nggak jadi kakak ipar aku?"
__ADS_1
DEG!
Pertanyaan yang membuat Ustadzah Rani dan Hikmah menjadi membelakkan mata. Apa jawaban ustadzah Rani?