
"Astaga, kamu lupa denganku?" tanya gadis itu.
Qianzy menggeleng, dia masih memastikan siapa yang memanggilnya itu. "Astaga, ini aku Monica. Apa kamu melupakan aku? Aku teman SMP kamu," ungkapnya.
Setelah dipikir-pikir dan diingat-ingat kembali, Qianzy baru ingat dengan gadis yang mengaku bernama Monica itu. Monica adalah teman lama Qianzy. Dia sangat baik dan setia kawan. Mereka tidak lagi akrab karena Mobica harus ikut orang tuanya pindah ke luar pulau.
"Oh, kau Monica yang gemuk itu, kah?" Qianzy ingat jika Monica itu adalah sahabatnya yang gemuk.
Raut wajah Monica langsung mengkerut. Memang ketika SMP Monica sangat gemuk bahkan bisa dibilang jika dirinya sedang mengalami obesitas. Qianzy pernah mengatakan kepada Monica untuk melakukan program diet waktu itu. Sebab, tidak ada yang ingin berteman dengan Monica karena tubuh gemuknya itu.
"Astaga, kau hanya mengingatku saat aku gemuk dulu?" tanya Monica sedikit murung.
"Astaghfirullah hal'adzim, sorry. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu akan masa lalu, tapi aku bener-bener minta maaf," Qianzy tak ingin menyinggung Monica.
Setelah diam saja dan murung, tiba-tiba saja Monica tertawa terbahak-bahak. Membuat Qianzy sedikit takut karena tiba-tiba saja Monica tertawa tanpa sebab.
"Eh, kenapa lagi ini bocah? Apakah dia baik-baik saja?" gumam Qianzy.
"Astaga lihat wajahmu itu. Yaa, aku baik-baik saja. Aku juga tidak tersinggung ketika kamu mengatakan kalau aku ini gemuk. Pada awalnya juga, aku kan memang gemuk. Berkat kamu memintaku untuk mengikuti program diet, jadilah tubuhku yang seperti ini. Aaa thank you sahabatku," Monica tiba-tiba memeluk Qianzy dengan erat.
Tak ingin semakin membuat Monica tersinggung, Qianzy pun menawarkan sebuah penawaran kepadanya. "Tunggu, sebagai tanda kita bersahabat lagi, Um bagaimana kalau kau membantuku?" Qianzy mulai memikirkan keuntungan.
"Baiklah! Aku akan melakukan apapun hanya untuk dirimu," celetuk Monica, menyetujui apa yang Qianzy inginkan.
Qianzy pun meminta kepada Monica untuk mencari tahu tentang pria yang sedang mengganggu pikirannya itu. Qianzy mengatakan ciri-ciri orang yang ia maksud. Pria yang telah membuatnya tergila-gila matanya. Seketika Qianzy melupakan bahwa dirinya telah disukai oleh Husain di pesantren.
"Apa? Kau ingin aku memberikan informasi tentang penyakit itu?" tanya Monica.
__ADS_1
Qianzy mengangguk semangat.
"Jika kau mau, maka kita bisa dekat lagi seperti dulu. Tapi juga kamu memang tidak mau, aku juga tidak memaksa," lanjut Qianzy.
Tanpa ragu lagi Monica pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Qianzy. Qianzy meminta Monica segera mencari informasi tentang pria yang dia tabrak kemarin. Dengan senang hati, Monica pun menjalankan tugas yang diberikan oleh Qianzy.
***
Di pesantren, tidak tahu apa sebabnya tiba-tiba saja Husain marah-marah tidak jelas. Dia hanya merasa ada sesuatu yang tidak biasa dalam dirinya. Mudah marah, gelisah dan semua serba salah di matanya.
"Kalian bisa tidak, cermati materi dihalaman yang telah saya perintahkan untuk dibaca ulang? Kenapa kalian tidak mengerti, sih!" tegas Husain dengan sedikit emosi.
"Tapi, Ustadz. Anda belum menerangkan apa saja yang terkandung dalam materi ini," ujar salah satu siswa.
"Allahu Akbar, kamu bisa tidak, untuk tidak banyak bertanya. Sehari ini saja, kalian tolong jangan bikin saya emosi, paham!" Husain sampai menggebrak meja.
Semua santri dan juga siswanya heran dengan apa yang dikatakan oleh Husain. Mereka merasa tidak menyinggung apapun yang ada dalam diri Husain. Tapi, sejak awal mengajar, Husain memang sudah marah-marah tidak jelas.
"Aku sendiri jiga tidak tahu. Tapi jarang sekali Ustadz Husain bertingkah seperti itu. Kau pernah lihat ustadz Fahri belum?"
"Bagaimana? Ada apa dengan Ustadz Fahri?"
"Ustadz Fahmi itu kan sudah berkeluarga. Beliau seringkali marah-marah tidak jelas seperti ini karena istrinya. Apakah kalian memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan?"
Beberapa santri dan siswa mulai berargumen sendiri. Mereka menduga bahwa memang ada seorang wanita yang membuat Husain bersikap aneh seperti itu. Tidak seperti biasanya memang, sikap yang dimiliki Husain saat itu. Membuat santri dan siswa semakin heran.
Sejak semalam, memang Husain terus kepikiran dengan Qianzy. Ingin sekali Husain segera melamar Qianzy. Akan tetapi, Qianzy yang belum siap menikah cepat dan juga belum ingin meninggalkan kakaknya sendiri. Apalagi, pertemuan Qianzy dengan Abid juga baru berjalan setengah tahun. Qianzy belum puas bersama dengan sang kakak.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'adzim, ada apa denganku? Kenapa perasaan ini selalu resah sejak semalam?" batin Husain.
"Pikiranku dipenuhi oleh Qianzy terus. Ada apa, ya?"
Husain sedang berperang dengan hati dan pikirannya yang terus terpikirkan dengan Qianzy. Qianzy sendiri, malah sedang asik mengejar pria tampan yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.
Setelah kelas selesai, Qianzy pergi ke kantin dan menunggu Monica di sana. Saat minum teh manisnya, terdengar suara yang terus memanggil namanya. "Mbak Qianzy!"
"Mbak Qian!"
Suara itu terdengar jelas di telinga Qianzy. Yang memanggilnya dengan sebutan Mbak hanya satu di Kota kecil itu. Yakni, Hikmah. Terlihat jelas Hikmah sedang berlari menuju kantin sembari melambaikan tangannya.
"Haduh, dia lagi. Sengaja pagi ini aku menghindari dia, malah sekarang dia yang menghampiriku," gumam Qianzy sembari minum teh manisnya.
Beberapa saat kemudian, Qianzy melihat Hikmah bertabrakan dengan Andreas. Di susul oleh Anjani di sana.
"Astaga, mereka lagi. Segala pakai bertabrakan pula. Lama-lama si Andreas dan Anjani ini cocok juga, sama-sama freak, anjirr," Qianzy masih mengamati ketiga orang konyol tersebut.
Terlihat Anjani sedang memarahi Hikmah sampai menonyor kepalanya. Qianzy yang tidak suka dengan cara Anjani itupun turun tangan juga. "Ck, ini si gadis sholehot ngapain juga bikin masalah, sih?" kesal Qianzy.
Qianzy berjalan mendekati mereka bertiga yang sedang berkonflik. "Heh, ada apa ini? Apa-apaan sih kamu. Tangan enteng banget, loh!" Qianzy sampai menepis tangan Anjani yang terlalu ringan sampai menonyor kepala Hikmah.
"Hikmah ini anak yatim. Enteng banget tanganmu ini, Anjani!" tegur Qianzy.
"Bukan urusan kamu, Qianzy. Dia jalan tidak memakai mata, alhasil menabrakku. Sakit tau! Aku juga sudah menegurnya secara baik-baik, tapi dia malah mengelak dan tidak mau mengaku dan menyalahkan aku karena telah menabraknya!" Anjani membela diri.
"Bela diri terus! Kalian berdua ini jika di lihat-lihat cocok juga, ya--" Qianzy menunjuk Andreas dan Anjani secara bergiliran.
__ADS_1
Anjani tidak terima jika dijodoh-jodohkan atau dicocokkan dengan Andreas. Dia tetap kekeh dengan perjodohan yang ditetapkan oleh kedua orang tuanya dan juga orang tua Husain.
Mendengar kata perjodohan itu lagi, membuat Qianzy kesal. Qianzy juga tidak terima jika Anjani berjodoh dengan Husain. (Astaga, maunya apa Mbak Qianzy?)