Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Andap Asor


__ADS_3

"Aku memang akan membuat Mas Husain menjauh dari Qianzy. Tapi, aku juga akan menggunakan foto ini, sebagai bahan untuk mempermalukan dia di depan semua penghuni pesantren,"


Senyum Anjani sungguh terlihat licik. Dia benar-benar tidak pernah menyukai kehadiran Qianzy sejak awal. Baginya, sejak kemunculan Qianzy di pesantren, membuatnya tidak menjadi pusat perhatian lagi. Bahkan, Qianzy yang melakukan sisi negatif saja selalu menjadi perhatian.


"Tak ada lagi hal yang bisa aku pikirkan saat ini, selain membuatmu angkat kaki dari rumahnya Mas Abid, Qianzy," dengusnya.


Selesai makan, Qianzy pergi begitu saja meninggalkan Andreas yang masih makan bakmi di depannya. "Lah, Sayang! Kamu mau kemana?" tanyanya dengan mulut penuhnya.


PLAK!


Satu gamparan dari tangan Qianzy ke pipi Andreas.


"Sudah gue katakan, jangan pernah memanggil gue dengan sebutan itu, Andreas! Gue nggak suka!" sentak Qianzy.


"Iya, tidak ada pengulangan kata itu sekarang," sahut Andreas mencoba meredam amarah Qianzy yang terlihat berapi-api.


Tanpa bicara lagi, Qianzy pergi begitu saja. Dia malah menanggapi seseorang yang tidak pernah berubah dan berperilaku minus seperti Andreas.


Ketika berjalan menuju gerbang kampus, tak sengaja Qianzy bertabrakan dengan seorang pria yang lumayan memiliki penampilan menarik.


"Aduh, buku gue jatuh semua dah. Lain kali hati-hati, dong!"


Qianzy berjongkok dan mulai memungut buku-bukunya.


"Saya minta maaf. Saya yang salah, karena terburu-buru, saya jadi menabrak kamu. Maaf, ya …," ucap pria itu.


"Hash, sudahlah. Lagian cuma buku yang jatuh. Lain kali, kalau jalan hati-hati. Jika memang terburu-buru, lakukan pekerjaanmu sejak awal dan sebelum waktunya, pasti tidak terburu-buru," celetuk Qianzy.


Pria itu tersenyum manis dengan lesung pipi sebelah kiri. Pria itu juga berkulit putih bersih dan tinggi. Bagi Qianzy, dia adalah sosok ideal kandidat jadi masa depannya secara fisik.


"Buset nih lakik. Bening bener!" serunya dalam hati.


"Sekali lagi, saya minta maaf. Saya terburu-buru, sampai jumpa lagi lain waktu," ucap pria itu meninggalkan Qianzy yang masih terbuai dengan good lookingnya.

__ADS_1


"Good looking juga kalau tidak mampu memiliki, kenapa aku harus ngiler?" gumam Qianzy membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kampus.


Sore hari itu, Qianzy jadi malas hendak pulang langsung. Dia duduk sendirian di bangku taman kota dan melihat lalu lalang kendaraan. Merenungi kata-katanya sebelumnya tentang melamar Ustadzah Rani.


"Hish, kenapa aku selalu kepikiran ini terus? Ustadzah Rani juga kenapa tidak mau menerima lamaran aku?"


"Kakakku tampan, sholeh, baik banget, penyayang, berduit juga. Kurang apa lagi?" imbuhnya.


"Hah, kesalnya aku!"


Setelah hampir satu jam bengong sendirian, Qianzy pun beranjak dari bangku tersebut dan segera pulang karena sudah mau maghrib. Dia takut jika Husain dan kakaknya akan marah karena pulang terlambat.


Menggunakan jasa ojek, Qianzy pulang ke pesantren dengan terburu-buru. Pas sekali sampai pesantren adzan maghrib. Jadi, ketika pulang ke rumah, Abid tidak ada di rumah. Dia selalu suah berada di masjid sejak shalat ashar tadi.


"Alhamdulillah, sampai juga di rumah. Untung saja Mas Abid di masjid. Coba saja kalau di rumah, pasti dia sudah menceramahiku habis-habisan karena pulang terlambat,"


"Sebaiknya aku segera mandi dan shalat maghrib sebelum Ustadz Husain datang mengajar nanti,"


"Huft, selesai juga. Tinggal nunggu Ustadz Husain dan Mas Abid pulang,"


"Sebaiknya, aku maskeran saja dulu. Perawatan wajah, harus dong …,"


Sembari memulai maskeran, tak lupa Qianzy juga menyalakan musik. Lagu-lagu kesukaannya mulai diputar. Stok masker Qianzy banyak sekali. Sampai satu kotak penuh dan hampir semuanya belum di buka dari kardusnya.


Baru saja selesai, Ustadz Husain dan Abid pulang. Mereka mengucapkan salam sembari membuka pintu, dan langsung melihat betapa konyolnya Qianzy joget-joget mengikuti irama musik dengan wajah yang dilumuri masker.


"Astaghfirullah hal'adzim, Qianzy. Mau berapa kali dipanggil pun tetap dia tidak akan dengar. Telinganya di tutup menggunakan headphone seperti itu!" kesal Abid.


Melihat tingkah Qianzy yang berjoget ria, Husain langsung memalingkan pandangannya. Dia juga memutar tubuhnya menghadap pintu, supaya terhindar dari zina mata, meski Qianzy sendiri mengenakan Hoodie dan celana panjang yang longgar.


Satu tarikan dari Abid ke telinga Qianzy yang masih sibuk berjoget. "Aaa, sakit, Mas!" jerit Qianzy. Dia tahu, jika yang menarik telinganya, pasti kakaknya sendiri.


"Apa-apaan ini, Qian, adikku sayang? Kamu joget-joget seperti ini setelah magrib dan ... apa yang di wajahmu ini? Astaghfirullah hal'adzim, Qianzy Tabitha!" tegur Abid melepaskan jewerannya.

__ADS_1


"Mas Abid jewer aku? Sakit tau!" ketus Qianzy.


"Cuci muka sekarang. Ustadz Husain sudah datang dan sudah wakyunya kamu belajar. Tidak ada penolakan lagi, tidak ada mengaji memakai topi Hoodie seperti ini lagi. Pakai baju yang pantas dan kenakan jilbabmu!" tegas Abid.


"Paham, tidak!" lanjut Abid dengan ketegasannya.


Qianzy menunduk dan menganggukkan kepala.


"Mas tanya, paham atau tidak? Jawab pakai mulutmu. Jangan anggukan kepala seperti itu!" Abid masih bersikap tegas kepada adiknya.


"Iya, paham. Aku akan mengganti pakaian dan memakai jilbab yang benar," jawab Qianzy langsung berlari ke kamarnya.


Sementara itu, Abid merapikan kardus yang berisikan semua masker lumpur milik adiknya itu. Sudah selama 6 bulan Qianzy tinggal di pesantren, Husein baru saja melihat Abid bersikap tegas kepada adiknya sendiri. Biasanya Abid selalu memanjakan Qianzy tanpa batasan.


"Mas, kamu marahin dia?" tanya Husain.


"Siapa yang marahnya?" sahut Abid.


"Baru saja--" lanjut Husain.


"Apakah seperti itu masuk dalam kategori memarahi? Aku hanya menegaskan kepadanya, bagaimana seseorang murid itu harus memiliki sopan santun terhadap gurunya," ucap Abid.


"Mas, gurunya adalah saya. Mas tahu sendiri kalau saya dan Qianzy juga sudah mengenal satu sama lain. Jadi, masih wajar, kok, kalau Qian menggunakan hoodie dan celana santai seperti itu. 'Kan yang penting niatnya belajar," terang Husain.


Abid mengerutkan alisnya dan menatap Husain dengan tatapan heran.


"Ustadz Husain, aku tahu kalau kamu suka dengan Qianzy. Tapi bukan berarti jika kamu harus mewajarkan setiap kelakuan dia," ucap Abid.


"Meski Qianzy adalah adikku selaku pengelola tangan pertama pesantren ini, tetap saja dia harus memiliki andap asor. Jangan seenaknya seperti itu," lanjut Abid.


Istilah andap asor sendiri memiliki arti sikap rendah hati atau tawadlu' yang menjadi filosofi orang jawa. Istilah andap asor berkaitan penting dengan keseharian dalam bersikap orang jawa kepada siapapun terlebih pada mereka yang lebih tua.


Karena sikap andap asor ini termasuk adab, sopan santun atau tata krama yang paling penting dalam kehidupan. Karena adab sopan santun itu diletakkan di atas ilmu.

__ADS_1


__ADS_2