Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Memendam Rasa


__ADS_3

"Qian, kamu masih ngantuk? Atau lelah karena di hukum oleh Ustadzah Ratih tadi? Kalau iya, kamu tiduran saja dulu, nanti saya akan bangunkan kamu, jika sudah sampai di kampus," ucap Ustadzah Rani sedikit gugup.


"Aku tidak ngatuk," jawab Qian. "Aku masih sadar dengan apa yang aku pertanyakan," lanjutnya. "Apa Ustadzah mau, jadi kakak ipar aku?" tanyanya lagi.


"Haduh, Mbak Qianzy ini selalu saja cari masalah. Masa iya, Ustadzah Rani jawab iya. Meskipun benar ustadzah Rani suka dengan Kyai, mereka pasti tidak bisa bersatu lah! Orang Ustadzah Rani aja udah punya calon," batin Hikmah. 


Qianzy masih menatap Ustadzah Rani dengan tatapan yang dalam. Berharap Ustadzah Rani jawab sesuai dengan apa yang ia harapkan. 


"Aku melamar Ustadzah Rani untuk Mas Abid. Aku nggak tahu lagi sampai kapan aku hidup dan aku juga nggak tau lagi ... aku akan seperti apa ke depannya. Aku hanya ingin Mas Abid bahagia dan mendapatkan pasangan hidup yang baik seperti Ustadzah Rani," lanjut Qianzy.


"Apa Ustadzah Rani menerima lamaranku?" sambungnya. 


Ustadzah Rani benar-benar tidak bisa bicara apapun. Semua orang yang ada di pesantren sudah tahu jika dirinya telah memiliki calon suami. Meskipun Ustadzah Rani menyukai Abid bukan berarti dia juga harus menerima lamaran adiknya. 


"Qian, apa kamu tahu apa yang kamu katakan ini?" tanya Ustadzah Rani.


"Sangat!" jawab Qianzy.


"Ustadzah, aku sangat tahu dan aku sadar dengan apa yang aku katakan ini. Aku hanya ingin lihat kakakku bahagia, dan itu pasti Ustadzah Rani bisa melakukannya," celetuk Qianzy yakin.


Ustadzah Rani melihat bagaimana harapan itu ada dalam mata Qianzy. Tak ingin memberinya harapan palsu, Ustadzah Rani menegaskan sekali lagi bahwa dirinya telah memiliki calon suami. 


"Qianzy, dengar!"


"Saya, sudah memiliki calon suami. Jadi tidak mungkin kalau saya harus menikah dengan Kyai," terang Ustadzah Rani.


"Ustadzah tahu, sebelum ada janur kuning melengkung dan kata sah dari penghulu, Ustadzah Rani belum dimiliki siapapun. Kecuali Tuhan dan keluarga ustadzah. Apakah kakakku tidak masuk kalifikasi menjadi suamimu?" Qianzy masih berharap.


Air matanya menetes setiap menyebut kakaknya. Begitu sayangnya dia kepada kakaknya itu. Berpikir sebelumnya bahwa dirinya akan hidup sendirian dan sebatang kara, rupanya Qianzy memiliki seorang kakak dan dia tidak ingin kehilangan harta yang paling berharganya itu.


"Qianzy mengertilah. Perjodohan antara saya dengan calon suami saya itu sudah ditetapkan jauh-jauh hari sebelum Ayah kamu meninggal. Memang, waktu itu saya pun tidak mengerti apa itu sebuah pernikahan di atas perjodohan," ungkap Ustadzah Rani.


"MasyaAllah, Kyai sangat baik. Mungkin banyak sekali ukhti di pesantren dan dilarang sana seperti Ustadzah Ratih, mungkin juga Hikmah,  itu juga mendambakan sosok suami seperti Kyai Abid," sambungnya.


"Saya tidak ingin bermimpi setinggi itu Qianzy. Saya sudah memiliki calon suami dan saya tidak bisa menerima lamaran kamu. Maafkan saya." tukas Ustadzah Rani dengan sedikit menyesal. 


Qianzy hanya diam menatap Ustadzah Rani. Bukan memaksa, tapi dia memiliki feeling jika Ustadzah Rani dan kakaknya pasti memiliki perasaan satu sama lain dan mereka harus pendam sendiri karena ada dinding perjodohan dengan orang lain. 

__ADS_1


"Oke, pendam sendiri saja perasaan kalian. Pulang nanti, Ustadzah tidak perlu menjemputku. Hikmah juga, jika kamu sudah selesai, kamu bisa pulang duluan. Assalamu'alaikum!"


Kebetulan sekali sudah sampai di depan kampus. Qianzy langsung keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"


"Ustadzah, dia marah?" tanya Hikmah. 


"Iya, dia marah. Tapi tidak masalah, amarahnya tidak pernah berlangsung lama. Kamu bisa awasi dia saat di kampus, lakukan apa yang dia inginkan. Selesai nanti, kamu langsung pulang, ya ...," jawab Ustadzah Rani dengan lembut.


Hikmah mengangguk. "Assalamu'alaikum, Ustadzah,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," 


"Kita kembali ke pesantren, ya, Pak,"


"Iya, Mbak." 


Ustadzah Rani menatap langkah Qianzy yang terkesan terburu-buru masuk ke kampus. Kemudian, menyentuh tasbih digitalnya dan kembali beristighfar. 


"Kamu bahkan tahu apa yang saya rasakan kepada Kyai Abid, Qianzy. Tapi kenapa kamu juga tidak paham dengan kenyataannya yang sudah ada, jika saya dan Kyai Abid tidak mungkin bersama,-" 


****


***


"Menyebalkan! Udah tau saling suka, aku juga sudah mendukung hubungan mereka. Kenapa ego mereka masih tinggi? Nggak Mas Abid, nggak Ustadzah Rani, nggak mau berjuang!" Qianzy kesal. 


Ia duduk di samping taman kampus sebelum kelas di mulai. Datanglah Hikmah dengan langkah yang pelan.


"Ngapain kamu kemari? Kelasmu di jauh sana, untuk apa kamu datang kemari?" ketus Qianzy. 


"Mbak Qian, aku cuma bilang, kalau tentang Ustadzah Rani dan Kyai, Ndak usah Mbak ikut pusing. Bukankah, itu--"


"Apa?" sulut Qianzy menyela ucapan Hikmah. 


"Ndak jadi, aku tak ke kelas dulu. Assalamu'alaikum," setelah pamit, Hikmah pergi begitu saja. 

__ADS_1


"Wa'alaikumsallam!"


Qianzy masuk ke kelasnya. Duduk dengan tenang dan mengamati arlojinya menunggu dosennya datang. Masih berpikir bagaimana cara untuk menyatukan Ustadzah Rani dengan kakaknya suatu hari nanti. 


***


***


Kelas selesai, Qianzy pergi ke kantin hendak mengisi perutnya. Ketika berjalan ke kantin, dia bertemu dengan Andreas. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin. 


Namun, ketika berbalik badan, Andreas melihatnya dan memanggil namanya. 


"Qian!" panggilnya.


"Hash, dia lagi. Itu sangat menyebalkan! Bisa sawan kalau ketemu dia," umpat Qianzy. 


"Hey, Sayang. Kamu mau kemana? Makan yuk!" ajak Andreas mendekatinya. 


Qianzy membalikkan tubuhnya dan kini menghadap mantan kekasihnya itu. Dengan senyum terpaksa, Qianzy menolak halus.


"Terima kasih, tapi gue sudah kenyang," tolaknya. 


"Yah, padahal hari ini aku mau traktir," ucap Andreas.


"Cih, traktir. Sejak kapan lu punya duit lebih? Biasanya gue mulu yang traktir lu waktu itu. Sudahlah, gue belum miskin sampai lu harus traktir gue, minggir lu!" 


Crazy mendorong kecil Andreas dan pergi meninggalkannya ke kantin. Seperti biasa, makan siang Qianzy tidak banyak. Dia hanya membeli roti dan teh kotak saja untuk ganjel perutnya sebelum dia pulang dan makan di rumah. 


"Sayang, kenapa kamu hanya makan roti? Bagaimana jika aku belikan kamu bakso?" Andreas masih belum menyerah. Dia duduk di depan Qianzy dan duduk sangat dekat.


"Lu pengen gue gendut? Jauh-jauh kek! Deket banget, nggak nyaman tau!" ketus Qianzy.


"Sayang--" 


"Berhenti panggil gue sayang!" tegas Qianzy menujuk wajah Andreas. "Kita udah mulai dewasa, ya. Lu tau kalau kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Kenapa lu masih manggil gue sayang? Asal lu tau, itu buat gue nggak nyaman, itu hanya akan membuat semua orang salah paham kepada  kita," lanjutnya.


"Mending, lu jauh-jauh deh dari gue. Ngeselin!" 

__ADS_1


Sebelum Qianzy pergi, Anjani sudah memotret mereka berdua. Saat itu, Andreas sengata mendekat ke wajah Qianzy supaya terlihat sangat intim di foto. Mereka bersekongkol ingin memisahkan Qianzy dengan Husain. Padahal, keduanya memang belum memiliki hubungan yang jelas. 


__ADS_2