
"Itu tandanya mbak Qian cemburu. Kalau suka, bilang saja suka. Kenapa pura-pura tidak peduli seperti itu? Ustadz Husain hilang nanti, barulah menyesal!" celetuk Muslih yang baru saja mendengar gumaman Qianzy.
"Tahu apa, sih, kamu! Emangnya kamu pernah suka atau jatuh cinta itu sama orang lain?" ketus Qianzy.
"Halah, dibilangin ngeyel banget," sahut Muslih, duduk di sebelah Qianzy. Mbak Qianzy ini suka, kan, sama ustadz Husain? Ngaku saja lah! Ungkapkan ngono, loh! Bukankah waktu itu, ustadz Husain pernah ajak mbak Qianzy serius, ya?" lanjutnya.
"Kenapa nggak mbak Qianzy pikirkan saja? Mau permen?" Muslih menawarkan Qianzy permen rasa cerry kesukaannya.
Qianzy hanya diam saja. Tatapannya terus ke arah lurus memandangi hal yang tidak pasti. Hantunya terus berdebar, perasaannya sungguh tidak tenang. Membuatnya terlihat gelisah.
"Cinta itu memang tidak tahu kapan datangnya, mbak. Tapi aku yakin, kalau mbak Qianzy ini memang menyukai ustadz Husain," lanjut Muslih dengan percaya diri.
"Sok tahu kamu. Siapa juga yang suka dengan ustadz Husain," Qianzy masih menyangkalnya.
"Halah, masih saja begitu. Hmm, sudahlah. Aku mau pergi dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," pamit Muslih, meninggalkan Qianzy dengan kegelisahannya.
Lagi-lagi Qianzy hanya diam saja. Dia tidak ingin memikirkan hal yang seharusnya belum ia pikirkan. Masuk di fakultas yang tidak sesuai dengannya, membuatnya pusing. Apalagi, saat ini harus memikirkan kegelisahan yang dirinya saja belum tahu mengapa.
"Huft, ternyata menuju dewasa itu tidak enak. Banyak yang harus dipikirkan juga! Bagaimana bisa aku menghadapi dunia dewasa nanti, ya?" gumam Qianzy, merebahkan tubuhnya di sembarang tempat.
Dengan hitungan detik, Qianzy pun terlelap. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan kedua orang tua angkatnya. Di sana, kedua orang tua angkatnya tersenyum manis, seolah memberikan semangat kepada Qianzy. Mimpi itu perlahan pudar dan membuat tidur Qianzy nyenyak.
Di tempat lain, ustadz Husain yang baru saja pulang, melihat ustadzah Rani tengah memasukkan beberapa tas dan koper ke mobil. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam ustadz Husain menyapa ustadzah Rani.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," sahut ustadzah Rani sedikit terkejut.
BRUAK!
Koper yang ukurannya lumayan besar itu terjatuh mengenai kakinya sendiri. "Aduh—" desisnya.
"Eh, ustadzah. Anda baik-baik saja? Pasti sakit itu," rasa empati ustadz Husain memang terkadang terlihat beda artinya.
__ADS_1
"Tidak, saya tidak apa-apa, ustadz. Oh, iya ... Ustadz dari mana?" tanya ustadzah Rani basa-basi.
"Saya baru pulang dari toko pertanian. Ustadzah sendiri mau ke mana? Kok, bawa semua barang-barang begini? Segala koper dan tas besar di bawa?" tanya ustadz Husain kembali.
Ustadzah Rani tidak langsung menjawab. Tiba-tiba teringat dengan perkataan Qianzy beberapa waktu lalu yang mengetahui bahwa dirinya mengagumi ustadz Husain. Membuatnya menghela napas panjang, kemudian membuangnya secara perlahan.
"Ustadz, apakah ustadz tahu? Qianzy ...."
Begitu mengucapkan itu, ustadzah Rani langsung diam. Dia tidak tahu mengapa dirinya bisa mengucapkan itu. Itu sama saja dirinya mengadu. "Astaghfirullah hal'adzim, apa yang aku katakan?" batin ustadzah Rani.
"Qianzy kenapa, ustadzah?" tanya ustadz Husain.
"Um, tidak. Saya dengar dia tidak mau kuliah lagi. Coba kalau ustadz yang memberi nasihat. Siapa tahu, Qianzy mau mendengar nasihat anda, ustadz," jawab ustadzah Rani sedikit gugup.
"Itu sudah bukan ranah saya, ustadzah. Qianzy bukan siapa-siapa saya. Dia juga masih punya kakak yang masih berhak menasihatinya. Jadi, siapa saya?" kata ustadz Husain.
Dari sorot mata ustadz Husain juga terlihat sedih. Bagaimanapun juga, ustadz Husain ingin lebih hubungannya dengan Qianzy. Namun, Qianzy sendiri yang belum bisa di kejar.
"Tadi saya lihat dia ke arah sana. Mungkin ke mushola lama. Bukankah itu adalah tempat nongkrong dia?" jawab ustadzah Rani.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan coba menghampirinya. Siapa tahu, perkataan saya bisa direnungi oleh tuan putri kita," ustadz Husain sampai tertawa kala menyebut Qianzy dengan sebutan tuan putri.
"Iya, ustadz. Siapa tahu, wejangan dari ustadz bisa di dengar oleh Qianzy. Gadis itu memang sedikit sulit di atur. Tapi saya yakin, Qianzy bisa menjadi wanita yang hebat jika ustadz yang membimbingnya," ucap ustadzah Rani.
Sebenarnya, ustadz Husain sedikit ambigu dengan ucapan ustadzah Rani. Tapi, dirinya tidak mau berpikir jauh. Jadi, ustadz Husain pun langsung pamit untuk menemui Qianzy yang sedang meredam kegelisahannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, ustadzah," pamit ustadz Husain.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab ustadzah Rani lirih.
Kekaguman yang ustadzah Rani miliki kepada ustadz Husain, tidaklah dalam. Masih bisa ia kendalikan dan masih bisa bersikap biasa saja di kala bertemu. Ustadzah Rani sadar diri jika dirinya sudah mau menikah. Jadi, dia hanya bisa berdoa untuk ustadz Husain supaya bisa mengejar wanita yang disukainya.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Abid.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Um, Kyai," ustadzah Rani langsung menundukkan pandangannya.
"Saya tadi sengaja dengar percakapan kami dengan ustadz Husain. Qianzy buat ulah lagi, ya?" tanya Abid lagi.
"Hm, jika Qianzy tidak mau kuliah. Bukankah memang sudah wajar gadis seusianya sedang ingin mencari jati diri?" sahut ustadzah Rani.
"Dia maunya kerja. Tapi saya belum bisa memberikan izin jika dia mau bekerja. Saya hanya ingin dia belajar dan menuntut ilmu selagi masih muda dan sehat saja," ujar Abid dengan nada lirihnya.
Bagaimana tidak sedih. Amanah juga harus di lakukan oleh Abid untuk menjaga Qianzy dan mendidiknya dengan baik. Namun, memang membutuhkan waktu untuk Abid supaya bisa dipercaya oleh Qianzy.
***
Setibanya di mushola kecil tersebut, ustadz Husain dengan di temani oleh Hikmah melihat Qianzy yang masih nyaman tidur di sana. Monica juga ada bersama mereka.
"Buset, nih anak. Gaya tidurnya sejak dulu tidak berubah. Bakat tidur di tempat seperti ini pun bisa nyenyak seperti itu? Huh, memang agak lain ini anak," gumam Monica sampai heran.
"Tapi saya pernah tidur satu kamar dengan mbak Qianzy. Kok, tidurnya tidak seperti ini, ya? Anggun dan cantik gitu," sahut Hikmah polos.
Ustadz Husain tersenyum melihat pose tidur Qianzy yang mungkin memang beda dadi yang lain. "Hikmah, kamu bangunkan dia. Ini juga sudah mendekati waktu dzuhur," pintanya.
"Baik, ustadz," jawab Hikmah.
"Heh, yakin mau bangunkan dia? Kalau gitu, aku mundur deh!" seru Monica.
"Memangnya kenapa? Selama setengah tahun tinggal di sini, mbak Qianzy tidak pernah ada masalah ketika bangun tidur," jelas Hikmah.
"Iya, bangunkan saja. Aku juga tidak bilang kalau dia bermasalah ketika bangun tidur, bukan? Ayo, bangunkan!" sahut Monica dengan senyuman yang mencurigakan.
Hikmah pun melepas sandalnya dan mendekati Qianzy. Kemudian, membangunkannya dengan pelan. Qianzy yang baru saja memejamkan mata langsung menendang Hikmah sampai Hikmah terjungkal. Melihat itu, ustadz Husain langsung memalingkan pandangannya dengan membalikkan tubuhnya. Menghindari melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
__ADS_1