
Terpaksa Qianzy mengajak Hikmah menemui Monica. Qianzy hanya ingin menjauh saja dan tidak ada lagi urusannya dengan Andreas maupun Anjani. Apalagi, Anjani itu sangat pendendam dan tidak mencerminkan gadis pesantren yang selalu terlihat lembut.
"Qianzy ini semakin lama semakin menyebalkan. Aku tidak boleh membiarkan Mas Abid memanjakannya lagi. Meski hutang keluarga orang tua dari Mas Abid sudah lunas, tapi Mas Abid belum tahu itu. Jadi, aku masih bisa memanfaatkan situasi hutang itu dengan menjauhkan Mas Abid dari Qianzy!" batin Anjani.
"Kamu ini kenapa?" tanya Andreas yang baru saja berbalik menghadap Anjani.
"Apa?" tanya Anjani balik.
"Dih, kamu ini yang kenapa? Tumben diam saja. Bukankah jika bertemu dengan Qianzy, kamu selalu mengajaknya ribut, ya?" protes Andreas.
"Berisik!" ketus Anjani, pergi meninggalkan Andreas dengan wajah juteknya.
"Wooo cewek stres!" teriak Andreas kesal.
Semakin hari, kelakuan Anjani ini semakin buruk kepada Qianzy. Dia terus saja mencari-cari kesalahan pada diri gadis yang baru saja menjadi seorang muslimah itu karena kecemburuannya. Anjani sampai melakukan trik kotor supaya bisa mendapatkan Ustadz Husain dan membuat hati Abid hancur dengan kelakuan Qianzy.
Meninggalkan dendam kesumat Anjani kepada Qianzy, di cafe sesuai tempat perjanjian Qianzy dan Monica bertemu selesai membahas pria yang menabrak Qianzy saat itu.
"Jadi, dia dosen? Muda bener wajahnya. Kebanyakan dosen kan tua-tua, terus galak, muka sangat gitu. Nah itu ...?" celetuk Qianzy.
"Tapi, Qi. Apa tidak seharusnya kamu kejar saja dia? Lumayan kan, dapat cogan," otak nakal Monica mulai beraksi.
Masih menjadi pertanyaan siapa dosen muda itu. Namun, belum jelas pasti siapa pria itu. Apakah dosen atau hanya mahasiswa.
***
Satu minggu berlalu.
Hari-hari yang dilalui oleh Qianzy semakin menarik saja karena selalu di hiasi oleh tingkahnya yang random. Namun, Qianzy ini semakin malas saja masuk kampus karena emang sudah tidak ada niatan mau belajar.
__ADS_1
"Kamu ini sudah beberapa hari tidak masuk kuliah. Kamu itu maunya apa, Qian?" tanya Abid dengan kelembutannya.
"Aku malas belajar. Bisa tidak, kalau aku langsung kerja saja, Mas?" jawab Qianzy malah melakukan negosiasi.
Abid tidak bereaksi. Dia hanya menatap Qianzy dengan tatapan yang tajam. Bagaimana tidak? Adiknya yang diharapkan masa depannya malah ingin tidak melanjutkan pendidikannya.
"Mas, aku bosan belajar. Bagaimana kalau aku belajar agama saja? Itu jauh lebih bagus, bukan?" Qianzy mulai merayu.
Melihat tingkah adiknya membuat Abid menghela napas. "Adikku, seorang ibu itu adalah madrasah pertama bagi anak. Bagaimana jika kamu tidak bisa mengajari anakmu nanti kalau kamu tidak melanjutkan pendidikanmu?" tuturnya.
"Qian, almarhum kedua orang tuamu juga seorang berpendidikan, 'kan? Kenapa kamu tidak belajar dari mereka?" lanjut Abid lembut.
Qianzy pun memalingkan wajahnya. Kemudian, melipat tangannya. "Mas Abid tidak tahu saja bagaimana aku hidup bersama dengan kedua orang tua angkatku saat itu," kesalnya.
"Memang benar mereka berpendidikan dan juga memiliki pekerjaan masing-masing. Tapi apakah Mas Abid tahu bagaimana cara mereka mendidikku?" ketus Qianzy.
"Mereka itu yang ada kerja, kerja, kerja saja!" seru Qianzy. "Bahkan mereka juga tidak pernah memiliki waktu bersamaku. Jarang sekali aku aku diperhatikan oleh mereka, Mas!"
"Aku tidak pernah belajar. Tapi aku memiliki tekad waktu dulu. Maka dari itu, aku tetap saja menjadi siswi cerdas," Qianzy masih tidak terima dengan kesibukan almarhum kedua orang tua angkatnya.
"Pokoknya aku mau berhenti kuliah. Aku ingin memiliki usaha yang berkembang dan menjadi seorang bos besar. Jika Mas Abid tidak mau mendukungku, aku juga tidak keberatan. Aku marah kepadamu, Mas! Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!"
Qianzy pergi begitu saja setelah mengungkapkan uneg-unegnya. Sedangkan Abid juga bingung hendak berbuat apa. Dia merasa tidak sepenuhnya memiliki hak terhadap Qianzy. Abid selalu merasa jika dirinya belum menjadi kakak yang baik untuk adiknya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
"Astaghfirullah hal'adzim. Bagaimana lagi caraku untuk membuat Qianzy menjadi ... Ya Allah, aku tidak berhak memaksanya. Keputusan pribadinya, ya, urusannya sendiri. Aku tidak perlu ikut campur, bukan?" gumam Abid.
"Aku tidak merawatnya sejak kecil. Kedua orang tuaku juga tidak merawatnya dengan baik sampai harus dimiliki oleh keluarga lain. Jadi aku juga tidak berhak atas Qianzy, 'kan?"
__ADS_1
Entah apa yang terjadi, Abid seperti menyerah kepada Qianzy. Kebetulan, Husain datang di saat yang tepat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salamnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Husain, masuklah!" Abid mempersalahkan Husain masuk.
"Kalau tidak salah lihat, tadi saya melihat Qianzy masuk ke gapura santriwati. Apa dia tidak kuliah pagi?" tanah Husain penasaran.
"Dia baru saja mengatakan jika dirinya tidak mau melanjutkan pendidikannya lagi," jawab Abid.
"Lah, kenapa? Bukankah sebelumnya dia bersemangat sekali mau kuliah?" tanya Husain lagi.
"Entahlah, Husain. Aku lelah menghadapi sikapnya yang keras kepala itu. Biarkan saja seperti itu. Jika dia lelah nanti, pasti dia juga akan berhenti sendiri dengan kebosanannya itu," lenguh Abid sembari menatap kitab yang ada di tangannya.
Husain pun menjadi diam. Dia juga tidak bisa ikut campur masalah pribadi antara Abid dengan Qianzy lebih dalam lagi. Sadar diri jika dirinya bukan siapa-siapa, Husain pun memilih untuk menyimak saja.
"Oh, iya. Ada apa kamu datang kemari?" tanya Abid.
"Eh, iya. Hampir saja lupa," sahut Husain. "Ini, Mas. Tiga hari lagi akan ada acara pernikahan dari santri kita. Ini maunya acaranya di mana? Akadnya itu ... mau di rumah Mas, masjid, atau aula utama?" lanjut Husain.
Tiga hari lagi memang akan ada acara pernikahan di dalam pesantren. Antara santriwati dan santri putra yang memang sudah siap untuk menikah. Hal itu membuat seluruh penghuni pesantren menjadi sibuk.
Ketika Qianzy sampai di dapur, dia tidak sengaja mendengar percakapan antara santriwati dengan santriwati lain secara berbisik-bisik di samping dapur umum pesantren.
"Kamu mau, tidak? Ustadzah Rani itu sebenarnya sukanya sama ustadz Husain, tau!" ungkap salah satu dari mereka.
"Ya Allah, astaghfirullah hal'adzim. Kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Bagaimana jika yang kamu katakan ini adalah sebuah gosip belaka? Malah gawat kalau mbak Qianzy mendengarnya.
"Halah, jika mbak Qianzy itu mendengar apa yang kita bicarakan saat ini, ya biarkan saja lah! Lagi pula, masa adik pemilik Pesantren ... bertingkah seperti itu, sih? Sangat tidak mencerminkan sebagai seorang adik Kyai," celetuk dari seorang gadis yang tidak menyukainya.
__ADS_1
"Sttt, jaga omongan kamu itu, astaghfirullah hal'adzim. Mbak Qianzy ini kan, dididik oleh orang yang bukan beragama Islam. Jadi wajar saja jika mbak Qianzy masih tidak paham agama," celetuk Santriwati yang baik itu.
Qianzy telah mendengar semuanya dan merasa di daerah hati kepada ustadzah Rani. Di mana dirinya malah ingin menjodohkan ustadzah Rani dengan kakaknya, Abid.