Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Ganjaran Ingkar Janji


__ADS_3

"Hikmah, usia kamu berapa?" tanya Qianzy. 


"18 tahun, Mbak. Tahun ini saya masih kelas tiga," jawab Hikmah.


"Kita ini kan seumuran, bisa nggak kalau panggil aku dengan sebutan namaku aja. Jujur, aku nggak suka dipanggil, mbak. Gimana kalau kamu manggil aku Qiqi atau Qian, gitu?" usul Qianzy. 


"Wah, ndak bisa itu e, Mbak. Secara Mbak Qianzy kamu adeknya Kyai, pemilik pesantren ini. Nanti tidak ada bedanya saya dengan Mbak, dong," tolak Hikmah. 


"Tapi di mata Tuhan, kita ini sama. Sama-sama manusia, hanya saja yang membedakan itu, kamu seorang santri, aku ada Kyai. Lagipula  yang Kyai kan kakak aku, bukan aku!" ketus Qianzy. 


Hikmah heran dengan Qianzy. Manusia, dimana Tuhannya memang tidak ada perbedaan, sama-sama diciptakan dari tanah dan pasti akan kembali ke tanah. Melihat Qianzy yang tidak sombong, membuat Hikmah semakin mengagumi gadis berusia 19 tahun itu.


Siang hari, Qianzy mengajak Hikmah membeli semua keperluan yang akan dipakai di aula santri putri. Saking semangatnya berbelanja, Qianzy sampai lupa jika dirinya harus pergi bersama Husain di sore hari. 


"Nanti setiap tiga hari sekali, kasur tipis itu di jemur, ya. Ganti karpet lantainya juga tiga hari sekali. Cuci bersih, dan jemur di bawah terik matahari," perintah Qianzy. 


"Baik, Mbak," jawab Hikmah. 


"Nanti biar Rudi, Muslih dan juga Romli yang ambil semuanya. Kita makan aja dulu," Qianzy masih memikirkan perut orang yang pergi bersamanya.


Ketika asik makan, Qianzy baru teringat dengan ucapan Husain. Itu juga karena Abid mengirim pesan untuknya segera pulang. 


"Mampus!" gerutu Qianzy menatap layar ponselnya. 


"Kenapa, Mbak? Apanya yang mati?" tanya Hikmah langsung panik. 


"Tadi pagi, Ustadz Mukidi bilang, kalau dia ada hal yang harus dikatakan kepada. Em, siang atau sore, sih? Aku lupa, weh! Mati udah aku!" Qianzy mulai cemas. 


"Lah terus gimana, dong, Mbak?" tanya Hikmah ikutan panik. 


"Bungkus saja makanan ini. Kamu bungkus, dan aku akan cari taksi dulu. Ini uangnya, jika ada kembalian, kasih aja ke penjualnya!" seru Qianzy segera keluar dari warung dan mencari taksi.


Dalam taksi saja, Qianzy merasa tidak tenang dan meminta supir taksi untuk mempercepat laju kendaraannya. 


"Mbak, sebenarnya ada apa, sih?" tanya Hikmah. 

__ADS_1


"Aku juga nggak tau dia kau apa. Tapi dia bilang antara siang atau sore, mau ada perlu sama aku," jawab Qianzy. 


"Ya terus, kenapa jika Mbak lupa? Jika itu penting, harusnya Ustadz siapa tadi?" tanya Hikmah. 


"Ustadz Mukidi,"


"Iya, Ustadz Mu …. Tunggu! Di pesantren kita mana ada nama Ustadz Mukidi, Mbak?"


"Diam! Nanti juga tau siapa Ustadz ini!" 


Sesampainya mereka di pesantren, Qianzy berusaha pulang dengan cara mengendap-endap. Menghindari bertemu dengan Husain agar tidak terkena omelannya. 


"Mbak, kenapa kita jalan seperti penjahat yang takut ketahuan gini, sih? Sebenarnya kita menghindari siapa?" tanya Hikam. 


"Astaga, Hikmah! Kamu bisa diem nggak, sih?" desis Qianzy kesal.


"Nanti aku jelasin dah! Yang penting … saat ini kita sudah harus sampai di rumah. Terus nanti aku bakal pura-pura tidur gitu. Biar si Ustadz Mukidi ini, kiranya emang aku ketiduran. Bukan malah jalan sama kamu beli ini, itu!" jelas Qianzy detail. 


"Sebenarnya … Ustadz Husain?" Hikmah terkejut saat Husain sudah ada dibelakang Qianzy. 


"Nah, dia itu si Ustadz Mukidi. Tumben kamu langsung nyambung. Sejak tadi kenapa nanya mulu, sih?" sulut Qianzy sambil garuk-garuk kepala. 


Mata Qianzy melotot, dirinya menyangka jika Hikmah sedang mengerjai dirinya. "Nggak lucu, Hikmah!" seru Qianzy menepuk bahu tenan barunya itu. 


"Hish, gaje banget dah!"


Qianzy menoleh, dan mendapati Husain sudah ada di belakangnya dengan berdiri tegap. Qianzy tersenyum bodoh dan say hai kepada Husain. "Hai," ucapnya. 


"Ada dua pilihan yang akan saya berikan. Minta dihukum atau mengharuskan Kakak kamu mengetahui jika kamu susah diatur seperti ini, Qianzy?" Husain mencoba memberi Qianzy pilihan agar Qianzy tidak lagi mengingkari janji yang telah dibuat. 


"Ustadz, saya pamit dulu. Mbak Qianzy, mari, Assalamu'alaikum," Nikmat berusaha kabur. Ia tidak ingin masalah semakin besar jika dirinya ada di sana. Tapi, Husain menahannya dengan alasan dirinya tidak ingin  berdua saja dengan Qianzy. 


"Ustadz, tapi kan aku nggak ada ucapan jani tadi pagi," elak Qianzy membela diri. "Aku cuman jawab baik atau ... Aku jawab apa yadi, ya?" gumam Qianzy mengingat ucapannya pagi tadi.


"Tapi yang kelas, aku nggak punya janji dengan Ustadz. Jadi, aku nggak harus dong menepati menemuimu. Ustadz marah sama aku, karena ustadz suka sama aku?" sulut Qianzy. 

__ADS_1


Husain tersentak. Hal yang ingin ia katakan bukanlah serius. Tapi, dirinya juga tidak tahu mengapa harus semarah itu saat Qianzy mengingkari janjinya. 


"Iya, saya suka sama kamu. Kenapa? Apakah saya berdosa jika saya menyukai kamu?" jawab Husain spontan. "Bukankah itu hak saya, mau suka atau tidak dengan seseorang?" imbuhnya. 


Itu memang bukan pertama kalinya seorang pria atau seorang laki-laki menyatakan suka kepada Qianzy. Tapi, yang dirasakan Qianzy saat itu berbeda. Dalam hatinya, seperti ada sesuatu yang membuatnya merasakan getaran hebat.


"Sakit lu!" tepis Qianzy meninggalkan Husain bersama Hikmah dengan menyenggol bahu Husain dengan keras. 


"Mbak Qianzy! Tunggu saya!" teriak Hikmah memanggilnya. "Assalamu'alaikum, Ustadz," imbuhnya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," 


Husain menepuk keningnya. Cinta pada pandangan pertama telah Husain alami kala memandang Qianzy untuk yang pertama kalinya. 


"Kenapa saya tidak bisa menahan diri? Harusnya saja tidak mengatakan itu. Atau nanti akan membuat suasana menjadi canggung saat menjalani tugas dari Mas Abid," Husain bergumam dengan menyalahkan dirinya sendiri. 


Saat hendak berjalan menuju rumahnya, tak sengaja Qianzy menabrak Ustadzah Rani yang saat membawa air panas baru saja mendidih untuk ia siram ke ayam yang baru saja di sembelih. 


"Aw, panas!" jerit Qianzy lengan dan kakinya terkena siraman air panas tersebut. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Mbak Qian. Ya Allah_" ucap Ustadzah Rani segera menaruh bekas air panas itu ke tanah. 


"Panas, huaaa ... Mami! Aku ingin Mami--" teriakan dan tangisan Qianzy terdengar oleh Husain. Segera Husain berlari dan melihat keadaan Qianzy saat itu. 


Husain melihat tangan dan kaki Qianzy yang memerah akibat siraman air panas yang baru saja mendidih itu. "Astaghfirullah hal'adzim. Ustadzah, ayo segera bawa ke puskesmas atau bidan setempat," ucapnya. 


Tak butuh waktu lama, Husain menyiapkan motor yang ada baiknya untuk membawa Qianzy berobat. 


"Buset, kenapa harus naik ini? Kan ada mobil," protes Qianzy masih nangis. 


"Tidak ada waktu lagi, Mbak Qianzy. Mobil harus di panasi lebih dulu. Kita bawa ini dulu, ya?" ucap Ustadzah Rani dengan kelembutan. 


"Ustadzah, saya akan menunggu di sini saja. Semoga Mbak Qianzy cepat sembuh," sahut Hikmah. 


"Ayo cepat. Atau tangannya akan semakin parah jika tidak segera dibawa berobat?" perintah Husain dengan tegas. 

__ADS_1


"Iya, bawel!" ketus Qianzy naik perlahan ke atas gerobak motor tersebut. 


Sepanjang perjalanan, Qianzy terus memanggil orang tua angkatnya dan juga sesekali memanggil Abid untuk segera pulang. Qianzy masih seperti anak kecil, ya karena dirinya adalah anak tunggal sebelumnya. Apapun selalu di turuti dan di bebaskan. 


__ADS_2