
Sampai saat itu, rasa yang dimiliki Husain memang masih belum terbalas. Prinsip Qianzy hanya satu saat itu, yaitu mendekatkan diri kepada Kakaknya dan mulai belajar agama yang dianut oleh seluruh keluarga besarnya.
Membesarkan namanya, dan mengurus pesantren bersama kakaknya, adalah keinginannya saat itu. Tak ada ruang waktu mengurus kisah cinta dalam dirinya.
"Ini kelasnya, apa Mbak Qian yakin kalau Ustadz Husain belum sarapan?" bisik Hikmah.
"Aku tidak peduli itu. Selebihnya, yang aku lakukan ini hanya untuk berterima kasih padanya. Kenapa? Apa aku salah?" Qianzy masih saja memasang wajah juteknya.
"Ndak, sih. Ya sudah ayo kita ketuk pintunya," sahut Hikmah semangat.
Bagaimana tidak, Hikmah juga salah satu dari santri yang mengagumi seorang Husain di sana. Ketika Mereka hendak mengetuk, datanglah seorang lelaki yang menyapa mereka.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Hikmah terkejut. "Mas Fathan," sambung Hikmah dengan segera memalingkan wajahnya karena malu.
"Dih, ngapa nih bocah? Santri sih, tapi kenapa begini?" batin Qianzy menyeritkan alisnya.
"Ada perlu apa kalian datang ke sini? Apa, ada keperluan dengan Ustad Husain?" tanya Fathan.
"Iya, kamu bisa tolong panggilkan dia? Saya yang ada perlu dengannya," sahut Qianzy.
Melihat Qianzy, Fathan ini sedikit langsung tertarik. Pesona Qianzy memang berbeda meski dirinya belum menjadi seorang muslimah. Bahkan tiga serangkai Rudi, Muslih dan juga Romli saja selalu susah untuk menolak kehadirannya.
Fathan Muzzamil ini berusia 23 tahun. Seorang santri dari sejak dirinya berusia 7 tahun di pesantren itu. Orang tua Fathan seorang pengusaha juga dan terpandang. Meski begitu, pandangan masyarakat tidak jauh tinggi dari keluarga Husain.
"Kamu--" Fathan mencoba berkenalan.
"Saya nggak penting bagi siapapun. Tolong kamu panggilkan saja Ustadz Mu … Ustadz Husain, kesini, tolong …." pinta Qianzy dengan nada bicara ketus.
"Baiklah, tunggu sebentar," Lagi-lagi, Fathan ikut tidak bisa menolaknya.
Dipanggil lah Husain oleh Fathan. Mendengar Qianzy yang mencarinya, Husain langsung menghentikan pelajarannya sebentar.
"Sebentar, ya. Kalian lanjut baca materi berikutnya saja, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Segera Husain melangkah keluar kelas dan menemui Qianzy yang saat itu membawa rantang imutnya di tangannya.
__ADS_1
"Qian, kamu di sini? Cari saya ada perlu apa?" tanya Husain.
"Sebenarnya gue nggak ada perlu apa pun, sih?" ujar Qianzy dengan nada sedikit manja seperti dirinya berkata dengan Abid.
"Tapi karena tadi pagi lu udah bawain bubur ayam, dan mengingatkan gue dengan Mas Abid, jadi gue bawa ini buat lu. Ya itung-itung bentuk terima kasih lah, karena lu udah bawain sarapan buat gue," jelas Qianzy memberikan rantangnya.
"Lagian, bubur miliki lu itu nggak lu makan, 'kan? Makan ini, buat ganjel perut lu sampai siang nanti. Itu gue yang masak, enak di makan syukur, nggak enak di makan ya udah, buang aja. Gue pergi, assalamu'alaikum!" tukas Qianzy pergi begitu saja.
"Assalamu'alaikum, Ustadz, Mas Fathan," salam Hikmah mengikuti Qianzy pergi.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Fathan masih nge-lag saat Qianzy menggunakan bahasa lu gue dengan Ustad Husain yang terkenal dengan ketegasan dan ditakuti oleh para santri. "Dingin banget dia. Siapa sih dia, Ustadz?" tanya Fathan.
"Namanya Qianzy, adiknya Kyai yang baru saja kembali," jawab Husain kembali ke kelasnya.
"Tunggu, Ustadz. Adik Kyai yang selalu di bicarakan itu? Yang diadopsi oleh orang lain dan tinggal di Kota besar?" lanjut Fathan.
Husain menatap Fathan dengan tatapan sinisnya. "Kamu mau dihukum dengan cara seperti apa, Fathan? Bukankah kelas olahragamu sedang berlangsung?"
"Um, iya. Assalamu'alaikum, Ustadz," Fathan ngacir begitu saja.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Kisah lima tahun lalu ini sangat sederhana. Saat itu, Husain dan Abid baru saja berhasil menemukan keberadaan Qianzy dan keluarganya di Ibu Kota.
Tarik matahari siang itu membuat Qianzy yang berusia 14 tahun sedang keluar dari sekolahnya menunggu jemputan. Terlihat jelas jika dirinya sedang menunggu seseorang di depan gerbang.
"Hih, Mbak Lia mana, sih? Lama banget deh jemput aku!" sulut Qianzy. "Mana haus pula!"
Saking sibuknya orang tua angkat Qianzy dulu, Qianzy jarang mendapat kasih sayang secara langsung dari mereka. Qianzy jarang sekali jarang bertiga bersama orang tua angkatnya
Saat itu, Qianzy tengah kehausan, ia membeli sebotol air mineral. Ketika hendak meminumnya, ada seorang anak kecil yang terus memperhatikannya sampai Qianzy tidak nyaman.
"Adek mau minum?" tanya Qianzy.
Bukan menjawab iya atau tidak, anak kecil itu malah menangis kencang. Hal itu membuat Qianzy merasa bersalah karena tidak tahu keinginan anak kecil tersebut.
"Ibu, itu anaknya kenapa?" tanya Qianzy.
__ADS_1
"Maaf, jika anak saya mengganggu, Dek," ujar Ibu itu.
"Eh, tidak begitu. Ibu, anaknya kenapa nangis. Astaga ... badannya panas loh, ayo segera bawa anaknya ke rumah sakit, Buk!" seru Qianzy yang saat itu iseng menyentuh anak kecil tersebut.
Kala itu, Husain sedang membawa beberapa untuk di kirim ke Ibu kota. Parkir tepat di bahu jalan depan sekolah. Saat itu, Husain sedang tadarus Al-Qur'an di dalam mobil, sementara Abid sedang salat di masjid yang tak jauh dari tempat itu.
"Mas, bisa bantu aku, nggak? Bisa lah, bisa dong. Cepat Ibu masuk dan kita akan bawa anaknya ke rumah sakit!" seru Qianzy meminta ibu dan anak kecil itu masuk ke dalam mobil.
"Maaf, ini ada apa, ya?" tanya Husain, saat itu Husain berusia 21 tahun.
"Nggak usah banyak nanya. Nanti saja tanyanya, aku harus bawa anak dari Ibu ini ke rumah sakit karena anaknya demam," Qianzy masih ngeyel ingin membawa anak kecil itu ke rumah sakit.
"Ibu di belakang saja, Nak. Tidak apa-apa, kok,"
Ibu dari anak kecil itu terus menolak untuk diantar kerumah sakit. Namun, Qianzy tidak mendengar penolakan tersebut dan terus memaksa sang Ibu membawa anaknya periksa.
"Kenapa? Soal biaya? Tenang saja, saya yang pikirkan. Yang penting anak Ibu sembuh, kasihan loh, Ibu!" tegas Qianzy.
Ibu itu akhirnya mau, tapi memilih untuk duduk bak belakang. Husain terus di desak untuk mengantar Ibu dan anak itu.
"Sebentar, saya telpon dulu orang yang bersama saya," Husain meminta Qianzy untuk menunggu agar dirinya bisa menghubungi Abid.
"Halah lama!" ketus Qianzy.
"Sini biar aku yang telpon. Mas nya nyetir saja, ada rumah sakit di dekat sini. Siapa nama di kontak yang akan Mas telpon?"
"Kyai Abid," jawab Husain dengan lirik.
"Buset, Kiyai? Harus pakai salam kah?" tanya Qianzy polos.
"Itu ... terserah kamu saja," Husain melirik ke pergelangan Qianzy yang memakai tali melingkar wana merah.
Segera Husain menyetir dengan tujuan sesuai permintaan Qianzy. Saat itu, Husain belum tahu jika Qianzy adalah gadis yang dicarinya bersama dengan Abid.
Yang lebih membuat Husain jatuh hati kepada Qianzy, saat menunggu anak itu diperiksa, Qianzy menjual beberapa anting dan kalungnya untuk menebus obat dan sisa uangnya diberikan kepada Ibu yang kurang mampu tersebut.
Saat itu, Husain sendiri yang mengantar Qianzy menjual perhiasannya. "Kamu menjual perhiasan begini, apa orang tua kamu ndak marah, to?" tanya Husain.
"Kesehatan anak itu jauh lebih penting. Perut Ibu dan anak itu juga jauh lebih penting. Nanti aku bisa beli lagi," jawab Qianzy sibuk melepas cincin yang baru dibelikan oleh Ibu angkatnya seminggu yang lalu.
__ADS_1
Itulah kisah lima tahun lalu, yang membuat Husain memandang Qianzy sebagai gadis yang berbeda. Sampai pada akhirnya, Husain mengetahui bahwa Qianzy adalah adik dari Abid, Kyai di pesantren ia tinggal.