
Malam yang sunyi, sesekali Qianzy masih memikirkan ucapan Husain yang tiba-tiba mengajaknya beribadah. "Buset, dia ini kenapa?" gumamnya.
"Tiba-tiba ngajakin aku nikah. Serem amat dah! Syarat nikah orang muslim kan harus seiman, lah gue?"
"Ngadi-ngadi emang tuh, Ustadz. Hih, serem amat tiba-tiba ajakin nikah!"
Sepanjang malam, Qianzy tidak dapat tidur karena ucapan Husain tentang keinginannya itu. Tak bisa membuat mata Qianzy terpejam sebentar saja.
"Buset nih orang buat aku nggak bisa tidur aja!"
"Sial, sial, sial!"
Untuk melupakan perasaan kesalnya, semalaman hampir mau pagi Qianzy terus bermain game sampai ponselnya habis baterai. Ia baru terlelap di saat matanya lelah karena terus menatap layar dengan cahaya yang kurang di kamarnya.
"Mbak, Mbak Qianzy aku mau ke aula putri dulu, ya. Aku masih harus ngaji dan setor hapalan soalnya," pamit Hikmah sembari mengetuk pintu kamar Qianzy.
"Pergi saja. Segera kembali saat waktunya aku sarapan nanti, ya!" seru Qianzy.
"Iya, Mbak, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam!"
Qianzy kembali memejamkan mata, berusaha untuk tidur dengan nyenyak dengan tangan yang ia taruh di atas bantalnya. Bukan hanya itu saja, bahkan Qianzy juga menyediakan kipas sate, ketika dirinya merasakan panas perih pada lukanya..
****
Ketika waktu sarapan tiba, Qianzy belum menemukan adanya makanan di atas meja. Hikmah belum juga kembali dari pesantren. Membuat Qianzy harus menahan perut kosongnya dan berharap Hikmah datang.
"Ini sudah hampir jam tujuh. Kenapa Hikmah belum juga datang, ya?" gumam Qianzy.
"Apa aku masak sendiri saja, ya? Nggak parah juga lukaku, masih bisa menggunakan tangan yang lain, bukan?"
"Sebaiknya aku masak nasi dulu. Setelah itu goreng telur. Lumayan, kulkas Mas Abid selalu penuh makanan, jadi nggak bingung juga soal makan,"
Qianzy sangat beruntung memiliki kakak seperti Abid. Seorang kakak yang menyayangi dan menjadikannya ratu di rumahnya, meski pertemuan mereka batu seumur kerikil kali.
Di luar, rupanya Husain sudah datang membawakan bubur ayam sesuai dengan perintah Abid. Awalnya, Husain enggan untuk datang ke rumah, karena masalah kemarin malam, juga karena tidak ada yang menemaninya.
Namun, Abid tidak ingin adiknya sampai kelaparan. Abid memberikan kabar kepada Husain jika dirinya akan tiba sore nanti. Abid rela meninggalkan urusannya demi adiknya yang sedang sakit.
__ADS_1
Ketika Husain sudah sampai di depan rumah, ia mendengar teriakan Qianzy dari dalam. "Ah! Sialan!" teriak Qianzy.
"Qianzy!"
Segera Husain masuk ke dalam. Tak lupa mengucapkan salam, langsung mencari dimana Qianzy berada..
"Qianzy!"
"Kamu dimana?" tanya Husain dengan nada sedikit keras.
"Dapur!" sahut Qianzy.
Husain bergegas ke dapur, melihat Qianzy yang saat itu masih mengenakan baju tidur pendeknya membuatnya langsung berpaling.
"Kamu nggak papa?" tanya Husain.
"Kampret, bagaimana gue bisa baik-baik saja. Tanganku kecipratan minyak panas ini. Lu bantu gue napa!" kesal Qianzy.
"Bagaimana kalau kamu memakai baju lengan panjang dulu. Um, kamu memakai baju tidur potongan lengan, jadi aku--" ucapan Husain terhenti.
"Iya, tau! Ini tolong, dulu. Gue mau ke kamar ambil kain," Qianzy meletakkan sotil yang ia genggam.
Tak selang berapa lama, datanglah Hikmah membawa rantang untuk Qianzy. "Loh, Ustadz Husain? Assalamu'alaikum, Ustadz," salam Hikmah menundukkan kepalanya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu dari mana saja? Hampir saja Qianzy terluka lagi, sebaiknya jika kamu mau meninggalkan dia,
"Maaf, Ustadz. Saya tadi memang meninggalkan Mbak Qianzy terlalu lama. Saya akan menyiapkan semuanya," sesal Hikmah.
"Sudahlah, ini bubur dari saya. Jika Qianzy mau memakannya, Alhamdulillah. Tapi kalau tidak, kamu bisa makan sendiri daripada mubazir. Saya mau ke ruang baca dulu, assalamu'alaikum," pamit Husain.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Husain keluar dengan hati sedikit kecewa karena Hikmah datang. Namun, hal itu bukanlah kesalahan jika Hikmah datang.
"Kenapa aku kecewa? Harusnya aku senang karena Qianzy ada yang menemani. Andai Qianzy tau, jika aku sudah mengamatinya dari dia berusia 14 tahun, apakah dia akan semakin takut denganku?" batin Husain.
Qianzy keluar dari kamar, ke dapur dan melihat Hikmah di sana. Kemudian, ia menanyai Hikmah dimana Husain berada. "Dimana Ustadz Mukidi?" tanyanya.
"Sudah keluar, Mbak. Beliau hanya menyajikan bubur ini terus keluar," jawab Hikmah.
__ADS_1
"Saya dengar dari Ustadz Husain, Mbak Qianzy kecipratan minyak panas, ya? Maafkan saya telah meninggalkan Mbak agak lama," ucap Hikmah menundukkan kepala lagi.
"Pasti dia dimarahi olehnya. Apa sih maksudnya? Apa benar dia menyukaiku? Dasarnya apa? Kami baru bertemu, masa iya langsung suka padaku?" gumam Qianzy dalam hati.
Qianzy duduk, melihat kresek putih di depannya. "Apa ini?" Ia membukanya dan melihat satu porsi bubur di dalamnya.
"Pasti milik Ustadz Husain. Apakah saya harus mengantarnya?" tanya Hikmah.
"Nggak usah, kamu makan aja. Makanan dari pesantren masukin ke kulkas. Setelah ini tolong kamu potongan saya sayuran dan siapkan beberapa bumbu dapur, ya. Aku mau masak,"
"Iya, Mbak," jawab Hikmah menurut.
Meski kesal dengan Husain, Qianzy tidak akan pernah menyiakan makanan yang sudah ada di depan mata. Makanan tak pernah salah baginya. Bubur akan tidak enak jika tidak segera di makan, maka Qianzy memakannya lebih dulu.
**
Setelah sarapan, Qianzy dibantu oleh Hikmah memasak untuk makan siang mereka nanti. Namun, Qianzy juga memasak untuk Husain, sebagai tanda terima kasih karena sudah membawakan sarapan untuknya.
"Wah, rasanya enak sekali. Ternyata, Mbak Qian bisa masak enak, ya?" celetuk Hikmah mencicipi masakan Qianzy.
"Ini semua karena Mbak Lia, orang yang mengasuhku sejak kecil. Dia selalu mengajariku resep masakan banyak sekali. Tapi, karena aku malas, jadi ya nggak aku praktekin deh!" seru Qianzy dengan tawa renyahnya.
Belum ada waktu setengah hari, Qianzy menyiapkan makanan untuk Husain dalam rantang imut miliknya. Tentu saja dibantu oleh Hikmah yang terus menggodanya.
"Mbak, aku rasa Ustadz Husain ini suka deh sama Mbak Qian. Buktinya, pagi-pagi beliau sudah datang ke sini membawakan sarapan," ucap Hikmah sembari membersihkan sendok.
"Nggak usah baper deh. Dia begitu, karena aku adiknya Kyai. Bagaimana mungkin dia begitu perhatian dengan orang asing, apalagi aku seorang perempuan, kan katanya bukan … apa itu yang tidak berduaan bukan saudara?"
"Mahram, Mbak," jawab Hikmah.
"Ah, iya. Tapi dia--" ucapan Qianzy berhenti. "Dia bilang dia ingin mengajakku hidup bersama. Apa maksudnya kalau dia tidak menyukaiku? Apa karena Mas Abid?" batin Qianzy.
"Dia kenapa, Mbak?" tanya Hikmah.
"Nggak papa, dia aneh aja. Aku nggak suka!" sahut Qianzy menyembunyikan rasanya.
Setelah selesai, Qianzy di temani oleh Hikmah mengantarkan makanan itu kepada Husain yang saat itu sedang mengajar di Madrasah samping pesantren. Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah itu didirikan oleh adik orang tua Abid dan juga Qianzy tempo dulu.
"Apa dia mau menerima makanan yang aku masak?" batin Qianzy mulai ragu.
__ADS_1