Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi

Hubbak Ghali, Ya Habibi Qolbi
Candaan Qianzy


__ADS_3

"Saat itu, kamu menjual semua perhiasanmu demi orang lain. Padahal, itu hadiah dari Ibumu. Aku tidak bisa melupakan kemuliaanmu waktu itu, Qian," gumam Husain dalam hati.


"Aku juga berjanji kepada Mas Abid, kalau aku akan menjagamu sampai kapanpun. Jadi, dengan menikahlah caraku menjagamu," 


"Tak ada yang mustahil, sejak lahir kamu adalah seorang muslimah. Jadi, aku masih sabar menunggu hidayah itu datang padamu,"


"Namun, jika tidak … Aku siap menjagamu dalam doaku, Qian." tukasnya. 


------


Kepulangan Abid begitu cepat karena mendengar kecelakaan adik kesayangannya. Tak sempat Abid membelikan oleh-oleh untuknya. Ia langsung menemui Qianzy yang saat itu duduk bertiga bersama ustadzah Rani dan juga Hikmah. 


"Assalamu'alaikum, Qian. Apa kamu baik-baik saja, Dek? Mana yang terluka? Mana yang sakit? Apa ini masih sakit, Ya Allah, Qian. Lukamu ini … Astaghfirullah hal'adzim …,"


"Apa ini? Mas Abid jangan bersimpuh seperti ini. Ada ustadzah Rani dan Hikmah juga di sini. Ayo, berdiri dan duduk disampingku," ucap Qianzy. 


"Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Ini bukan lebay maupun berlebihan. Aku memang adik kandungnya, Mas Abid juga selalu bilang akulah harta paling berharganya. Aku bersyukur memiliknya, apa sudah waktunya aku belajar tentang agama?" gumam Qianzy dalam hati. 


Sejak kejadian air panas itu, Abid menjadi sedikit protektif kepada Qianzy. Apa yang dilakukan Qianzy harus dalam pengawasannya. Abid juga melarang Qianzy berbuat hal yang membahayakan baginya. Benar-benar dijadikan ratu oleh Abid dan juga Husain yang siap menjaga Qianzy. 


***


Seminggu berlalu. Luka yang dimiliki Qianzy sudah mulai mengering. Bahkan, Qianzy juga sudah mulai aktivitas seperti biasanya. Namun, ada perbedaan antara perlakuan Qianzy kepada Husain dan Abid. 


Qianzy seperti mulai menghindari Husain kala mereka tak sengaja bertemu. Qianzy hanya tidak ingin, fokusnya belajar agama dan mendekatkan diri kepada Tuhan-nya terganggu oleh cinta-cintaan yang akan membuatnya rapuh. 


Satu bulan berlalu, semuanya berjalan dengan baik jika Abid berada di sisi Qianzy. Sebelumnya, Qianzy memang sedikit nakal, namun perlahan, ia mampu merubah sikapnya jauh lebih baik dari sebelumnya itu. 


Hubungannya dengan Husain juga masih biasa saja. Akan tetapi, sejak Husain mengutarakan niatnya untuk menikahinya, Qianzy sedikit menjauh dari Husain. Ketika berpapasan saja, Qianzy hanya mengucapkan salam padanya. 


Sore itu kala hujan deras mengguyur pesantren. Abid mengajak Qianzy untuk berbincang santai di teras rumah menikmati hujan ditemani gorengan yang dibuat khusus oleh Qianzy untuk kakaknya itu.


"Kakak ingin deh lihat kamu menikah. Tapi, kamu siapkah menikah muda?" 


Qianzy jadi tersedak gorengannya ketika tiba-tiba Abid menanyakan kapan dirinya akan menikah. 


"Hih, apaan sih Mas Abid! Daripada mikirin aku kapan mau nikah, kenapa nggak Mas Abid duluan yang menikah?" sahut Qianzy. 


"Mas akan menikah kalau kamu sudah menikah, uhuy …," goda Abid. 

__ADS_1


"Aku akan menikah jika Mas Abid sudah menikah lebih dulu!" ketus Qianzy tidak mau kalah. 


"Baiklah, kamu ada calon kah untuk, Mas? Jika kamu ada calon, mari kita bicarakan. Takutnya, Mas nggak bisa jadi saksi saat kamu nikah nanti," celetuk Abid sembari mengetuk kening adik kesayangannya itu. 


Qianzy terus saja bersikap manja dengan kakaknya. Qianzy yang dulu selalu mandiri, hanya ditemani oleh pengasuhnya, Mbak Lia, saat ini ia merasakan bagaimana cara di sayangi dengan nyata oleh kakak kandungnya. 


Wajah keduanya sangat mirip, banyak juga kemiripan sifat yang ada pada mereka. Ketika mereka sedang asik bercanda ria, datanglah Husain membawakan bakso yang baru saja ia beli dari alun-alun. 


"Assalamu'alaikum," salamnya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Buset, si tukang ceramah datang. Males banget deh!" umpat Qianzy membuang muka kepada Husain. 


"Qian, jangan seperti itu. Tidak baik jika mengumpat tentang seseorang. Ayo minta maaf,"


"Maaf!"


Segera Qianzy masuk ke dalam rumah. Masih tidak bisa melihat Husain ada di depannya. Meski begitu, Qianzy juga selalu saja memikirkan tentang Husain di sela-sela pikirannya sedang kosong. 


"Kenapa aku kepikiran dia mulu, sih?" kesalnya. 


"Aku memang ingin belajar agama. Tapi bukan mau belajar sama dia. Mas Abid nyebelin banget sih, kenapa juga dia harus pergi ke kota kota lagi!" 


Selama sebulan itu, rasa Husain juga semakin meningkat. Bahkan, dirinya sudah melamar Qianzy lebih awal kepada Abid. Tepatnya seminggu yang lalu. Saat mereka ada pekerjaan di luar kampung.


"Oh, iya. Soal pernikahan, aku sudah menyiapkan semuanya. Tinggal nanti kita bicarakan ini kepada Qianzy," ucap Abid. 


"Tapi, Mas. Saya tidak ingin memaksanya, biarlah dia menikmati dulu masa remajanya dengan baik. Lalu, biarkan dia milih," sahut Husain. 


"Soal dia mau menerima atau tidak lamaran saya. Ketahuilah Mas, semuanya tetap akan baik-baik saja seperti ini," sambung Husain menyerahkan laporan tentang keuangan pesantren. 


Tak lama setelah itu, Qianzy keluar membawakan secangkir teh hangat untuk Husain. Masih memasang wajah masamnya, Qianzy duduk di samping Abid dan memainkan ponselnya. 


"Kamu kedinginan?" tanya Abid kepada Qianzy yang keluar memakai hoodie. 


"Aku nggak pakai jilbab!" jawabnya dengan ketus.


Lingkungan memang mempengaruhi seseorang dalam berperilaku maupun berpenampilan. Meski Qianzy belum memutuskan untuk berjilbab, tapi ia selalu memakai jilbab jika keluar rumah. Bahkan, jika dirinya tidak berjilbab, maka ia akan mengenakan hoodie agar bisa menutupi kepalanya memakai topi hoodie. 

__ADS_1


"Oh, iya. Katanya kamu mau melihat Mas nikah. Memangnya, kamu ada calon untuk, Mas?" Abid kembali menggoda adiknya yang saat itu terus menekuk wajahnya. 


Mendengar itu, Qianzy terlihat semangat kembali. "Yakin, mau nikah sesuai dengan pilihan aku?" tanyanya. 


"InsyaAllah dan bismillah saja. Memangnya, kamu sudah memiliki calon untuk, Mas?" kembali Abid mempertanyakan pertanyaan yang sama. 


"Ada dong!" seru Qianzy. 


"Siapa?" 


Baik Abid maupun Husain penasaran dengan siapa Qianzy akan menjodohkan kakaknya. Sebab, yang mereka tau, Qianzy tidak memiliki kenalan kala tinggal di pesantren. 


"Ustadzah Rani, dong!" 


Seketika membuat Abid dan Husain saling menatap. Mereka saling mengode mata, ucapan Qianzy malah dianggap candaan oleh keduanya. 


"Hey, kenapa kalian saling menatap? Ngeri tau!" seru Qianzy menghalangi pandangan keduanya. 


Namun, masih saja Husain dan Abid saling mengabaikan Qianzy dan malah tertawa. Terpaksa Qianzy duduk diantara keduanya dan menoleh ke arah Husain. 


"Apa!" ketus Qianzy. 


Husain menggeleng, "Tidak, saya hanya--"


Qianzy langsung membuang muka. Kali itu, ia menatap kakaknya dengan tatapan kesal. "Aku serius tau!"


"Kalian malah anggap ini hanya candaan? Aku ingin Mas Abid menikah dengan Ustadzah Rani. Dia baik, santun dan sayang kepadaku. Kurang apa lagi coba?" ungkap Qianzy dengan percaya diri. 


"Mas Abid dan Ustadzah Rani tidak bisa menikah, Qian," sahut Husain.


"Kenapa? Kamu cemburu? Apa kamu suka dengan Ustadzah Rani?" sulut Qianzy. 


"Bukan! Bukan seperti itu," jawab Husain. 


"Terus?" 


Qianzy menatap keduanya saling bergantian. Kemudian berdiri dengan wajah kaget, mata bulat dan mulut menganganya. 


"Kalian gay?" Qianzy menduga-duga. 

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'dzim, Qian!" seru Abis dan Husain bersamaan. 


Qianzy tertawa terpingkal-pingkal, ia berlari sembari mengejek Abid dan juga Husain. Membuat kedua pria itu harus mengejarnya, dan berakhir mereka hujan-hujanan di sore itu. 


__ADS_2